“Bung” Dalam Komunikasi Budaya Gayo, Cultural And Ecological Apathy Hingga Kata Sapaan Nasional (Bagian. 2)

oleh

Oleh : Salman Yoga S*

Presiden bung
Menteri bung
Gubernur bung
Kepala Dinas bung dan seterusnya

Manusia/individu yang tidak “bung” dalam tata nilai dan komunikasi budaya Gayo adalah manusia/individu yang tingkat resfonbilyti-nya secara psikologis adalah yang resfek, peduli, tanggap dan santun dengan mengambil peran, meski minim.

Kata “bung” sebenarnya bukan saja berlaku dan ada dalam hal yang berkaitan langsung dengan kemasyarakatan secara umum yang melingkupi kehidupan dunia dan akherat dalam hal religi, sosial, ekonomi, politik. Tetapi juga lebih “bung” dan bersikap apatis, acuh tak acuh, atau tidak peduli terhadap kenyataan lingkungan berupa apatis ekologis (ecological apathy) dan environmental indifference.

Terlebih lagi berkaitan dengan hal yang berbasis peradaban manusia berupa Apatisme Budaya (Cultural Apathy), sikap dan kebijakan yang kurang menempatkan empati pada kepedulian dan keterlibatan dalam isu-isu budaya, sosial, atau lingkungan yang ril.

Indiferensi dan sikap acuh tak acuh terhadap nilai budaya yang membentuk masyarakat itu sendiri, sehingga muncul ketidak pekaan emosional dan sosial, malas berpikir atau bertindak sebagai bentuk lain dari “bung” terhadap resam dan kearifan yang telah menjadi styl masyarakat. Sebaliknya, ia justru lelap dengan fasilitas dan jabatan di bawah gemuruh tabuh keresahan masyarakat.

Dalam pandangan kaum budayawan sikap ini sering dikritik karena dianggap tidak bertanggung jawab dan tidak peka, terlebih menyangkut identitas dan karakter anak bangsa. Padahal semua menuntut kepedulian dan tindakan kekaryaan.

Sementara kata “bung” sebagai sapaan yang telah menasional mempunyai pengertian yang berbeda, dan bertolak belakang sama sekali dengan tata nilai masyarakat Gayo.

Sapaan untuk presiden pertama Indonesia dengan kata Bung Karno sangat popular pada masanya, karena kata tersebut mencerminkan kedekatan, kecerdasan, kepedulian, kepemudaan dan makna lainnya yang mengacu pada gerakan revolusioner.

Asal mula sapaan “bung” ini ternyata dari beberapa daerah nusantara dengan nilai dan makna yang jauh berbeda dengan pengertian dalam bahasa dan budaya Gayo, bahkan secara kontras ini merupakan sebuah maknawi kata yang paradoks.

Baca Juga : “Bung” Dalam Komunikasi Budaya Gayo, Cultural And Ecological Apathy Hingga Kata Sapaan Nasional (Bag.1)

Sebahagian refrensi menyebutkan kata “bung” berasal dari Bahasa Bengkulu, yang berarti “kakak”. Konon sudah dipakai oleh para keluarga di Bengkulu sekitar tahun 1850, jauh sebelum kata yang sama disematkan diawal sapaan sejumlah nama dan tokoh nasional seperti bung Karno, bung Hatta, bung Tomo dan lain-lain.

Dalam pandangan Parakitri T. Simbolon sapaan “bung” diperkenalkan ketika terbentuknya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 18 Desember 1927.

Kata yang sama dalam bahasa Melayu Ambon sapaan “bung” mempunyai makna sebagai yang “tinggi”, dinisbatkan sama seperti sapaan “mas” dalam bahasa dan budaya Jawa secara umum. Kata yang sama dalam Bahasa Melayu Ambon sapaan “bung” mempunyai makna sebagai yang “tinggi”, dinisbatkan sama seperti sapaan “mas” dalam bahasa dan budaya Jawa secara umum.

Kata “bung” juga terdapat pada masyarakat negeri Pahang Malaysia, dengan makna sebagai seorang (laki-laki) spesial yang penuh dengan nilai-nilai perjuangan dan berjiwa muda.

Tulisan di majalah Historia menyebutkan asal mula sapaan “bung” diambil dari varian Bahasa Betawi, “abang” yang berarti kakak laki-laki, dan ini adalah sapaan umum sebagaimana juga sapaan yang sama dalam budaya Batak, Aceh, Gayo, Betawi, Sulawesi, Kalimantan kecuali Sumatera Barat yang menyapa “abang” dengan kata “Uda”.
Pendapat lain menyebutkan sapaan “bung” berasal dari Bahasa Belanda (zuster) untuk menyebut sahabat/kawan atau teman perempuan.

– Jadi, bila kita ingin menyebut kata “bung” untuk pemimpin yang berjiwa muda dengan semangat dan mempunyai visi untuk kemajuan bangsa dan rakyat mengaculah pada makna kosa kata dari Suku Bangsa di atas.

– Untuk menyatakan “bung” untuk pemimpin yang mirip perempuan, maka mengaculah pada kosa kata Bahasa Belanda.

– Sebaliknya, untuk menyatakan “bung” untuk pemimpin yang melempem, apatis, sombong, cuek dan -enjoy dewe- penuh ketidak pastian maka mengaculah kepada makna kosa kata Bahasa Gayo.

Dengan kata “bung” di belakang:
Presiden bung
Menteri bung
Gubernur bung
Kepala Dinas bung
Ketua bung
Bupati bung
Kepala Kampung bung dan seterusnya

Wallahu a’lam. *[]*

*Dr. Salman Yoga S, S.Ag., CPL., MA. Akademisi Komunikasi, Fotografi Jurnalistik Dakom UIN Ar-Raniry, Ketua The Gayo Institute (TGI), Budayawan dan Sastrawan Nasional.

Daftar Bacaan
Deddy Mulyana,Prof. Dr. Jalaluddin Rahmat, Prof. Dr (ed), Komunikasi Antar Budaya, Bandung: PT. Rosda Karya, 1996.
David Kaplan, Dr. Robert A. Manners. Dr. The Theory of Culture. Terj. Landung Simatupang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
M.J, Melalatoa. Prof. Dr, Kamus Bahasa Gayo-Indonesia, Jakarta: 1982 dalam bentuk stensilan. Hal. 46.
Salman Yoga S. Dr, Filsafat Komunikasi Gayo (Draf naskah buku, belum diterbitkan).

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.