Meskipun Teknologi Makin Canggih, Tapi Jangan Biarkan Guru Kehilangan Jiwa

oleh

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Pemerhati Sosial Kemasyarakatan dan generasi muda. Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Hari ini, anak-anak kita hidup di zaman ketika hampir semua informasi dapat ditemukan dengan mudah. Dengan telepon genggam dan bantuan AI, sebuah pertanyaan bisa dijawab dalam hitungan detik. Bahan pelajaran dapat dibuat dengan cepat, tugas dapat dibantu, bahkan berbagai persoalan akademik dapat dicarikan solusinya. Lalu, di tengah kemajuan seperti ini, masihkah guru diperlukan?

Jawabannya: tetap. Bahkan semakin diperlukan.

Pertanyaan ini bukan untuk menolak teknologi. Justru sebaliknya. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) adalah kenyataan zaman yang harus dipelajari dan dimanfaatkan. Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah hanya karena teknologi berkembang pesat: jati diri guru sebagai pendidik.

Inilah yang saya tangkap dari tulisan Ruhdiani, S.Ag., M.Pd., guru MTsN 1 Aceh Tengah, berjudul “Guru Tetap Guru, Tidak Pernah Berubah” di media ini (6/10/2026). Tulisan yang bernas dan mencerahkan itu mengingatkan bahwa modernisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan seberapa canggih alat yang digunakan.

Baca juga : Guru Tetap Guru, Tidak Pernah Berubah

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah manusia yang menggunakan teknologi masih memahami makna mendidik?

Sebab pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan.

AI dapat menjawab pertanyaan, menyusun bahan ajar, membuat rangkuman, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, bahkan membantu berbagai pekerjaan akademik. Tetapi pendidikan tidak berhenti pada kemampuan menjawab.

Pendidikan adalah membentuk manusia yang tahu kapan berkata benar, kapan meminta maaf, kapan menghormati orang lain, kapan menahan diri, dan kapan berani mengambil sikap. Di sinilah guru tetap dibutuhkan.

Teknologi dapat menyampaikan pengetahuan. Guru memberikan arah. Teknologi dapat membaca data. Guru membaca manusia. AI dapat memberikan jawaban. Guru menumbuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan jawaban.

Karena itu, kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan guru perlu dilihat secara jernih. Guru yang hanya berfungsi sebagai penyampai informasi memang semakin mudah tergantikan oleh teknologi. Tetapi guru yang menjadi teladan, pembimbing, penguat karakter, penggerak motivasi, dan pembentuk peradaban, tidak sesederhana itu untuk digantikan.

Justru AI semestinya menjadi momentum bagi guru untuk kembali kepada hakikat profesinya.

Teknologi seharusnya membantu meringankan pekerjaan administratif sehingga energi guru dapat dikembalikan kepada pekerjaan paling manusiawi: mendidik.

Jangan sampai ironis. Kita mengembangkan teknologi untuk memudahkan manusia, tetapi manusia justru kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia. Kita memiliki teknologi komunikasi yang luar biasa, tetapi guru, orang tua, dan anak semakin jarang berbicara dari hati ke hati.

Kalau itu terjadi, kita tidak sedang mengalami kemajuan pendidikan. Kita hanya sedang mengalami kemajuan teknologi. Keduanya tidak selalu sama.

Saya teringat guru-guru kita masa lalu. Mereka mengajar dengan papan tulis sederhana, buku terbatas, tanpa internet, aplikasi pembelajaran, apalagi AI. Namun banyak dari mereka mampu mendidik dengan jangkauan yang tidak terbatas.

Dari tangan mereka lahir guru, ulama, dokter, birokrat, pengusaha, petani, teknisi, pemimpin, dan berbagai profesi lainnya.

Apa rahasianya?
Bukan kecanggihan teknologi.

Ada ketulusan. Ada keteladanan. Ada disiplin. Ada keberanian menegur. Ada kesabaran membimbing. Ada kepedulian terhadap masa depan anak didiknya.

Karena itu, guru hari ini tidak boleh alergi teknologi. Tetapi juga tidak boleh mabuk teknologi.

Guru harus menguasai AI, tetapi jangan sampai pikirannya dikendalikan AI. Guru boleh menggunakan teknologi untuk menyusun materi, tetapi jangan menyerahkan seluruh daya pikir kepadanya. Guru boleh memanfaatkan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi jangan sampai teknologi membuat hubungan kemanusiaan di ruang kelas menjadi semakin dingin.

Guru harus menjadi pengguna teknologi, bukan manusia yang kehilangan dirinya karena teknologi.

Tulisan Ruhdiani penting karena tidak mengajak guru kembali ke masa lalu. Ia justru mengajak guru memasuki masa depan tanpa kehilangan identitas.

Pesannya sederhana: cara mengajar boleh berubah, alat belajar boleh berubah, kurikulum boleh berkembang, teknologi boleh semakin canggih. Tetapi jiwa seorang pendidik jangan pernah hilang.

Pesan ini sejalan dengan tulisan Zuyyina, M.Pd., “Ketika Guru Tak Lagi Berani Mendidik.” Jika Zuyyina mengingatkan agar guru tidak kehilangan keberanian mendidik karena tekanan zaman, Ruhdiani mengingatkan agar guru tidak kehilangan jati diri karena kemajuan zaman.

Baca juga: https://lintasgayo.co/2026/10/04/ketika-guru-tak-lagi-berani-mendidik/

Keduanya bertemu pada satu pesan: guru harus tetap menjadi manusia yang berani mendidik manusia.

Karena itu, guru perlu dijaga. Anak juga perlu dijaga. Guru perlu dilindungi agar berani mendidik, tetapi anak juga harus dilindungi agar proses pendidikan tidak berubah menjadi kekerasan. Disiplin tetap penting, tetapi harus mendidik. Ketegasan tetap diperlukan, tetapi harus berkeadaban. Teknologi harus dimanfaatkan, tetapi manusia tetap menjadi pusatnya.

Saya berharap semakin banyak guru berani menuangkan gagasan di ruang publik.

Guru jangan hanya mengajar di ruang kelas. Sesekali mengajarlah melalui tulisan. Publis dan berbagilah ide, gagasan dan curah hati serta pikiran secara elegan.

Satu jam pelajaran mungkin hanya menjangkau satu kelas. Tetapi satu tulisan yang baik dapat menyeberangi ruang kelas, sekolah, bahkan generasi.

Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan guru yang pandai mengajar, tetapi juga guru yang mau berpikir, bersuara, dan ikut menjaga arah pendidikan.

Harus dipahami, bahwa persoalannya bukan apakah AI akan lebih pintar daripada guru. Mungkin saja suatu hari kecerdasan buatan mengetahui lebih banyak hal daripada manusia.

Tetapi pendidikan tidak hanya membutuhkan orang yang tahu banyak. Pendidikan membutuhkan orang yang mampu menunjukkan untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Di situlah martabat guru berada.

Teknologi boleh semakin cerdas. Algoritma boleh semakin cepat. AI boleh semakin canggih. Tetapi jangan sampai dalam perlombaan mengembangkan kecerdasan buatan, kita justru lupa membangun manusia yang beradab.

Sebab masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita kembangkan, melainkan oleh manusia seperti apa yang berhasil kita lahirkan.

Dan selama tugas pendidikan masih tentang memanusiakan manusia, guru tetap tidak tergantikan.

Guru tetap guru. Bukan karena guru tahu segalanya, tetapi karena guru mengajarkan manusia bagaimana menjadi manusia.[]

Qabla Subuh, 7 September 2026

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.