Surat Terbuka untuk Gubernur Aceh : Tolong Bikin Membaca Terlihat Biasa

oleh

Yth. Bapak Muzakir Manaf, Gubernur Aceh

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengatakan sesuatu yang sampai hari ini masih saya ingat.

“Aku sebenarnya pengen baca buku di warung kopi. Cuma malu.”

Saya sempat mengira ia sedang bercanda.

Malu membaca buku?

Bukankah membaca adalah sesuatu yang baik?

Namun, setelah dipikir-pikir, kalimat itu justru membuat saya bertanya: jangan-jangan persoalan budaya membaca di Aceh bukan semata-mata karena rendahnya minat baca? Jangan-jangan banyak orang sebenarnya ingin membaca, tetapi belum merasa bahwa membaca adalah sesuatu yang wajar dilakukan di ruang publik?

Ketika Membaca Terasa Aneh

Percakapan itu terjadi ketika saya masih menempuh studi sarjana di Aceh.

Saat itu saya sedang menunggu teman di sebuah warung kopi sambil membaca buku. Begitu datang, ia tersenyum dan berkata,

“Berani juga ya baca buku di warkop.”

Saya balik bertanya,

“Memangnya kenapa?”

Ia tertawa kecil.

“Aku juga sebenarnya suka baca buku. Cuma malu kalau baca di tempat ramai begini. Kayak aneh aja rasanya.”

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.

Momen tersebut, membuat saya terus bertanya-tanya.

Apakah mereka benar-benar tidak suka membaca?

Atau jangan-jangan mereka hanya belum pernah melihat membaca sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan di tempat itu?

Benarkah Aceh Kekurangan Pembaca?

Semakin lama saya memikirkan pertanyaan itu, semakin saya merasa jawabannya tidak sesederhana “minat baca masyarakat rendah.”

Sebab saya pernah melihat kenyataan yang berbeda.

Pada tahun pertama saya berada di Yogyakarta, saya sempat mengikuti kegiatan di Asrama Mahasiswa Aceh Sabena. Di sana ada forum rutin setiap malam Sabtu bernama Gerakan Surah Buku (GSB).

Konsepnya sederhana. Satu buku dibaca oleh seseorang, paragraf demi paragraf dan yang lain mendengarkan. Setelah itu, peserta berdiskusi, menyampaikan pendapat, mengaitkan isi buku dengan fenomena yang terjadi saat ini, bahkan saling mengkritisi isi buku yang dibaca.

Kegiatannya terbuka untuk umum, tetapi dilaksanakan di Asrama Mahasiswa Aceh, mayoritas pesertanya adalah orang-orang Aceh.

Jauh sebelum itu, ketika masih kuliah di Aceh, saya juga beberapa kali menemukan tongkrongan kecil yang mendiskusikan buku (tidak serutin dan seramai GSB, hanya tongkrongan kecil biasa). Kalaupun tidak mendiskusikannya, mereka setidaknya membaca buku dalam keheningan. Memang tidak banyak. Tidak selalu ramai. Tetapi mereka ada.

Pengalaman-pengalaman itu membuat saya sulit percaya bahwa Aceh kekurangan pembaca.

Bibitnya sudah ada.

Yang belum cukup ada adalah ruang yang membuat mereka saling bertemu.

Apa yang Saya Pelajari dari Yogyakarta

Banyak orang mengenal Yogyakarta sebagai Kota Pelajar.

Namun, ada hal lain yang justru paling sering menarik perhatian saya.

Rak-rak buku kecil di sudut Kafe.

Ada yang hanya berisi puluhan buku. Ada pula yang sekaligus menjual buku. Pengunjung bebas mengambilnya, membaca sambil menikmati kopi, lalu mengembalikannya lagi.

Tidak ada yang merasa aneh.

Tidak ada yang menoleh heran.

Keberadaan rak-rak buku itu seolah menyampaikan satu pesan sederhana:

“Membaca adalah aktivitas yang biasa dilakukan di tempat ini.”

Di situlah saya mulai memahami bahwa budaya tidak selalu dibentuk oleh pidato, seminar, atau slogan.

Budaya sering kali lahir dari apa yang berulang kali kita lihat.

Mengapa Lingkungan Sangat Menentukan?

Sebagai manusia, kita cenderung menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Ketika hampir semua orang di warung kopi bermain gawai, menonton pertandingan sepak bola, atau mengobrol, kita menganggap itulah aktivitas yang wajar dilakukan di sana.

Sebaliknya, ketika seseorang membuka buku, ia menjadi pemandangan yang berbeda. Tidak sedikit yang akhirnya merasa canggung karena takut dianggap sok rajin, sok pintar, atau terlalu serius.

Padahal bisa jadi mereka memang ingin membaca.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan persoalan kita bukan karena orang Aceh tidak suka membaca.

Kita hanya belum berhasil membuat mereka saling melihat bahwa membaca adalah sesuatu yang biasa.

Bukankah hampir semua kebiasaan tumbuh dengan cara seperti itu?

Ketika semakin banyak orang melakukannya, semakin banyak pula orang lain yang ikut merasa nyaman melakukannya.

Jangan-Jangan Bukunya Saja yang Tidak Ada

Ada satu pertanyaan yang sampai hari ini masih mengganggu pikiran saya.

Jangan-jangan anak-anak muda yang menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi sebenarnya tidak membenci buku.

Jangan-jangan mereka hanya jarang bertemu buku.

Logikanya sederhana.

Bagaimana seseorang akan membaca jika buku tidak pernah hadir di sekitarnya?

Sebaliknya, ketika buku mudah dijumpai di warung kopi, balai gampong, taman kota, ruang tunggu pelayanan publik, atau tempat-tempat lain yang setiap hari didatangi masyarakat, peluang seseorang untuk membuka satu halaman pertama tentu menjadi lebih besar.

Dan mungkin, perubahan besar memang sering dimulai dari satu halaman pertama itu.

Pak Gubernur, Mari Membuat Membaca Terlihat Biasa

Karena itu, Pak Gubernur, saya tidak sedang meminta Aceh menjadi seperti Yogyakarta.

Setiap daerah memiliki sejarah dan karakternya sendiri.

Namun saya berharap Aceh memiliki lebih banyak ruang yang mempertemukan masyarakat dengan buku.

Warung kopi bisa menjadi salah satunya.

Bayangkan jika setiap warung kopi memiliki satu rak buku sederhana yang bisa dibaca pengunjung. Tidak perlu besar. Tidak perlu mahal. Cukup menjadi tanda bahwa buku juga memiliki tempat di ruang-ruang tempat masyarakat berkumpul. Dengan begini, diskusi tongkrongan menjadi lebih berbobot berdasarkan materi buku daripada sekedar asumsi kosong.

Program seperti ini tentu tidak bisa dijalankan pemerintah sendirian. Pemilik warung kopi, sekolah, kampus, komunitas literasi, pemerintah gampong, dan masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya.

Namun pemerintah dapat menjadi pihak yang memulai gerakan itu, menghubungkan berbagai pihak, dan menunjukkan bahwa budaya membaca layak mendapat ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan untuk Aceh

Pak Gubernur,

Saya percaya Aceh tidak sedang kekurangan pembaca.

Kita hanya belum berhasil membuat mereka saling melihat.

Mungkin yang perlu kita bangun bukan hanya perpustakaan yang lebih besar, melainkan lebih banyak ruang yang membuat seseorang merasa biasa ketika membuka sebuah buku.

Sebab ketika membaca tidak lagi terasa aneh, orang tidak perlu lagi disuruh.

Mereka akan saling menularkan kebiasaan itu.

Pelan-pelan.

Dari satu meja ke meja berikutnya.

Dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya.

Dan mungkin, dari situlah sebuah budaya benar-benar tumbuh.[]

____***____

Hormat Saya

Wildan Shafly, Alumni Psikologi UIN Ar-Raniry

 

Comments

comments