Oleh : Harry Waluyo*
Pengantar
Mengapa dua tarian dari Aceh dan Gayo ini sering dianggap sama, padahal memiliki identitas, komunitas pendukung, bahasa, fungsi, dan sejarah perkembangan yang berbeda?
Jika melihat Tari Saman dan Ratoh Jaroe dari kejauhan, kita mungkin segera berpikir: “Bukankah itu tarian yang sama?” Para penari duduk berbaris, bergerak sangat kompak, menepuk tangan dan tubuh, lalu bergerak semakin cepat mengikuti irama syair.
Tetapi justru disitulah ragam pesona ekspresi tarian tradisional Indonesia.
Serupa secara visual bukan berarti identitasnya sama.
Tari Saman adalah warisan budaya hidup komunitas Gayo di Provinsi Aceh, yang pada 2011 ditetapkan oleh Komite Antarpemerintah Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage/ ICH-UNESCO) dalam Daftar yang Memerlukan Perlindungan Mendesak (List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding) mendeskripsikannya sebagai praktik budaya masyarakat Gayo, yang dimainkan oleh anak laki-laki dan laki-laki muda dalam barisan rapat, dengan nyanyian—sebagian besar dalam bahasa Gayo—serta tepukan tangan, dada, paha, dan lantai sebagai bagian dari struktur pertunjukan.
Sementara itu, Ratoh Jaroe berkembang sebagai seni pertunjukan Aceh modern (kontemporer) yang sangat populer, terutama di kalangan perempuan dan generasi muda.
Jadi, bagaimana hubungan keduanya?
Jawabannya bukan sekadar “Saman adalah laki-laki, Ratoh Jaroe adalah perempuan.” Hubungannya jauh lebih menarik karena ada kemiripan gerak, hubungan antarbudaya, proses perubahan, dan kreativitas seniman, sehingga masing-masing mempunyai identitas yang berbeda.
Dari kontak budaya menjadi Identitas yang berbeda
Secara geografis, Provinsi Aceh, ada wikayah pesisir yang dihuni oleh komunitas Aceh dan wilayah pedalaman yang dihuni oleh komunitas Gayo. Hubungan antara wilayah pesisir dan pedalaman berlangsung melalui perdagangan, mobilitas manusia, agama, pendidikan, dan jaringan sosial.
Pengaruh Islam
Ketika Islam masuk ke wilayah Aceh sekitar abad ke 7 memberi pengaruh yang sangat besar terhadap kebudayaan Aceh di wilayah pesisir dan kebudayaan Gayo di wilayah pedalaman.
Dalam berkesenian, ekspresi seni tari tradisional Aceh maupun Gayo menggunakan syair, zikir, tepukan, ritme tubuh, dan formasi kelompok sebagai media untuk menyampaikan pesan keagamaan, moral, sosial, maupun pendidikan.
Karenanya, jika ekspresi seni tari tradionsl Aceh dan Gayo tampak serupa karena kedua komunitas tersebut hidup dalam ruang budaya yang saling berhubungan.
Namun demikian, kemiripan budaya bukan berarti identitas budayanya sama.
Sebuah pola gerak tari yang serupa, belum tentu memiliki nilai, makna, identitas, bahasa, komunitas, dan proses transmisi pengetahuan yang sama.
Saman: bukan sekadar tarian yang duduk berbaris
Tari Saman merupakan bagian penting dari identitas budaya komunitas Gayo di Kabupaten Gayo Lues.
Dalam dokumentasi UNESCO, penari Saman duduk di atas tumit atau berlutut dalam barisan yang rapat. Seorang pemimpin (syekh) yang berada di tengah dalam formasi duduk berbaris, memimpin syair dan gerak yang dilakukan secara serempak atau bergantian dengan perubahan ritme yang sangat cepat.
Ada sesuatu yang sangat penting di sini: Saman bukan hanya koreografi.
Ia merupakan sistem pengetahuan budaya.
Di dalamnya terdapat:
– pengetahuan tentang syair;
– kemampuan mengendalikan ritme;
– keterampilan menghafal rangkaian gerak;
– hubungan antara syekh dan anggota kelompok;
– nilai kebersamaan;
– aturan sosial;
– konteks adat;
– serta mekanisme transmisi antargenerasi.
UNESCO bahkan menempatkan persoalan pewarisan (transmisi budaya) sebagai salah satu alasan utama mengapa Saman membutuhkan langkah-langkah pelindungan yang mendesak.
Pada saat pengusulan, frekuensi pertunjukan dan transmisi Saman mengalami penurunan, sementara banyak master yang memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang Saman telah berusia lanjut.
Karena itu, menyebut setiap tarian duduk bertepuk dari Aceh (baca: wilayah Provinsi Aceh) sebagai “Saman”. []





