Menata Ketangguhan di Tengah Ancaman Bencana

oleh

Oleh: Ahmad Syafiq Sidqi (Mahasiswa asal Jagong Jeget, Aceh Tengah. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

Kalau ada satu hal yang sulit kita bantah, itu adalah kenyataan bahwa hidup di Indonesia berarti hidup berdampingan dengan bencana. Letak geografis Indonesia memang membuat negeri ini rentan terhadap berbagai ancaman alam. Gunung api tersebar di banyak wilayah, curah hujan sering kali sangat tinggi, sementara perubahan iklim membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi.

Data BNPB hingga September 2026 mencatat 1.730 kejadian bencana sejak awal tahun. Kebakaran hutan menjadi salah satu yang paling banyak terjadi, disusul banjir sebanyak 543 kejadian, cuaca ekstrem, tanah longsor 105 kejadian, dan kekeringan 101 kejadian.

Di antara daerah yang setiap tahun berhadapan dengan berbagai bencana tersebut, Aceh Tengah memiliki cerita tersendiri. Bencana datang bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi berulang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Namun, di tengah situasi itu, justru terlihat bagaimana masyarakat mampu bertahan, saling menguatkan, dan tidak mudah menyerah.

Aceh Tengah dikenal sebagai Dataran Tinggi Gayo. Daerah ini masyhur dengan kopi Gayo, udara yang sejuk, serta bentang alam perbukitannya yang indah. Namun, keindahan geografis tersebut juga menyimpan kerentanan. Wilayah yang berbukit dengan banyak lereng curam, curah hujan yang tinggi, serta aliran sungai yang membelah permukiman membuat sebagian wilayah Aceh Tengah memiliki risiko banjir dan tanah longsor.

Kondisi itu terlihat nyata dalam rentetan bencana yang terjadi. Pada 26 November 2025, banjir bandang yang disusul tanah longsor menerjang Aceh Tengah dalam skala besar. Sejumlah ruas jalan terputus, aliran listrik terganggu, dan beberapa kampung sempat terisolasi. Situasi tersebut tentu meninggalkan trauma dan kerugian yang tidak sedikit.

Belum sepenuhnya pulih dari bencana sebelumnya, pada 31 Maret 2026 banjir bandang dan longsor kembali terjadi. Sejumlah kampung kembali terisolasi. Pada Juni 2026, hujan lebat kembali memicu banjir dan longsor di beberapa kecamatan. Memasuki September 2026, tanah longsor kembali terjadi di sejumlah wilayah.

Rentetan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebencanaan di Aceh Tengah bukan lagi sesuatu yang bisa dipandang sebagai kejadian sesaat. Ada pola kerentanan yang harus dibaca, dipahami, dan diantisipasi secara serius.

Lalu, siapa yang harus disalahkan?

Cuaca dan kondisi alam memang menjadi faktor penting. Namun, risiko bencana tidak selalu semata-mata ditentukan oleh alam. Kondisi lingkungan dan aktivitas manusia juga dapat memperbesar dampaknya. Berkurangnya tutupan hutan, perubahan fungsi lahan, pembangunan di kawasan rawan, serta permukiman yang terlalu dekat dengan sungai dapat meningkatkan kerentanan ketika hujan deras datang.

Hujan yang seharusnya dapat diserap dan ditahan oleh vegetasi lebih banyak mengalir ke permukaan. Aliran sungai yang ruangnya semakin terbatas juga lebih mudah meluap. Ketika berbagai faktor tersebut bertemu dengan curah hujan tinggi, risiko banjir dan longsor pun semakin besar.

Sebagai umat Islam, kita memiliki cara pandang tersendiri dalam menghadapi musibah. Bencana dapat menjadi ujian, peringatan, sekaligus momentum untuk melakukan muhasabah. Namun, pemahaman keagamaan tentang musibah tidak boleh membuat kita tergesa-gesa menghakimi mereka yang menjadi korban.

Al-Qur’an mengingatkan: “Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada suatu negeri, melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (QS. Al-A’raf: 94)

Ayat ini mengajarkan agar manusia mengambil pelajaran dari berbagai kesulitan yang dihadapi. Ia bukan alasan untuk menuduh korban sebagai orang yang sedang dihukum karena dosa-dosanya. Musibah adalah wilayah yang mengandung banyak hikmah, dan manusia tidak selalu mengetahui seluruh rahasia di balik sebuah peristiwa.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa setiap musibah seharusnya mendorong manusia untuk melakukan introspeksi:
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS. Asy-Syura: 30)

Pesan yang lebih menenteramkan kita temukan dalam firman Allah SWT: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Karena itu, bencana tidak semestinya hanya menghadirkan kesedihan. Ia juga dapat menjadi cermin untuk bermuhasabah, ujian untuk menguatkan iman, sekaligus alarm agar manusia memperbaiki cara memperlakukan alam dan membangun kehidupan.

Masyarakat Gayo menunjukkan bahwa keteguhan itu bukan sekadar kata-kata. Ketika jalan tertimbun longsor, warga sering menjadi pihak pertama yang bergerak. Dengan peralatan seadanya, mereka turun membantu membuka akses dan menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Ketika sebuah kampung kekurangan bahan makanan, bantuan dari kampung lain berdatangan. Ketika ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal, tangan-tangan lain terulur. Semangat gotong royong tumbuh di tengah keterbatasan.

Ibadah pun tidak berhenti hanya karena musibah datang. Bahkan ketika sebagian tempat ibadah terdampak banjir, semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tetap hidup.

Di sinilah kita belajar bahwa sabar bukan berarti menyerah. Tawakkal bukan berarti berpangku tangan. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berdiri ketika keadaan memaksa kita untuk jatuh. Tawakkal adalah berusaha sekuat kemampuan, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Namun, ketangguhan masyarakat saja tidak cukup. Pemerintah juga memiliki pekerjaan rumah yang besar dan berkelanjutan.

Mencegah bencana selalu lebih baik daripada hanya sibuk menangani dampaknya setelah terjadi. Mitigasi harus menjadi bagian penting dari kebijakan pembangunan. Pemetaan kawasan rawan bencana perlu diperjelas dan dipahami masyarakat, bukan hanya tersimpan sebagai dokumen di kantor pemerintahan.

Pembangunan di kawasan yang memiliki risiko tinggi, terutama di bantaran sungai dan lereng yang rawan longsor, perlu dikendalikan secara tegas. Tutupan hutan harus dijaga dan kawasan yang telah mengalami kerusakan perlu direhabilitasi. Kondisi sungai juga harus diperhatikan. Tidak kalah penting, sistem peringatan dini harus benar-benar sampai kepada masyarakat di tingkat kampung sehingga warga dapat mengambil tindakan sebelum bencana menjadi lebih besar.

Semua ikhtiar tersebut sejalan dengan salah satu tujuan utama syariat, yaitu hifzh an-nafs, menjaga jiwa manusia. Keselamatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan.

Rentetan bencana yang terjadi dalam waktu kurang dari setahun semestinya menjadi pelajaran berharga. Kita tidak mungkin menghentikan hujan, mencegah semua longsor, atau mengubah kondisi geografis. Tetapi kita dapat mengurangi risikonya dengan menjaga alam, memperbaiki tata ruang, memperkuat kesiapsiagaan, dan membangun budaya mitigasi.

Alam memang memberi banyak kehidupan. Tetapi ketika keseimbangannya terganggu, alam juga dapat menghadirkan risiko bagi manusia.

Aceh Tengah tidak harus selamanya menjadi daerah yang hanya dikenal karena bencananya. Dataran Tinggi Gayo dapat menjadi contoh daerah yang tangguh menghadapi ancaman alam.

Ketangguhan itu bukan berarti bencana tidak pernah datang. Ketangguhan berarti masyarakat tidak mudah patah ketika bencana datang; pemerintah hadir dengan kebijakan yang tepat; dan semua pihak belajar dari setiap peristiwa.

Di tengah derita, harapan harus tetap digenggam. Sebab selama manusia mau belajar, saling menguatkan, menjaga alam, memperbaiki ikhtiar, dan tetap bersandar kepada Allah SWT, selalu ada jalan untuk bangkit.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.