Pohon Van Daalen : Jejak Sejarah Kolonialisme yang Hilang di Tanoh Gayo

oleh

Oleh : Nanda Winar Sagita*

Pada 14 April 1873, Jenderal Köhler tertembak di depan Masjid Raya Kutaraja. Menurut Zentgraaff, kalimat terakhir sang jenderal adalah, “O, God, ik ben getroffen!”, yang berarti, “Oh Tuhan, aku tertembak!”

Ekspedisi pertama Belanda ke Aceh berakhir dengan kegagalan. Serdadu-serdadu Belanda kemudian menamai pohon yang berada tidak jauh dari tempat sang jenderal roboh sebagai pohon Köhler. Belanda memperoleh sebuah monumen alam bagi kekalahan pertamanya di Aceh. Ketika Zentgraaff datang ke sana, dahan-dahan kering pohon itu masih tegak di depan masjid.

Memang, beberapa bulan kemudian Belanda kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Namun, babak pertama perang telah dimenangkan oleh Aceh. Dan pohon itu menjadi salah satu simbolnya.

***

Pada 16 Februari 1904, giliran Van Daalen datang bersama 200 marsose-nya. Ia menerima penyerahan diri lara kepala suku Gayo di bawah sebuah pohon mangga besar, atau lokop, di Blang Kolak, dekat Laut Tawar. Dari tempat itulah, Van Daalen kemudian memulai ekspedisi militernya ke pedalaman Gayo dan Gayo Lues, menorehkan apa yang oleh Zentgraaff disebut sebagai “garis besi dan darah”.

Zentgraaff mencatat dengan jelas bahwa orang Gayo tidak pernah melupakan pohon tersebut. Pohonnya akhirnya tumbang diterjang badai. Ketika Zentgraaff datang kembali ke Takengon, sebuah tugu batu sederhana telah didirikan untuk mengenangnya.

Dalam koran The Locomotief edisi 14 Juli 1936 (sebagaimana di gambar) dengan lebih rinci Zentgraaff menuliskan begini:

“Di Blang Kolak dekat Laut Tawar di Tanah Gayo, pada kunjungan kami sebelumnya, tahun 1927, masih berdiri sebuah pohon mangga (lokop) besar: pohon Van Daalen. Di bawah pohon inilah Van Daalen beristirahat bersama 200 marsose-nya sebelum menorehkan jejak besi dan darah di negeri itu, dari Laut Tawar hingga ujung Gayo Lues.

Pada 16 Februari 1904 Van Daalen tiba di Takengon, dan pada hari-hari berikutnya para kepala suku berdatangan ke bawah pohon itu. Sejak itu pohon Van Daalen tidak pernah dilupakan orang Gayo, sebab setelah pertemuan itu begitu dahsyat pukulan yang dijatuhkan kepada semua yang berani melawan.

Kini kami memandang ke seberang padang itu: pohonnya sudah lenyap, tercabut oleh badai yang menyapu tempat datar ini dengan ganas dan tak tertahankan. Di tepi jalan telah dibangun sebuah tugu batu kecil, tetapi tanpa itu pun sepak terjang Van Daalen di sini tidak akan dilupakan.”

Pertanyaannya sederhana: di manakah tugu itu sekarang?

Ada satu dugaan yang layak kita renungkan. Kekalahan sering kali dianggap sebagai aib. Dan salah satu cara paling murah untuk merawat aib adalah dengan melupakannya. Jika sejarah ditulis oleh para pemenang, pihak yang kalah terkadang memilih jalan yang lebih mudah: tidak menulis apa-apa tentang kekalahan mereka, atau bahkan menghapus segala sesuatu yang dapat mengingatkan mereka pada peristiwa tersebut.

Namun, tidak semua bangsa memilih jalan itu. Orang Serbia, misalnya, memperingati kekalahan mereka dalam Pertempuran Kosovo pada 1389 setiap tanggal 28 Juni, yang dikenal sebagai Hari Vidovdan. Di dekat medan pertempuran itu bahkan didirikan Menara Gazimestan pada 1953. Kekalahan yang telah berlangsung berabad-abad tersebut terus dirawat dalam ingatan kolektif dan berkembang menjadi salah satu mitos penting dalam identitas nasional Serbia.

Australia dan Selandia Baru juga memiliki cara tersendiri dalam mengenang kekalahan. Setiap 25 April, kedua negara memperingati Hari ANZAC, untuk mengenang pendaratan pasukan mereka di Gallipoli, Turki, pada 1915. Kampanye militer itu berakhir dengan penarikan mundur pasukan Sekutu setelah menelan korban yang sangat besar. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam pembentukan identitas nasional kedua negara. Setiap tahun, upacara peringatan dilaksanakan, bahkan sebelum matahari terbit.

Polandia juga tidak menghapus ingatan tentang Pemberontakan Warsawa pada 1944. Pemberontakan yang dilakukan rakyat Polandia melawan pendudukan Nazi Jerman itu berakhir dengan kekalahan telak. Kota Warsawa dihancurkan, ribuan pejuang dan warga sipil tewas, dan perlawanan akhirnya dipatahkan. Namun, setiap 1 Agustus, Polandia memperingati peristiwa tersebut. Justru dari kekalahan itulah keberanian dan pengorbanan sebuah bangsa terus diwariskan.

Dari berbagai contoh itu kita belajar bahwa mengenang kekalahan tidak membuat sebuah bangsa menjadi kecil. Sebaliknya, bangsa yang berani mengingat kekalahannya sedang menunjukkan kedewasaan dalam memahami sejarah. Mereka mengakui betapa berat beban yang pernah dipikul oleh leluhur mereka, betapa mahal harga yang harus dibayar, dan betapa besar pengorbanan yang pernah terjadi.

Lantas, bagaimana dengan orang Gayo?

Tanah Gayo memiliki sejarah perlawanan yang panjang terhadap kolonialisme. Justru karena itulah peninggalan sejarah seperti tugu Van Daalen semestinya dipertahankan. Mempertahankan tugu itu bukan berarti menghormati Van Daalen atau memberikan tempat terhormat kepada kolonialisme Belanda.

Kita tidak sedang mengagungkan seorang perwira kolonial yang datang ke Tanah Gayo dengan senjata dan pasukan untuk menundukkan penduduknya. Kita sedang mempertahankan sebuah penanda sejarah, sebuah saksi bisu yang dapat mengingatkan generasi sekarang tentang apa yang pernah terjadi di tanah leluhur mereka.

Bahkan, jika tugu itu dahulu didirikan untuk mengenang keberhasilan ekspedisi Van Daalen, kita dapat memberinya makna yang berbeda hari ini. Biarkan ia menjadi pengingat tentang penderitaan orang Gayo, tentang perlawanan para leluhur, dan tentang harga yang harus dibayar untuk mempertahankan tanah mereka. Sebuah monumen tidak selamanya harus dimaknai sebagaimana kehendak orang yang mendirikannya. Generasi berikutnya berhak membaca ulang sejarah dan memberinya makna baru.

Kita tidak harus merobohkan setiap monumen kolonial untuk membuktikan bahwa kita menolak kolonialisme. Ada kalanya justru dengan mempertahankannya, kita dapat menunjukkan bahwa kita tidak takut menghadapi masa lalu. Kita cukup menambahkan penjelasan sejarah secara realistis, mengoreksi narasi yang timpang, dan memastikan bahwa kisah para korban serta pejuang Gayo harus mendapat tempat yang semestinya.

Sebab, jika pohon Köhler di Kutaraja masih dapat dikenang sebagai penanda kegagalan ekspedisi pertama Belanda, mengapa jejak sejarah Van Daalen di Tanah Gayo justru harus dibiarkan hilang tanpa bekas?

Orang Gayo tidak perlu memuja Van Daalen. Tetapi kita seharusnya tidak membiarkan sejarah yang terjadi di bawah pohon itu ikut lenyap. Sebab, melupakan sejarah bukanlah cara terbaik untuk mengalahkan kolonialisme. Cara terbaik adalah mengingatnya, memahami kejahatannya, dan memastikan bahwa generasi berikutnya tidak pernah melupakan harga yang harus dibayar leluhur mereka untuk mempertahankan tanah Gayo. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.