Oleh : Prof. Ahmad Humam Hamid
Sejarah Kopi Gayo mempunyai sebuah cerita yang terlalu rapi. Belanda datang, kopi ditanam, perkebunan dibuka, lalu dataran tinggi Gayo perlahan-lahan tumbuh menjadi salah satu negeri kopi terkemuka. Masalahnya, sejarah jarang serapi itu. Ketika C. Snouck Hurgronje meneliti masyarakat Gayo pada pergantian abad kedua puluh, ia menemukan pohon kopi sudah berada di sana. Orang Gayo bahkan mengenal minuman dari daun kopi yang dipanggang dan diseduh. Namanya sengkewe, atau kewe.
Catatan itu mengganggu cerita besar yang selama ini kita kenal. Ekonomi perkebunan kopi kolonial belum menjadi mesin Gayo seperti kemudian hari, tetapi pohonnya sudah ada dan masyarakat sudah mempunyai nama untuk minumannya. Dari mana tanaman itu datang dan sejak kapan? Pertanyaan tersebut membawa kita turun dari pegunungan Gayo, menyusuri pesisir Aceh, kemudian menyeberangi Samudra Hindia menuju sebuah pelabuhan kecil di pantai Yaman: Mocha.
Dari Mocha Datang Qahwa
Mocha, atau al-Mukha, terletak di pantai Laut Merah Yaman, tidak jauh dari Bab al-Mandab, pintu sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Letaknya membuat Mocha menjadi engsel perdagangan: ke utara terbentang Jeddah, Mesir dan dunia Ottoman, sedangkan ke timur terdapat India, Selat Malaka dan kepulauan Asia Tenggara.
Kopi yang membuat Mocha terkenal sebenarnya bukan terutama tumbuh di kota pelabuhan tersebut. Tanamannya berkembang di pegunungan Yaman, lalu hasilnya bergerak melalui pusat-pusat perdagangan pedalaman menuju Mocha untuk dikapalkan ke berbagai penjuru dunia. Begitu kuat hubungan keduanya sehingga nama sebuah kota akhirnya ikut menumpang di atas secangkir kopi: Mocha.
Dalam bahasa Arab, minuman itu dikenal sebagai qahwa. Melalui perjalanan panjang antarmasyarakat, kata tersebut melahirkan berbagai bentuk dalam bahasa lain. Dalam dunia Melayu juga ditemukan bentuk kahwa. Jauh di pegunungan Aceh kemudian terdengar sebuah kata: kewe. Apakah keduanya berhubungan? Pertanyaannya menggoda, tetapi jawabannya belum boleh tergesa-gesa.
Aceh Sudah Berada di Jalan Itu
Kemungkinan hubungan tersebut menjadi menarik karena Aceh bukan negeri yang terisolasi dari dunia qahwa. Berabad-abad sebelum Belanda menguasainya, Kesultanan Aceh sudah menjadi salah satu simpul perdagangan Samudra Hindia.
Kapal bergerak antara Aceh, Gujarat, pantai Coromandel dan dunia Arab. Jaringan Laut Merah menghubungkan Mocha dan Jeddah dengan India serta Asia Tenggara, dan dalam berbagai sumber Eropa, Achin muncul dalam dunia perdagangan yang juga bersentuhan dengan Mocha.
Hubungan itu tidak berhenti pada barang. Ulama Aceh menempuh perjalanan panjang menuju pusat-pusat ilmu di Hijaz dan Yaman. Abdurrauf as-Singkili, salah seorang intelektual terbesar Aceh abad ketujuh belas, menghabiskan bertahun-tahun dalam jaringan keilmuan Timur Tengah sebelum pulang ke Aceh pada masa Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah. Pedagang, pelaut, jamaah haji ataupun ulama Aceh sangat mungkin telah mengenal qahwa dalam perjalanan mereka, tetapi sejarah tidak boleh mengubah “sangat mungkin” menjadi “pasti”. Untungnya kita mempunyai bukti lain yang lebih keras.
Kopi dalam Daftar Bea Safiatuddin
Pada masa Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, yang memerintah Aceh antara 1641 dan 1675, administrasi kerajaan mencatat berbagai barang perdagangan yang dikenai bea di pelabuhan. Jejaknya terdapat dalam Adat Atjèh, kumpulan aturan dan catatan administratif Kesultanan Aceh yang kemudian disunting secara ilmiah oleh G.W.J. Drewes dan P. Voorhoeve.
Pada bagian yang oleh kedua editor ditempatkan pada masa Safiatuddin, ketika Orang Kaya Seri Paduka Sabrang menjadi Panglima Bandar, terdapat daftar barang yang dikenai pungutan. Daftarnya memperlihatkan betapa kosmopolitannya Bandar Aceh: candu, gading, mesiu, kemenyan, teh, kaca, gambir, cengkeh, kurma, besi, gula, kapulaga, kayu cendana, belerang, damar, lada, sutra dan berbagai barang lainnya. Di antara barang-barang tersebut tercantum kopi.
Temuan ini mengubah persoalan. Kita tidak lagi hanya mengatakan bahwa Aceh mungkin mengenal kopi karena berhubungan dengan dunia Arab. Kita mempunyai jejak administratif yang oleh editor Adat Atjèh ditempatkan pada pemerintahan Safiatuddin dan mencatat kopi sebagai komoditas yang dikenai bea sekitar pertengahan abad ketujuh belas, lebih dari dua abad sebelum kekuasaan kolonial Belanda mencapai dataran tinggi Gayo.
Kehati-hatian tetap diperlukan. Manuskrip Adat Atjèh yang bertahan merupakan hasil penyalinan kemudian, sementara materi administratif di dalamnya mengalami beberapa tahap transmisi. Daftar bea tersebut membuktikan keberadaan kopi dalam dunia perdagangan Kesultanan, tetapi belum membuktikan bahwa Sultanah Safiatuddin atau masyarakat Aceh ketika itu mempunyai kebiasaan minum kopi seperti sekarang. Namun satu anggapan menjadi semakin sulit dipertahankan: bahwa dunia Aceh baru mengenal kopi setelah datangnya perkebunan kolonial.
Qahwa, Kawa dan Kewe
Ada petunjuk linguistik yang membuat cerita semakin menarik. Dalam tradisi Aceh kemudian dikenal penyebutan pohon kopi sebagai bak kahwa, sedangkan kegiatan minum kopi disebut jéb kupi. Dalam sumber-sumber perdagangan lama juga ditemukan bentuk kahwa atau cauwa yang berhubungan dengan Arab qahwa. Sementara itu di Gayo kita menemukan kewe.
Qahwa, kahwa, kawa, kewe. Susunannya hampir terlalu indah untuk tidak menggoda seorang penulis sejarah, dan justru karena itu kita harus berhati-hati. Kemiripan bunyi tidak otomatis membuktikan garis keturunan sebuah kata. Untuk mengatakan bahwa kewe berasal langsung dari qahwa, diperlukan penelitian linguistik mengenai perubahan bunyi, umur kata, bahasa perantara dan jalur perpindahannya. Untuk sementara, lebih baik empat kata itu kita jadikan pertanyaan daripada kesimpulan.
Marsden dan Kopi Sumatra
Lebih dari satu abad setelah masa Safiatuddin, William Marsden memberikan potongan lain. Dalam The History of Sumatra, yang pertama terbit pada 1783, ia sudah membicarakan pohon kopi di Sumatra dan menggambarkannya sebagai tanaman yang ditanam luas, sekalipun ia mengkritik mutu hasil serta cara pengolahannya. Tahun itu masih sembilan puluh tahun sebelum Perang Aceh dimulai pada 1873.
Dengan demikian, jauh sebelum penaklukan kolonial atas Aceh, kopi sudah berada dalam lanskap ekonomi Sumatra. Persoalan berikutnya adalah bagaimana tanaman itu mencapai pedalaman Gayo. Mungkin ia bergerak dari pesisir barat melalui Susoh, mungkin melalui pantai utara atau jaringan perdagangan antarpedalaman, dan mungkin pula beberapa jalur bekerja pada waktu yang berbeda. Kita belum tahu, dan “belum tahu” adalah jawaban sejarah yang lebih terhormat daripada mengisi ruang kosong dengan legenda.
Snouck Menemukan Kewe
Pada 1903, Snouck Hurgronje menerbitkan Het Gajoland en Zijne Bewoners. Catatannya memberi kita sebuah jendela tepat sebelum transformasi besar ekonomi kopi Gayo. Ia menemukan tanaman kopi telah dikenal masyarakat, tetapi hubungan orang Gayo dengan kopi ketika itu belum sepenuhnya mengikuti logika yang kelak dibawa perkebunan. Daun kopi dipanggang dan diseduh menjadi minuman yang disebut sengkewe atau kewe.
Buah kopi juga mulai mempunyai nilai jual. Sebagian hasilnya dalam jumlah terbatas bergerak menuju pasar luar, termasuk Susoh dan kawasan Aceh bagian utara. Namun kita belum melihat mesin perkebunan ekspor yang kemudian mengubah wajah dataran tinggi. Ini mungkin salah satu bagian terpenting dari seluruh cerita: daun datang sebelum industri biji.
Hari ini dunia mengenal Gayo dari Arabika: varietas, ketinggian, proses pascapanen, cupping score, eksportir dan kedai-kedai kopi dari Jakarta sampai Eropa dan Amerika. Tetapi salah satu catatan awal mengenai hubungan masyarakat Gayo dengan tanaman kopi justru bercerita tentang daun. Masyarakat telah mempunyai hubungan dengan tanaman itu sebelum ekonomi perkebunan mengajukan pertanyaan yang berbeda: berapa hektare, berapa produksi, berapa harga, dan ke pelabuhan mana hasilnya harus dikirim?
Apa yang Dibawa Belanda?
Di sinilah “Mitos Kopi Belanda” harus ditempatkan secara proporsional. Belanda memainkan peranan sangat besar dalam sejarah Kopi Gayo; menyangkalnya hanya akan mengganti satu mitos dengan mitos lainnya. Setelah kekuasaan kolonial menembus dataran tinggi, kopi masuk ke dalam sistem ekonomi baru. Tanah dipetakan, produksi diperluas, teknik budidaya dikembangkan, infrastruktur dibangun, sementara tenaga kerja, kebun dan perdagangan semakin dihubungkan dengan pelabuhan serta pasar dunia.
Kopi berubah dari tanaman menjadi industri. Yang dibawa kolonialisme terutama adalah sistem: modal, administrasi, perkebunan, infrastruktur dan jaringan ekspor yang membuat skala ekonomi kopi berbeda dari sebelumnya. Karena itu terdapat perbedaan besar antara mengatakan Belanda mengembangkan perkebunan kopi Gayo dan Belanda memperkenalkan kopi kepada Gayo. Kalimat pertama mempunyai landasan sejarah yang kuat; kalimat kedua semakin sulit dipertahankan.
Mencari Titik Nol
Sekarang kita mempunyai beberapa keping. Ada qahwa dan Mocha di dunia Laut Merah; Aceh abad ketujuh belas berada dalam jaringan perdagangan Samudra Hindia; daftar bea masa Safiatuddin mencatat kopi sebagai barang perdagangan; Marsden pada 1783 menemukan tanaman kopi sudah ditanam di Sumatra; dan pada awal abad kedua puluh Snouck menemukan pohon kopi serta kewe di Gayo sebelum perkebunan kolonial berkembang menjadi mesin ekonomi seperti kemudian hari.
Tetapi kita masih kehilangan mata rantai yang paling menentukan: kapan dan melalui jalan mana kopi pertama kali naik ke pegunungan Gayo? Mungkin jawabannya suatu hari ditemukan dalam manifest kapal dari Mocha, buku seorang syahbandar Aceh, catatan pedagang di Susoh, manuskrip Melayu atau Arab, atau bahkan sejarah sebuah kata Gayo yang selama ini diucapkan tanpa pernah dipertanyakan umurnya.
Sampai bukti itu ditemukan, jangan kita mengisi ruang kosong dengan kepastian palsu. Namun jangan pula membiarkan cerita kolonial menghapus halaman-halaman yang sudah ada sebelumnya. Belanda memang menulis bab besar dalam sejarah Kopi Gayo dengan mengubah skala, pasar dan ekonomi tanaman tersebut. Tetapi lebih dari dua abad sebelum perkebunan kolonial berkembang di dataran tinggi, kopi sudah tercatat dalam dunia perdagangan Kesultanan Aceh. Ketika Snouck kemudian membuka buku catatannya di Gayo, ia menemukan pohonnya sudah tumbuh dan masyarakat bahkan mempunyai sebuah nama untuk minumannya: kewe.
Karena itu pertanyaan kita bukan lagi apakah Belanda berperan besar membangun ekonomi Kopi Gayo. Peranan itu jelas. Pertanyaan sejarah yang jauh lebih menarik adalah: ketika Belanda mulai menulis bab perkebunan tersebut, siapa yang telah menulis halaman sebelumnya?





