Oleh Syukri Muhammad Syukri
Bagian 3: Penjaga Suara.
Di pondok bambu yang mereka tinggali, suara angin masih terdengar samar, seolah enggan berpisah. Gadis itu duduk di sudut, memintal benang dari serat pohon, tapi jemarinya bergerak mengikuti ritme nyanyian yang baru saja mereka lantunkan. Ia tak lagi memintal untuk sekadar membuat pakaian, ia memintal untuk menyimpan suara.
Neneknya, yang biasanya diam setelah perjalanan, kini mulai berbicara lebih sering. Ia menceritakan lagu-lagu lama, nyanyian yang dulu hanya dinyanyikan saat kelahiran atau kematian, dan kini terasa hidup kembali. Ia mulai mengajarkan cucunya cara mendengar suara dari batu, dari air, dari bayangan pohon. Bukan sebagai bunyi, tapi sebagai pesan.
Setiap malam, mereka duduk berdua di depan api kecil. Gadis itu mulai mencatat suara dalam bentuk garis dan lengkung di atas kulit kayu, mencoba menangkap polifoni dalam rupa visual. Neneknya mengangguk, kadang membetulkan, kadang membiarkan garis itu tumbuh sesuai intuisi cucunya.
Dan pelan-pelan, orang-orang di sekitar mulai memperhatikan. Mereka melihat gadis itu bukan lagi anak kecil, tapi penjaga suara. Mereka mulai bertanya tentang siulan angin, tentang nyanyian yang bisa membuat ceruk bergema. Gadis itu tak menjawab dengan kata, tapi dengan suara. Ia mulai mengajarkan anak-anak pemukim tanah tinggi Mendale, dan neneknya duduk di belakang, tersenyum seperti tanah yang tahu benihnya telah tumbuh.
Sejak nyanyian itu bergema di ceruk Mendale, hari-hari gadis itu tak lagi sama. Ia bangun setiap pagi dengan dada yang ringan, seolah suara angin telah menetap di dalamnya. Di sela-sela tugas harian, ia mulai menciptakan pola suara baru, nada-nada yang lahir dari pengamatan: suara air yang jatuh di batu, dengung lebah di antara bunga, derak bambu saat disentuh angin.
Neneknya, yang dulu hanya menyanyikan lagu-lagu lama, kini menjadi pendengar. Ia duduk di bawah pohon tua, membiarkan cucunya menyusun suara seperti menenun kain: satu helai dari masa kini, satu helai dari masa lalu, dan satu helai dari sesuatu yang belum bernama.
Suatu sore, ketika matahari condong dan bayangan memanjang, gadis itu berkata pelan:
“Inan, suara kita telah berubah. Tapi apakah tanah ini sudah mendengar?”
Neneknya menatap langit, lalu menjawab:
“Tanah selalu mendengar. Tapi ia hanya menjawab jika kita bernyanyi dengan niat.”
Dan sejak itu, gadis belia tersebut mulai mengajarkan anak-anak lain. Ia tak mengajarkan lagu, tapi cara mendengar. Cara membiarkan suara tumbuh dari dalam tubuh, bukan dari hafalan. Ia membawa mereka ke ceruk Mendale, satu per satu, dan membiarkan angin memilih siapa yang siap.
Beberapa anak hanya mendengar angin. Tapi satu atau dua mulai bersenandung. Dan neneknya tahu: penjaga suara tak hanya satu. Mereka sedang tumbuh, seperti akar yang mencari air.
Pada malam bulan penuh, gadis itu menyanyikan lagu baru. Lagu yang tak pernah diajarkan, tapi terasa seperti telah lama ditunggu. Neneknya mendengarkan, lalu menutup mata. Di wajahnya, ada damai yang dalam, seperti sungai yang akhirnya menemukan laut.
Dan di ceruk Mendale, angin bersiul lebih panjang dari biasanya. Seolah berkata: suara telah diwariskan. Tanah telah menjawab.
Waktu berjalan seperti aliran sungai yang tak pernah kembali ke mata air. Gadis itu kini telah tumbuh, suara yang dulu rapuh kini mampu membelah senyap, mengisi ruang antara batu dan langit. Ia tak lagi hanya mendengar siulan angin; ia mulai memahami maknanya. Setiap nada membawa pesan: tentang musim yang akan berganti, tentang roh yang gelisah, tentang tanah yang merindukan sentuhan manusia yang penuh hormat.
Neneknya semakin jarang bersuara. Ia lebih banyak duduk di bawah pohon tua, membiarkan cucunya memimpin nyanyian. Tapi dalam diamnya, ada restu yang dalam. Ia tahu, suara telah berpindah. Warisan telah diterima.
Suatu malam, ketika bulan menggantung rendah dan angin tak bersiul, nenek memanggil cucunya.
“Cucuku,” katanya pelan, “suara tanah kini milikmu. Tapi jangan hanya dijaga, biarkan ia tumbuh.”
Gadis itu menatap neneknya, matanya berkaca. Ia tahu, malam itu bukan sekadar malam. Ia tahu, nyanyian berikutnya akan ia lantunkan sendiri.
Dan ketika fajar datang, angin kembali bersiul dari ceruk Mendale. Gadis itu berjalan sendirian ke sana, langkahnya mantap, tapi hatinya penuh gema. Ia duduk di ambang ceruk, lalu membuka suara, nada pertama, lalu kedua, lalu ketiga. Polifoni itu kini miliknya. Tapi ia tak sendiri. Di antara lapisan suara, ada satu nada yang tak berasal dari tubuhnya: suara neneknya, halus, jauh, tapi nyata.
Ceruk Mendale bergema. Tanah menjawab. Dan gadis itu tahu: suara tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah bentuk, dari tubuh ke angin, dari nyanyian ke ingatan.
Musim berganti. Hujan pertama jatuh di atas tanah tinggi Mendale seperti tepukan lembut dari langit yang mengingat. Gadis itu kini dikenal sebagai penyulam suara, bukan karena ia menyanyi paling nyaring, tapi karena nyanyiannya mampu membuat orang diam dan mendengar.
Setiap bulan purnama, ia memimpin pertemuan kecil di ceruk Mendale. Bukan ritual yang megah, melainkan pertemuan suara: anak-anak, ibu-ibu, bahkan lelaki yang biasanya diam, datang membawa suara mereka yang belum pernah dipakai. Ia mengajarkan mereka bukan lagu, tapi cara menyatu. Cara membiarkan suara tumbuh dari dalam tubuh, dari luka, dari harapan, dari tanah yang diinjak setiap hari.
Ia mulai menciptakan ritus suara dan tanah, sebuah bentuk penghormatan yang menggabungkan nyanyian polifonik, gerak tubuh, dan benda-benda alam: daun yang gugur, batu yang retak, air yang mengalir. Setiap elemen menjadi bagian dari nyanyian. Setiap suara menjadi bagian dari tanah.
Suatu malam, saat angin bersiul lebih tajam dari biasanya, gadis itu berdiri sendiri di ceruk. Ia membuka suara, tapi kali ini bukan untuk memanggil, melainkan untuk melepaskan. Di tengah nyanyiannya, ia menaburkan segenggam abu dari kain tua neneknya, kain yang dulu dipakai saat nenek pertama kali mengajarinya bernyanyi.
Angin berhenti. Lalu bergema. Suara gadis itu menyatu dengan suara neneknya, suara tanah, suara langit. Tak ada kata, hanya resonansi. Dan ia tahu: neneknya telah menjadi bagian dari suara itu. Tak lagi duduk di bawah pohon, tapi menyatu dalam setiap siulan angin.
Sebelum rambutnya memutih dan langkahnya melambat, nenek itu pernah menjadi suara yang paling dicari saat kabut turun dari pegunungan. Ia dikenal sebagai penyanyi Tabutbut, nyanyian polifonik yang tak hanya mengisi udara, tapi juga membuka jalan bagi roh dan waktu.
Waktu itu, ia masih gadis belia, seumuran cucunya kini. Tubuhnya ringan, matanya tajam, dan telinganya mampu menangkap suara yang tak terdengar oleh orang lain. Ibunya, seorang penjaga suara generasi sebelumnya, melihat potensi itu seperti melihat api kecil di tengah embun.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, ibunya akan membawanya ke tepi ceruk tua yang kini dikenal sebagai Mendale. Di sana, mereka tak bicara. Hanya duduk, mendengarkan. Angin bersiul, dan ibunya mulai bersenandung, nada rendah, lalu tinggi, lalu nada yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Gadis itu mengikuti, suaranya masih goyah, tapi niatnya utuh.
Hari demi hari, suara mereka mulai menyatu. Ibunya mengajarkan bahwa Tabutbut bukan sekadar nyanyian, tapi cara berbicara dengan tanah, dengan air, dengan roh yang belum sempat berpulang. Polifoni itu adalah jembatan, dan mereka berdua adalah penyeberangnya.
Di malam-malam tertentu, ketika bulan menggantung seperti mata tua yang mengawasi, sang gadis diminta bernyanyi sendiri. Ibunya duduk di belakang, diam, membiarkan suara anaknya tumbuh tanpa bayangan. Dan ketika suara itu berhasil menggema di ceruk, ibunya menangis pelan, bukan karena sedih, tapi karena tahu: suara telah berpindah.
Itulah nenek yang kini duduk di bawah pohon, mendengarkan cucunya bernyanyi. Ia tak lagi bersuara seperti dulu, tapi tubuhnya masih menyimpan ritme. Ia tahu, cucunya bukan hanya pewaris, tapi kelanjutan. Dan Tabutbut akan terus hidup, selama ada satu anak yang mau mendengar angin dan menjawabnya dengan suara yang jujur.
Di malam yang sunyi, ketika kabut turun perlahan seperti selimut roh, gadis itu duduk di depan api kecil, memandangi sehelai kain tua yang pernah dikenakan neneknya saat bernyanyi. Kain itu berwarna tanah, dihiasi sulaman halus yang menyerupai gelombang suara, garis-garis yang tak lurus, tapi penuh makna.
Neneknya duduk di belakang, tubuhnya tak lagi kuat, tapi ingatannya masih tajam. Ia mulai bercerita, suaranya pelan, seperti bisikan dari masa yang jauh.
“Dulu, saat aku seumuranmu,” katanya, “ibuku membawaku ke ceruk yang lain, jauh di barat. Di sana, angin tak bersiul seperti di Mendale. Ia berdesis, seperti ular tua yang menjaga rahasia.”
Gadis itu mendekat, matanya menyala.
“Dan inan belajar Tabutbut di sana?”
“Ya. Tapi bukan hanya belajar bernyanyi. Aku belajar mendengar. Ibuku berkata, suara bukan milik mulut, tapi milik napas. Dan napas adalah jembatan antara tubuh dan roh.”
Neneknya menutup mata, lalu mulai bersenandung, suara rendah, lalu tinggi, lalu suara ketiga yang seolah datang dari dalam tanah. Gadis itu mengenali nyanyian itu. Ia pernah mendengarnya dalam mimpinya, saat angin memanggilnya ke ceruk Mendale.
“Itu lagu ibunya inan?”
“Bukan lagu. Itu panggilan. Ia menyanyikannya saat aku pertama kali bisa mendengar suara batu. Dan malam ini, aku menyanyikannya untukmu. Karena kau telah mendengar suara yang sama.”
Gadis belia itu menunduk, lalu membuka suara. Ia tak meniru, tapi menjawab. Suaranya membentuk lapisan baru, nada keempat, yang belum pernah ada sebelumnya. Neneknya tersenyum, dan api kecil di depan mereka bergetar, seolah ikut bernyanyi.
Di luar pondok, angin mulai bersiul. Tapi kali ini, bukan dari ceruk Mendale. Ia datang dari segala arah, membawa gema dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Dan gadis itu tahu: Tabutbut bukan hanya warisan. Ia adalah darah. Ia adalah napas. Ia adalah suara yang tak akan pernah padam, selama ada satu anak yang mau mendengar dan menjawab.
Seiring waktu, suara gadis itu tak hanya menggema di ceruk Mendale, tapi mulai merambat ke lembah-lembah lain, menyusuri jalur migrasi yang dahulu dilalui neneknya dan para leluhur. Ia mulai menerima tamu dari komunitas jauh, penyanyi dari suku lain, pembawa suara dari tanah yang berbeda, masing-masing membawa nyanyian yang lahir dari batu, laut, dan langit mereka sendiri.
Gadis itu tak menyanyikan Tabutbut untuk mereka. Ia mendengarkan. Ia membuka ruang. Ia membiarkan suara-suara asing tumbuh di tanah Mendale, dan perlahan, ia mulai menjahitnya ke dalam nyanyiannya sendiri. Polifoni yang dulu hanya milik satu garis darah kini menjadi anyaman lintas suara, lintas tanah, lintas roh.
Di satu malam yang sunyi, ia berdiri di tengah lingkaran api, dikelilingi oleh penyanyi dari berbagai penjuru. Ia membuka suara, nada pertama dari tanah Mendale, lalu nada kedua dari laut yang jauh, lalu nada ketiga dari pegunungan yang tak pernah ia lihat. Suara-suara itu tak saling menindih, tapi saling mengangkat. Mereka membentuk jembatan suara yang menyebrangi waktu dan ruang.
Dan di antara lapisan suara itu, gadis belia itu mendengar sesuatu yang tak pernah ia dengar sebelumnya: suara neneknya, bukan sebagai nyanyian, tapi sebagai bisikan lembut di dalam dada.
“Kau telah menjadikan suara sebagai rumah. Kini, tanah tak lagi bicara lewat satu lidah, tapi lewat banyak napas.”
Gadis itu menutup mata, dan nyanyiannya terus berlanjut. Ia tahu, warisan bukan untuk disimpan, tapi untuk dibagikan. Dan Tabutbut kini bukan hanya milik Mendale, tapi milik siapa pun yang mau mendengar angin dan menjawabnya dengan suara yang jujur.
Setelah nyanyian dari berbagai tanah menyatu di ceruk Mendale, gadis itu mulai merasakan panggilan yang berbeda. Bukan hanya dari angin, tapi dari tanah-tanah yang belum ia injak. Ia tahu, suara bukan untuk disimpan di satu tempat. Ia harus berjalan, seperti air yang mencari muara.
Ia mulai menciptakan penanda suara, nyanyian yang ditanam di titik-titik migrasi, di batu yang pernah diinjak leluhur, di pohon yang pernah menjadi peneduh pengembara. Setiap penanda bukan hanya lagu, tapi jejak. Ia menyanyikannya lalu mengajarkan kepada anak-anak yang tinggal di sana, agar suara itu tumbuh dan berakar.
Di satu lembah yang jauh dari Mendale, ia bertemu seorang perempuan tua dari suku lain, yang menyimpan nyanyian dalam gerak tubuh. Mereka tak berbicara banyak, tapi tubuh mereka saling mengenali. Gadis itu menyanyikan Tabutbut, dan perempuan tua itu menjawab dengan gerakan yang menyerupai angin yang melingkar.
Mereka menciptakan penanda baru: suara dan gerak, nyanyian dan tubuh, tanah dan napas. Dan gadis itu tahu, warisan neneknya kini telah tumbuh menjadi hutan suara, tempat di mana siapa pun bisa berlindung, mendengar, dan menjawab.
Ketika ia kembali ke Mendale, ia membawa suara-suara baru. Ia menyanyikannya di ceruk, dan angin menjawab dengan nada yang belum pernah ia dengar. Ia tersenyum. Ia tahu, tanah telah menerima. Dan neneknya, yang kini hanya hadir dalam bisikan, bergetar lembut di dalam dada.
Bersambung…





