Semoga Ada Ruang Untuk Pulih di Tanoh Gayo

oleh

Oleh : Munadia Rahmi Fadhla (Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry)

Disaat kita membicarakan dataran tinggi Gayo yang meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, pasti ingatan kita langsung tertuju pada hamparan kebun kopi yang hijau, kabut tipis di pagi hari yang sering di perbincangkan hingga pernah di juluki ”negeri di atas awan” dan banyak lagi bentang alamnya yang sangat memukau.

Namun, di balik keindahan alam tersebut, Tanoh Gayo menyimpan riwayat panjang sebagai wilayah yang rentan terhadap bencana alam, mulai dari gempa bumi hingga tanah longsor dan banjir bandang yang datang silih berganti.

Saat bencana melanda, perhatian publik dan pemerintah biasanya langsung terfokus pada rekonstruksi fisik, seperti membangun kembali jembatan yang putus, membersihkan material longsor, dan mendirikan posko pengungsian.

Sayangnya, ada satu aspek sangat penting yang kerap luput dari prioritas dan sering kali diabaikan bahkan di kesampingkan, yaitu kesehatan mental dan trauma masyarakatnya.

Dari perspektif psikologi, bencana alam bukan hanya sekadar fenomena yang merusak fisik. melainkan sebuah peristiwa trauma massal yang seketika merenggut rasa aman dari dalam diri seseorang.

Saat bumi berguncang atau tanah longsor yang menghantam permukiman masyarakat, seseorang dipaksa berhadapan langsung dengan bayang-bayangan kematian, kehilangan orang-orang tercinta, dan kehancuran hidup dalam sekejap mata.

Jadi, Dampak psikologis yang ditimbulkan tidak serta-merta hilang begitu puing-puing bencana dibersihkan. Di sinilah letak pentingnya untuk kita menyadari bahwa pemulihan sebuah daerah pascabencana itu harus menyentuh aspek kejiwaan masyarakat secara mendalam.

Gejala yang timbul dari trauma pascabencana itu sangatlah nyata dalam kehidupan masyarakat. Akibatnya, Banyak penyintas yang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau Gangguan Stres Pascatrauma.

Mereka terjebak dalam memori traumatis masa lalu, hingga menglami kecemasan yang begitu hebat, seperti, mengalami gangguan tidur akut, hingga kecemasan intensif setiap kali hujan deras atau mendengar suara gemuruh kecil.

Pada anak-anak, trauma seperti ini sering kali memicu dalam bentuk regresi perilaku, seperti mendadak mengompol, ketakutan berlebih untuk berpisah dari orang tua, atau kehilangan minat untuk bermain dan belajar.

Jika kondisi psikologis yang terluka ini dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat, trauma ini lambat laun akan mengkristal menjadi depresi berkepanjangan, kecemasan berlebih, bahkan penurunan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang.

Faktor adat istiadat dan medan geografis yang sangat sulit, kian memperumit pemulihan mental masyarakat gayo pascabencana. Stigma kesehatan mental di perkotaan saja masih belum terlalu kuat, terlebih lagi di daerah plosok dataran tinggi yang minim aksesibilitas terhadap layanan kesehatan mental.

Bagi masyarakat, mengeluhkan kecemasan, ketakutan, atau kesedihan pascabencana sering kali disalahpahami seolah-olah menunjukkan kurangnya rasa bersyukur atau iman yang lemah.

Akibatnya, banyak masyarakat memilih untuk memendam luka batin mereka sendiri. Mereka berpura-pura kuat dan dipaksa untuk terlihat “tangguh” demi bertahan hidup, padahal mereka sedang menyembunyikan kerapuhan dan tumpukan emosional yang bisa siap meledak kapan saja.

Atas dasar itulah, paradigma pemulihan di tanoh gayo sudah sepatutnya di rekonstruksi. Sebab, apalah artinya kita merayakan megahnya pembangunan beton-beton infrastruktur, jika jiwa manusia yang didalamnya masih rapuh dan trus dicekam ketakutan.

Oleh karena itu, ada baiknya kita menciptaan ruang pemulihan di tanoh gayo melalui pendekatan psikologi klinis berbasis komunitas (community-based mental health).

Program pemulihan ini tidak akan efektif jika sekedar mengandalkan psikologi luar daerah, karena kedatangan mereka yang sangat singkat atau bisa di hitung kurang lebih dua mingguan tidak akan mampu menyelesaikan akar trauma yang mendalam.

Sebagai langkah pertama yang mendesak adalah menjadikan puskesmas di seluruh wilayah tanoh gayo sebagai basis utama penyediaan layanan kesehatan mental masyarakat.

Tenaga kesehatan lokal harus dilatih untuk melakukan Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis untuk mendeteksi gejala-gejala trauma ringan maupun berat pada masyarakat. Selain itu, ruang pemulihan ini juga harus merangkul kearifan lokal masyarakat Gayo sendiri. Pendekatan ini wajib di selaraskan dengan nilai-nilai budaya dan spiritualitas setempat.

Kita semua pasti merindukan Tanoh Gayo yang kembali tersenyum bukan? yang tidak hanya pulih fisiknya tetapi juga jiwanya. Semoga ke depan, seiring dengan tegaknya kembali bangunan-bangunan yang runtuh, dibersamai dengan ruang perlindungan yang hangat dan aman. Setiap jiwa di tanoh gayo ini berhak mendapatkan tempat untuk menyembuhkan trauma mereka dan pulih seutuhnya. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.