[Puisi Bahasa Gayo] Lokop Mongot, Kemanusiaen Munyala

oleh

Kasad

Langit Serbejadi Lokop mongot gere beteduh, wih rilip munelnomen nipi, den munemah luke, bukit pé ruluh munuji até, arul Lokop isalupi duke, wih bah sawah gere itiro, munapus, umah, ternak den ume manut urum kenangen.

Arus si deras munetus jelen den totor, kebetapé gere mampu munapus kemanusiaen, kerna harapen gere beluh osop, kasih sayang tetap mujalir urum tulus senaru ni kenangen.

Pumu si sederhana saling beramik, munyeka lauh mata i antara reruntuhen kelem, masyarakat bersatu, gere mumanang asal, suku, maupé perbedaen, béwéné munatang beban gerepé itiro, gere mungune sahen den ari si, béwéné iyolik wan rasa kemanusiaen.

Sara kilo oros mujadi secercah harapen, setenting uwak mujadi penawar kepedihen, keiklasen para relawan adalah cahaya, menguaten até si nyaris osop harap, ara si mumikul oros i kerlangngé, ara si beremen kekanak ku tempat aman, sire mubaginen sejerip wih, ara si mungueten urum doa i masjid den mersah.

Jema tue den kekanak ulak munéngon langit, meski emun munaso getir, pakéa seder bahwa kasih gere pernah manut, meski derasé banjir munuji morip secara bergilir.

Serbajadi Lokop munejeren kite arti ketegaren, bahwa musibah nume akhir perjelenen, kerna i balik tanoh lédak si munutupi bumi, tumbuh benih cinta, empati, den peduli.

Uwo suderengku para pejuang kemanusiaen, berijin atas jep pengorbanen, jep langkahmu sabé ikenang, sebagé bukti bahwa kemanusiaen gere pernah hilu, Serbajadi Lokop bangkit mien, munata harapen si sempat musepit, jep bencana si sawah munuji, pasti ara até si malé mumilih berbagi pikiren den materi.

Gotong royong mujadi bahasa, si gere mumerlunen simen kata, alak mujadi saksi persaudaraen, bahwa kemanusiaen lebih atas ari segele perbedaen, i balik reruntuhen den tanoh lédak pekat, morip inih harapen si gere penah sekarat, pumu saling beramik, munubah duke mujadi semangat, Lokop tercinta munejeren arti ketegaren, bencana nguk murémoken bangunen, tetapé gere akan mampu muruluhen persatuen.

Buge langkah si penah musara, mujadi jejak bagi generasi mendatang, ketike alam munuji morip, gotong royong den kemanusiaen adalah cahaya gere penah lepas ipedemen.

2020-2026

*Dipetik dari draf naskah Buku Antologi Puisi Dwi Bahasa (Indonesia – Gayo), “Gayo Berkarya, Gayo Tegar”, The Gayo Institute (TGI), 2026.

Kasad, lahir dari pasangan Almarhum Tkg. H. Ading Bin Tgk Bena dan Ibu Hj. Siti Halimah Binti Taher pada tanggal 15 Desember 1975 di Desa Mesir Kecamatan Serbajdi Lokop Kabupaten Aceh Timur Provinsi Aceh, yang berada didataran Tinggi Kabupaten Aceh Timur, berbatasan dengan Kabupaten Gayo Lues dan Aceh Tengah, waktu tempuh dari Ibu Kota Kabupaten Aceh Timur menuju Serbajadi Lokop 4 (empat) Jam perjalann darat. Penulis lahir dan besar di Gayo Serbajadi Lokop, Kasad mengikuti pendidikan setingkat SLTA di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Dep Kes RI Kota Langsa Pada tahun 1992 – 1995, tahun 1997 diangkat menjadi Calon Pegawai Negri sipil (CPNS), bertugas di lokasi Transmigrasi SP2 Kualapangoh sampai bulan Juni tahun 1999. Pada tahun 1999 bulan Juli penulis melaanjutkan pendidikan di Akademi Keperawatan Pemda Lhokseumawe, selesai tahun 2001, tahun 2004 penulis melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Banda Aceh di Fakultas Kesehatan Masyarakat, selesai pada tahun 2006, tahun 2007 penulis lanjut lagi Program Megister di Universitas Sumatera Utara Medan selesai pada tahun 2010. Penulis pindah ke Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai dosen di Poltekkes Kemenkes Aceh pada tahun 2010, dan pernah sebagai sekretaris program patahun 2014-2017, pada tahun 2017-2023 sebagai ketua Program Studi D-III Keperawatan Langsa. Penulis saat dipercayakan sebagai ketua koordinator Penyuluh Anti Korupsi Aceh (IPAK Aceh), yang di sertifikasi oleh LSP-KPK RI.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.