“Bung” Dalam Komunikasi Budaya Gayo, Cultural And Ecological Apathy Hingga Kata Sapaan Nasional (Bag.1)

oleh

Oleh : Salman Yoga S*

(Bung di le, italu gere mesut. Enti nomé tuyuh tamur)

Kalimat ini terasa sangat menusuk, seakan ada penggugatan terhadap nilai dan keperibadian seseorang. Terlebih jika diucapkan sebagai bentuk pernyataan antar dan interpesona, individu maupun kelembagaan. Terlebih pula bila hal ini dikaitkan dengan sesuatu yang berkaitan langsung dengan kemaslahatan umat, kepentingan rakyat secara luas.

Kata “bung” adalah momok sekaligus penjustifikasi terhadap nilai akhir dari sikap dan keperibadian seseorang sebagai makhluk sosial (zonpolitikon) dalam kebudayaan Gayo secara umum. Sehingga keberadaannya dapat dianggap menjadi tidak ada dalam realitas yang melingkupinya.

“Bung” menjadi gambaran sebuah identitas akhlak yang tidak beradap dan tidak berempati, tidak peduli dan tidak menyadari keberadaan diri dalam realitas fenomenologis.

Kata “bung” sebenarnya sudah punah dari interaksi komunikasi verbal maupun lisan dalam kosa kata Bahasa Gayo, ia tidak pernah digunakan lagi sama sekali walau sepatah.

Padahal pengertiannya sangat urgen untuk menggambarkan sebuah keadaan, sikap dan kearifan, mempunyai filsafat yang tidak tergantikan secara maknawi dari budaya dan teknologi apapun. Inilah efek mayor kemiskinan pendokumentasian dan pelestarian philosophical language yang nyata.

– Presiden dan pemimpin yang “bung” akan membuat sebuah negara tak tertata sesuai undang-undang, kehilangan gezah dan marwah.
– Wakil Rakyat yang “bung” akan menjadikannya hanya sebagai symbol unsur demokrasi dan kepemerintahan, mencari keuntungan pribadi dan partai bila kemaslahatan rakyatnya tidak diapresiasi dan diperjuangkan.

Dalam kamus bahasa Gayo kata “bung” yang ditulis oleh MJ Melalatoa 1982 diartikan sebagai sebagai suah sikap kesombongan dan angkuh. Namun dalam komunikasi verbalitas dan nilai budaya Gayo kata “bung” dapat berarti sebagai sesuatu yang bersifat apatis, ketidak pedulian dan sikap tata nilai yang tidak berempati, cuek dan ketidak pedulian terhadap lingkungan sekitar. Sikap ini biasanya dinyatakan dalam bentuk perilaku, sikap maupun tindakan secara langsung dan tidak langsung.

Dalam pengertian yang lebih kontras bentuk keingkaran dan apatis ini dapat bermakna sebagai sebuah “ketulian” sekaligus “kebutaan”. Tuli bukan karena tidak punya telinga dan tidak dapat mendengar, tetapi tuli sebagai puncak ketidak pedulian secara maknawi dan filosopi.

Demikian juga dengan “kebutaan” bukan karena tidak punya mata dan tidak dapat melihat, tetapi karena bebal dan berhati keras sehingga seolah yang terjadi di sekitarnya sebagai sesuatu yang tidak pernah ada.

Dalam budaya Gayo sikap “bung” ini adalah puncak dimana seseorang sudah tidak punya rasa empati sama sekali, baik secara ruhi, komunikasi maupun maknawi sehingga salah satu syarat untuk hidup bermasyarakat (hablum minan nas) telah hilang, ego-individualisme dalam konteks interaksi dan kepribadian.

Dalam tata nilai dan moral “bung” adalah sebuah perilaku yang tidak peduli, bebal dan berhati keras, baik secara personal maupun kelembagaan. Dalam kontek kepemimpinan dan kepemerintahan, jurnalis, seniman, akademisi dan profesi-jabatan publik lainnya kata ini dapat berarti sebagai sikap tidak peduli dan mengabaikan.

Kalimat yang kerap untuk menggambarkan hal tersebut dinyatakan dengan kata (nomé tuyuh tamur) – (tidur lelap di bawah beduk yang gemuruh).

Kemaslahatan rakyat yang tak kunjung teratasi dan tidak punya solusi adalah berangkat dari “bung”-nya kepemimpinan dan kepemerintahan.

Fakta aktual yang tidak muncul kepermukaan adalah dari “bung”-nya kaum jurnalis dan media.

Kearifan, humanisme, filsafat dan nilai ploratarian yang tidak terekam adalah dari “bung”-nya seniman-budayawan.

Pengetahuan, wawasan dan keberadaban yang tidak membumi adalah dari “bung”-nya para akademisi dengan lembaga pendidikannya.

Rendahnya rasa aman dan tingginya patologi sosial, bisa jadi berangkat dari dan menjadi salah satu ciri dari “bung”-nya aparat kemananan dalam preventif dan represif yang tebang pilih.

Munculnya keambiguan dan ketidak pastian terhadap hal-hal yang bersifat keilahian, adalah berangkat dari “bung”-nya kaum agamawan/ulama yang disibukkan oleh hal administrative dari pada ketauladanan. Dan “bung-bung” lainnya dari berbagai elemen masyarakat serta unsur kepemerintahan yang bermuara pada kepentingan publik.

Sikap “bung” ini dalam Al-Qur’an disebut dengan kata nifaq, kaslan, sikap apatis dan keengganan dalam ber-amar ma’ruf nahi mungkar. *[]*

*Dr. Salman Yoga S, S.Ag., CPL., MA. Akademisi Komunikasi, Fotografi Jurnalistik Dakom UIN Ar-Raniry, Ketua The Gayo Institute (TGI), Budayawan dan Sastrawan Nasional.

Daftar Bacaan
Deddy Mulyana,Prof. Dr. Jalaluddin Rahmat, Prof. Dr (ed), Komunikasi Antar Budaya, Bandung: PT. Rosda Karya, 1996.
David Kaplan, Dr. Robert A. Manners. Dr. The Theory of Culture. Terj. Landung Simatupang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
M.J, Melalatoa. Prof. Dr, Kamus Bahasa Gayo-Indonesia, Jakarta: 1982 dalam bentuk stensilan. Hal. 46.
Salman Yoga S. Dr, Filsafat Komunikasi Gayo (Draf naskah buku, belum diterbitkan).

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.