Oleh : H. Wahdi MS, MA (Kepala Kankemenag Kab. Aceh Tengah dan Ketua PCNU Aceh Tengah Periode 2026-2031)
Ada kalanya manusia menginginkan sesuatu, tetapi Allah memberikan yang berbeda. Ada yang kita sukai, tetapi ternyata tidak baik bagi kita. Sebaliknya, ada sesuatu yang tidak kita sukai, bahkan kita anggap sebagai kesulitan, tetapi justru di dalamnya tersimpan kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan kita dalam Surah Al-Baqarah ayat 216:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini mengajarkan setidaknya tiga hal penting dalam menjalani kehidupan.
Pertama, keterbatasan manusia.
Manusia memiliki keterbatasan dalam melihat dan memahami sesuatu. Kita sering menilai sesuatu hanya berdasarkan apa yang tampak di hadapan mata, apa yang kita rasakan saat ini, atau apa yang menurut kita menyenangkan dalam jangka pendek.
Padahal, kehidupan tidak berhenti pada apa yang tampak hari ini. Ada akibat jangka panjang yang tidak mampu kita lihat. Ada hikmah yang belum kita pahami. Ada masa depan yang belum kita ketahui.
Kedua, ketetapan Allah.
Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Allah mengetahui dampak suatu perkara, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Apa yang ditetapkan Allah tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia, tetapi bukan berarti ketetapan itu buruk.
Ketiga, sikap seorang muslim terhadap ketentuan Allah.
Kita dituntut untuk menerima takdir dan ketentuan Allah dengan ikhlas, disertai kesabaran dan keyakinan bahwa rencana Allah memiliki hikmah yang mungkin belum mampu kita pahami.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa sesuatu yang kita terima adalah keburukan hanya karena tidak sesuai dengan keinginan kita.
Ada sebuah kisah sederhana tentang seorang ayah dan anaknya. Kisah ini sering disampaikan dalam berbagai kesempatan sebagai ilustrasi tentang bagaimana manusia terkadang melihat sesuatu hanya dari sisi yang tampak.
Dikisahkan seorang ayah pergi bersama anaknya ke kebun kurma. Di sana, sang anak memperhatikan berbagai tanaman dan kemudian mempertanyakan keadilan Allah.
Ia menunjuk pohon kurma yang batangnya besar, tetapi buahnya relatif kecil.
“Wahai Ayah, mengapa Allah tidak adil? Batangnya besar, tetapi buahnya kecil.”
Sang ayah menjawab, “Allah itu adil, Nak.”
Anaknya kemudian melihat tanaman semangka. Batangnya kecil, tetapi buahnya besar.
“Lihat itu, Ayah. Batangnya kecil, buahnya besar. Mengapa Allah membuat seperti itu? Bukankah Allah tidak adil?”
Sang ayah kembali menjawab, “Allah itu adil, Anakku.”
Begitu pula ketika melihat tanaman anggur dan berbagai tanaman lainnya. Sang anak terus mempertanyakan apa yang menurut pandangannya tidak sesuai dengan logika.
Akhirnya, sang ayah meminta anaknya duduk di bawah pohon kurma, sementara ia membersihkan kebun.
Tidak lama kemudian, atas ketetapan Allah, buah kurma jatuh dan mengenai wajah anak tersebut. Ia terkejut dan mengeluh karena hidungnya terasa sakit.
Sang ayah kemudian berkata, kurang lebih, “Nah, sekarang kamu lihat. Bayangkan jika pohon kurma yang batangnya besar itu menghasilkan buah sebesar semangka. Apa yang akan terjadi ketika buah itu jatuh mengenai kepalamu?”
Sederhana memang. Namun kisah ini mengajarkan sesuatu yang penting: kita sering menilai sesuatu berdasarkan apa yang tampak, sementara Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Karena itu, tidak selayaknya kita terburu-buru menyebut sebuah ketentuan sebagai ketidakadilan hanya karena tidak sesuai dengan keinginan kita.
Begitu pula dengan rasa syukur.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa syukur tidak berhenti pada ucapan. Ada tiga unsur penting dalam syukur, yaitu ilmu, hal (keadaan hati), dan amal.
Pertama, ilmu.
Bersyukur membutuhkan kesadaran dan pengetahuan bahwa semua nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 53:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya. Dan apabila kamu ditimpa kemudaratan, maka hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan.”
Kesadaran ini penting agar manusia tidak terjebak pada anggapan bahwa nikmat semata-mata berasal dari kemampuan dirinya sendiri atau karena bantuan manusia. Manusia memang dapat menjadi perantara datangnya nikmat, tetapi sumber segala nikmat tetap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua, hal atau keadaan hati.
Setelah mengetahui bahwa nikmat berasal dari Allah, hati perlu menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang menerima karunia-Nya. Dari kesadaran itu lahir rasa bahagia, cinta kepada Allah, rendah hati, dan tidak sombong.
Karena itu, ketika mendapatkan rezeki, anak, jabatan, kesehatan, kesempatan, ilmu, maupun nikmat lainnya, seorang yang bersyukur tidak semestinya menjadi angkuh. Justru semakin banyak nikmat yang diterima, semakin kuat kesadarannya bahwa semua itu adalah amanah dari Allah.
Ketiga, amal.
Inilah puncak dari rasa syukur. Nikmat yang disadari oleh akal dan dirasakan oleh hati kemudian diwujudkan dalam tindakan.
Dengan demikian, syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah. Syukur harus terlihat dalam perilaku. Nikmat ilmu digunakan untuk kebaikan. Nikmat harta digunakan untuk membantu sesama. Nikmat jabatan digunakan untuk melayani. Nikmat anak dijaga dan dididik. Nikmat kesehatan digunakan untuk beribadah dan melakukan kebaikan.
Pada titik inilah kita memahami bahwa syukur bukan sekadar perasaan ketika sedang bahagia. Dalam kesulitan pun seseorang masih dapat bersyukur.
Bersyukur bukan berarti kita tidak boleh sedih, kecewa, atau menangis ketika menghadapi ujian. Bersyukur berarti tetap menyadari bahwa di balik keterbatasan pengetahuan manusia, ada Allah Yang Maha Mengetahui.
Kita mungkin tidak memahami mengapa sebuah keinginan tidak tercapai. Kita mungkin kecewa ketika sebuah rencana gagal. Kita mungkin merasa berat ketika menerima sebuah ujian. Namun bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sebagai kehilangan justru sedang menjadi jalan menuju kebaikan yang belum kita ketahui.
Manusia hanya melihat hari ini. Allah mengetahui hari ini, hari esok, bahkan seluruh perjalanan hidup kita.
Karena itu, ketika mendapatkan nikmat, bersyukurlah. Ketika menghadapi ujian, bersabarlah. Ketika menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan, belajarlah menerima dan mencari hikmahnya.
Sebab, tidak semua yang kita sukai adalah kebaikan. Dan tidak semua yang kita benci adalah keburukan.
Pada akhirnya, manusia hanya mampu berusaha dan memilih berdasarkan pengetahuan yang terbatas. Sementara Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Semoga kita menjadi hamba yang bersyukur ketika diberi nikmat, bersabar ketika diuji, dan tetap berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan.
Sebab boleh jadi, sesuatu yang hari ini kita anggap sebagai ujian, kelak justru kita pahami sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala.[]
Disarikan dari Ceramah Subuh Rabu Berkah di Mesjid Sabilul Muttaqin Kp. Lemah Burbana, Bebesen, 30 September 2026 (MF)





