Oleh: Drs. Tgk. H. Hamdan, MA (Ketua BKM Agung Ruhama’ Takengon, Ketua DMI Aceh Tengah, Dosen IAIN Takengon)
“Fa idza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab.”
Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
(QS. Al-Insyirah: 7–8)
Waktu adalah sesuatu yang terus berjalan dan tidak pernah kembali. Hari berganti hari, usia bertambah, sementara jatah kehidupan kita sesungguhnya semakin berkurang.
Karena itu, persoalan terpenting dalam hidup bukan semata-mata berapa lama kita hidup, tetapi apa yang kita lakukan selama Allah SWT masih memberikan kesempatan hidup.
Setiap hari Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, bekerja, beribadah, membantu sesama, dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Kesempatan itu adalah nikmat sekaligus amanah.
Namun, sering kali manusia terlalu sibuk mengejar kehidupan dunia sehingga lupa mempersiapkan kehidupan yang pasti akan datang. Kita sibuk mencari nafkah, mengumpulkan harta, mengejar jabatan dan berbagai kepentingan duniawi, tetapi terkadang lupa bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sudah kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian?
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
“Ya ayyuhalladzina amanuttaqullaha waltanzhur nafsun ma qaddamat lighad.”
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar selalu melakukan evaluasi terhadap kehidupan. Apa yang telah kita kerjakan hari ini akan menjadi bagian dari bekal untuk hari esok.
Hari esok yang dimaksud bukan hanya hari esok dalam kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat yang pasti akan kita hadapi.
Kita tidak mengetahui kapan kematian datang. Besok, lusa, beberapa tahun lagi, atau bahkan beberapa saat setelah ini. Karena itu, yang perlu dipersiapkan bukan kapan kematian itu datang, tetapi apa yang akan kita bawa ketika kematian datang.
Setiap Kita Memiliki Tanggung Jawab
Allah memberikan kepada setiap manusia peran dan tanggung jawab masing-masing.
Seorang pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Seorang pejabat memiliki amanah sesuai tugasnya. Seorang guru memiliki tanggung jawab mendidik. Seorang orang tua memiliki kewajiban membimbing anak-anaknya.
Demikian pula setiap pribadi memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Menjadi pemimpin bukan sekadar memiliki kewenangan. Ada amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Menjadi orang tua juga bukan hanya memenuhi kebutuhan makanan, pakaian, pendidikan dan kebutuhan materi anak. Lebih dari itu, orang tua memiliki kewajiban menanamkan iman, akhlak, ibadah dan keteladanan. Anak-anak adalah amanah Allah SWT.
Karena itu, persoalan generasi muda tidak boleh kita serahkan hanya kepada sekolah, guru, pemerintah atau aparat keamanan. Keluarga harus menjadi tempat pertama anak memperoleh pendidikan nilai dan keteladanan.
Hari ini kita menghadapi berbagai tantangan. Persoalan narkoba, pergaulan bebas, krisis etika, penyalahgunaan teknologi dan berbagai pengaruh negatif lainnya membutuhkan perhatian kita bersama.
Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya mendidik anak setelah mereka terjerumus dalam persoalan.
Waktu kita mungkin terbatas. Karena itu, selagi masih ada kesempatan, mari kita memberikan perhatian lebih kepada anak-anak kita.
Berbuat Baik Tidak Harus Menunggu Kaya
Salah satu bentuk kebaikan yang dapat kita lakukan adalah menyantuni anak-anak yatim.
Mungkin apa yang kita berikan tidak seberapa. Tetapi bagi anak yatim, perhatian dan kepedulian itu memiliki makna yang besar. Kebaikan tidak harus menunggu kita kaya.
Kita dapat berbagi sesuai kemampuan. Kita dapat membantu dengan harta, ilmu, tenaga, bahkan dengan perhatian dan kasih sayang.
Zakat memiliki manfaat. Sedekah memiliki manfaat. Ilmu yang diajarkan memiliki manfaat. Kepedulian kepada sesama juga memiliki manfaat.
Karena itu, jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
Boleh jadi sesuatu yang menurut kita kecil, tetapi menjadi amal yang besar di sisi Allah SWT karena dilakukan dengan keikhlasan.
Terus Bergerak Menuju Kebaikan
Ayat “Fa idza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab” mengajarkan agar kita tidak berhenti dalam berbuat dan berikhtiar.
Selesai satu pekerjaan, lanjutkan dengan pekerjaan lainnya. Selesai melakukan satu kebaikan, lakukan kebaikan berikutnya.
Hari ini mungkin kita belum menjadi manusia yang sempurna. Tetapi kita harus terus berusaha menjadi lebih baik.
Ketakwaan pun tidak selalu dibangun melalui perubahan besar sekaligus. Ia dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Memperbaiki salat. Memperbaiki akhlak. Memperbaiki hubungan dengan keluarga. Meningkatkan kepedulian kepada sesama. Meninggalkan kebiasaan buruk. Memperbanyak sedekah. Mendidik anak-anak dengan keteladanan.
Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar menuju ketakwaan.
Harta yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan. Jabatan akan berakhir. Rumah, kendaraan dan berbagai kepemilikan duniawi tidak akan ikut masuk ke dalam liang lahat. Yang menjadi bekal adalah amal.
Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadap Allah SWT?
Selagi masih ada waktu, mari berbuat. Selagi masih ada kesempatan, mari memperbaiki diri.
Selagi masih diberikan kesehatan, mari memperbanyak amal. Selagi masih bersama keluarga, mari mendidik dan menyayangi mereka. Selagi masih berada di tengah masyarakat, mari memberikan manfaat.
Kita tidak pernah tahu apakah hari ini merupakan awal dari perjalanan panjang kita atau justru salah satu kesempatan terakhir yang diberikan Allah SWT.
Maka jangan biarkan waktu berlalu tanpa bekal.
Mari kita isi sisa kehidupan dengan ibadah, pengabdian, kepedulian dan amal kebaikan.
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan untuk terus berikhtiar, memperbaiki diri, memberikan manfaat kepada sesama, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kembali kepada-Nya.
“Fa idza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab.”
Setelah selesai dari satu urusan, teruslah berikhtiar dalam kebaikan. Dan hanya kepada Allah SWT kita berharap.[]
𝐷𝑖𝑜𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑚𝑎𝑡𝑒𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑢𝑡𝑏𝑎ℎ 𝑗𝑢𝑚𝑎𝑡 𝑑𝑖 𝑀𝑎𝑠𝑗𝑖𝑑 𝐵𝑒𝑠𝑎𝑟 𝑅𝑎𝑢𝑑ℎ𝑎𝑡𝑢𝑙 𝑀𝑢𝑡𝑎’𝑎𝑙𝑖𝑚𝑖𝑛, 𝑀𝑒𝑟𝑎ℎ 𝑀𝑒𝑔𝑒 𝐾𝑒𝑐. 𝐴𝑡𝑢 𝐿𝑖𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔, 2 𝑂𝑘𝑡𝑜𝑏𝑒𝑟 2026 (𝑀𝐹)





