Sejarah Enang-Enang dalam Tiga Babak

oleh
Jembatan Enang-enang yang selesai tahun 1911. (sumber : media-kitlv.nl)

Oleh : Nanda Winar Sagita*

Dalam novel “The Bridge of the Drina”, peraih Nobel Sastra, Ivo Andrić, menjadikan Jembatan Mehmed Paša Sokolović di kota Višegrad sebagai benda mati yang menyaksikan perjalanan sejarah selama lebih dari empat abad.

Jembatan itu menjadi saksi pergantian kekuasaan Kesultanan Usmaniyah dan Austria-Hungaria, berbagai peperangan, hingga akhirnya hancur sebagian pada Perang Dunia I.

Melalui sebuah jembatan, Andrić memperlihatkan bagaimana sebuah tempat dapat merekam perubahan zaman, menyimpan ingatan kolektif, dan menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Di Tanah Gayo, Enang-Enang memiliki kedudukan yang hampir serupa. Bukan sekadar sebuah jurang atau ruas jalan menuju dataran tinggi, Enang-Enang merupakan ruang sejarah yang berkali-kali menjadi panggung berbagai peristiwa penting.

Di tempat inilah jejak kolonialisme, perang, kebudayaan, hingga kemenangan rakyat meninggalkan bekasnya. Jika ditelusuri, sejarah Enang-Enang setidaknya dapat dibaca melalui tiga babak besar.

Babak Pertama : Saksi Syuting Film Hollywood

Salah satu catatan paling menarik mengenai perjalanan menuju Tanah Gayo ditulis oleh J. Jongejans, seorang pegawai negeri sipil Belanda yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Militer dan Sipil Hindia Belanda di Aceh. Dalam bukunya “Land en Volk van Atjeh Vroeger en Nu”, yang diterjemahkan Rusdi Sufi dengan judul “Negeri dan Rakyat Aceh Dahulu dan Sekarang” Jongejans merekam pengalamannya selama bertugas di Aceh.

Dalam salah satu bab, ia menceritakan perjalanan menuju Tanah Gayo melalui ruas jalan kolonial yang dikenal sebagai Gayo Weg. Menurut Jongejans, setelah melewati Bireuen, penanda pertama bahwa seseorang telah memasuki wilayah Gayo adalah deretan pohon cemara yang tumbuh di sepanjang jalan.

Catatan lain yang tidak kalah menarik adalah ketika Jongejans singgah di sebuah kedai kopi di Blang Rakal. Pemilik kedai tersebut adalah seorang datuk yang dikenal sebagai pawang harimau. Menurut Jongejans, tokoh inilah yang sebelumnya tampil dalam film Rango (1931), produksi Paramount Pictures yang disutradarai Ernest B. Schoedsack.

Film tersebut mengisahkan Ali dan putranya, Bin, yang hidup di hutan Sumatra bersama seekor orangutan muda bernama Rango. Setelah melalui berbagai konflik dengan harimau, Rango akhirnya mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Bin.

Yang menarik, Jongejans juga menulis bahwa pengambilan gambar film tersebut dilakukan di kawasan Enang-Enang dan Wihni Kulus. Fakta ini hampir tidak pernah muncul dalam penulisan sejarah Gayo.

Apabila kelak dapat diverifikasi melalui arsip produksi film maupun sumber-sumber sezaman, maka besar kemungkinan sejak tahun 1931 telah ada putra Gayo yang tampil dalam sebuah film produksi Hollywood.

Peristiwa ini bahkan terjadi hanya lima tahun setelah lahirnya film Indonesia pertama, Loetoeng Kasaroeng (1926). Karena itu, kisah tersebut membuka ruang penelitian baru yang mempertemukan sejarah Gayo, sejarah kolonial, dan sejarah perfilman dunia.

Babak Kedua : Saksi Pertempuran Tiga Kekuatan

Enang-Enang juga menjadi salah satu medan pertempuran paling penting dalam sejarah Tanah Gayo. Berdasarkan catatan Mahmud Ibrahim dalam Mujahid Dataran Tinggi Gayo, pada Juni 1942 tentara Jepang memasuki Gayo melalui Bireuen dan berhadapan dengan pasukan Belanda yang bertahan di sebelah selatan Jurang Enang-Enang.

Berbeda dengan ekspedisi Belanda tahun 1901, kemajuan Jepang kali ini ditunjang oleh Jalan Bireuen-Takengon yang selesai dibangun pada 1924. Pertempuran berlangsung sekitar empat jam dengan penggunaan persenjataan berat.

Menjelang sore, sebagian pasukan Jepang menyusuri dasar jurang, sementara pasukan lainnya memutar melalui hulu Sungai Enang-Enang hingga berhasil mengepung pertahanan Belanda dari belakang.

Untuk menghambat laju Jepang, Belanda meledakkan Jembatan Enang-Enang yang telah dipasangi bahan peledak. Ledakan itu berhasil menunda gerak maju Jepang selama beberapa hari sehingga memberi kesempatan bagi pasukan Belanda mundur melalui Danau Lut Tawar menuju Bintang dan Belangkejeren.

Namun, sesampainya di Dedamar, Bintang, satu batalyon Belanda justru dilucuti oleh masyarakat di bawah pimpinan Bustamam Bintang dan Johan sebelum akhirnya diserahkan kepada Raja Abdul Wahab.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa perang di Gayo bukan sekadar pertarungan antara Belanda dan Jepang, melainkan juga melibatkan rakyat Gayo sebagai kekuatan ketiga yang menentukan jalannya sejarah.

Pada masa pendudukan Jepang, muncul pula kisah Reje Mude yang membunuh seorang Belanda bernama Mere, pengelola perkebunan damar di Lelabu.

Setahun kemudian ia dijatuhi hukuman tembak oleh Jepang di lembah Sungai Peusangan, Mergut Uning Niken. Menurut cerita yang hidup di tengah masyarakat, Reje Mude berhasil selamat setelah kabut tebal menutupi pandangan regu tembak. Ia kemudian melepaskan ikatan tangan dan kakinya, menyusuri Sungai Peusangan hingga Ketol, lalu berhasil meloloskan diri ke Bireuen.

Babak Ketiga : Saksi Kemenangan Rakyat 

Hampir satu abad setelah menjadi lokasi pengambilan gambar film Hollywood, dan lebih dari delapan puluh tahun setelah menjadi medan pertempuran Belanda, Jepang, dan rakyat Gayo, Enang-Enang kembali mencatat sebuah babak sejarah baru.

Pada akhir 2025, banjir bandang menghancurkan Jalan Nasional Bireuen-Takengon serta merusakkan Jembatan Enang-Enang. Jalur utama yang selama puluhan tahun menghubungkan pesisir Aceh dengan Dataran Tinggi Gayo itu lumpuh selama berbulan-bulan.

Aktivitas ekonomi masyarakat terganggu, perjalanan menjadi jauh lebih panjang, sementara ribuan warga harus mencari jalur alternatif yang sempit dan berisiko.

Karena penanganan yang dinilai berjalan lambat, masyarakat memilih untuk tidak lagi menunggu. Warga dari berbagai kampung bergotong royong mengumpulkan dana, menyumbangkan bahan bakar, menyediakan makanan bagi para pekerja, hingga menyewa alat berat untuk membersihkan longsoran dan membuka kembali akses jalan.

Aksi tersebut berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan tokoh masyarakat, relawan, pelaku usaha, hingga masyarakat Gayo di berbagai daerah.

Hasilnya melampaui dugaan banyak orang. Donasi yang terkumpul mencapai lebih dari Rp1,08 miliar. Dana tersebut digunakan secara terbuka untuk membangun kembali akses Enang-Enang, sementara sisa anggaran disiapkan untuk penyempurnaan berbagai fasilitas di kawasan tersebut. Pada 2 Juli 2026, jalan itu akhirnya dibuka kembali untuk masyarakat melalui sebuah peresmian sederhana yang dihadiri ratusan warga.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang pembangunan sebuah jalan. Ia menunjukkan bahwa ketika sebuah infrastruktur menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, rakyat mampu bergerak sebagai kekuatan yang mandiri.

Jika pada tahun 1942 rakyat Gayo berperan sebagai kekuatan ketiga dalam peperangan melawan kolonialisme, maka pada 2026 rakyat kembali tampil sebagai kekuatan utama: dengan gotong royong, kepedulian, dan solidaritas. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.