Memohon Keselamatan dan Kedamaian dengan Zikir dan Do’a Serta Mengupayakannya dengan Prilaku dan Perbuatan

oleh
Masjid Jami Al-Huda Jagong Jeget Foto: Mahbub Fauzie

Catatan Mahbub Fauzie

Ada sebuah kontradiksi yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Di satu sisi, kita berdoa memohon keselamatan, memperbanyak zikir, menggelar doa bersama, bahkan melakukan ritual tolak bala. Namun, di sisi lain, sebagian perilaku kita justru seperti sedang membuka pintu bagi datangnya bala.

Kita memohon, “Ya Allah, jauhkan kami dari musibah dan marabahaya.” Tetapi setelah itu kita mengabaikan keselamatan, melanggar aturan, ceroboh, membuang sampah sembarangan, membangun tanpa memperhatikan risiko, atau melakukan tindakan yang jelas-jelas dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Di sinilah doa perlu bertemu dengan ikhtiar.

Islam tidak mengajarkan manusia hanya duduk menunggu pertolongan Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Doa adalah pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara ikhtiar merupakan bukti bahwa doa itu sungguh-sungguh kita hayati.

Rasulullah SAW mengajarkan prinsip yang sederhana: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakal.” Pesannya jelas: jangan berharap keselamatan sementara sebab-sebab keselamatan justru kita abaikan.

Karena itu, zikir dan doa tolak bala semestinya tidak berhenti di bibir. Ia harus melahirkan kesadaran untuk menghindari sebab-sebab yang dapat mendatangkan bahaya.

Kalau kita berdoa agar terhindar dari kebakaran, maka jangan bermain-main dengan api, jangan membiarkan instalasi listrik yang berbahaya, dan jangan mengabaikan standar keselamatan.

Kalau kita berdoa agar terhindar dari kecelakaan di jalan, maka jangan berkendara ugal-ugalan, jangan menerobos aturan, dan jangan memaksakan diri ketika kondisi tidak memungkinkan.

Kalau kita memohon keselamatan lingkungan, maka jangan pula kita merusak hutan, membuang limbah sembarangan, atau melakukan tindakan yang memperbesar risiko bencana.

Bahkan dalam konteks sosial, kita sering memohon kedamaian tetapi gemar menyebarkan kebencian. Memohon persatuan tetapi mudah memprovokasi. Memohon keberkahan tetapi perilaku kita justru menghadirkan kerusakan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut muncul karena ulah tangan manusia. Pesan ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh selalu berlindung di balik kalimat “ini sudah kehendak Allah”, lalu merasa terbebas dari evaluasi dan tanggung jawab.

Memang, tidak setiap musibah merupakan akibat langsung dari kesalahan manusia. Ada ujian, ada takdir, dan ada peristiwa alam yang berada di luar kemampuan manusia untuk mencegahnya. Namun, manusia tetap diperintahkan untuk melakukan ikhtiar terbaik, mengambil langkah pencegahan, serta tidak sengaja menciptakan risiko.

Maka, tolak bala bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan menghilangkan perilaku yang mengundang bala.

Doa menundukkan hati kepada Allah.
Zikir menenangkan jiwa.
Ikhtiar menjaga kehidupan.
Kehati-hatian mencegah bencana.
Dan tanggung jawab sosial melindungi sesama.

Jangan sampai tangan kita melakukan sesuatu yang membahayakan, sementara lisan kita sibuk memohon keselamatan.

Jangan sampai kita meminta Allah menjauhkan bala, tetapi pada saat yang sama perilaku kita justru menjadi sebab datangnya bala. Sebab keselamatan bukan hanya sesuatu yang dimohonkan, tetapi juga sesuatu yang diusahakan.

Berdoalah kepada Allah, tetapi jangan berhenti berikhtiar. Bertawakallah, tetapi jangan abaikan sebab-sebab keselamatan. Sebab doa yang baik semestinya melahirkan perilaku yang baik pula.

Memohon keselamatan kepada Allah adalah doa. Menjaga diri dan sesama dari bahaya adalah ikhtiar. Menghindari perbuatan yang mengundang bencana adalah tanggung jawab. Dan ketika ketiganya berjalan bersama, di situlah doa menemukan makna dalam kehidupan.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.