Oleh : Syukri Muhammad Syukri*
Dibawah tenda sederhana beratap biru yang menghadap ceruk Mendale, suasana hening setelah penjelasan panjang tentang tubuh-tubuh Mesolitik dan Neolitik. Lalu Tengku Yus, budayawan senior dari Kenawat, mengangkat tangan. Suaranya pelan, tapi tajam:
“Pak Ketut… adakah kemungkinan terjadi persilangan antara manusia yang hidup dalam babakan budaya Mesolitik dengan Neolitik? Apakah tubuh-tubuh itu saling menyapa, saling menyilang, saling melahirkan?”
Ketut menatapnya lama, lalu menjawab dengan suara yang mengalir seperti sungai:
“Kemungkinan itu sangat besar, Pak Tengku. Bahkan mungkin… itu yang terjadi.”
Ia menunjuk ke lapisan tanah yang menyimpan tulang dari 5040 tahun lalu dan 4400 tahun lalu.
“Di masa peralihan, manusia tidak hidup dalam kotak-kotak budaya. Mereka hidup dalam aliran. Dan aliran itu bisa bertemu. Bisa menyilang. Bisa melahirkan bentuk baru.”
“Mereka yang hidup di akhir Mesolitik mungkin bertemu dengan gelombang awal Neolitik. Mereka bertukar alat. Bertukar cara hidup. Bertukar rasa. Dan mungkin… bertukar tubuh.”
“Tulang-tulang yang kita temukan menunjukkan variasi. Ada tubuh ramping khas pemburu, tapi dengan gigi yang mulai menunjukkan pola makan Neolitik. Ada tengkorak yang lebih bulat, tapi dengan lutut yang masih lentur.”
“Itu bukan kebetulan. Itu adalah persilangan. Persilangan bukan hanya biologis, tapi juga budaya. Mereka tidak saling menghapus. Mereka saling menyerap.”
Tengku Yus tersenyum pelan, lalu berkata:
“Jadi, tubuh-tubuh itu… adalah anak dari dua zaman. Mereka membawa nyala Mesolitik dan ladang Neolitik. Mereka adalah jembatan.”
Ketut mengangguk.
“Ya, Pak. Mereka adalah jembatan. Dan ceruk Mendale… adalah tempat di mana dua zaman saling menyapa. Saling menyilang. Saling melahirkan.”
Tengku Yus, budayawan senior yang dikenal sebagai penjaga budaya dan silsilah, menatap Ketut dengan mata yang dalam. Suaranya pelan, tapi mengandung gema sejarah:
“Artinya… penduduk tanah tinggi hari ini adalah persilangan orang yang hidup pada babakan budaya Mesolitik dan Neolitik?”
Ketut menunduk sejenak, lalu menjawab dengan suara yang mengalir seperti sungai yang tahu arah:
“Ya, Pak Tengku. Sangat mungkin. Bahkan sangat masuk akal.”
Ia menunjuk ke lapisan tanah yang menyimpan tulang dari 7400 tahun lalu, 5040 tahun lalu, 4400 tahun lalu, hingga 1900 tahun lalu.
“Di sini, kita tidak hanya menemukan tubuh. Kita menemukan kesinambungan. Dari pemburu dan peramu yang hidup di ceruk, ke petani dan pembuat gerabah yang mulai menetap. Mereka tidak saling menggantikan. Mereka saling menyilang. Saling menyerap.”
“Dan tubuh-tubuh itu… menunjukkan percampuran. Ada bentuk tulang yang ramping khas Mesolitik, tapi dengan pola makan Neolitik. Ada tengkorak yang bulat, tapi dengan lutut yang masih lentur. Itu bukan kebetulan. Itu adalah warisan.”
Ketut menatap para pendengar yang mulai bergumam pelan.
“Jadi, darah yang mengalir di tubuh penduduk tanah tinggi hari ini… mungkin adalah darah dari dua zaman. Darah dari pemburu yang menyalakan api, dan darah dari petani yang menanam di lereng.”
“Mereka adalah anak dari dua dunia. Dunia yang bergerak dan dunia yang menetap. Dunia yang meramu dan dunia yang merawat. Dan tanah tinggi ini… adalah panggung di mana dua zaman saling menyapa, saling menyilang, saling melahirkan.”
Tengku Yus tersenyum pelan, lalu berkata:
“Kalau begitu, kita bukan hanya pewaris kerajaan. Kita adalah pewaris nyala. Nyala yang dinyalakan tujuh ribu tahun lalu, dan belum padam sampai hari ini.”
Setelah menjawab pertanyaan Tengku Yus tentang persilangan antara manusia Mesolitik dan Neolitik, Ketut berdiri sejenak dalam diam. Ia menatap wajah-wajah di hadapannya, penutur tua, budayawan, warga, dan wartawan, semuanya menyimpan tanya yang belum terucap.
Lalu ia berkata pelan, tapi tegas:
“Dan jika kita ingin memastikan… apakah tubuh-tubuh yang ditemukan di ceruk ini benar-benar berkaitan dengan penduduk tanah tinggi hari ini, maka satu jalan yang bisa kita tempuh adalah uji DNA.”
Suasana hening. Beberapa orang saling menatap. Ketut melanjutkan:
“DNA adalah jejak yang paling dalam. Ia tidak bicara lewat bentuk, tapi lewat susunan. Susunan yang diwariskan. Yang mengalir dari satu tubuh ke tubuh lain, dari satu zaman ke zaman berikutnya.”
“Jika kita bisa mengekstrak DNA dari tulang-tulang ini, dengan teknik yang hati-hati dan penuh hormat, lalu membandingkannya dengan DNA penduduk tanah tinggi hari ini, kita bisa melihat apakah ada hubungan. Apakah ada garis. Apakah ada warisan.”
“Dan jika ada kecocokan, maka tubuh-tubuh itu bukan hanya saksi. Mereka adalah leluhur. Mereka adalah asal muasal. Mereka adalah bagian dari kita.”
Tengku Yus menunduk pelan, lalu berkata:
“Berarti… nyala yang mereka jaga, api yang mereka nyalakan, batu yang mereka susun… mungkin masih hidup di tubuh kita hari ini.”
Ketut mengangguk.
“Ya, Pak. Mungkin bukan hanya bentuk. Tapi juga gen. Gen yang menyimpan jejak. Jejak yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Dan jika kita mendengarnya dengan hati, maka tubuh-tubuh itu tidak lagi jauh. Mereka dekat. Mereka ada.”
Setelah menjelaskan tentang babakan Mesolitik dan Neolitik, tentang nyala dan gen, Ketut berdiri, ia menatap para penutur tua, budayawan, akademisi, dan generasi muda yang mulai menyusun ulang asal muasal mereka. Lalu ia berkata:
“Ada satu hal lagi yang perlu kita pahami. Tentang siapa yang datang. Tentang siapa yang menyatu.”
Ia membuka lembar kajian antropologi dan genetika, lalu melanjutkan:
“Kelompok pertama yang datang dan tinggal di tanah tinggi ini, mereka yang hidup di masa Mesolitik, memiliki ciri-ciri australomelanesoid. Mereka berkulit gelap, berambut keriting, dengan tulang wajah yang kuat dan rahang yang tegas. Mereka adalah pemburu, peramu, penjaga nyala.”
“Lalu, ribuan tahun kemudian, datang gelombang baru. Kelompok ini dikenal sebagai mongoloid. Mereka berkulit lebih terang, berambut lurus, dengan tengkorak yang lebih bulat dan rahang yang lebih halus. Mereka membawa teknologi baru: pertanian, gerabah, tenun, dan sistem sosial yang lebih menetap.”
Ketut menatap ceruk Mendale yang terbuka.
“Dan di sini, di tanah tinggi ini, dua kelompok itu tidak saling menghapus. Mereka saling menyilang. Mereka saling menyerap. Mereka saling melahirkan.”
“Tubuh-tubuh yang kita temukan menunjukkan percampuran. Ada bentuk wajah australomelanesoid dengan pola makan mongoloid. Ada tulang ramping pemburu dengan lutut petani. Itu bukan kebetulan. Itu adalah warisan.”
“Jadi, penduduk tanah tinggi hari ini… adalah hasil dari percampuran dua asal. Mereka adalah anak dari nyala dan ladang. Dari batu dan tenun. Dari tubuh yang bergerak dan tubuh yang menetap.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam:
“Dan kita harus menulis ini. Kita harus menyulam ini. Karena kita bukan hanya pewaris kerajaan. Kita adalah pewaris tubuh yang menyilang asal. Kita adalah para penyulam identitas.”
Bersambung…





