Mengasuh Anak dengan Cinta, Mendidik dengan Keteladanan

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah

Anak-anak kita tumbuh di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Mereka tidak hanya belajar dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar, tetapi juga dari layar telepon genggam yang setiap hari menyajikan beragam informasi, tontonan, dan gaya hidup. Dalam situasi ini, mendidik anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikan formal. Lebih dari itu, orang tua dituntut hadir sebagai pendamping, pembimbing, sekaligus teladan dalam kehidupan mereka.

Di sinilah pentingnya mengasuh anak dengan cinta dan mendidik melalui keteladanan.

Islam memandang anak sebagai amanah dari Allah SWT. Amanah tersebut bukan hanya untuk dibesarkan, melainkan juga untuk dijaga fitrahnya, dibimbing akhlaknya, serta ditanamkan nilai-nilai keimanan sejak dini. Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan arah tumbuh kembang anak, terutama dalam membentuk karakter dan kepribadiannya.

Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari, pengasuhan terkadang lebih banyak diwarnai tuntutan daripada kedekatan. Orang tua ingin anaknya rajin belajar, patuh, santun, dan taat beribadah. Akan tetapi, tanpa disadari, anak justru lebih sering mendengar bentakan daripada nasihat, lebih banyak menerima larangan daripada penjelasan, dan lebih sering dituntut daripada dihargai.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi teladan bagi perilaku yang kita harapkan tumbuh dalam diri anak?

๐‚๐ข๐ง๐ญ๐š ๐๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐’๐ž๐ค๐š๐๐š๐ซ ๐Œ๐ž๐ฆ๐š๐ง๐ฃ๐š๐ค๐š๐ง

Mengasuh anak dengan cinta tidak berarti membiarkan mereka melakukan apa saja. Kasih sayang tetap harus berjalan beriringan dengan aturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Perbedaannya terletak pada cara orang tua menerapkan ketegasan tersebut.

Anak yang melakukan kesalahan perlu dibimbing agar memahami akibat perbuatannya, bukan dipermalukan hingga kehilangan kepercayaan diri. Anak yang belum mampu memenuhi harapan orang tua perlu diarahkan, bukan dibanding-bandingkan dengan saudara atau anak lain.

Cinta membuat anak merasa aman. Ketegasan membantu mereka mengenali batas. Sementara komunikasi yang baik membuat anak memahami alasan di balik aturan yang diterapkan.

Ketika anak merasa diterima dan dihargai, ia akan lebih mudah membangun kepercayaan kepada orang tuanya. Kepercayaan inilah yang menjadi fondasi penting agar anak tidak segan bercerita ketika menghadapi persoalan, termasuk ketika mengalami kesulitan dalam pergaulan maupun saat berhadapan dengan pengaruh negatif dari luar rumah.

Sebaliknya, apabila rumah selalu menjadi tempat yang menakutkan, bukan tidak mungkin anak memilih mencari kenyamanan di luar, bahkan kepada lingkungan yang belum tentu baik baginya.

๐€๐ง๐š๐ค ๐๐ž๐ฅ๐š๐ฃ๐š๐ซ ๐๐š๐ซ๐ข ๐€๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ƒ๐ข๐ฅ๐ข๐ก๐š๐ญ

Pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui nasihat. Anak-anak belajar dengan mengamati perilaku orang-orang terdekatnya. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua berbicara, memperlakukan orang lain, menyelesaikan perselisihan, menjalankan ibadah, dan menepati janji.

Jika orang tua menginginkan anak berkata jujur, kejujuran harus tampak dalam kehidupan keluarga. Jika ingin anak menghormati orang lain, orang tua pun harus memperlihatkan sikap hormat. Jika ingin anak rajin salat, anak perlu melihat orang tuanya menjaga salat, bukan sekadar mendengar perintah untuk melaksanakannya.

Rasulullah SAW merupakan teladan utama dalam mendidik manusia dengan akhlak mulia. Kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang beliau mengajarkan bahwa pendidikan bukan semata-mata soal menyampaikan kebenaran, melainkan juga tentang bagaimana kebenaran itu disampaikan sehingga menyentuh hati.

Keteladanan orang tua memiliki kekuatan yang sering kali melampaui panjangnya nasihat. Sebab, anak mungkin lupa terhadap kalimat yang pernah diucapkan orang tuanya, tetapi pengalaman tentang bagaimana mereka diperlakukan dapat membekas jauh lebih lama.

Karena itu, pendidikan keluarga sesungguhnya dimulai dari kesediaan orang tua memperbaiki dirinya sendiri.

๐Œ๐ž๐ง๐๐š๐ฆ๐ฉ๐ข๐ง๐ ๐ข ๐€๐ง๐š๐ค ๐๐ข ๐„๐ซ๐š ๐ƒ๐ข๐ ๐ข๐ญ๐š๐ฅ

Tantangan pengasuhan masa kini juga semakin kompleks. Telepon genggam, media sosial, permainan daring, dan beragam konten digital telah menjadi bagian dari keseharian anak. Teknologi dapat memberikan manfaat, tetapi tanpa pendampingan, anak berisiko terpapar informasi yang tidak sesuai dengan usia dan perkembangan emosionalnya.

Melarang penggunaan gawai sepenuhnya bukan selalu menjadi solusi. Yang lebih penting adalah membangun kesepakatan tentang waktu penggunaan, mengenalkan konten yang layak, serta memberikan pemahaman tentang sopan santun dan keamanan di ruang digital.

Orang tua juga perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak. Jangan sampai kita mengetahui berbagai aktivitas anak di dunia maya, tetapi tidak memahami apa yang sedang mereka rasakan. Jangan sampai kita sibuk mengawasi layar mereka, tetapi abai terhadap kegelisahan yang tersimpan dalam hati mereka.

Kehadiran orang tua tidak dapat digantikan oleh perangkat elektronik, sebagaimana kasih sayang tidak dapat diukur hanya dari fasilitas yang diberikan.

Anak membutuhkan waktu bersama, percakapan yang hangat, perhatian yang tulus, dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat tanpa selalu merasa dihakimi.

๐ƒ๐จ๐š ๐๐š๐ง ๐ˆ๐ค๐ก๐ญ๐ข๐š๐ซ ๐๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ฌ๐ฎ๐ก๐š๐ง

Selain cinta, keteladanan, dan pendampingan, doa merupakan bagian penting dalam pendidikan anak. Orang tua perlu menyadari bahwa mereka tidak dapat mengendalikan seluruh perjalanan hidup anak. Ada masa ketika anak tumbuh, mengambil keputusan, menghadapi ujian, dan menjalani kehidupan di luar jangkauan pengawasan keluarga.

Karena itu, ikhtiar mendidik harus disertai doa yang tidak putus-putus. Orang tua memohon kepada Allah SWT agar anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, sehat, cerdas, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama.

Doa bukan alasan untuk mengabaikan usaha. Sebaliknya, doa menguatkan ikhtiar dan mengajarkan kerendahan hati bahwa keberhasilan pengasuhan tidak sepenuhnya berada dalam kuasa manusia.

Orang tua mendidik sebaik mungkin, memberikan teladan, memperbaiki komunikasi, dan terus belajar memahami perkembangan anak. Selebihnya, mereka bertawakal kepada Allah SWT.

Dalam konteks ini, keluarga harus menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak. Di rumah, anak belajar mengenal Tuhan, memahami arti kasih sayang, membedakan yang benar dan salah, serta membiasakan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut akan menjadi bekal ketika mereka berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas.

๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ฎ๐š๐ญ๐ค๐š๐ง ๐Š๐ž๐ญ๐š๐ก๐š๐ง๐š๐ง ๐Š๐ž๐ฅ๐ฎ๐š๐ซ๐ ๐š

Pengasuhan anak bukan hanya urusan pribadi orang tua, melainkan juga bagian dari upaya membangun masyarakat yang berkarakter. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat secara emosional dan kuat secara spiritual memiliki kesempatan lebih baik untuk mengembangkan sikap empati, disiplin, dan tanggung jawab.

Karena itu, penguatan keluarga perlu menjadi perhatian bersama. Orang tua, sekolah, masyarakat, dan lembaga keagamaan harus saling mendukung dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi tumbuh kembang anak.

Kegiatan pengajian, misalnya, dapat menjadi ruang belajar bagi para orang tua untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus membicarakan persoalan nyata dalam kehidupan keluarga. Pengajian tidak semestinya berhenti pada penyampaian materi keagamaan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kesadaran tentang pentingnya pendidikan, komunikasi, dan keteladanan di rumah.

Dalam kegiatan Pengajian An-Nisa Fuspita KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah, pada Kamis, 15 Oktober 2026, tema โ€œParenting: Mengasuh Anak dengan Cinta dan Keteladananโ€ menjadi pengingat bahwa pembangunan keluarga sakinah tidak hanya berkaitan dengan keharmonisan hubungan suami istri, tetapi juga dengan tanggung jawab bersama dalam mendidik generasi penerus.

Keluarga yang kuat tidak selalu berarti keluarga tanpa masalah. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang berusaha menghadapi persoalan dengan komunikasi, kesabaran, tanggung jawab, dan nilai-nilai agama sebagai pedoman.

Mengasuh anak tidak menuntut orang tua menjadi manusia sempurna. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan hadir dengan cinta yang nyata.

Sebab, anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu menunjukkan jalan, tetapi juga orang tua yang bersedia berjalan bersama mereka. Bukan hanya orang tua yang pandai menasihati, melainkan juga yang berani memberi contoh.

Mari kita mulai dari hal sederhana: mendengarkan lebih banyak, membentak lebih sedikit, memberikan teladan sebelum menuntut, dan tidak pernah lelah mendoakan.

Anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat kita, tetapi nilai-nilai yang mereka lihat dan kasih sayang yang mereka rasakan akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup mereka.[]

Atu Lintang, 15 Oktober 2026

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.