Oleh: Akshar, ST., M.Kom (Penulis salah satu ASN di Pemkab. Aceh Tengah)
Ada yang menarik dari kebiasaan kita sebagai manusia dalam mencari kesehatan jiwa. Saat pikiran terasa berat, kita mencari hiburan. Saat hati diliputi kecemasan, kita mencari tempat untuk mencurahkan perasaan.
Semua itu wajar, namun bagi seorang muslim, di tengah berbagai ikhtiar tersebut, ada amalan atau cara lain untuk mendapatkan kesehatan jiwa atau ketenangan, bahkan amalan ini dapat membantu menyembuhkan tubuh yang lagi sakit, jika amalan ini dilaksanakan setiap hari, dapat membantunya menyelesaikan masalahnya, yaitu dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, namun amalan tersebut belum mendapat tempat yang sepenuhnya dalam diri sebahagian ummat muslim.
Sebagian kita memandang membaca Al-Qur’an sebagai ibadah hanya untuk memperoleh pahala. Padahal, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilafalkan untuk menggugurkan kewajiban atau menyempurnakan rutinitas ibadah.
Ia adalah petunjuk kehidupan, sumber penguatan spiritual, dan pedoman untuk membangun akhlak serta menata hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitarnya.
Al-Qur’an: Penawar bagi Hati yang Gelisah
Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan, membaca Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari ikhtiar dalam menjaga kesehatan jiwa dan mendukung kualitas hidup, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Isra’[17]:82 “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman.”
Ayat ini memberikan pesan bahwa Al-Qur’an memiliki dimensi penyembuhan dan rahmat. Dalam penjelasan para ulama, salah satu dimensinya adalah menjadi penawar bagi penyakit hati, seperti keraguan, kegelisahan, kesombongan, dan keadaan batin yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah.
Allah juga berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28: “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa manusia membutuhkan ketenangan batin, bukan hanya kecukupan materi. Kekayaan tidak selalu menjamin ketenteraman, jabatan tidak selalu menghilangkan kecemasan, dan keberhasilan duniawi tidak otomatis membuat seseorang merasa cukup.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menyaksikan seseorang yang memiliki kedudukan tinggi tetapi pikirannya terus dibebani kekhawatiran. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi mampu menghadapi kesulitan dengan kesabaran dan harapan.
Tentu ketenangan manusia dipengaruhi banyak faktor. Namun, bagi seorang Muslim, hubungan dengan Allah merupakan sumber kekuatan yang tidak dapat diabaikan.
Imam Ibnu Katsir, ketika menjelaskan Surah Ar-Ra’d ayat 28 tersebut, menerangkan bahwa hati orang beriman menjadi tenteram dengan mengingat Allah, merasa dekat kepada-Nya, dan bersandar kepada-Nya.
Penjelasan ini mengingatkan kita bahwa ketenangan spiritual bukan sekadar suasana sesaat, melainkan tumbuh dari keyakinan dan hubungan yang terus dipelihara.
Akhlak seperti Al-Qur’an
Salah satu kisah hikmah yang sangat kuat datang dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika sahabat Nabi bernama Sa’ad bin Hisyam bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah SAW, Aisyah menjawab dengan kalimat yang sangat mendalam: “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.” (HR: Muslim)
Jawaban tersebut menyimpan pelajaran besar bagi kita ummat muslim yang wajib meneladani Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an tidak berhenti di lisan Rasulullah. Ajarannya menjelma menjadi kejujuran, kasih sayang, kesabaran, keadilan, dan tanggung jawab dalam kehidupan beliau.
Membaca Al-Qur’an mendatangkan pahala. Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis riwayat At-Tirmidzi bahwa setiap huruf dari Kitabullah yang dibaca bernilai satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.
Namun, pahala itu hendaknya berjalan bersama upaya memperbaiki diri. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semestinya semakin besar pula kesungguhannya untuk memperbaiki perilaku.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, mengapa kejujuran tidak bertambah? Mengapa kita masih mengabaikan tanggung jawab? Mengapa kita masih memperlakukan orang lain secara tidak adil? Padahal kita sudah membaca Al-Qur’an?
Bagi aparatur pemerintah, misalnya, membaca ayat tentang amanah semestinya menguatkan komitmen untuk tidak menyalahgunakan kewenangan. Bagi pejabat negara, ayat tentang keadilan seharusnya menjadi pengingat agar pelayanan dan pengelolaan anggaran dilakukan secara bertanggung jawab. Bagi orang tua, ayat tentang kasih sayang dapat menjadi dorongan untuk mendidik anak dengan keteladanan.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menenangkan hati, membacanya tidak hanya untuk mendapatkan pahala, tetapi juga membimbing tindakan. Inilah manfaat yang menjangkau kehidupan pribadi sekaligus kehidupan masyarakat.
Bayangkan seorang ASN yang pulang bekerja setelah menghadapi berbagai persoalan pelayanan publik. Pikirannya masih dipenuhi pekerjaan yang belum selesai. Jika ia menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an dan merenungkan ayat-ayat tentang kesabaran, tawakal, serta amanah, ia memiliki kesempatan untuk menata kembali sikapnya sebelum menghadapi keluarga dan pekerjaan berikutnya.
Atau seorang warga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Membaca Al-Qur’an tidak serta-merta mendatangkan pekerjaan atau menghapus utang. Namun, penghayatan terhadap pesan tentang kesabaran, ikhtiar, larangan berputus asa, dan pentingnya mencari rezeki yang halal dapat menguatkan dirinya untuk terus berusaha secara bertanggung jawab.
Di sinilah membaca Al-Qur’an dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keseimbangan hidup. Ia bukan pengganti olahraga, makanan bergizi, tidur yang cukup, atau pelayanan kesehatan. Sebaliknya, kebiasaan spiritual ini dapat berjalan bersama berbagai upaya menjaga tubuh dan jiwa sebagai amanah dari Allah SWT.
Gerakan Membangun Masyarakat Qur’ani
Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si telah mengeluarkan Instruksi Bupati Aceh Tengah Nomor 567/DSI/2026 tentang kewajiban shalat berjamaah dan gerakan gemar membaca Al-Qur’an bagi seluruh masyarakat, termasuk aparatur sipil negara (ASN). Instruksi tersebut diterbitkan pada 4 Maret 2026 sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi pembangunan Aceh Tengah Islami, maju, sejahtera, dan berkeadilan..
Bupati Aceh Tengah, mengajak masyarakat membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari, meskipun hanya satu atau dua ayat. Pemerintah Daerah turut menyampaikan rencana pengembangan Kampung Qur’ani untuk mendorong tumbuhnya budaya membaca Al-Qur’an di lingkungan masyarakat.
Langkah ini patut didukung, program ini merupakan upaya dalam membangun masyarakat berakhlak Al-Qur’an. Sebab, gerakan membaca Al-Qur’an akan memiliki dampak yang lebih luas apabila tidak berhenti sebagai instruksi, seremoni, atau kegiatan musiman, tetapi harus tumbuh menjadi budaya keluarga, budaya kerja, dan budaya masyarakat.
Bagi ASN, ajakan tersebut dapat dimulai dari diri sendiri. Seorang pemimpin yang membiasakan membaca Al-Qur’an dan menunjukkan akhlak yang baik akan memberikan teladan yang lebih kuat daripada sekadar menyampaikan imbauan. Bagi Reje dan Perangkat Kampung, gerakan ini dapat dihidupkan melalui kegiatan mengaji, dukungan terhadap TPA dan majelis taklim, serta keterlibatan orang tua dalam pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak.
Jangan sampai Al-Qur’an semakin sering terdengar, tetapi nilai-nilainya semakin jarang terlihat dalam kehidupan, jangan sampai kita rajin membaca ayat tentang kejujuran, tetapi membiarkan ketidakjujuran. Jangan sampai kita membaca ayat tentang keadilan, tetapi mengabaikan hak masyarakat. Jangan sampai kita mengajak anak-anak mengaji, tetapi gagal menunjukkan keteladanan dalam perilaku sehari-hari.
Mari kita mulai dari hal sederhana: membaca Al-Qur’an setiap hari, memahami maknanya, dan berusaha mengamalkan satu demi satu ajarannya. Jika belum lancar, belajarlah. Jika belum memahami, bertanyalah kepada guru yang kompeten. Jika sedang sakit, tetaplah berikhtiar mencari pertolongan yang tepat. Jika menghadapi kesulitan, jadikan Al-Qur’an sebagai sumber penguatan, sembari terus berusaha menemukan jalan keluar.
Masyarakat Qur’ani bukan hanya masyarakat yang membaca Al-Qur’an setiap hari, melainkan masyarakat yang berusaha menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupannya, maka setahap demi setahap, mari belajar memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an yang telah kita baca, semoga Allah SWT menjaga jiwa raga kita dari bermacam penyakit. []





