Pemulihan yang Tak Pernah Tuntas, Ancaman Bencana Berulang Menjadi Kenyataan

oleh

Oleh: Ahmad Syafiq Sidqi (Mahasiswa Fakultas Dakwah & Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Asal Jagong Jeget, Aceh Tengah)

Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh di dataran tinggi Gayo. Setiap kali bencana datang, luka itu terbuka kembali—lebih dalam, lebih perih. Bukan semata karena dahsyatnya alam, tetapi karena pemulihan yang tak pernah benar-benar dituntaskan.

Aceh Tengah seperti terjebak dalam siklus yang berulang: bencana datang, simpati mengalir, janji pemulihan diumbar, lalu perlahan dilupakan. Ketika bencana susulan terjadi, masyarakat kembali memulai dari titik nol—bahkan sering kali dari kondisi yang lebih buruk.

Rumah-rumah yang belum selesai diperbaiki kembali rusak. Lahan kopi—urat nadi ekonomi masyarakat Gayo—tak sempat pulih sebelum kembali dihantam bencana. Di atas semua itu, trauma psikologis dibiarkan mengendap, tanpa sentuhan pemulihan yang layak.

Di sinilah persoalan utama kita: bukan pada bencananya, tetapi pada cara kita meresponsnya.

*Negara yang Datang dan Pergi*

Setiap bencana selalu menghadirkan wajah negara—namun hanya sesaat. Bantuan datang, pejabat turun, janji disampaikan. Tetapi ketika sorotan mereda, negara perlahan menghilang.

Yang tersisa adalah masyarakat yang kembali bergulat dengan keterbatasan.

Birokrasi yang berbelit membuat bantuan tidak merata. Program pemulihan berjalan lamban. Infrastruktur yang rusak tak kunjung pulih. Sementara itu, masyarakat dipaksa bertahan dengan daya sendiri, menghadapi ancaman bencana yang belum selesai.

Kondisi ini bukan hanya melahirkan kerugian material, tetapi juga krisis kepercayaan. Negara yang seharusnya menjadi pelindung justru dipandang jauh dan tak hadir.

Di tengah kerapuhan itu, masyarakat Gayo tetap berdiri dengan satu kekuatan utama: yaitu nilai gotong royong yang mengakar kuat.

Mereka membangun rumah bersama, berbagi makanan, dan menjaga satu sama lain. Solidaritas ini bukan sekadar tradisi, tetapi mekanisme bertahan hidup.

Namun, di sinilah ironi itu muncul. Kekuatan belah seolah menjadi “penyangga diam” bagi lemahnya peran negara. Gotong royong menutup celah yang seharusnya diisi oleh kebijakan publik. Masyarakat terus memberi, sementara negara tak kunjung hadir secara utuh.

Padahal, solidaritas lokal tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab negara.

Siklus yang Harus Diputus
Bencana susulan yang terus terjadi bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah cermin kegagalan manajemen krisis.

Kita terlalu sibuk pada fase tanggap darurat, tetapi abai pada pemulihan jangka panjang. Tidak ada sistem mitigasi yang kuat. Tidak ada perencanaan yang benar-benar melibatkan masyarakat lokal. Tidak ada kesinambungan kebijakan.

Akibatnya, setiap bencana selalu menjadi awal dari penderitaan baru, bukan akhir dari krisis sebelumnya.
Jika pola ini terus dipertahankan, maka bencana tidak lagi menjadi kejadian luar biasa, melainkan rutinitas yang menormalisasi penderitaan.

*Dari Reaktif ke Preventif*

Sudah saatnya negara keluar dari pola reaktif. Pemulihan tidak boleh lagi bersifat tambal sulam.

Diperlukan langkah yang lebih mendasar dan terukur:
percepatan pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, penguatan ekonomi berbasis kopi, edukasi kebencanaan yang berkelanjutan, serta pemulihan psikososial yang menyentuh sisi terdalam masyarakat.

Yang tak kalah penting, masyarakat Gayo harus dilibatkan sebagai subjek, bukan sekadar objek kebijakan. Kearifan lokal seperti belah harus diintegrasikan dalam sistem pemulihan, bukan dibiarkan bekerja sendirian.

*Transparansi dan akuntabilitas bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.*

Harapan yang Sederhana
Masyarakat Gayo tidak menuntut hal yang muluk. Mereka hanya ingin satu hal: negara hadir secara nyata.
Bukan sekadar janji, tetapi tindakan.

Bukan bantuan sesaat, tetapi pemulihan yang tuntas.
Bukan perhatian musiman, tetapi komitmen jangka panjang.

Jika pemulihan terus dibiarkan setengah jalan, maka derita berlapis akan menjadi takdir yang terus berulang. Namun jika negara mampu belajar dan berbenah, maka bencana tidak lagi melahirkan keputusasaan, melainkan ketangguhan yang berkelanjutan.

Di titik inilah masa depan Gayo dipertaruhkan: antara terus bertahan dalam siklus luka, atau bangkit menuju pemulihan yang benar-benar utuh.(*)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.