Oleh: Dinika Audina*
Maghrib baru saja runtuh ketika aku dan adik laki-lakiku meninggalkan rumah. Langit di atas Takengon perlahan berubah menjadi hitam. Sisa cahaya senja menggantung pucat di balik perbukitan, seperti matahari sengaja menyisakan sedikit terang untuk menyaksikan sesuatu yang akan terjadi malam itu.
Sejak kecil, orang tua selalu mengingatkan agar calon pengantin tidak banyak keluar rumah menjelang hari pernikahan. Dalam kepercayaan masyarakat Gayo, masa menjelang pernikahan adalah masa yang harus dijaga. Bukan hanya menjaga diri dari gangguan manusia, tetapi juga dari sesuatu yang tidak kasatmata.
Namun, malam itu keadaan memaksaku keluar. Calon suamiku meminta agar aku menemui seseorang di kawasan wisata Pukes melalui aparatur Kampung Mendale. Karena tidak ingin pergi sendirian, aku mengajak adik laki-lakiku.
Kami berangkat menggunakan sepeda motor.
Ketika melewati kawasan Gua Fosil Mendale, bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Gua itu dikenal sebagai tempat peninggalan manusia purba, tetapi bagi sebagian masyarakat setempat, kawasan tersebut juga menyimpan cerita tentang penghuni yang tidak pernah terlihat.
Aku mencoba mengabaikan perasaan itu.
Tepat ketika lampu motor menyinari papan tua bertuliskan Kuburan Umum Sagi Onom, angin mendadak berhenti. Tidak ada suara serangga, tidak ada desir daun, bahkan suara mesin motor terasa begitu jauh.
Aku beristigfar.
“Kenapa, Kak?” tanya adikku.
“Enggak apa-apa. Jalan saja.”
Sesampainya di Pukes, orang yang kami cari ternyata sudah pulang. Kami tidak punya pilihan selain kembali melewati jalan yang sama.
Malam semakin pekat.
Dalam perjalanan pulang, telepon genggamku berdering. Ada petunjuk arah baru dari calon suamiku. Aku mengangkat telepon sambil meminta adikku memperlambat motor.
Saat itulah aku melihat sebuah sepeda motor turun dari jalan berbatu di sebelah kanan.
Lampunya redup kekuningan. Pengendaranya seorang lelaki setengah baya, mengenakan jaket kulit hitam. Ia tersenyum ketika melewati kami.
Ada sesuatu yang aneh dari senyumnya.
Terlalu lebar. Terlalu tenang. Dan matanya sama sekali tidak memantulkan cahaya.
Lelaki itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar kami mengikutinya.
Aku tidak tahu mengapa adikku justru membelokkan motor mengikuti arah lelaki tersebut. Seolah-olah ada kekuatan yang membuat kami tidak mampu menolak.
Kami memasuki jalan kecil yang dipenuhi semak belukar.
Tiba-tiba terdengar suara canang.
Dentingannya keras, berulang-ulang, seperti lonceng kerbau yang sedang digiring dalam jumlah besar.
Dari balik lereng, sekawanan kerbau turun memenuhi jalan. Kami memperlambat motor. Aroma kotoran dan uap tubuh binatang terasa begitu nyata. Namun, ketika kawanan itu melewati tikungan sempit yang menghadap jurang, semuanya menghilang.
Tidak ada suara kaki. Tidak ada gemuruh tanah.
Seolah-olah kerbau-kerbau itu ditelan bumi.
Belum sempat kami mencerna kejadian tersebut, kawanan lain muncul. Di tengah-tengahnya tampak seorang lelaki tua sedang menghalau kerbau menggunakan tongkat.
Aku melihatnya dengan jelas.
Namun, ketika cahaya lampu motor menyentuh tubuhnya, lelaki tua itu mendadak lenyap.
“Adik, kau lihat orang tadi?” tanyaku.
Adikku tidak menjawab. Tangannya semakin kuat mencengkeram setang motor.
Beberapa meter kemudian, kami melihat sejumlah sosok tinggi berjubah hitam berdiri di pinggir jalan. Mereka diam seperti patung. Ketika kami mendekat, bentuk tubuh mereka berubah menjadi plastik putih, kemudian drum besi, lalu menghilang.
Aku mulai membaca ayat Kursi dalam hati.
Jalan yang kami lalui terasa semakin asing.
Di kejauhan tampak sebuah rumah dengan teras bercahaya kuning. Cahaya itu terlihat begitu hangat, seperti rumah penduduk yang sedang menunggu kedatangan tamu.
“Kita berhenti di situ saja,” kataku.
Adikku mengangguk.
Namun, ketika kami mendekat, rumah itu berubah menjadi semak belukar.
Kami kembali melaju. Tidak lama kemudian muncul rumah lain. Kali ini lebih besar, dengan lampu menyala di bagian depan. Tetapi begitu hampir sampai, rumah tersebut berubah menjadi gubuk reyot, kemudian gardu kecil, lalu menghilang.
Kami seperti sedang dipermainkan.
Setiap jalan yang kami pilih selalu membawa kami kembali ke tempat yang tidak dikenal.
Hingga akhirnya kami tiba di sebuah bukit.
Pemandangan di hadapan kami membuat napas tertahan. Danau Lut Tawar terbentang jauh di bawah sana. Lampu-lampu rumah penduduk tampak kecil seperti kunang-kunang. Anehnya, posisi kami seperti berada di tempat yang sangat tinggi, seolah-olah sedang memandang bumi dari langit.
Bulan menggantung begitu dekat. Besar, bundar, berwarna kuning pucat, seakan hanya berjarak satu meter dari kepala kami.
Telepon genggamku menunjukkan baterai tinggal satu persen.
Tiba-tiba suara canang kembali terdengar.
Kali ini jauh lebih keras.
Dari lereng yang tandus, muncul seekor kerbau hitam berukuran raksasa. Tubuhnya menjulang seperti bukit yang bergerak. Tanduknya melengkung tinggi, seolah mampu menggores langit. Bulan tepat berada di atas punggungnya.
Aku tidak mampu bergerak.
Kerbau itu mengangkat kepalanya. Dari kejauhan, aku melihat matanya merah menyala.
Lalu terdengar suara seperti geraman dari dalam bumi.
Adikku mulai membaca kalimat tauhid dengan suara gemetar.
Tiba-tiba telepon genggamku berdering.
Aku tersentak.
“Di mana kalian? Sudah jam sepuluh malam! Tiga jam kalian tidak bisa dihubungi!”
Suara calon suamiku terdengar panik.
Aku melihat layar telepon. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Padahal rasanya kami baru meninggalkan rumah beberapa saat lalu.
“Bang, kami tersesat,” jawabku terbata-bata.
Belum sempat ia menjawab, adikku mendadak membalikkan kepala ke arah belakang.
“Kak…”
Suaranya sangat pelan.
Aku menoleh sedikit.
Di belakang kami berdiri seorang nenek tua. Rambutnya panjang menjuntai sampai menyentuh tanah. Ia mengenakan kebaya lusuh dan membawa bakul besar di tangan kirinya.
Namun, yang membuat darahku seperti berhenti mengalir adalah wajahnya.
Nenek itu tidak memiliki mata.
Hanya dua lubang hitam yang dalam.
Bibirnya bergerak perlahan, seperti sedang menyebut sesuatu yang tidak dapat kudengar.
Adikku berbisik, “Kak, jangan lihat. Jangan jawab kalau ada yang memanggil. Apa pun yang terjadi, jangan menoleh lagi.”
Aku mengangguk.
Motor segera dinyalakan. Kami meluncur menuruni bukit dengan kecepatan tinggi. Di sebelah kiri jurang menganga, sementara di sebelah kanan semak belukar menjulang seperti dinding hitam.
Lalu terdengar suara dari balik pepohonan.
“Woy! Kenapa kalian turun?”
Kami tidak menjawab.
Suara itu kembali terdengar.
“Kami ada di atas sini!”
Kali ini suaranya persis suara seorang kerabat dekat kami.
“Berhenti dulu! Kami mau ikut!”
Aku hampir meminta adikku berhenti. Namun, tiba-tiba aku teringat pesan orang tua: jangan pernah memenuhi panggilan yang datang dari tempat yang tidak dikenal, terutama ketika malam sudah dikuasai kegelapan.
Adikku justru mempercepat motor.
Suara-suara itu semakin ramai.
Ada yang tertawa. Ada yang menangis. Ada pula yang memanggil namaku berulang-ulang.
Kemudian terdengar suara perempuan tua tepat di belakang telingaku.
“Jangan tinggalkan kami…”
Aku merinding. Aku tahu nenek tanpa mata itu masih mengikuti kami.
Aku terus membaca ayat Kursi dan beristigfar. Adikku tidak berhenti mengucapkan kalimat tauhid.
Beberapa saat kemudian, suara-suara itu perlahan menghilang.
Angin kembali berembus. Suara jangkrik mulai terdengar. Lampu-lampu rumah penduduk muncul di kejauhan.
Kami akhirnya menemukan jalan kampung.
Ketika tiba di rumah, kedua kaki kami gemetar. Orang tua yang sejak tadi menunggu langsung menyambut dengan wajah cemas. Calon suamiku juga segera datang.
Mereka mengatakan kami telah menghilang selama kurang lebih tiga jam.
Aku menceritakan semua kejadian malam itu. Namun, ketika menyebut lelaki berjaket kulit, kerbau raksasa, dan nenek tanpa mata, seorang tetua kampung yang kebetulan berada di rumah mendadak terdiam.
Ia kemudian berkata pelan.
“Kalian beruntung masih bisa pulang. Kalian sudah masuk Sangkan Kemang.”
Aku bertanya, apa sebenarnya Sangkan Kemang itu?
Orang tua tersebut menjelaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Gayo, Sangkan Kemang merupakan wilayah atau perangkap gaib yang dapat membuat manusia kehilangan arah. Orang yang masuk ke dalamnya bisa melihat jalan, rumah, binatang, dan manusia yang tampak nyata, padahal semuanya hanyalah tipuan makhluk tak kasatmata.
Ia menatapku cukup lama sebelum melanjutkan.
“Yang paling berbahaya bukan makhluk yang menakut-nakuti kalian. Yang paling berbahaya adalah makhluk yang menawarkan tempat untuk beristirahat.”
Aku terdiam.
Sebab malam itu, berkali-kali kami melihat rumah bercahaya yang seolah-olah mengundang kami untuk berhenti.
Tetua itu kemudian mengucapkan satu kalimat yang membuat bulu kudukku kembali berdiri.
“Kalau kalian sempat berhenti dan masuk ke salah satu rumah itu, belum tentu kalian bisa menemukan jalan pulang.”
Sejak malam tersebut, aku tidak pernah lagi menganggap enteng pesan orang tua tentang larangan keluar menjelang hari pernikahan.
Bukan karena aku percaya bahwa setiap perjalanan malam akan berakhir dengan gangguan makhluk gaib. Tetapi karena ada pengalaman yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh akal manusia.
Hingga hari ini, setiap kali melewati kawasan Mendale, terutama di sekitar Gua Fosil dan Kuburan Sagi Onom, ingatanku kembali pada malam itu.
Aku masih bisa mendengar dentingan canang.
Masih bisa melihat kerbau hitam raksasa yang memikul bulan.
Dan yang paling menakutkan, aku masih mengingat suara nenek tanpa mata yang berbisik tepat di belakang telingaku.
Jangan tinggalkan kami…
Kadang aku bertanya-tanya, apakah malam itu kami benar-benar berhasil keluar dari Sangkan Kemang?
Ataukah ada sesuatu yang sebenarnya ikut pulang bersama kami?
Sebab beberapa malam setelah kejadian itu, adikku pernah terbangun dari tidurnya karena mendengar suara canang dari halaman rumah.
Ketika ia membuka jendela, tidak ada siapa-siapa.
Hanya ada jejak kaki kerbau berwarna hitam di tanah yang basah.
Jejak itu berhenti tepat di depan pintu kamarku.





