Catatan Mahbub Fauzie
Di Aceh Tengah, kopi bukan sekadar komoditas. Kopi telah menjadi bagian dari kehidupan, kebudayaan, sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Kebun kopi tersebar di berbagai penjuru Tanah Gayo dan dimiliki oleh masyarakat dengan latar belakang profesi yang beragam.
Petani tentu saja. Tetapi juga pedagang, guru, ASN, TNI, Polri, pengusaha, bahkan politisi. Ada yang memiliki kebun karena warisan orang tua, membeli, membuka lahan sendiri, atau memperoleh lahan pada masa transmigrasi yang kemudian ditanami kopi.
Luasnya pun bermacam-macam. Ada yang puluhan hektare, beberapa hektare, satu hektare, bahkan hanya sebidang kecil. Namun, besar-kecilnya kebun tidak selalu menentukan arti kebun itu bagi pemiliknya.
Saya pun termasuk salah seorang ASN yang berkebun kopi.
Kebun saya tidak luas. Sebagian berasal dari lahan yang saya buka sendiri dan sebagian kecil diperoleh dengan membeli. Hasilnya mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebun para petani yang menggantungkan seluruh penghidupannya dari kopi. Namun, bagi keluarga, hasil dari kebun tersebut cukup membantu biaya hidup dan pendidikan anak-anak.
Karena itu, bagi saya, kebun bukan sekadar usaha sampingan. Ia adalah bagian dari ikhtiar keluarga.
๐๐๐ญ๐๐ฅ๐๐ก ๐๐๐ง๐ญ๐จ๐ซ, ๐๐๐ฆ๐๐๐ฅ๐ข ๐ค๐ ๐๐๐๐ฎ๐ง
Sebagai pegawai negeri dan selaku khadimul ummah, pekerjaan utama tentu saja adalah melaksanakan tugas kedinasan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pada hari kerja, kewajiban itu harus ditempatkan pada tempatnya. Jam dinas adalah amanah. Kebun tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pekerjaan atau meninggalkan pelayanan.
Tetapi ketika hari Minggu atau hari libur tiba, sepanjang tidak ada tugas kedinasan sebagai penghulu, saya biasanya memilih pergi ke kebun atau ladang kopi.
Kadang membersihkan tanaman. Kadang memangkas cabang. Kadang mengamati perkembangan tanaman. Jika musim panen tiba, ikut memetik atau membantu mengawasi prosesnya. Sederhana saja.
Tidak ada seragam dinas. Tidak ada meja kantor. Tidak ada berkas pelayanan. Yang ada tanah, tanaman kopi, parang, gunting pangkas, dan udara kebun.
Namun, justru di sana ada ketenangan tersendiri.
Kebun mengajarkan sesuatu yang tidak selalu kita dapatkan di ruang kantor: kesabaran.
Kita menanam hari ini, tetapi tidak langsung memanen besok. Tanaman harus dirawat, dibersihkan, dipupuk, dipangkas dan dijaga. Setelah itu kita menunggu.
Begitu pula kehidupan.
Tidak semua ikhtiar menghasilkan sesuatu dengan segera.
๐๐๐ ๐๐ข๐๐๐ค ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐๐ฎ๐ญ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ซ๐ข ๐๐ค๐๐ซ ๐๐๐ญ๐๐ง๐ข
Menjadi ASN tidak berarti harus meninggalkan identitas sebagai orang kampung atau memutus hubungan dengan tanah. Justru ada sesuatu yang baik ketika seorang pegawai masih mau turun ke kebun.
Ia tetap merasakan bagaimana beratnya bekerja. Ia memahami bahwa menghasilkan sesuatu membutuhkan proses. Ia mengetahui bahwa penghasilan tidak selalu datang secara otomatis setiap bulan.
Bagi ASN, gaji memang merupakan hak yang diterima atas pekerjaan yang telah dilakukan. Tetapi kebun mengajarkan perspektif lain tentang rezeki: ada yang datang melalui pekerjaan, ada yang tumbuh dari tanah, dan semuanya membutuhkan ikhtiar.
Karena itu, saya tidak melihat adanya pertentangan antara menjadi ASN dan menjadi pekebun. Yang penting adalah profesional dalam pekerjaan dan bertanggung jawab dalam usaha pribadi.
Jangan sampai kebun membuat pelayanan terbengkalai. Tetapi jangan pula status sebagai ASN membuat seseorang merasa gengsi untuk memegang cangkul, parang atau gunting pangkas.
Sebab bekerja di kebun bukan pekerjaan rendah. Di sana ada keringat. Ada ketekunan. Ada ilmu. Ada investasi. Dan ada hasil yang menghidupi keluarga.
๐๐๐๐ฎ๐ง ๐๐๐ง ๐๐๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐๐ง ๐๐ง๐๐ค
Salah satu alasan saya mempertahankan kebun adalah karena saya melihatnya sebagai aset keluarga.
Hasilnya dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anak. Lebih dari itu, kebun juga mengajarkan kepada anak bahwa kehidupan tidak hanya dibangun dari pekerjaan di balik meja.
Ada tanah yang harus dirawat.
Ada tanaman yang harus dipelihara.
Ada proses panjang sebelum seseorang menikmati hasil.
Nilai-nilai seperti kerja keras, kesabaran, ketekunan dan rasa syukur sesungguhnya merupakan pendidikan yang sangat berharga.
Barangkali kelak anak-anak kita tidak semuanya menjadi petani. Tidak masalah. Mereka boleh menjadi guru, dokter, ASN, pengusaha, profesional atau memilih jalan hidup lainnya.
Tetapi alangkah baiknya jika mereka tetap memahami bahwa di balik kehidupan yang mereka nikmati hari ini, ada tanah yang pernah digarap dan tanaman yang pernah dirawat orang tua mereka.
๐๐ฎ๐ฅ๐๐ง๐ ๐ค๐ ๐๐๐๐ฎ๐ง, ๐๐ฎ๐ฅ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ฉ๐๐๐ ๐๐๐ฌ๐๐๐๐ซ๐ก๐๐ง๐๐๐ง
Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang ASN yang sehari-hari bekerja melayani masyarakat masih memiliki kesempatan untuk turun ke kebun.
Bukan karena pekerjaan di kantor tidak menyenangkan. Bukan pula karena ingin meninggalkan profesi.
Tetapi karena sesekali manusia memang perlu kembali kepada kesederhanaan.
Di kebun kita melihat langsung bahwa sesuatu yang besar bermula dari sesuatu yang kecil. Sebatang bibit yang ditanam dengan tangan sendiri dapat tumbuh menjadi tanaman produktif. Kebun yang dahulu hanya lahan dapat berubah menjadi sumber kehidupan.
Begitulah kopi mengajarkan kita tentang waktu dan ikhtiar. Di kantor saya bekerja melayani masyarakat. Di kebun saya belajar dari alam.
Keduanya sama-sama mengajarkan tanggung jawab. Dan mungkin itulah salah satu wajah masyarakat Aceh Tengah: profesi boleh berbeda, tetapi hubungan dengan tanah tidak harus terputus.
Seorang ASN boleh mengenakan pakaian dinas pada hari kerja. Tetapi ketika hari libur tiba, tidak ada salahnya kembali mengenakan pakaian sederhana, membawa parang dan gunting pangkas, lalu berjalan di antara pohon-pohon kopi.
Sebab, pulang ke kebun bukan berarti mundur dari kehidupan. Kadang, justru dari kebun kita belajar kembali tentang arti kerja, kesabaran, syukur, dan masa depan.[]
Ahad, 20 September 2026





