Catatan Mahbub Fauzie (Mantan Jurnalis, Sampai saat ini hobi menulis)
Menjadi wartawan atau jurnalis di zaman sekarang, boleh jadi terasa jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu. Asal punya media online, akses internet, dan sedikit memahami cara menulis berita, seseorang sudah bisa dengan cepat mempublikasikan informasi kepada khalayak.
Tidak perlu selalu repot membawa kamera, berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mengejar narasumber, atau menunggu berjam-jam di lokasi kejadian. Dengan menguasai rumus sederhana 5W+1H— what, who, when, where, why, dan how —sebuah peristiwa bisa disusun menjadi berita yang cukup jelas.
Apalagi sekarang ada media sosial dan berbagai perangkat digital. Berita bisa ditulis dari mana saja dan dipublikasikan dalam hitungan menit. Bahkan, dengan bantuan AI, proses mengolah bahan menjadi sebuah tulisan menjadi semakin cepat. Tinggal memasukkan bahan, menentukan gaya tulisan, kemudian jadilah berita.
Namun, kemudahan itu juga melahirkan persoalan baru.
Masih ada wartawan yang benar-benar berkeringat di lapangan. Mereka datang ke lokasi, melihat sendiri peristiwa yang terjadi, berbicara dengan saksi, melakukan konfirmasi kepada pihak terkait, mencatat detail, memotret, lalu menyusun berita berdasarkan fakta. Mereka inilah yang sesungguhnya menjalankan kerja jurnalistik dengan penuh tanggung jawab.
Tetapi ada pula yang memilih jalan lebih mudah. Menunggu rilis berita yang sudah jadi, kemudian melakukan copy-paste, sedikit mengubah susunan kalimat, mengganti judul, atau bahkan hanya mengganti nama penulis. Berita pun langsung tayang.
Lebih praktis lagi, tinggal mengambil berita dari media lain, kemudian meminta AI memparafrasekannya. Selesai.
Di sinilah profesi wartawan menghadapi tantangan besar. Kemudahan teknologi jangan sampai membuat kerja jurnalistik kehilangan ruhnya.
Sebab jurnalistik bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat. Wartawan bukan hanya orang yang bisa membuat berita. Wartawan adalah orang yang mau mencari kebenaran, melakukan verifikasi, menguji informasi, meminta konfirmasi, dan mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya kepada publik.
Memang, zaman sudah berubah. Dulu wartawan harus mengejar berita. Sekarang berita justru berlari mengejar wartawan melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, siaran pers, dan berbagai kanal informasi lainnya.
Dulu seorang wartawan mungkin harus menunggu lama untuk mengirim berita ke redaksi. Sekarang, sebuah peristiwa bisa dilaporkan secara langsung dari lokasi kejadian.
Tetapi cepat bukan berarti boleh mengabaikan akurasi. Mudah bukan berarti boleh malas melakukan verifikasi. Dan AI bukan pengganti tanggung jawab jurnalistik.
Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kerja wartawan, bukan menjadi alasan untuk meninggalkan kerja jurnalistik.
Karena sesungguhnya yang membedakan wartawan dengan sekadar orang yang bisa menulis berita bukanlah seberapa cepat ia memposting, melainkan seberapa jujur ia mencari fakta dan seberapa bertanggung jawab ia menyampaikan informasi kepada publik.
Jadi, memang benar: enak menjadi wartawan sekarang.
Tapi menjadi wartawan yang benar-benar wartawan, tetap tidak mudah.
Dan mungkin justru di tengah kemudahan teknologi seperti sekarang, wartawan yang masih mau turun ke lapangan, berkeringat, bertanya, mengonfirmasi, memeriksa fakta, dan menulis dengan hati nurani akan semakin berharga []





