Wiji Tukul
Ike rakyat beluh
Ketike penguasa pidato
Kite turah hati-hati
Kadang pakéa putus harap
Ike rakyat temuni
Den besisu-sisu
Ketike munyeraken masalah dirié
Penguasa turah waspada den belejer mumengé
Bile rakyat gere berani mengadu
Oya artié nge genancing
Den bile penceraken penguasa
Gere nguk itungkahi
Kebenaren pasti terancam
Apabile usul itulak tanpa itimang
Ling ibungkem kritik ilarang tanpa alasen
Ituduh subversif den mugangu keamanen
Maka henye ara sara kata: lewen! [SY]
Solo, 1986
Wiji Thukul, akrab dipanggil Thukul, adalah penyair, sastrawan, dan yang dikenal melalui karya-karyanya yang tajam mengkritik ketidakadilan dan penindasan rezim Orde Baru. Aktivis HAM asal Indonesia Pro-Demokrasi. Ia merupakan salah satu aktivis organik yang giat melawan penindasan dan otoritarianisme rezim Orde Baru. Akibat aktivitasnya, Wiji Thukul hilang berbarengan dengan peristiwa penculikan dan penghilangan secara paksa aktivis-aktivis selama masa menjelang jatuhnya Soeharto. Dia dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer Orde Baru. Beberapa puisinya yang paling legendaris meliputi “Peringatan”, “Apa Guna”, “Bunga dan Tembok”, serta “Aku Ingin Jadi Peluru”. Karya-karyanya juga telah dibukukan dalam berbagai terbitan seperti Puisi Pelo dan Aku Ingin Jadi Peluru.





