Level Keislaman Kita Masih Meributkan Rakaat Shalat Tarawih

oleh

Oleh : Nanda Winar Sagita*

Keributan kecil di Masjid Indrapuri, Aceh Besar, gara-gara perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih sebenarnya bukan soal fikih semata, melainkan soal cara umat memandang perbedaan.

Tarawih delapan rakaat atau dua puluh rakaat sama-sama memiliki landasan dalam tradisi Islam, tetapi di lapangan sering berubah menjadi adu argumen yang emosional.

Di ruang suci yang seharusnya menjadi tempat menyerahkan diri di hadapan Allah, malah menjadi ruang perdebatan yang menonjolkan ego mazhab. Fenomena ini memperlihatkan bahwa sebagian umat masih menempatkan perbedaan praktik ibadah sebagai garis pemisah. Ini memang sudah dijelaskan Allah sebagaimana ayat Surah Hud ayat 118:

“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia satu umat saja, tetapi mereka senantiasa berselisih.”

Namun kita juga harus ingat seharusnya level kita bukan lagi meributkan sunnah semata, tapi abai pada hal-hal yang bersifat wajib. Jika melihat sejarah, tradisi intelektual Islam pernah melahirkan tokoh-tokoh yang bekerja pada persoalan jauh lebih besar.

Imam Bukhari menghabiskan hidupnya menyaring ribuan riwayat untuk menyusun kumpulan hadis sahih yang menjadi rujukan dunia Islam.

Ibnu Rysyd berusaha mempertemukan filsafat Yunani dengan teologi Islam, menunjukkan bahwa akal dan wahyu tidak harus saling meniadakan. Di abad ke-19, Jamaluddin al-Afghani dan muridnya Muhammad Abduh menggembar-gemborkan gagasan persatuan dunia Islam agar mampu bangkit menghadapi kolonialisme yang disebut Pan-Islamisme.

Dalam ranah spiritual, Jalaluddin Rumi justru mengajarkan cinta kasih sebagai inti pengalaman religius. Memasuki zaman modern, semangat dakwah dan pembaruan juga tampak pada Malcolm X yang menyampaikan pesan Islam di tengah masyarakat Amerika yang sarat konflik rasial

Belum lagi tokoh-tokoh Nusantara seperti Abdurrahman Wahid yang menekankan toleransi, Ahmad Dahlan yang menggerakkan pembaruan pendidikan Islam, dan Hasyim Asy’ari yang membangun tradisi keilmuan pesantren.

Melihat jejak para tokoh itu, terasa betapa luas cakrawala yang pernah dicapai oleh peradaban Islam; sementara itu, dalam kehidupan sehari-hari kita sering masih tersangkut pada perdebatan yang sama dari tahun ke tahun. Jangankan berpikiran maju seperti mereka yang sudah tiada, dalam praktik sederhana di masjid saja level keislaman kita masih sibuk meributkan jumlah rakaat shalat tarawih.

Di situ mungkin letak ironi kecil yang seharusnya membuat kita merenung: warisan pemikiran yang begitu luas, tetapi energi kita habis pada perbedaan yang sebenarnya sejak lama sudah dianggap wajar dalam tradisi Islam.

Mari kita baca sejarah kenapa dulu Islam bisa mencapai masa keemasan yang gemilang, dan itu semata-mata bukan hanya karena politik semata. Ada hal yang harus kita catat, yakni mereka bisa membuka mata pada perbedaan. Kalau tidak, mana mungkin isi perpustakaan Baitul Hikmah di zaman Abassiyah itu diisi buku-buku terjemahan dari Yunani, India, dan Persia?

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.