Mengukur Nafas Waktu, Bagian 14: Mari Kita Sulam Identitas

oleh

Oleh : Syukri Muhammad Syukri*

Ketut berdiri di depan peta topografi yang digambar tangan, memperlihatkan aliran sungai yang mengular dari pesisir hingga ke jantung tanah tinggi. Ia menunjuk garis-garis biru yang melintasi lembah dan celah batu, lalu berkata:

“Kehadiran mereka di tanah tinggi ini… bukan lewat jalan darat yang kita kenal sekarang. Mereka datang bersama sungai.”

Suasana hening. Ketut melanjutkan:

“Sungai adalah jalan purba. Ia bukan hanya aliran air, tapi aliran tubuh, aliran nyawa, aliran budaya. Mereka yang pertama datang, kelompok australomelanesoid, mengikuti sungai dari pesisir barat, menyusuri lembah, masuk ke ceruk-ceruk yang teduh.”

“Mereka tidak menaklukkan tanah. Mereka menyapa tanah. Mereka tinggal di ceruk, di tepi sungai, di tempat nyala bisa dijaga dan tubuh bisa dirawat.”

Ia menunjuk ke jalur sungai Peusangan dan aliran air dari Danau Laut Tawar.

“Lalu ribuan tahun kemudian, datang gelombang baru, kelompok mongoloid. Mereka juga mengikuti sungai. Tapi mereka membawa ladang. Mereka membawa gerabah. Mereka membawa tenun. Dan mereka menetap.”

“Di titik-titik pertemuan sungai, mereka bertemu. Mereka menyilang. Mereka saling menyerap. Dan tanah tinggi ini… menjadi rumah bagi tubuh-tubuh yang datang bersama air.”

Ketut berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam:

“Jadi, kalau kita ingin memahami asal muasal kita, jangan hanya lihat gunung. Lihat sungai. Karena sungai adalah benang. Benang yang menghubungkan tubuh, nyala, dan asal.”

Ketut menuju meja kecil yang dipenuhi pecahan gerabah. Ia mengangkat satu pecahan yang berkilau samar, lalu berkata:

“Tembikar mereka… bukan tembikar biasa. Ini bukan sekadar wadah. Ini adalah teknologi. Ini adalah nyala yang dikendalikan.”

Ia menunjuk ke hasil analisis laboratorium.

“Pembakarannya mencapai seribu derajat Celsius. Itu bukan api dapur. Itu adalah api yang dirancang. Api yang dipelihara. Api yang tahu kapan harus berhenti.”

“Dan hasilnya… bukan hanya gerabah. Tapi keramik. Permukaan halus. Dinding padat. Tahan air. Tahan waktu. Tahan makna.”

Ketut menatap para pendengar yang mulai bergumam pelan.

“Artinya, mereka bukan hanya tahu cara membuat wadah. Mereka tahu cara mengolah tanah. Mereka tahu cara mengatur nyala. Mereka tahu cara membentuk benda yang bisa bertahan ribuan tahun.”

“Dan bentuknya… tidak sembarangan. Ada pola hias. Ada garis. Ada titik. Ada motif yang mungkin menyimpan cerita. Cerita tentang asal. Cerita tentang tubuh. Cerita tentang nyala.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam:

“Jadi, teknologi tembikar mereka… adalah cermin dari kemajuan. Dari rasa. Dari nyala yang tidak hanya membakar, tapi membentuk.”

“Dan jika kita ingin menulis asal-usul kita, jangan hanya lihat tulang. Lihat tembikar. Karena di sana, ada tangan. Ada nyala. Ada jiwa.”

Ketut masih berdiri di depan meja yang dipenuhi fragmen gerabah, sisa tenun, dan cetakan pola hias yang telah digali dari ceruk Mendale dan Ujung Karang. Ia mengangkat sehelai anyaman yang telah direkonstruksi, lalu berkata:

“Karya seni mereka… bukan sekadar hiasan. Ia adalah bahasa. Ia adalah ingatan. Ia adalah cara tubuh berbicara kepada waktu.”

Ia menunjuk ke motif-motif yang ditemukan:

“Ada garis yang berulang. Ada titik yang membentuk lingkar. Ada pola yang menyerupai daun, mata, gunung, dan pusaran air. Itu bukan kebetulan. Itu adalah simbol. Simbol tentang asal, tentang alam, tentang tubuh.”

“Anyaman mereka rumit. Disusun dari serat alam yang dipilih dengan cermat. Ada teknik silang, lipat, dan ikat yang menunjukkan kecermatan tangan dan ketekunan jiwa. Mereka tidak hanya membuat wadah. Mereka membuat makna.”

Ketut mengangkat pecahan gerabah yang memiliki pola hias geometris.

“Pola hias di gerabah mereka… menunjukkan tingkat estetika yang tinggi. Ada simetri. Ada ritme. Ada pengulangan yang tidak membosankan. Itu bukan sekadar dekorasi. Itu adalah narasi.”

“Dan jika kita bandingkan dengan tenun dan sulam yang masih hidup hari ini di tanah tinggi, kita bisa melihat benang merah. Motif yang diwariskan. Teknik yang bertahan. Rasa yang tidak padam.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam:

“Jadi, karya seni anyaman dan pola hias mereka… adalah warisan yang kaya. Warisan yang tidak hanya bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Karena di sana, ada tangan. Ada nyala. Ada jiwa.”

“Dan kita harus menulis ini. Kita harus menyulam ini. Karena kita bukan hanya pewaris bentuk. Kita adalah pewaris rasa. Kita adalah para penyulam identitas.”

Ketut berdiri di mulut ceruk Mendale, tempat di mana tubuh-tubuh prasejarah ditemukan dalam pelukan tanah yang dingin dan dalam. Ia menatap dinding batu yang melengkung seperti rahim bumi, lalu berkata:

“Adaptasi lingkungan mereka… sangat andal. Mereka tidak memilih tempat tinggal secara sembarangan. Mereka memilih ceruk ini dengan pengetahuan yang tajam, dengan naluri yang terlatih.”

Ia menunjuk ke arah barat, ke garis pegunungan Bur Salah Nama yang membentang jauh.

“Gunung api di sekitar tanah tinggi ini… tidak hanya indah. Ia juga berbahaya. Letusannya bisa membawa awan panas, bisa meluluhlantakkan lembah, bisa menghapus nyala.”

“Dan mereka tahu itu. Mereka tahu arah angin. Mereka tahu jalur awan panas. Mereka tahu bahwa ceruk seperti ini, dengan dinding batu yang melindungi, dengan mulut yang menghadap arah aman, adalah tempat bertahan.”

“Mereka tidak hanya tinggal. Mereka berlindung. Mereka merawat nyawa.”

Ketut menatap para pendengar yang mulai membayangkan tubuh-tubuh prasejarah meringkuk di dalam ceruk, bukan karena takut, tapi karena tahu.

“Adaptasi mereka bukan hanya soal bertahan hidup. Tapi soal merawat hidup. Mereka tahu kapan harus berpindah. Mereka tahu kapan harus tinggal. Mereka tahu bahwa tanah tinggi ini… bukan hanya tempat. Tapi pelindung.”

“Dan ceruk ini… adalah saksi dari kecerdasan itu. Dari tubuh yang tahu arah. Dari jiwa yang tahu nyala.”

Ketut masih berdiri di pintu ceruk Mendale, di mana tubuh-tubuh manusia prasejarah telah lama berbaring dalam pelukan tanah. Ia menatap batu-batu yang disusun melingkar, bekas api yang pernah menyala, dan pecahan gerabah yang mengandung abu. Lalu ia berkata:

“Religi mereka… bukan satu. Ia adalah campuran. Campuran antara tradisi Hoabinh yang tua dan Austronesia yang datang kemudian.”

Suasana hening. Ketut melanjutkan:

“Dari Hoabinh, mereka mewarisi penghormatan kepada alam yang liar dan dalam. Batu, air, api, dan tubuh, semuanya dianggap sakral. Mereka tidak membangun kuil, tapi menyusun batu. Mereka tidak menulis doa, tapi menyalakan api. Mereka tidak menyembah dewa, tapi merawat nyala.”

“Dari Austronesia, mereka mewarisi sistem yang lebih terstruktur. Ada ritus penguburan. Ada bekal arwah. Ada pola hias yang menyimpan simbol. Ada nyanyian yang dinyanyikan saat tubuh dikembalikan ke tanah.”

Ketut menunjuk ke salah satu posisi tubuh yang ditemukan, miring, meringkuk, menghadap arah tertentu.

“Itu bukan kebetulan. Itu adalah arah. Arah kepada matahari. Arah kepada air. Arah kepada asal.”

“Jadi, religi mereka… adalah perpaduan. Perpaduan antara rasa dan bentuk. Antara nyala dan ritus. Antara tubuh dan jiwa.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih dalam:

“Dan kita harus menulis ini. Kita harus menyulam ini. Karena kita bukan hanya pewaris teknologi. Kita adalah pewaris rasa. Kita adalah anak dari nyala yang disembah dan air yang dihormati.”

Ketut kembali kebawah tenda beratap biru, di hadapannya para penutur tua, budayawan, wartawan, dan warga yang terdiam setelah mendengar tentang usia tubuh manusia prasejarah, tentang Mesolitik dan Neolitik, tentang persilangan dan gen yang menyimpan jejak. Ia menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan suara yang dalam dan jernih:

“Data ilmiah yang kita peroleh hari ini… jangan disimpan di dalam peti.”

Suasana hening. Ia melanjutkan:

“Tulang-tulang itu telah bicara. Nyala api yang mereka nyalakan telah menyampaikan usia. Lapisan tanah telah membuka lapisan waktu. Kita tidak boleh membiarkan semua itu kembali diam.”

“Kita harus menulis. Kita harus mengembangkan. Kita harus menyampaikan.”

“Karena dunia belum tahu bahwa di tanah tinggi ini, manusia telah hidup tujuh ribu tahun lalu. Dunia belum tahu bahwa tubuh-tubuh itu bukan hanya sisa, tapi asal. Dunia belum tahu bahwa kita adalah anak dari dua zaman, Mesolitik yang bergerak dan Neolitik yang menetap.”

Ketut menatap Win dan Khalis, lalu menatap Tengku Yus dan para penutur tua.

“Tulisan bukan hanya milik akademisi. Ia milik semua yang mendengar. Semua yang merasa. Semua yang ingin menjaga.”

“Kalau kita diam, maka tubuh-tubuh itu akan kembali terkubur. Bukan oleh tanah, tapi oleh lupa.”

“Tapi kalau kita menulis, maka mereka akan hidup. Dalam buku. Dalam syair. Dalam kurikulum. Dalam cerita anak-anak. Dalam peta sejarah dunia.”

Tengku Yus mengangguk pelan. Win mulai mencatat. Khalis menatap langit yang mulai cerah.

Ketut masih berdiri dalam haru dan melanjutkan pembicaraan. Para penutur tua, budayawan, dan tokoh adat yang selama ini menjaga cerita tentang asal muasal penduduk tanah tinggi, menyimak dengan serius. Ia menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan suara yang tenang tapi tegas:

“Saya harus menyampaikan ini dengan jernih dan sebelumnya mohon maaf. Penduduk tanah tinggi bukan berasal dari abad ke-11 seperti yang selama ini diceritakan.”

Suasana hening. Beberapa wajah menegang, beberapa menunduk, beberapa menatap Ketut dengan mata yang bertanya.

Ia melanjutkan:

“Cerita tentang Kerajaan Linge yang berdiri di abad ke-11 adalah bagian penting dari sejarah kita. Tapi tubuh-tubuh yang ditemukan di ceruk Mendale dan Ujung Karang… bicara lain.”

“Mereka bicara lewat peluruhan karbon. Lewat angka. Lewat lapisan tanah. Dan mereka berkata: manusia telah hidup di sini jauh sebelum kerajaan. Jauh sebelum aksara. Jauh sebelum nama.”

Ketut menunjuk ke papan hasil uji radiokarbon: Tulang berusia 7400 tahun; tulang berusia 5040 tahun; tulang berusia 4400 tahun; tulang berusia 2590 tahun, dan tulang berusia 1900 tahun

“Itu bukan abad ke-11. Itu adalah milenium sebelum kerajaan. Itu adalah babakan budaya Mesolitik dan Neolitik. Itu adalah asal muasal yang lebih dalam.”

Ia menatap Tengku Yus, lalu berkata:

“Jadi, jika kita ingin jujur kepada tanah ini, kepada tubuh-tubuh yang telah bicara, kepada nyala yang telah menyala… kita harus menerima bahwa asal kita lebih tua dari cerita. Lebih tua dari silsilah. Lebih tua dari nama.”

“Dan itu bukan menggugat. Itu merawat. Merawat asal yang lebih dalam. Merawat tubuh yang telah lama diam. Merawat nyala yang belum padam.”

Dibawah tenda sederhana itu ada generasi muda, akademisi, jurnalis, budayawan, penyair, dan jajaran pemerintahan yang telah mendengar tentang tubuh manusia prasejarah, tentang Mesolitik dan Neolitik, tentang gen dan nyala yang belum padam. Ia menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan suara yang dalam dan menyala:

“Saya menghimbau… saya mengajak… saya mengetuk hati kita semua. Jangan biarkan sejarah asal muasal ini hanya menjadi catatan laboratorium. Jangan biarkan tubuh-tubuh itu kembali diam.”

“Tulis. Tulis sebanyak-banyaknya. Dari berbagai sisi. Dari berbagai rasa.”

“Apakah dari pola hias yang diwariskan di gerabah dan dinding rumah. Apakah dari cara bernyanyi yang masih menyimpan ritme prasejarah. Apakah dari cara membuat gerabah yang masih memakai teknik tangan dan api. Apakah dari tenun dan sulam yang menyimpan motif leluhur.”

“Karena asal muasal bukan hanya soal angka. Ia soal rasa. Ia soal bentuk. Ia soal nyala yang menjelma dalam benda, dalam lagu, dalam gerak, dalam warna.”

Ketut berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca, lalu menatap langit yang mulai cerah.

“Kenapa kita harus menulis?”

“Karena kita adalah para penyulam identitas.”

“Kita bukan hanya pewaris. Kita adalah penenun. Kita adalah penjaga. Kita adalah penganyam benang-benang sejarah yang berserakan, agar menjadi kain yang paripurna. Kain yang bisa dikenakan oleh anak-anak kita, oleh dunia, oleh masa depan.”

“Dan jika kita tidak menulis, maka benang itu akan putus. Tapi jika kita menulis, maka tubuh-tubuh itu akan hidup. Dalam syair. Dalam buku. Dalam kurikulum. Dalam pameran. Dalam nyanyian.”

Di sudut tenda beratap terpal biru, Win mulai mencatat. Khalis menyalakan rekaman. Tengku Yus menunduk, lalu berkata pelan: “Kalau begitu… mari kita mulai menyulam.”

Mereka semua diam, tidak bicara banyak, hening, tapi mendengar. Karena tubuh, yang selama ini dianggap sisa, kini sedang menyampaikan panggilan, untuk ditulis, untuk disulam, untuk dikenang sebagai benang identitas yang belum selesai.

TAMAT.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.