Rumah Tangga Bukan Sekadar Tempat Tinggal

oleh

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Sabtu, 17 Oktober 2026, di luar hari dan jam dinas, saya kembali menjalankan tugas negara dalam pelayanan umat. Kali ini, menghadiri akad nikah warga Kampung Merah Muyang, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah, dengan warga dari Kampung Wih Nongkal, Kecamatan Kute Panang, kabupaten yang sama.

Bagi seorang penghulu, pelayanan pernikahan bukan sekadar urusan administratif atau menghadiri sebuah seremoni. Ada amanah yang harus ditunaikan, yakni memimpin, memandu, dan mengawasi pelaksanaan ijab kabul agar berlangsung sesuai tuntunan syariat Islam dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Prosesi akad nikah dalam tradisi masyarakat Gayo berlangsung sebagaimana lazimnya. Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan kalam Ilahi, penyerahan rempele atau calon mempelai laki-laki oleh reje dari kampung asalnya, kemudian diterima oleh reje dari pihak mempelai perempuan. Rangkaian berlanjut dengan pengantar penghulu, pembacaan khutbah nikah, pelaksanaan ijab kabul, dan doa penutup.

Ada satu hal menarik dalam kesempatan tersebut. Hadir pula tokoh masyarakat Gayo, Ir. H. Nasaruddin, M.M., mantan Bupati Aceh Tengah periode 2007–2012 dan 2012–2017. Sebagai tokoh yang dikenal religius dan dekat dengan masyarakat, beliau mendapat kesempatan menyampaikan petuah serta nasihat pernikahan kepada kedua mempelai dan keluarga yang hadir.

Dari rangkaian nasihat tersebut, ada satu pesan yang layak menjadi bahan renungan bersama: rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat membangun ibadah, menanamkan keteladanan, dan menumbuhkan kebaikan.

𝐏𝐞𝐫𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐆𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫

Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Ia menyatukan dua insan dalam ikatan yang sah sekaligus mempertemukan dua keluarga dalam jalinan silaturahmi. Karena itu, akad nikah kerap dirayakan dengan penuh kebahagiaan, dihadiri kerabat, tetangga, tokoh masyarakat, serta diiringi doa dan harapan.

Namun, setelah seluruh rangkaian acara selesai, para tamu pulang, dan suasana perayaan mereda, kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya justru dimulai.

Di sinilah pasangan suami istri menghadapi kenyataan hidup. Ada kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi, perbedaan karakter yang perlu dipahami, persoalan yang harus diselesaikan, serta tanggung jawab keluarga yang tidak selalu mudah dijalani.

Pernikahan tidak cukup hanya bermodalkan cinta. Cinta harus dirawat dengan kesetiaan, diperkuat dengan komunikasi, dibuktikan melalui tanggung jawab, dan diarahkan oleh nilai-nilai agama.

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 56, yang artinya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Pesan ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan pengabdian kepada Allah SWT. Maka, kehidupan berumah tangga pun semestinya menjadi bagian dari perjalanan ibadah tersebut.

Mencari nafkah yang halal, melayani keluarga dengan tulus, mendidik anak, menghormati pasangan, membantu tetangga, dan menjaga silaturahmi dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar serta sesuai tuntunan agama.

Dengan demikian, rumah tangga bukan semata-mata tempat memenuhi kebutuhan jasmani, melainkan ruang untuk mendewasakan diri, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

𝐁𝐚𝐢𝐤 𝐝𝐢 𝐋𝐮𝐚𝐫, 𝐁𝐚𝐢𝐤 𝐏𝐮𝐥𝐚 𝐝𝐢 𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡

Ada kenyataan yang terkadang luput dari perhatian kita. Seseorang bisa tampil ramah di tengah masyarakat, santun ketika bertemu tokoh kampung, dan ringan tangan membantu tetangga. Namun, belum tentu sikap yang sama dirasakan oleh pasangan dan anak-anaknya di rumah.

Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik terhadap keluarganya.

Pesan ini mengandung ukuran moral yang mendalam. Akhlak seseorang tidak cukup dinilai dari penampilannya di ruang publik, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang terdekatnya.

Dalam ungkapan masyarakat Gayo, jeroh berarti baik. Menjadi pribadi yang jeroh semestinya tidak berhenti pada keramahan di hadapan orang lain. Kebaikan itu juga harus dirasakan oleh pasangan, anak-anak, dan seluruh anggota keluarga.

Suami yang baik bukan hanya yang mampu memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga yang mau mendengarkan, menghargai, melindungi, dan membimbing keluarganya. Demikian pula istri, yang bersama suami memiliki peran penting dalam membangun hubungan yang saling menghormati dan mendukung kebaikan.

Rumah tangga bukan arena untuk membuktikan siapa yang paling berkuasa. Ia adalah ruang untuk belajar memahami perbedaan, mengendalikan emosi, dan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi serta musyawarah.

Keharmonisan tidak berarti rumah tangga bebas dari masalah. Keharmonisan tumbuh ketika kedua pasangan bersedia menghadapi masalah bersama, bukan saling menyalahkan atau membiarkannya berlarut-larut.

𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐀𝐦𝐚𝐧𝐚𝐡

Keluarga merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Suami dan istri tidak hanya bertanggung jawab terhadap kebahagiaan masing-masing, tetapi juga terhadap suasana kehidupan yang mereka bangun bersama.

Ketika dikaruniai anak, tanggung jawab itu semakin besar. Orang tua bukan sekadar berkewajiban memenuhi kebutuhan makan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan anak. Mereka juga bertanggung jawab menanamkan nilai agama, kejujuran, kedisiplinan, kesantunan, serta kepedulian sosial.

Pendidikan tersebut tidak cukup disampaikan melalui nasihat. Anak-anak lebih mudah menyerap apa yang mereka lihat daripada sekadar mendengar apa yang diperintahkan.

Kita tidak dapat berharap anak tumbuh menjadi pribadi santun jika setiap hari ia menyaksikan pertengkaran dan perkataan kasar. Kita juga tidak bisa menuntut anak mencintai Al-Qur’an jika orang tuanya sendiri tidak pernah memberi teladan dalam membacanya.

Karena itu, keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak, sedangkan orang tua adalah pendidik utamanya. Keteladanan menjadi bahasa pendidikan yang sering kali lebih kuat daripada seribu kata.

Rumah yang baik tidak harus memiliki bangunan megah, kendaraan mewah, atau perabot mahal. Yang lebih penting adalah bagaimana penghuninya membangun kehidupan yang sehat secara emosional, kuat secara spiritual, dan baik dalam hubungan sosial.

𝐄𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐊𝐞𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡

Untuk membangun rumah tangga yang diberkahi, ada empat kebiasaan sederhana yang layak ditumbuhkan bersama.

Pertama, membiasakan salat. Jadikan salat sebagai kebutuhan, bukan beban. Suami dan istri hendaknya saling mengingatkan dalam kebaikan serta membimbing anak-anak menjalankan ibadah dengan keteladanan dan kasih sayang.

Kedua, membiasakan membaca Al-Qur’an. Jangan biarkan kitab suci hanya tersimpan rapi di lemari. Luangkan waktu untuk membacanya, mempelajari maknanya, dan menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada anak-anak sejak dini.

Ketiga, membiasakan bersedekah. Sedekah tidak harus menunggu kaya. Berbagi makanan, membantu tetangga yang kesulitan, menyantuni anak yatim, dan menyisihkan rezeki sesuai kemampuan merupakan bentuk kepedulian yang perlu ditanamkan dalam keluarga.

Keempat, membiasakan zikir dan istigfar. Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Melalui zikir, doa, dan istigfar, anggota keluarga diajak untuk selalu mengingat Allah SWT, merendahkan hati, serta memperbaiki diri.

Keempat kebiasaan ini tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memulai, kesediaan untuk saling mengingatkan, dan ketekunan untuk menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐫𝐢𝐧𝐝𝐮𝐤𝐚𝐧

Kehidupan rumah tangga juga tidak boleh berhenti pada urusan internal keluarga. Rumah yang baik semestinya menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam kehidupan masyarakat Gayo yang menjunjung tinggi kekeluargaan, adat, dan silaturahmi, rumah tangga memiliki peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial. Menghormati orang tua, memuliakan tamu, membantu tetangga, menjaga hubungan baik dengan kerabat, dan ikut merawat kehidupan kampung merupakan nilai-nilai yang patut dipertahankan.

Namun, keramahan sosial harus berjalan seiring dengan kesalehan pribadi. Jangan sampai kita rajin menghadiri kegiatan keagamaan, tetapi abai terhadap keluarga sendiri. Jangan pula dikenal dermawan di luar rumah, tetapi enggan membantu orang-orang terdekat.

Kebaikan semestinya dimulai dari diri sendiri, dirasakan oleh keluarga, kemudian meluas kepada masyarakat.

Rumah yang dirindukan bukan selalu rumah yang paling besar atau paling mewah. Bisa jadi justru rumah sederhana yang penghuninya ramah, saling menghargai, terbuka kepada tetangga, dan ringan tangan membantu sesama.

Rumah semacam itu tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga sumber ketenteraman dan pusat tumbuhnya kebaikan.

Keberhasilan rumah tangga tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta yang dikumpulkan atau tingginya kedudukan sosial yang dicapai. Keberhasilan juga terlihat dari bagaimana suami dan istri saling menguatkan, ibadah terpelihara, anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik, dan keluarga membawa manfaat bagi lingkungannya.

Akad nikah mungkin berlangsung hanya dalam hitungan menit. Namun, membangun keluarga yang sakinah membutuhkan ikhtiar sepanjang kehidupan.

Sebab, rumah tangga yang diberkahi bukan sekadar tempat kita pulang, melainkan tempat kita belajar menjadi manusia yang lebih baik di hadapan Allah SWT dan sesama.[]

Merah Muyang, 17 Oktober 2026

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.