Novel karya Syukri Muhammad Syukri*
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Bagian 1: Out of Formosa, 2000 Tahun Sebelum Masehi.
Sepanjang pantai timur Pulau Formosa, terlihat aktivitas tidak biasa dari sejumlah orang. Terburu-buru, berlari kesana kemari, sepertinya akan segera berlayar, entah kemana.
Penutur bahasa Austronesia itu memang dikenal sebagai pelaut ulung. Menguasai navigasi maritim, dan kerap berlayar menjelajah lautan luas.
Mencari ikan, memburu hiu dan paus ditengah gelombang samudera. Terkadang mengelak badai, bersandar di pulau asing, tetiba mereka menetap disana. Katanya, itulah tanah kehidupan baru.
Pantai, tempat mereka mulai berlayar ini, membentang dari muara Sungai Hualien di utara hingga Shiauyeliou di selatan. Topografinya terdiri dari teres-teres pantai, lahan bertingkat yang terbentuk sepanjang garis pantai tersebut.
Disana terbentang pantai pasir dan batu kecil, ada terumbu dan gua-gua laut. Banyak teluk-teluk alami yang menghadap langsung ke Lautan Pasifik. Itulah jalur menuju Filipina.
Diantara orang yang sedang sibuk, bersiap-siap berlayar, berasal dari suku-suku asli Formosa. Ditandai dari model dan pola hias yang digunakan, sepertinya ada anggota suku Atayal, Seediq, Truku, Saisiyat, dan suku-suku penutur Austronesia lainnya.
Anehnya, dari pakaian dan pola hias yang digunakan sekelompok orang, sepertinya suku yang jarang-jarang berlayar jauh. Benar, mereka adalah orang-orang dari suku Bun. Pemukim dari dataran tinggi, di tengah-tengah Pulau Formosa.
Melihat cukup banyak bekal dan barang yang akan dibawa, kemungkinan mereka pun akan migrasi out of Formosa. Disana ada hewan ternak, umbi-umbian, bibit padi, millet dan sayuran.
Dan, mereka berseliweran di pantai itu bersama dengan anggota keluarga. Selain lelaki dewasa, ada wanita, bayi, dan anak-anak.
Benerapa lelaki dewasa memuat perbekalan itu kedalam perahu layar. Sementara para wanita dan anak-anak menyanyikan lagu ritual Tabutbut dengan suara polifonik. Diiringi tabuhan alat musik perkusi dan tepuk tangan.
Suku Bun dikenal penyuka musik, semua aktivitas disertai dengan nyanyian. Mereka dikenal memiliki vokal polifonik, yaitu setiap suara memiliki melodi sendiri.
Wanita dan anak-anak itu tidak tahu, kenapa orang-orang di pantai itu begitu buru-buru, ingin segera berlayar. Padahal, daratan Pulau Formosa adalah tanah surga, rimba dan belantaranya menyediakan pangan melimpah.
Bukan hanya anggota suku kalah perang yang ingin keluar dari sana. Anggota suku terkuat pun seperti anggota suku Atayal dan Seediq, mondar-mandir mempersiapkan pelayaran di pantai berpasir putih tersebut.
Bisik-bisik diantara mereka, terungkap alasan ingin berlayar. Ada rasa khawatir bahwa Pulau Formosa akan tenggelam, karena permukaan laut terus naik dari hari ke hari.
Memang, pasca berakhirnya zaman es, gunung es di kutub utara terus mencair. Otomatis volume air laut meningkat, sehingga menenggelamkan banyak daratan di pinggir pantai. Tak terkecuali lahan dan pantai di pulau surga itu, ikut digenangi air laut.
Pun demikian, banyak pula yang tidak percaya, bahwa pulau surga itu akan tenggelam. Makanya, tidak semua anggota suku asli disana ikut berlayar menuju ke arah matahari terbit.
Masih banyak yang menetap, melanjutkan hidup dan berkembang biak disana. Mengelola pulau surga itu menjadi rumah masa depan mereka.
Beberapa hari lalu, sejumlah perahu layar bercadik sudah lepas jangkar. Mulai berlayar meninggalkan pantai pulau Formosa, membelah ombak Laut Cina Selatan. Tujuannya, mencari pulau harapan ke selatan, atau ke arah matahari terbit.
Pagi itu, anggota suku Bun mulai naik ke lambung sejumlah perahu layar bercadik. Masing-masing kepala keluarga menuntun anak-anak dan wanita masuk kedalam perahu.
Mereka terlihat gembira, terus menyanyikan syair-syair populer suku Bun. Tak terkecuali wanita dan anak-anak, para lelaki pun ikut menyanyi dengan gaya suara polifonik.
Tak ada rasa cemas yang terpancar dari air muka para penutur Austronesia tersebut. Mereka terus bersenandung, meski ombak mengombang-ambing perahu layar bercadik itu.
Para lelaki suku Bun juga pelayar ulung, ahli navigasi maritim sebagaima suku-suku lain di Formosa. Panduan mereka adalah bintang gemintang yang melintang dari utara ke selatan. Dengan panduan benda langit itulah ditentukan arah mata angin.
Kemana tujuan pelayaran hari itu? Mereka pun tak pernah tahu. Bahkan ketua suku dan kepala keluarga pun menggeleng.
Tekad mereka hanya satu, menuju ke arah matahari terbit. Menemukan tempat baru, pulau harapan yang diimpikan.
Berlayar di lautan lepas, bagi mereka, sebenarnya persis seperti berada di rumah. Bagaimana tidak. Sedari awal mereka adalah manusia-manusia perahu. Lahir, besar dan mati didalam perahu, ditengah ombang-ambing ombak.
Lautan luas menyediakan sumber pangan melimpah. Mulai dari ikan, gurita, cumi sampai burung camar yang hinggap di tiang layar. Itu sumber protein. Hanya air tawar yang harus dihemat sampai bertemu sumber mata air di pulau berikutnya.
Dinginnya hembusan angin laut bukan hambatan. Para penutur Austronesia itu sudah mempersiapkan pakaian tahan dingin. Dirajut dan ditenun dari bahan serat tanaman ramie.
Ramie adalah serat tanaman Asia yang mirip dengan rami. Sangat tahan lama dan digunakan sebagai bahan utama tenunan. Warna asli ramie, putih keabu-abuan, menjadi warna dasar pakaian awal sebelum pewarnaan dan motif pola hias diperkenalkan.
Sebelum menjahit, kain ditenun secara manual. Menggunakan alat tenun tradisional yang dibuat dari kayu. Sedangkan alat bantu pengikat, atau peniti tradisional penahan kain sebelum dijahit, digunakan duri atau kayu kecil.
Kemudian, melalui kontak dengan kelompok lain, benang kapas dan wol digunakan untuk menjahit dan menghias pakaian.
Benang kapas putih sering digunakan untuk jahitan dalam dan detail halus. Sedangkan kulit hewan digunakan untuk pakaian luar atau pelindung, terutama saat berburu dan berlayar.
Pewarna alami dari tumbuhan digunakan untuk menghias kain. Motif hiasan di pakaian mereka terinspirasi dari ular berbisa “hundred pace pit viper.” Disebut kaviath oleh suku Bun, berarti “teman” terlihat dalam bentuk garis, segitiga, dan mosaik.
Mereka membuat pakaian dari dua lembar kain tenun, dijahit menggunakan jarum dari tulang. Kemudian dibordir dengan benang berwarna kuning, merah, hijau, dan hitam.
Bordir warna-warni itu menghiasi bagian depan dan lengan. Selain estetika, warna warni juga menandakan status sosial.
Pastinya, pakaian tradisional suku Bun terbuat dari bahan tenun tangan. Dihiasi dengan motif geometris atau simbolik, mencerminkan status sosial, peran dalam komunitas, atau hubungan dengan alam.
Berhari-hari sudah pelayaran para penutur Austronesia itu, mereka pun menemukan hamparan pulau yang cukup banyak. Itulah kepulauan Filipina di Lautan Pasifik.
Disana mereka mencari air tawar, ada yang menetap, sebagian lagi melanjutkan pelayaran ke selatan, melalui selat Celebes. Migran asal Formosa itu, banyak yang menetap di Pulau Borneo dan Celebes.
Suku Bun yang terbiasa menetap di dataran tinggi, tak betah berlama-lama di dataran rendah dan pantai. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke barat, mencari pulau harapan.
Bersambung…





