Disiplin Tetap Penting, Tapi Anak Jangan Kehilangan Hak Belajar

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie (Pemerhati sosial kemasyarakatan dan generasi muda. Pernah menjadi guru bakti MI, MTs dan SMP di Jagong Jeget)

Persoalan siswa datang terlambat ke sekolah sebenarnya bukan sekadar soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Di balik keterlambatan ada persoalan disiplin, tanggung jawab, kebiasaan, bahkan mungkin kondisi yang tidak selalu terlihat dari luar. Karena itu, upaya sekolah menanamkan kedisiplinan tentu patut dihargai sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Namun, dalam pendidikan, cara mendisiplinkan anak sama pentingnya dengan aturan yang hendak ditegakkan. Ketegasan memang diperlukan, tetapi ketegasan seharusnya tidak berhenti pada pemberian konsekuensi. Ia perlu membawa anak pada kesadaran: memahami kesalahannya, menerima akibatnya, lalu belajar memperbaiki diri.

Dalam konteks inilah kebijakan terhadap siswa yang terlambat menarik untuk direnungkan. Menegakkan aturan bukan persoalannya. Yang perlu dipikirkan adalah apakah setiap bentuk sanksi benar-benar membuat anak menjadi lebih disiplin, atau justru hanya membuat mereka belajar menghindari hukuman.

Sebab sekolah bukan sekadar tempat untuk menghukum kesalahan. Sekolah adalah ruang tempat anak belajar dari kesalahan. Dan setiap kesalahan semestinya membuka kesempatan untuk tumbuh menjadi lebih baik.

๐Š๐ž๐ญ๐ž๐ ๐š๐ฌ๐š๐ง ๐๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐๐ž๐ง๐ณ๐š๐ฅ๐ข๐ฆ๐š๐ง

Ada pula anggapan bahwa mendisiplinkan siswa yang terlambat merupakan bentuk penzaliman. Anggapan seperti ini perlu disikapi secara proporsional.

Tidak setiap sanksi adalah kezaliman. Sebaliknya, tidak setiap tindakan yang mengatasnamakan disiplin otomatis menjadi tindakan yang adil. Ukurannya bukan semata-mata apakah anak menerima konsekuensi, melainkan apakah konsekuensi itu wajar, mendidik, tidak merendahkan martabat, dan sesuai dengan tujuan pendidikan.

Anak yang terlambat tentu perlu diingatkan. Jika keterlambatan terjadi karena kelalaian, ia perlu belajar bertanggung jawab. Tetapi tanggung jawab tidak harus ditanamkan dengan cara yang membuat anak kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Di sinilah pentingnya membedakan antara ketegasan yang mendidik dan tindakan yang berlebihan. Menegakkan aturan bukan berarti boleh mengabaikan keadaan anak. Memberikan konsekuensi bukan berarti boleh mempermalukan. Dan membina disiplin bukan berarti menutup seluruh pintu kesempatan belajar.

Islam sendiri memberikan perhatian besar pada pendidikan dan pembinaan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 125, yang pada intinya memerintahkan agar manusia diajak kepada jalan Tuhan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan cara yang terbaik.

Pesan ini relevan dalam dunia pendidikan. Menegakkan disiplin membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan tidak harus kehilangan hikmah. Sanksi boleh diberikan, tetapi hendaknya tetap memiliki tujuan mendidik, bukan sekadar membuat anak menerima hukuman.

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kelembutan dalam membimbing. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah terdapat pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.โ€

Nilai ini tentu bukan berarti setiap kesalahan dibiarkan. Justru sebaliknya, kesalahan perlu dikoreksi. Tetapi cara mengoreksinya perlu mempertimbangkan usia, kondisi, martabat, dan masa depan anak.

๐€๐ง๐š๐ฅ๐จ๐ ๐ข ๐‰๐š๐ฆ๐š๐š๐ก ๐Œ๐š๐ฌ๐›๐ฎ๐ค

Dalam diskusi tentang keterlambatan, ada pula yang menganggap analogi jamaah masbuk masih relevan. Seorang muslim yang datang terlambat ke masjid dan mendapati imam sedang melaksanakan salat tidak lantas disuruh pulang karena terlambat. Ia tetap dipersilakan mengikuti salat, kemudian menyempurnakan bagian yang tertinggal.

Analogi ini menarik untuk direnungkan, terutama dalam melihat bahwa keterlambatan tidak selalu harus berakhir dengan hilangnya kesempatan untuk mengikuti proses yang sedang berlangsung.

Tentu, sekolah dan ibadah memiliki aturan, tujuan, serta konteks yang berbeda. Karena itu, analogi tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyamakan seluruh persoalan. Namun, sebagai perumpamaan pendidikan, ada pesan yang patut dipertimbangkan: orang yang datang terlambat tetap dapat diarahkan untuk mengambil bagian, memperbaiki kekurangannya, dan menyelesaikan tanggung jawabnya.

Dalam konteks sekolah, siswa yang terlambat mungkin sudah kehilangan sebagian waktu belajar. Tetapi apakah kehilangan itu harus diperpanjang dengan memulangkannya? Bukankah masih ada kesempatan untuk membina, mengingatkan, dan mengarahkannya agar tidak mengulangi kesalahan?

Pertanyaan ini bukan untuk melemahkan disiplin. Justru untuk memastikan bahwa disiplin tetap berada dalam kerangka pendidikan.

๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐’๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ข ๐’๐š๐ง๐ค๐ฌ๐ข ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฅ๐š๐ก๐ค๐š๐ง ๐“๐ฎ๐ฃ๐ฎ๐š๐ง ๐๐ž๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐š๐ง

Saya pribadi tidak melihat upaya sekolah menerapkan disiplin sebagai sesuatu yang keliru. Justru budaya tepat waktu perlu ditanamkan sejak dini. Anak perlu belajar bahwa waktu adalah tanggung jawab dan keterlambatan memiliki konsekuensi.

Tetapi menyuruh siswa pulang karena terlambat barangkali bukan satu-satunya pilihan. Bahkan, perlu dipertimbangkan apakah cara tersebut selalu menjadi pilihan yang paling edukatif.

Anak yang datang terlambat sudah kehilangan sebagian waktu belajarnya. Jika kemudian ia dipulangkan, maka kehilangan waktu belajar itu menjadi semakin panjang. Di luar sekolah pun muncul persoalan lain: apakah ia benar-benar pulang ke rumah, atau justru pergi ke tempat lain yang tidak terpantau?

Karena itu, mungkin ada pendekatan yang lebih mendidik. Siswa yang terlambat tetap berada di lingkungan sekolah, tetapi diberi pembinaan atau kegiatan yang membangun kesadaran. Misalnya membuat refleksi singkat tentang disiplin waktu, mengikuti bimbingan, menyelesaikan tugas tertentu, membantu kegiatan sekolah secara terukur, atau mendapatkan pendampingan dari guru.

Dengan demikian, sanksi tidak sekadar menjadi hukuman, tetapi menjadi proses belajar dan pengembangan diri.

Tentu tidak semua keterlambatan harus diperlakukan dengan cara yang sama. Keterlambatan karena bangun kesiangan berbeda dengan keterlambatan karena persoalan transportasi, jarak rumah, kondisi keluarga, atau keadaan lain yang berada di luar kendali anak. Di sinilah pentingnya kebijaksanaan guru dalam melihat persoalan secara utuh.

Aturan tetap harus jelas. Bahkan sekolah perlu memiliki SOP yang tegas mengenai keterlambatan: bagaimana penanganan untuk pelanggaran pertama, kedua, dan seterusnya; kapan orang tua dilibatkan; serta bagaimana pembinaan diberikan kepada siswa yang berulang kali melanggar.

Dengan cara seperti itu, ketegasan dan kasih sayang tidak perlu dipertentangkan. Sekolah tetap memiliki wibawa, aturan tetap berjalan, tetapi anak tidak kehilangan kesempatan untuk belajar hanya karena melakukan kesalahan.

๐๐ž๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐š๐ง ๐Š๐š๐ซ๐š๐ค๐ญ๐ž๐ซ ๐๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐’๐ž๐ค๐š๐๐š๐ซ ๐“๐š๐ค๐ฎ๐ญ ๐‡๐ฎ๐ค๐ฎ๐ฆ๐š๐ง

Pendidikan karakter bukan hanya tentang membuat anak takut melanggar aturan. Lebih jauh dari itu, pendidikan harus membuat anak memahami mengapa aturan itu penting.

Pertanyaan kita bukan hanya, โ€œMengapa kamu terlambat?โ€ tetapi juga, โ€œApa yang harus kamu lakukan agar besok tidak terlambat lagi?โ€ Di situlah letak pendidikan.

Disiplin membutuhkan ketegasan. Tetapi ketegasan yang paling baik adalah ketegasan yang membuat anak tumbuh, bukan ketegasan yang membuat anak merasa ditolak.

Karena tujuan akhir pendidikan bukan sekadar menghasilkan anak yang patuh terhadap aturan, tetapi manusia yang mampu mengatur dirinya sendiri ketika tidak ada lagi orang yang mengawasinya.

Anak perlu belajar bahwa kesalahan memiliki konsekuensi. Tetapi mereka juga perlu merasakan bahwa kesalahan bukan akhir dari kesempatan untuk menjadi lebih baik.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.