Nikah Itu Mudah, Tapi Rumah Tangga Bukan Perkara Sederhana

oleh

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Pernikahan sering kali dipersiapkan dengan begitu meriah. Gedung dipesan, undangan disebarkan, pakaian pengantin dijahit, katering dipilih, dan berbagai kebutuhan pesta diperhitungkan dengan cermat. Tidak sedikit keluarga yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan satu hari pernikahan.

Namun, ada satu hal yang terkadang kurang mendapat perhatian: sejauh mana calon pengantin mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan setelah pesta usai?

Sebab, pernikahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan cinta. Justru di situlah perjalanan sesungguhnya dimulai.

Setelah tamu pulang, pelaminan dibongkar, dan suasana pesta berakhir, sepasang suami istri mulai berhadapan dengan realitas kehidupan. Mereka harus belajar berbagi, memahami perbedaan, mengelola keuangan, membangun komunikasi, mengambil keputusan, dan menghadapi persoalan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Di sinilah pentingnya kesiapan sebelum menikah.

𝐏𝐞𝐫𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐌𝐞𝐧𝐲𝐚𝐭𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐃𝐮𝐚 𝐈𝐧𝐬𝐚𝐧

Pernikahan dalam Islam bukan sekadar ikatan sosial antara laki-laki dan perempuan. Ia merupakan ibadah, amanah, sekaligus komitmen untuk membangun kehidupan bersama.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah menciptakan pasangan agar manusia memperoleh ketenteraman, serta menjadikan di antara mereka kasih sayang dan rahmat (QS. Ar-Rum: 21).

Ayat ini memberikan gambaran bahwa tujuan pernikahan bukan hanya hidup bersama, melainkan menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat dalam kehidupan keluarga.

Tetapi keluarga sakinah tidak terbentuk secara otomatis setelah ijab kabul diucapkan. Ia membutuhkan proses, kesungguhan, kedewasaan, dan kesediaan kedua belah pihak untuk terus belajar.

Cinta memang penting, tetapi cinta saja tidak selalu cukup. Rumah tangga juga membutuhkan kesabaran, kejujuran, komunikasi yang sehat, kemampuan mengendalikan emosi, serta tanggung jawab dalam menjalankan peran masing-masing.

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐒𝐢𝐚𝐩 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡, 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐒𝐢𝐚𝐩 𝐁𝐞𝐫𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚

Salah satu persoalan dalam kehidupan rumah tangga adalah ketidaksiapan menghadapi perbedaan. Dua orang yang berasal dari keluarga, kebiasaan, karakter, dan latar belakang berbeda dipertemukan dalam satu ikatan.

Pada masa awal pernikahan, perbedaan mungkin terasa sebagai sesuatu yang menarik. Namun, ketika kehidupan berjalan, perbedaan tersebut bisa menjadi sumber pertengkaran apabila tidak dikelola dengan bijaksana.

Persoalan ekonomi, komunikasi, campur tangan keluarga besar, pembagian tanggung jawab, hingga pengasuhan anak dapat menjadi ujian tersendiri.

Karena itu, calon pengantin perlu memahami bahwa membangun rumah tangga bukan pekerjaan satu orang. Suami dan istri adalah mitra yang harus saling menguatkan, bukan dua pihak yang sibuk mempertahankan ego masing-masing.

Keduanya perlu belajar mendengarkan, menghargai pendapat, terbuka dalam persoalan keuangan, serta menyelesaikan masalah melalui musyawarah.

Rumah tangga yang sehat bukan rumah tangga tanpa persoalan, melainkan rumah tangga yang memiliki kemampuan menghadapi persoalan tanpa kehilangan rasa hormat dan kasih sayang.

𝐁𝐢𝐦𝐛𝐢𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐤𝐚𝐰𝐢𝐧𝐚𝐧: 𝐈𝐧𝐯𝐞𝐬𝐭𝐚𝐬𝐢 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐌𝐚𝐬𝐚 𝐃𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚

Di sinilah Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin (Bimwin) memiliki arti penting.

Bimwin bukan sekadar kegiatan formalitas menjelang akad nikah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang pembelajaran bagi calon pasangan untuk memahami kehidupan rumah tangga secara lebih utuh.

Pada Kamis, 5 November 2026, KUA Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah, kembali melaksanakan Bimbingan Perkawinan bagi lima pasangan calon pengantin.

Materi yang diberikan mencakup persiapan keluarga sakinah, pengelolaan psikologi dan dinamika keluarga, serta pemenuhan kebutuhan dan pengelolaan keuangan keluarga. Penguatan nilai-nilai keagamaan juga menjadi bagian penting dalam pembekalan tersebut.

Hal yang ingin ditanamkan adalah bahwa pernikahan harus menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan, ibadah, dan akhlak. Suami dan istri hendaknya saling mengingatkan dalam kebaikan, menjaga kehormatan keluarga, berbakti kepada orang tua, serta memberikan manfaat bagi lingkungan masyarakat.

Dengan demikian, kesiapan menikah tidak cukup diukur dari usia, pekerjaan, atau kemampuan menyelenggarakan pesta. Ada kesiapan lain yang tidak kalah penting, yakni kesiapan mental, spiritual, emosional, sosial, dan ekonomi.

Tentu, Bimwin tidak dapat menjamin bahwa setiap pasangan akan terbebas dari persoalan rumah tangga. Namun, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk mencegah persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.

𝐌𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠𝐮𝐧 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐀𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐉𝐚𝐰𝐚𝐛 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚

Membangun keluarga sakinah bukan hanya urusan suami dan istri. Ada tanggung jawab keluarga besar, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung ketahanan keluarga.

Orang tua perlu memberikan teladan kehidupan rumah tangga yang baik. Masyarakat perlu membangun budaya saling menguatkan, bukan mudah menghakimi pasangan yang sedang menghadapi persoalan. Sementara itu, lembaga pelayanan keagamaan perlu terus hadir memberikan edukasi, konsultasi, dan pendampingan keluarga.

KUA, dalam konteks ini, tidak cukup dipahami sebagai tempat mengurus administrasi dan mencatat pernikahan. KUA juga memiliki peran strategis dalam memberikan pembinaan kehidupan keluarga, mulai dari sebelum pernikahan hingga ketika keluarga menghadapi persoalan.

Pernikahan yang baik bukan semata-mata tentang bagaimana sebuah pesta diselenggarakan dengan meriah, tetapi bagaimana dua insan mampu menjaga komitmen setelah pesta itu berakhir.

Jangan sampai persiapan menuju hari pernikahan begitu panjang, tetapi persiapan menjalani kehidupan rumah tangga justru begitu singkat.

Sebab, akad nikah mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi tanggung jawab pernikahan dijalani sepanjang kehidupan.

Pernikahan bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat, tetapi juga tentang belajar menjadi pasangan yang tepat.[]

Comments

comments