Catatan Mahbub Fauzie (Pemerhati Sosial Kemasyarakatan dan selaku Kepala KUA Atu Lintang, Aceh Tengah)
Senin pagi, 31 Agustus 2026, saya berdiri di hadapan peserta didik Madrasah Miftahul Falah Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah, sebagai Pembina Upacara Bendera.
Di hadapan saya berdiri anak-anak dari jenjang MI, MTs hingga MA. Mereka berada dalam satu halaman, dalam satu barisan, mengikuti rangkaian upacara dengan tertib dan khidmat.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya upacara rutin setiap Senin.
Tetapi bagi saya, berdiri di hadapan mereka menghadirkan satu perenungan: kita sebenarnya sedang mempersiapkan manusia seperti apa melalui pendidikan?
Pertanyaan itu penting, karena anak-anak yang hari ini berdiri di halaman madrasah adalah generasi yang kelak akan mengisi ruang-ruang kehidupan. Mereka akan menjadi orang tua, guru, pemimpin, birokrat, pengusaha, tokoh masyarakat, dan berbagai profesi lainnya.
Maka pendidikan mereka tidak boleh berhenti pada persoalan nilai rapor dan prestasi akademik.
๐๐ฉ๐๐๐๐ซ๐ ๐๐ฎ๐ค๐๐ง ๐๐๐ค๐๐๐๐ซ ๐๐๐ซ๐๐ข๐ซ๐ข ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐๐ซ๐ข๐ฌ
Dalam amanat sebagai Pembina Upacara, saya menyampaikan bahwa upacara bendera jangan dipandang sebagai kegiatan seremonial belaka.
Ketika seorang siswa datang tepat waktu, ia sedang belajar disiplin.
Ketika ia berdiri dalam barisan dan mengikuti aturan, ia sedang belajar ketertiban.
Ketika ia menyanyikan lagu kebangsaan, ia sedang belajar mencintai tanah air.
Ketika ia berdiri bersama teman-temannya tanpa membeda-bedakan, ia sedang belajar kebersamaan.
Dan ketika ia menjalankan tugasnya dengan baik, ia sedang belajar bertanggung jawab.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: semua itu harus bermuara pada pembentukan karakter dan akhlak.
Jangan sampai anak terbiasa tertib hanya ketika ada guru yang mengawasi.
Jangan sampai disiplin hanya muncul ketika ada aturan.
Jangan sampai sopan santun hanya ditampilkan di hadapan orang yang lebih tua.
Pendidikan yang sesungguhnya adalah ketika nilai-nilai itu tetap hidup meskipun tidak ada yang melihat.
๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ซ ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐๐๐ซ๐ฃ๐๐ฅ๐๐ง ๐๐๐ซ๐ฌ๐๐ฆ๐ ๐๐ค๐ก๐ฅ๐๐ค
Sebagai Kepala KUA, saya cukup sering berhadapan dengan persoalan kehidupan keluarga dan masyarakat. Dari sana kita belajar bahwa kehidupan tidak selalu ditentukan oleh kecerdasan.
Ada orang yang pintar tetapi tidak mampu mengendalikan diri.
Ada yang berpendidikan tinggi tetapi tidak mampu menghargai orang lain.
Ada yang memiliki kemampuan luar biasa tetapi kehilangan integritas ketika memegang amanah.
Karena itu, saya menyampaikan kepada anak-anak madrasah bahwa menjadi pintar saja tidak cukup.
Kita membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga memiliki akhlak.
Berprestasi, tetapi rendah hati.
Berani, tetapi tetap santun.
Menguasai teknologi, tetapi mampu mengendalikan diri.
Memiliki cita-cita tinggi, tetapi tetap menghormati orang tua dan guru.
Sebab ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sementara kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi persoalan bagi orang lain.
๐๐ค๐ก๐ฅ๐๐ค ๐๐ญ๐ฎ ๐๐๐ซ๐ฅ๐ข๐ก๐๐ญ ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐๐ง ๐๐๐ก๐๐ซ๐ข-๐ก๐๐ซ๐ข
Saya juga mengajak para siswa melihat akhlak dari hal-hal sederhana.
Akhlak kepada Allah diwujudkan dengan iman dan ibadah.
Akhlak kepada diri sendiri diwujudkan dengan menjaga kesehatan, kebersihan, waktu, aurat, dan kehormatan diri.
Akhlak kepada orang tua diwujudkan dengan hormat, patuh dalam kebaikan, dan menghargai pengorbanan mereka.
Akhlak kepada guru diwujudkan dengan sopan santun dan menghargai ilmu.
Akhlak kepada teman diwujudkan dengan tidak merundung, tidak menghina, tidak merendahkan, dan saling menjaga.
Bahkan akhlak terhadap lingkungan pun harus dibangun: tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap tempat kita hidup.
Karena sesungguhnya akhlak bukan hanya apa yang kita ucapkan.
Akhlak adalah apa yang kita biasakan.
Kehadiran di Sekolah Harus Menjadi Kehadiran yang Bermakna
Kehadiran saya sebagai Pembina Upacara bukan sekadar memenuhi undangan untuk berdiri di depan barisan siswa dan menyampaikan amanat.
Kehadiran KUA di lingkungan pendidikan harus memiliki makna yang lebih luas.
KUA tidak hanya hadir ketika ada masyarakat yang hendak menikah. KUA juga memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut membangun ketahanan keluarga dan membina generasi muda.
Karena itu, kegiatan seperti ini menjadi bagian dari ikhtiar Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) KUA Kecamatan Atu Lintang.
Kita perlu hadir lebih awal, sebelum persoalan-persoalan besar kehidupan datang menghampiri mereka.
Memberikan pemahaman kepada remaja hari ini jauh lebih baik daripada hanya sibuk mencari solusi ketika mereka sudah terjerumus dalam persoalan.
๐๐๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค ๐๐ง๐๐ค ๐๐๐ซ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐๐๐ง๐ฒ๐ข๐๐ฉ๐ค๐๐ง ๐๐๐ฌ๐ ๐๐๐ฉ๐๐ง
Saya melihat anak-anak yang berdiri di hadapan saya bukan sekadar siswa MI, MTs, atau MA.
Saya melihat calon generasi yang akan menentukan wajah masyarakat kita beberapa tahun ke depan.
Karena itu, jangan kita serahkan pendidikan karakter hanya kepada sekolah.
Orang tua harus hadir.
Guru harus menjadi teladan.
Tokoh agama harus memberikan arah.
Masyarakat harus menciptakan lingkungan yang sehat.
Pemerintah harus membangun ekosistem pendidikan yang mendukung.
Sebab anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat.
Kalau kita ingin anak disiplin, orang dewasa harus menunjukkan disiplin.
Kalau kita ingin anak santun, mereka harus melihat keteladanan.
Kalau kita ingin anak jujur, mereka harus hidup dalam lingkungan yang menghargai kejujuran.
Kalau kita ingin anak memiliki kepedulian, kita harus memperlihatkan kepedulian itu dalam kehidupan nyata.
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ง๐ฒ๐ ๐๐๐ ๐๐ค ๐๐๐๐ญ ๐๐ฉ๐๐๐๐ซ๐
Pagi itu, setelah upacara selesai, barisan pun dibubarkan. Anak-anak kembali ke ruang kelas, guru melanjutkan tugas mengajar, dan halaman madrasah kembali seperti biasa.
Namun, pesan pendidikan seharusnya tidak ikut bubar bersama barisan.
Jangan hanya tegak ketika upacara, tetapi rapuh ketika menghadapi godaan.
Jangan hanya disiplin karena diawasi, tetapi belajar bertanggung jawab ketika tidak ada yang melihat.
Jangan hanya hafal nasihat tentang akhlak, tetapi gagal mempraktikkannya dalam pergaulan.
Dan jangan hanya mengejar agar anak-anak menjadi orang pintar.
Bimbing mereka menjadi orang baik.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu menjawab soal ujian.
Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu menjawab persoalan kehidupan dengan ilmu, iman, akhlak, integritas, dan tanggung jawab.
Mungkin saya hanya berdiri beberapa puluh menit sebagai Pembina Upacara pada Senin pagi itu.
Tetapi dari halaman madrasah tersebut, saya semakin yakin bahwa mendidik generasi adalah pekerjaan besar yang tidak boleh dilakukan secara seremonial.
Kita harus hadir.
Kita harus peduli.
Kita harus memberi teladan.
Dan yang paling penting, kita harus menanamkan nilai-nilai kebaikan sebelum anak-anak kita tumbuh menjadi orang dewasa yang menentukan arah masyarakat.
Karena masa depan bangsa sedang berdiri di hadapan kitaโhari ini, di halaman-halaman sekolah dan madrasah.[]




