Oleh : Wildan Shafly (Alumni Psikologi UIN Ar-Raniry)*
Prestasi yang Terlupakan
Suatu kali, teman saya pernah mengatakan kepada saya bahwa ia sedang merasa hidupnya stuck di situ-situ saja. Tak berkembang.
Di saat yang sama, ketika ia mengatakan hal tersebut, ia sedang bekerja dengan gaji UMR, aktif mengadakan kegiatan berdampak bersama komunitasnya dengan ia sebagai foundernya.
Ia yang juga seorang penulis, merupakan lulusan cumlaude dan menjadi yang pertama serta satu-satunya mahasiswa yang lulus dengan artikel jurnal di jurusannya. Masih banyak prestasi lain yang ia torehkan selama saya mengenalnya, yang tentu saja diraih dengan ketekunan.
Lalu mengapa dengan semua prestasi itu, kalimat “aku merasa stuck” bisa keluar dari mulutnya?
Jawabannya sederhana. Ia lupa.
Kita manusia memang tak akan pernah sempurna. Salah satu ciri khas manusia sejak lahir adalah pelupa. Kita mudah melupakan suatu hal, dan itu bukan berarti buruk.
Lupa itu manusiawi, dialami oleh seluruh manusia tanpa terkecuali. Baik atau buruknya tergantung situasi. Misalnya ketika orang berbuat jahat pada kita, tentu akan baik bila kita melupakannya.
Alih-alih terus mengingatnya sampai tak bisa tidur, sampai tak tenang melakukan apapun kecuali membalasnya. Tapi, lupa bisa jadi bencana dalam kondisi lain, misalnya lupa jawaban ketika ujian, melupakan utang, atau yang paling sering terjadi tapi tak boleh dinormalisasikan, melupakan kewajiban shalat lima waktu.
Teman saya, meski telah banyak menorehkan prestasi, sempat melupakan betapa hebatnya dirinya sendiri. Rasa lupa itu membuatnya tak termotivasi, tenggelam dalam pikiran negatif, overthinking, karena pandangannya sedang menyempit.
Tapi setelah diingatkan dan ia melihat kembali dirinya di masa lalu, pandangannya kembali terbuka. Ia kembali percaya diri dan semangat dalam prosesnya sendiri.
Ingatan yang Menyelamatkan
Saya jadi teringat satu kejadian lain, yang meski ceritanya berbeda, sebenarnya bicara soal hal yang sama, tentang apa yang kita ingat dan apa yang kita lupakan. Suatu kali saya mampir di sebuah warung kecil tanpa papan nama, hendak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan jauh.
Saya memesan kopi sambil mengobrol dengan pemiliknya, seorang ibu yang bercerita bahwa warung itu satu-satunya mata pencahariannya, warisan ayahnya, karena ia tak punya lahan pertanian seperti teman-temannya.
Ketika saya hendak membayar, ternyata uang saya tak ada kembaliannya dan warung itu tak menerima Qris. Ibu itu hanya bilang, “Yaowes, gapapa mas. Nanti kalo lewat sini lagi, bisa balikin. Kalo tak dibalikin juga gapapa. Mudah-mudahan anak saya juga nanti kalo lagi susah, ada orang baik yang tolongin.”
Ibu itu tidak lupa. Justru sebaliknya, ia ingat betul pada anaknya, membayangkan anaknya berada di posisi saya, jauh di perantauan, mungkin sedang kesulitan.
Ingatan itulah yang membuat tangannya begitu mudah terulur untuk orang asing seperti saya. Dua kejadian ini menunjukkan dua sisi mata uang yang sama.
Teman saya lupa pada dirinya sendiri hingga kehilangan rasa cukup. Ibu warung ingat pada anaknya hingga mampu berbagi meski hidupnya sendiri serba pas-pasan.
Layar yang Membuat Kita Lupa
Kejadian lupa-ingat ini sebenarnya dialami semua orang dari dulu sampai sekarang. Bedanya, di zaman sekarang kita jadi makin sering lupa karena pemakaian teknologi yang tak terkendali.
Dunia maya membanjiri kita dengan informasi yang seringnya tak kita butuhkan, membuat yang jauh terasa dekat dan yang aman terasa tidak aman. Kita begitu mudah melihat senyuman kebahagiaan orang lain di postingannya, padahal itu hanya momen yang diabadikan, bukan momen yang abadi. Belum tentu ia sebahagia yang ia tampilkan di sosmednya.
Mungkin karena itulah orang-orang berlomba-lomba untuk memposting momen bahagianya. Dengan mempostingnya, ia bisa mengabadikan momen itu dan terus mengingatnya.
Itu mungkin cara manusia kontemporer untuk mengingat pencapaiannya. Masalahnya, yang ia posting hanya buat mengingat dirinya sendiri, tapi yang melihatnya malah jadi lupa pada dirinya sendiri. Kita sibuk mengabadikan pencapaian kita untuk diri sendiri, sekaligus tanpa sadar membuat orang lain lupa pada pencapaiannya sendiri.
Sebagai Gen Z, teman saya mungkin melihat teman-temannya memamerkan pencapaian masing-masing, dan tanpa sadar ikut melupakan prestasinya sendiri selama ini. Kita cenderung membandingkan diri secara ke atas, selalu dengan yang lebih tinggi, tidak pernah ke bawah, sehingga rasa cukup nyaris mustahil dicapai.
Kita membandingkan momen puncak orang lain dengan kondisi kita yang belum mencapai puncaknya. Itu tidak adil. Kalau ingin membandingkan, kenapa tidak membandingkan masa kejayaanmu dengan masa kejayaanmu sendiri saja?
Mengingat untuk Merasa Cukup
Maka ketika kamu merasa tidak cukup, coba ingat-ingat lagi, lihat ke masa lalu tentang pencapaianmu. Tidak mesti hal besar, mengingat hal kecil pun bisa membuat kita menjadi lebih baik.
Misalnya, ngopi pagi. Ketika kamu bisa ngopi pagi, artinya kamu masih bisa bangun dan menikmati kopi pahit yang menghangatkan. Di saat yang sama, ada orang yang sedang berbaring di rumah sakit, tak mampu bangun dari tempat tidurnya.
Ada yang dari pagi sudah bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, ngopi pun tak sempat. Ada yang semalaman lembur hingga tak bisa menikmati pagi. Dan ada yang sudah tak bisa lagi menghirup udara segar, karena jantungnya berhenti berdetak untuk selama-lamanya.
Itu hal kecil, tapi kita sering lupa betapa besar nikmat yang terkandung di dalamnya. Kita lupa. Kita lupa. Kita lupa.
Maka coba tanyakan ini pada dirimu sendiri, kamu memang merasa tidak cukup baik dan bahagia, atau kamu hanya lupa saja?





