Siulan Angin dari Ceruk Mendale, Bagian 7 : Ritual di Liang Suara

oleh
Loyang Mendale 2

Oleh Syukri Muhammad Syukri

Bagian 7: Ritual di Liang Suara.

Di ceruk Mendale, saat kabut menggantung rendah seperti napas moyang yang belum selesai, Dale sang kakek duduk di atas bangku bambu bikinan Putua. Tubuhnya diam, tapi matanya menyala pelan, menyimak suara yang tak datang dari mulut, melainkan dari gerabah dan kain.

Di hadapannya, Lintang, gadis belia yang tubuhnya masih lentur seperti sulur muda, membaca nada dari permukaan kendi tanah liat. Gerabah itu bukan sekadar wadah, melainkan kitab suara yang ia tulis dengan motif gunung dan tanaman merambat. Di pangkuannya terbentang kain panjang hitam bernama Kiyo, tenunan warisan yang menyimpan suara-suara yang tak pernah dinyanyikan, hanya disentuh.

Lintang tak bernyanyi. Ia menyuarakan. Suaranya polifonik, berlapis, menyusup dari ujung jari ke permukaan kendi, lalu melingkar di udara seperti asap dari tungku neneknya.

Di sampingnya, Taki’na, nenek yang rambutnya telah putih seperti abu api, mengiringi suara cucunya dengan gumaman rendah. Ia tak mengganggu, hanya menambal suara yang retak, menyulam jeda dengan napasnya sendiri. Ia tahu: suara polifonik tak bisa berdiri sendiri. Ia harus ditopang oleh tubuh yang pernah kehilangan.

Putua, sang paman, duduk bersila di lantai ceruk. Matanya terpejam, tubuhnya bergoyang pelan, hanyut dalam suara ponakannya. Ia tak mencoba memahami, hanya membiarkan suara itu menyusup ke dalam tulangnya, seperti air yang meresap ke akar bambu.

Dale tak berkata apa-apa. Tapi di dalam dadanya, suara Lintang menggema seperti nyanyian yang pernah ia simpan dalam kendi tua. Ia tahu: suara ini bukan hanya milik gadis belia itu. Ia adalah tubuh Mendale yang sedang tumbuh, sedang menjawab, sedang menulis ulang bentuknya.

Dan malam itu, ceruk Mendale tak hanya menjadi ruang. Ia menjadi tubuh. Ia menjadi lanskap suara. Ia menjadi tempat di mana nyanyian tak lagi bergantung pada mulut, tapi pada tanah, pada benang, pada gerabah, dan pada napas yang diwariskan lintas generasi.

Didalam ceruk Mendale yang mulai diselimuti kabut malam, Lintang berdiri di antara kendi suara dan kain panjang hitam bernama Kiyo. Di tangannya, motif gunung dan tanaman merambat telah mengeras di permukaan gerabah, dan benang-benang tua telah menyatu dengan napasnya. Tapi malam itu, ia tak hanya membaca. Ia mulai bertutur.

Suara Lintang tak datang dari mulut, melainkan dari tubuhnya, dari jari yang menyentuh motif, dari napas yang menyusup ke sela-sela tenunan, dari langkah kecil yang mengitari lingkaran api. Suaranya polifonik: berlapis, bergetar, dan menyatu dengan tanah.

Ia mulai dengan kisah nenek moyang: tentang perempuan yang menenun suara dari akar bambu, tentang lelaki yang menyimpan nyanyian dalam kendi tanah liat dan menguburnya di bawah tanah ceruk Mendale. Ia menyebut nama-nama yang tak lagi dipanggil, tapi masih tinggal di udara.

Lalu ia bertutur tentang Dale dan Taki’na, tentang kakek yang pernah menyimpan suara dalam luka, dan nenek yang menyulam jeda dengan gumaman. Ia menyebut malam-malam di mana suara hanya tinggal di api, dan pagi-pagi di mana suara bangkit dari benang yang belum dijahit.

Kemudian ia menyebut ibu dan bapaknya, yang tinggal di kaki gunung batu Bur Birah Panyang. Ia menyebut suara ibunya yang seperti embun, dan suara ayahnya yang seperti batu yang retak pelan. Ia menyebut perpisahan yang tak pernah dinyanyikan, hanya ditanam di tanah.

Dale menunduk, tangannya menggenggam bangku bambu. Matanya basah, bukan karena kehilangan, tapi karena suara yang kembali. Taki’na menyentuh ujung kain Kiyo, dan air matanya jatuh pelan, menyatu dengan benang yang menyimpan suara yang dulu ia jahit dalam diam.

Lintang terus bertutur, dan suara polifoniknya menjelma menjadi lanskap: gunung, batu, akar, dan tubuh. Ia tak hanya menyanyikan kisah. Ia menjahitnya ke dalam udara, ke dalam gerabah, ke dalam napas yang diwariskan.

Dan malam itu, ceruk Mendale menjadi tubuh suara. Ia tak hanya menyimpan nyanyian, tapi menyulam ingatan. Ia menjadi tempat di mana air mata bukan tanda luka, tapi tanda bahwa suara telah menemukan jalan pulang.

Ceruk itu mulai diselimuti malam, api kecil menyala di tengah lingkaran bambu. Asapnya naik pelan, menyatu dengan kabut yang menggantung di lereng. Di sana, Lintang berdiri, tubuhnya ramping, matanya menyala oleh nyala dalam. Di hadapannya, kendi suara bermotif gunung dan tanaman merambat, dan kain panjang hitam Kiyo terbentang seperti tubuh lanskap yang siap dibaca.

Ia mulai bertutur. Tapi bukan dengan kata-kata. Ia menyentuh motif gunung di kendi, lalu menggeser jari ke sulur tanaman. Suaranya keluar dari tubuhnya, berlapis, bergetar, menyatu dengan tanah. Suara polifonik itu bukan nyanyian, tapi ingatan yang hidup.

Ia menyebut nenek moyang yang berjalan di punggung Bur Birah Panyang, menetap dalam Loyang Koro dan Loyang Kaming, membawa suara dalam gerabah dan benang. Ia menyebut perempuan yang menenun suara dari akar bambu, dan lelaki yang menyimpan nyanyian dalam kendi tanah liat, lalu menguburnya di bawah batu yang tak pernah retak.

Ia menyebut Dale dan Taki’na, tentang kakek yang pernah membekukan suara karena luka, dan nenek yang menyulam jeda dengan gumaman. Ia menyebut malam-malam di mana suara hanya tinggal di api, dan pagi-pagi di mana suara bangkit dari benang yang belum dijahit.

Kembali ia menceritakan ibu dan bapaknya, yang tinggal di kaki gunung batu Bur Birah Panyang. Ia menyebut suara ibunya yang seperti embun, dan suara ayahnya yang seperti batu yang retak pelan. Ia menyebut perpisahan yang tak pernah dinyanyikan, hanya ditanam di tanah.

Dale kembali menunduk, tangannya menggenggam bangku bambu. Matanya basah, bukan karena kehilangan, tapi larut dalam suara yang kembali. Taki’na menyentuh ujung kain Kiyo, dan air matanya jatuh pelan, menyatu dengan benang yang menyimpan suara yang dulu ia jahit dalam diam.

Putua, sang paman, masih duduk bersila di lantai ceruk. Tubuhnya bergoyang pelan, matanya terpejam. Ia tak mencoba memahami, hanya membiarkan suara itu menyusup ke dalam tulangnya, seperti air yang meresap ke akar bambu.

Lintang terus bertutur, dan suara polifoniknya menjelma menjadi lanskap: gunung, batu, akar, dan tubuh. Ia tak hanya menyanyikan kisah. Ia menjahitnya ke dalam udara, ke dalam gerabah, ke dalam napas yang diwariskan.

Dan malam itu, ceruk Mendale menjadi tubuh suara. Ia tak hanya menyimpan nyanyian, tapi menyulam ingatan. Ia menjadi tempat di mana air mata bukan tanda luka, tapi tanda bahwa suara telah menemukan jalan pulang.

Di tengah ceruk Mendale yang mulai diselimuti malam, suara Lintang masih bergema. Ia tak bernyanyi, tapi bertutur lewat tubuhnya, lewat jari yang menyentuh motif gunung di kendi, lewat napas yang menyusup ke sulur tanaman merambat di kain Kiyo. Suaranya berlapis, bergetar, dan menyatu dengan tanah yang pernah menyimpan nyanyian moyang.

Ia mulai bercerita tentang tegakan pohon yang dulu berdiri seperti penjaga sunyi. Hutan belantara yang menjadi tubuh bagi suara burung, suara rusa, suara angin yang tak pernah dibungkam. Ia menyebut nama-nama pohon yang kini hanya tinggal di benang: gesing, keruing, tampu, dan julu-julu.

“Dulu,” katanya pelan, “suara tinggal di antara akar dan kanopi. Tapi kini, suara itu telah dibuka, dibentangkan, dijadikan ladang dan sawah.”

Ia menyebut perubahan itu bukan sebagai kehilangan, tapi sebagai pergeseran napas. Ia menyebut tangan-tangan yang menebang bukan untuk membunuh, tapi untuk menanam. Ia menyebut suara yang dulu bersembunyi di semak, kini tinggal di aliran irigasi dan gemericik padi.

Lalu ia bertutur tentang berburu, tentang lelaki yang berjalan tanpa suara, menyusuri jejak rusa dan babi hutan, menyimpan nyanyian dalam tombak dan panah. Ia menyebut suara yang hanya terdengar saat tubuh binatang berhenti, saat tanah menerima darah sebagai bagian dari siklus.

“Tapi suara itu,” katanya, “telah berubah bentuk. Ia tak lagi berlari. Ia tinggal. Ia dijinakkan.”

Ia menyebut domestikasi bukan sebagai penjinakan, tapi sebagai perjanjian baru antara manusia dan suara. Ia menyebut ayam yang dulu liar, kini tinggal di bawah rumah panggung. Ia menyebut kerbau yang dulu bebas, kini menarik bajak dan menyanyikan suara berat dari tanah basah.

Dale menunduk, matanya berkaca. Ia mengenali suara itu, suara perubahan yang dulu ia tolak, tapi kini ia dengar dari cucunya. Duduk diatas bangku bambu yang dibikin si bungsu. Taki’na menyentuh ujung kain Kiyo, dan air matanya jatuh pelan, menyatu dengan benang yang menyimpan suara hutan yang pernah ia lalui.

Putua masih duduk bersila, tubuhnya bergoyang pelan. Ia tak mencoba memahami, hanya membiarkan suara itu menyusup ke dalam tulangnya, seperti air yang meresap ke akar bambu.

Lintang terus bertutur, dan suara polifoniknya menjelma menjadi lanskap: dari tegakan pohon ke ladang, dari semak ke sawah, dari tombak ke bajak. Ia tak hanya menyanyikan perubahan. Ia menyulamnya ke dalam udara, ke dalam gerabah, ke dalam tubuh yang diwariskan.

Dan malam itu, ceruk Mendale menjadi ruang di mana suara tak hanya mengenang, tapi menyusuri. Ia menjadi tempat di mana perubahan bukan ancaman, tapi bentuk baru dari ingatan yang hidup.

Malam telah turun sepenuhnya di ceruk Mendale. Kabut menggantung seperti tirai yang menutup dunia luar, dan api kecil di tengah lingkaran bambu menyala pelan, menyinari wajah-wajah yang diam tapi hidup. Lintang berdiri di antara kendi suara dan kain panjang hitam Kiyo, tubuhnya tegak, napasnya dalam.

Ia mulai bertutur, bukan dengan kata-kata, tapi dengan suara polifonik yang keluar dari gerak tubuh, dari sentuhan pada motif gunung dan tanaman merambat, dari napas yang menyusup ke benang dan tanah liat. Suaranya berlapis, seperti akar yang saling melilit di bawah tanah.

“Di bawah ceruk ini,” katanya pelan, “ada satu liang. Di dalamnya, dua suara dikuburkan bersama: Miyax dan Utux.”

Ia menyebut Miyax sebagai moyang perempuan yang menenun suara dari akar bambu, yang menyimpan nyanyian dalam benang dan menyulamnya ke tubuh anak-anak. Ia menyebut Utux sebagai moyang lelaki yang membentuk suara dari tanah liat, yang menyimpan nyanyian dalam kendi dan menguburnya di bawah batu.

“Mereka tak pernah bernyanyi bersama,” lanjut Lintang, “tapi suara mereka saling menjawab. Miyax menyulam jeda, Utux membentuk gema.”

Ia menyebut liang itu bukan sebagai kubur, tapi sebagai tubuh suara. Tempat di mana dua nyanyian tinggal, saling menyusup, saling menunggu. Ia menyebut tanah di atas liang itu sebagai tempat di mana suara Mendale tumbuh, bukan dari mulut, tapi dari ingatan.

Dale menunduk, matanya berkaca. Ia mengenali nama-nama itu, nama yang dulu hanya disebut dalam gumaman, dalam doa yang tak pernah dinyanyikan. Taki’na menyentuh ujung kain Kiyo, dan air matanya jatuh pelan, menyatu dengan benang yang menyimpan suara Miyax, mertuanya, yang dulu ia jahit dalam diam.

Putua masih duduk bersila, tubuhnya bergoyang pelan. Ia tak mencoba memahami, hanya membiarkan suara itu menyusup ke dalam tulangnya, seperti air yang meresap ke akar bambu.

Lintang terus bertutur, dan suara polifoniknya menjelma menjadi liang: dalam, gelap, tapi penuh suara. Ia tak hanya menyanyikan kisah. Ia membuka tubuh tanah, menyulam dua suara yang pernah tinggal, dan membiarkan mereka menjawab lewat kendi, lewat kain, lewat napas.

Dan malam itu, ceruk Mendale menjadi liang yang hidup. Ia tak hanya menyimpan tubuh, tapi menyimpan suara. Ia menjadi tempat di mana dua nyanyian yang pernah terpisah, kini tinggal bersama, menjelma menjadi warisan yang bisa disentuh, dibaca, dan dihidupi.

Suara Lintang masih bergema di ceruk Mendale, berlapis dan bergetar, menyusup dari motif kendi ke benang Kiyo, dari tanah liat ke napas yang diwariskan. Ia berdiri di tengah lingkaran api, tubuhnya menjadi poros suara yang tak hanya mengenang, tapi menjawab.

Ia mulai menuturkan tentang liang tua di bawah ceruk, liang yang tak ditandai nisan, tapi ditandai oleh suara yang tinggal. Di dalamnya, bersemayam dua moyang datu, Miyax dan Utux, dikuburkan bersama. Miyax, perempuan penenun suara, yang menyulam nyanyian ke dalam benang dan menyisipkannya ke tubuh anak-anak. Utux, lelaki pembentuk suara, yang menyimpan nyanyian dalam kendi tanah liat dan menguburnya di bawah batu Ceruk Mendale.

“Mereka tak pernah bernyanyi bersama,” kata Lintang, “tapi suara mereka saling menjawab. Miyax menyulam jeda, Utux membentuk gema.”

Ia menyebut liang itu bukan sebagai akhir, tapi sebagai tubuh suara yang terus tumbuh. Ia menyebut tanah di atasnya sebagai tempat di mana suara Mendale bangkit, bukan dari mulut, tapi dari ingatan yang dijahit dan dibakar.

Lalu ia bertutur tentang perubahan: tentang tegakan pohon yang dulu berdiri seperti penjaga sunyi, kini dibuka menjadi ladang dan sawah. Ia menyebut suara yang dulu tinggal di semak, kini mengalir di irigasi dan gemericik padi. Ia menyebut berburu yang dulu sunyi, kini diganti dengan domestikasi yang menyanyi pelan lewat langkah kerbau dan gumaman ayam.

“Suara itu tak hilang,” katanya. “Ia hanya berganti tubuh. Dari tombak ke bajak. Dari akar ke benih.”

Dale menunduk, air matanya jatuh ke tanah. Ia mengenali suara itu, suara perubahan yang dulu ia simpan dalam luka, kini dijahit ulang oleh cucunya. Taki’na terus menyentuh ujung kain Kiyo, dan napasnya bergetar. Ia tahu: suara Miyax dan Utux telah menjawab, lewat tubuh Lintang, lewat motif yang hidup.

Putua masih duduk bersila, tubuhnya bergoyang pelan. Ia tak mencoba memahami, hanya membiarkan suara itu menyusup ke dalam tulangnya, seperti air yang meresap ke akar bambu.

Dan malam itu, ceruk Mendale menjadi liang yang hidup. Ia tak hanya menyimpan tubuh, tapi menyimpan suara. Ia menjadi tempat di mana dua nyanyian yang pernah terpisah, kini tinggal bersama, menjelma menjadi warisan yang bisa disentuh, dibaca, dan dihidupi.

Malam telah mencapai puncaknya. Kabut turun lebih rendah, menyelimuti ceruk Mendale seperti selimut moyang yang tak pernah lupa. Api kecil tinggal bara, menyala pelan di tengah lingkaran bambu. Suara Lintang telah berhenti, tapi gema polifoniknya masih tinggal di udara, menyusup ke tanah, ke benang, ke tubuh.

Dale duduk diam di bangku bambu, matanya basah, napasnya berat. Ia tak berkata apa-apa, hanya membiarkan suara cucunya tinggal di dada, seperti kendi tua yang menyimpan air dari musim lalu. Taki’na bersandar di sisi kain Kiyo, jari-jarinya masih menggenggam ujung benang, seolah suara Miyax belum selesai dijahit.

Putua, sang paman, masih duduk bersila di lantai ceruk. Tubuhnya bergoyang pelan, lalu berhenti. Ia memejamkan mata, dan suara Lintang menyusup ke dalam tulangnya, menjadi mimpi yang tak berbentuk tapi bergetar.

Lintang sendiri duduk bersila di antara kendi dan kain, tubuhnya tenang, napasnya panjang. Ia telah menuturkan suara yang tinggal di liang, di ladang, di tubuh-tubuh yang pernah berjalan dan kini diam. Ia tahu: malam ini, suara tak perlu dinyanyikan lagi. Ia telah menjelma menjadi lanskap yang bisa ditiduri.

Dan satu per satu, mereka larut dalam rasa haru yang tak meledak, hanya mengalir pelan seperti air dari ceruk. Mereka tertidur di dalam pelukan suara, di dalam tubuh Mendale yang menyimpan nyanyian dari tanah, dari benang, dari gerabah, dari napas.

Malam itu, ceruk Mendale menjadi ranjang suara. Liang di bawahnya tak lagi gelap, tapi hangat oleh ingatan. Kain Kiyo melingkari tubuh Taki’na, kendi suara berada di dekat dada Dale, dan motif gunung serta tanaman merambat menyelimuti mimpi Lintang.

Pagi datang perlahan. Cahaya pertama menyentuh ujung bambu, dan kabut mulai naik. Tapi suara polifonik itu masih tinggal, tak di udara, tapi di tubuh keempat orang yang tertidur bersama, menyatu dalam satu lanskap yang tak bisa dipisahkan oleh waktu.

Pagi belum sepenuhnya datang. Langit masih kelabu, dan kabut menggantung rendah di antara batang bambu dan batu-batu tua. Tapi dari dalam ceruk Mendale, terdengar siulan angin, halus, melingkar, seperti suara yang pernah disimpan dalam kendi, kini keluar mencari tubuh untuk dijawab.

Siulan itu bukan sekadar hembusan. Ia membawa lapisan suara: suara Miyax yang menyulam jeda, suara Utux yang membentuk gema, suara tanah yang pernah dibuka menjadi ladang, suara hutan yang pernah dijinakkan menjadi sawah. Ia menyusup ke sela-sela benang Kiyo, menyentuh motif gunung dan tanaman merambat, lalu menyentuh kulit empat tubuh yang tertidur.

Lintang terbangun lebih dulu. Matanya membuka pelan, dan ia mendengar siulan itu bukan dari luar, tapi dari dalam kendi suara yang ia bentuk semalam. Ia tahu: suara itu bukan panggilan, tapi jawaban. Jawaban dari liang, dari tanah, dari tubuh yang pernah tinggal.

Taki’na menggeliat pelan, jari-jarinya masih menggenggam ujung kain. Ia membuka mata, dan air matanya belum kering. Ia mendengar siulan itu sebagai suara Miyax yang datang lewat napas pagi, menyentuh benang yang dulu ia jahit dalam diam.

Dale duduk perlahan, tangannya masih menggenggam bangku bambu. Ia tak berkata apa-apa, hanya memejamkan mata dan membiarkan siulan itu menyusup ke dalam dadanya, seperti suara Utux, ayahnya, yang dulu ia simpan dalam luka.

Putua membuka mata terakhir. Ia tak bergerak, hanya mendengarkan. Tubuhnya bergoyang pelan, dan siulan angin itu menyusup ke dalam tulangnya, menjadi nyanyian yang tak perlu dinyanyikan.

Keempat tubuh itu duduk bersama, diam, tapi hidup. Mereka tak saling bicara, hanya membiarkan siulan angin menjahit ulang suara yang semalam mereka buka. Mereka tahu: pagi ini, ceruk Mendale bukan hanya ruang. Ia adalah tubuh. Ia adalah liang yang menjawab. Ia adalah lanskap suara yang bangkit dari tidur.

Dan di tengah kabut yang mulai naik, kendi suara memantulkan cahaya pertama. Motif gunung dan tanaman merambat tampak seperti nyanyian yang baru ditulis, dan kain Kiyo melingkar di tanah seperti tubuh yang siap berjalan.

Kabut pagi belum sepenuhnya surut ketika mereka berjalan perlahan menuju sudut terdalam ceruk Mendale. Di sana, di bawah batu yang tak pernah dipindahkan, liang Miyax dan Utux berdiam dalam sunyi yang tak pernah mati. Tanahnya lembut, ditumbuhi lumut dan akar kecil yang menyusup seperti benang yang mencari tubuh.

Lintang membawa kendi suara bermotif gunung dan tanaman merambat. Di dalamnya, air dari ceruk semalam, dan suara yang telah ia tuturkan. Taki’na menggenggam kain panjang hitam Kiyo, ujungnya telah dijahit ulang dengan benang merah yang ia sisipkan saat malam. Dale dan Putua membawa api kecil dalam wadah bambu, nyala yang tak menyala terang, tapi cukup untuk memanggil suara lama.

Mereka berdiri mengelilingi liang. Tak ada kata-kata, hanya napas yang menyatu dengan kabut. Lalu, Lintang mulai menyuarakan nyanyian tabutbut, nyanyian yang tak memiliki awal atau akhir, hanya lapisan suara yang menjawab satu sama lain. Suaranya rendah, bergetar, menyusup dari dada ke tanah, dari motif ke liang.

Taki’na menyusul, suaranya lebih tua, lebih retak, tapi menyulam jeda yang dibuka oleh cucunya. Nyanyian tabutbut mereka bukan duet, tapi dialog lintas tubuh dan waktu. Suara Miyax menjawab lewat benang, suara Utux menjawab lewat tanah liat yang mengeras.

Dale menunduk, air matanya jatuh ke tanah liang. Ia tahu: suara yang dulu ia simpan dalam luka kini telah dijawab. Putua memejamkan mata, tubuhnya bergoyang pelan, dan suara tabutbut menyusup ke dalam tulangnya, menjadi nyanyian yang tak perlu dinyanyikan ulang.

Lintang menaruh kendi suara di atas batu liang. Taki’na membentangkan Kiyo di atas tanah, membiarkan benang menyentuh akar. Dale dan Putua menyalakan api kecil, lalu memadamkannya dengan air dari kendi. Asapnya naik pelan, membawa suara yang telah dijahit, dibakar, dan ditanam.

Dan pagi itu, liang Miyax dan Utux tak lagi menjadi kubur. Ia menjadi tubuh suara. Ia menjadi tempat di mana nyanyian lama dijawab oleh napas baru. Ia menjadi lanskap yang tak hanya menyimpan, tapi menyambungkan.

SELESAI.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.