Ketika Kesalahan Anak Menjadi Viral : Tegas Mendidik, Bijak Memperlakukan

oleh

Catatan Mahbub Fauzie*

Ada sebuah peristiwa yang belakangan menjadi perhatian publik: sejumlah siswa diduga berada di luar sekolah pada jam belajar, merokok dan bermain domino. Peristiwa tersebut menjadi semakin ramai setelah mendapat teguran langsung dari Bupati Aceh Tengah.

Terlepas dari bagaimana kronologi lengkapnya, ada hal positif yang patut kita lihat. Kepedulian seorang kepala daerah terhadap perilaku anak-anak sekolah merupakan sesuatu yang penting. Teguran tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan dan generasi muda tidak boleh dibiarkan menjadi urusan sekolah semata.

Bahkan, peristiwa ini seharusnya menjadi alarm bagi kita semua bahwa kondisi sebagian anak-anak kita memang tidak sedang baik-baik saja. Mereka membutuhkan perhatian, pendampingan dan pembinaan.

Namun, ada sisi lain yang menurut saya juga perlu kita kritisi secara bijak, yaitu cara kita menampilkan dan menyebarluaskan kesalahan anak di ruang digital.

Ketika wajah anak ditampilkan secara vulgar dalam video yang kemudian beredar luas di media sosial, kita perlu bertanya: apakah itu sudah sesuai dengan etika penggunaan teknologi informasi?

Anak-anak tersebut memang melakukan kesalahan dan harus mendapatkan pembinaan. Tetapi mereka tetap anak-anak yang sedang tumbuh dan belajar. Jangan sampai kesalahan sesaat berubah menjadi hukuman sosial yang panjang karena wajah dan identitas mereka telah tersebar di internet.

Jika sebuah video digunakan untuk edukasi atau pembelajaran publik, wajah anak semestinya diburamkan.
Kita boleh tegas terhadap perilakunya, tetapi tetap harus menjaga martabat dan masa depannya.

Mendidik bukan berarti mempermalukan. Menegur bukan berarti membuka aib. Menegakkan disiplin bukan berarti menghukum masa depan anak.

๐ˆ๐ง๐ข ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ก๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฌ๐จ๐š๐ฅ๐š๐ง ๐š๐ง๐š๐ค

Peristiwa ini jangan membuat kita tergesa-gesa mengatakan, โ€œAnak sekarang memang sudah rusak.โ€
Pertanyaan yang lebih penting justru: apa yang sedang terjadi di sekitar mereka?

Anak tidak tumbuh sendirian.
Ia tumbuh di rumah bersama orang tua, di sekolah bersama guru, di lingkungan bersama masyarakat, dan di dunia digital bersama berbagai macam informasi serta contoh perilaku yang setiap hari mereka lihat.

Karena itu, ketika karakter anak bermasalah, kita tidak cukup hanya bertanya apa yang salah dengan anak.

Kita juga perlu bertanya:

Apa yang telah kita ajarkan?
Apa yang telah kita contohkan?
Siapa yang mendampingi mereka?
Lingkungan seperti apa yang kita bangun untuk mereka?

๐Š๐ž๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐๐š๐ง๐š๐ง ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฉ๐ž๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐š๐ง ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฉ๐š๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐ง๐ฒ๐š๐ญ๐š

Orang tua adalah pendidik pertama. Rumah merupakan sekolah pertama bagi anak.

Anak belajar dari kebiasaan orang tuanya. Ia memperhatikan bagaimana orang tua berbicara, menghormati orang lain, menggunakan media sosial, menjalankan ibadah, bekerja, menaati aturan dan menyelesaikan persoalan.

Di sekolah, guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran. Guru adalah pendidik sekaligus teladan.
Karena itu pendidikan karakter tidak cukup hanya ditulis dalam program sekolah atau disampaikan dalam ceramah. Ia harus terlihat dalam keseharian.
Keteladanan lebih kuat daripada nasihat.

Anak-anak juga belajar dari masyarakat. Tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda dan lingkungan sosial memiliki peran dalam membentuk perilaku mereka.

Begitu pula para pemimpin di semua tingkatan.
Pemimpin kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional juga menjadi bagian dari lingkungan pendidikan. Sikap dan perilaku mereka dilihat oleh generasi muda.

Jika kita ingin anak-anak disiplin, orang dewasa harus menunjukkan kedisiplinan.
Jika kita ingin anak-anak santun, orang dewasa harus menunjukkan kesantunan.

Jika kita ingin anak-anak menghormati aturan, orang dewasa harus memberi contoh dalam menaati aturan.
Jika kita ingin anak-anak berakhlak, maka ruang publik harus dipenuhi keteladanan.

๐“๐ž๐ ๐š๐ฌ ๐ฆ๐ž๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค, ๐›๐ข๐ฃ๐š๐ค ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ž๐ซ๐ฅ๐š๐ค๐ฎ๐ค๐š๐ง

Teguran terhadap siswa yang melakukan pelanggaran tentu diperlukan. Aturan harus ditegakkan. Disiplin harus dibangun.
Tetapi setelah teguran harus ada pembinaan.

Anak yang melakukan kesalahan jangan langsung dicap sebagai anak nakal, apalagi dipermalukan di ruang publik. Mereka harus diberi kesempatan untuk memahami kesalahan, menerima konsekuensi dan memperbaiki diri.

Di sinilah pentingnya sinergi pemerintah, sekolah, orang tua dan masyarakat.

Pemerintah memperkuat kebijakan dan pengawasan.
Sekolah memperkuat pembinaan karakter.
Guru memperkuat keteladanan.
Orang tua memperkuat pendampingan.
Masyarakat memperkuat kepedulian.
Tokoh agama dan tokoh adat memperkuat pendidikan akhlak, adat dan adab.

Dan media serta pengguna media sosial memperkuat etika dalam menyampaikan informasi.

Kita juga perlu mengajarkan kepada anak bahwa teknologi bukan ruang tanpa batas. Apa yang diunggah hari ini bisa menjadi rekam jejak yang panjang. Karena itu, literasi digital harus berjalan bersama pendidikan karakter.

๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐›๐ข๐š๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ค๐ž๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐ก๐š๐ซ๐ข ๐ข๐ง๐ข ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ง๐œ๐ฎ๐ซ๐ค๐š๐ง ๐ฆ๐š๐ฌ๐š ๐๐ž๐ฉ๐š๐ง

Anak-anak yang hari ini melakukan kesalahan belum tentu menjadi orang buruk di masa depan.
Mereka masih memiliki kesempatan untuk berubah.

Bahkan bisa jadi kelak mereka menjadi orang-orang yang baik, sukses dan bermanfaat bagi masyarakat.

Karena itu, jangan kita rusak masa depan mereka hanya karena cara kita memperlakukan kesalahan mereka hari ini.

Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai alarm, bukan sekadar tontonan.

Alarm bagi pemerintah.
Alarm bagi sekolah.
Alarm bagi guru.
Alarm bagi orang tua.
Alarm bagi masyarakat.
Dan alarm bagi kita semua.

Sebab sesungguhnya, persoalan karakter anak bukan hanya tentang โ€œanak-anak kita seperti apa?โ€

Tetapi juga tentang: โ€œOrang dewasa seperti apa yang sedang mereka lihat dan teladani?โ€
Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika hanya dibebankan kepada sekolah.

Karakter anak adalah hasil dari keteladanan yang mereka lihat, nilai yang mereka dengar, kebiasaan yang mereka jalani dan lingkungan yang kita bangun bersama.

Maka, mari kita tegas dalam mendidik, bijak dalam menegur, santun dalam menyampaikan, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

Karena anak-anak kita bukan sekadar objek pendidikan. Mereka adalah amanah dan masa depan kita.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.