Buku 2: Siulan Angin Dari Ceruk Mendale ; Kabut Duka di Rumah Lama

oleh

Oleh Syukri Muhammad Syukri.

Dideskripsikan dari temuan arkeologi ceruk Mendale, namun cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Bagian 1: Kabut Duka di Rumah Lama.

Setelah kabut duka menyelimuti rumah bambu tua di pesisir utara Danau Laut Tawar, tempat sang ibu menghembuskan napas terakhirnya. Jenazah Miyax, sang ibu, dimakamkan diatas kerangka Utux, sang ayah, di pelataran Ceruk Mendale. Wasiat terakhir sang ibu, meminta Dale kembali dan menetap di tanah tinggi itu.

Ditengah siulan angin dan bisikan leluhur, Dale, Taki’na, Putua si putra bungsu, dan cucunya Lintang, memutuskan pulang meninggalkan kaki bukit batu, Bur Birah Panyang disisi selatan danau. Bukan pulang ke masa lalu, melainkan ke tanah tinggi yang pernah dijanjikan dalam mimpi-mimpi nenek moyangnya: kaki ceruk Mendale, tempat batu-batu menyimpan jejak doa dan lumut tumbuh seperti kenangan.

Hari itu, mereka tidak menyeberang danau, tetapi jalan kaki menelusuri tebing dan hutan. Dale ingin mengajar cucu dan putra bungsu untuk mengenali alam dan memahami siulan angin. Mempelajari area perburuan dan lahan sebagai penyangga bahan pangan.

Taki’na, isteri Dale, berjalan di sisinya dengan langkah yang tenang namun tegas. Di punggungnya tergantung tas anyaman dari kulit kayu, berisi biji-biji tua dan kain tenun warisan. Di tangan kirinya, ia menggenggam jemari Lintang, cucu kesembilan mereka yang masih belia, matanya menyimpan cahaya ingin tahu tentang dunia yang belum ia kenal.

Putua, putra bungsu mereka, berjalan di belakang, memanggul tombak kayu dan membawa serta nyanyian masa kecil yang belum sempat ia nyanyikan di tanah leluhur.

Perjalanan mereka bukan sekadar lintasan geografis. Itu adalah migrasi jiwa, perpindahan dari luka menuju pemulihan, dari kehilangan menuju penemuan.

Di sepanjang jalan, Dale menggumamkan lagu-lagu lama dalam bahasa Bun yang nyaris punah, dan Lintang menggambarnya diatas lembaran daun lontar yang ia temukan di hutan.

Ketika mereka tiba di pelataran ceruk Mendale, tanah menyambut mereka dengan diam yang dalam. Angin berdesir seperti suara ibu yang telah tiada, dan burung-burung gunung terbang rendah seolah mengenali darah yang kembali.

Didalam ceruk, Dale menanam batu peringatan diatas makam sang ayah dan ibu, Taki’na menaburkan abu rempah di sekelilingnya. Lintang menari di antara bayangan pohon, dan Putua mulai memperbaiki pondok kecil peninggalan kakeknya dengan kayu pinus dan tali rotan.

Mereka tidak hanya kembali ke tanah tinggi. Mereka kembali ke cerita yang belum selesai. Dan di kaki ceruk Mendale, kisah baru pun mulai ditulis, dengan air mata, tawa, dan nyanyian yang tak lagi asing bagi siulan angin.

Pondok bambu itu berdiri rapuh di lereng berkabut, di antara pohon-pohon kayu manis dan suara burung yang tak lagi dikenali Dale. Ia kembali setelah dua purnama pemakaman ibunya, Miyax. Kembali bersama istrinya Taki’na, dan Putua si putra bungsu. Mereka membawa serta sang cucu, Lintang, gadis belia bermata tajam dan langkah ringan seperti kijang muda.

Pondok itu dibangun oleh tangan bapaknya, dari bambu yang dipilih satu per satu, diikat dengan serat rotan dan doa-doa yang tak pernah ditulis.

Lintang duduk bersila di lantai anyaman, memandangi kakeknya yang menyalakan api kecil di tungku tanah liat. Di luar, angin dari selatan membawa aroma anyir air danau dan jejak migrasi yang telah lama berlalu.

“Dulu,” kata Dale, suaranya serak seperti batu sungai, “datumu mengajarku menenun. Bukan hanya benang dan pola, tapi kesabaran. Ia bilang, setiap simpul adalah ingatan. Setiap motif adalah doa untuk anak-anak yang belum lahir.”

Lintang menyimak, matanya mengikuti gerakan tangan Dale yang menggambar pola di udara. “Motif pertama yang kupelajari adalah ‘mata burung hantu’. Datu bilang, itu untuk melihat kegelapan tanpa takut.”

Dale bangkit, mengambil sebongkah batu obsidian dari sudut pondok. “Dan datu laki,” lanjutnya, “mengajariku membuat alat dari batu. Ia tak pernah bicara banyak. Tapi dari cara ia memukul batu, aku tahu: hidup adalah tentang sudut yang tepat dan pukulan yang jujur.”

Lintang mendekat, menyentuh permukaan batu yang dingin. “Apa ini untuk berburu?”

“Untuk bertahan,” jawab Dale. “Saat suku kita menyeberang dari Formosa, mereka tak membawa banyak. Hanya cerita, tenunan, dan alat batu. Tapi itu cukup. Karena mereka tahu cara membaca angin dan mendengar suara leluhur di dalam hutan.”

Malam turun perlahan, menyelimuti pondok dengan bayangan dan kenangan. Di antara api yang meredup dan suara bambu yang berderak, Dale dan Lintang duduk bersama, dua generasi yang terhubung oleh benang, batu, dan kisah yang tak akan hilang meski angin terus berganti arah.

Paginya, Dale dan Lintang berjalan menyusuri lereng berkabut. Pondok bambu tampak dari kejauhan, dikelilingi pohon kayu manis dan semak liar. Kaki mereka menyentuh tanah basah. Kabut duka masih membingkai pondok seperti kenangan yang samar. Kabut sebagai tirai waktu, bambu sebagai warisan leluhur.

Dale duduk di lantai pondok, membuka gulungan kain tua dengan motif “mata burung hantu.” Lintang menyentuh benang-benang yang mulai rapuh.

Sinar matahari pagi masuk dari celah bambu, menyorot motif tenunan. Tangan Dale dan Lintang bersentuhan di atas kain. Tenunan sebagai memori, motif sebagai doa perlindungan.

Kemudian, Dale menunjukkan alat batu peninggalan bapaknya, kapak kecil dari obsidian. Ia memperagakan cara memukul batu dengan sudut tepat.

Tangan Dale memegang batu, seolah bayangan wajah bapaknya muncul disana. Lalu, bapaknya berkata: batu sebagai keteguhan, pukulan sebagai pelajaran hidup.

Dale sang kakek, mengajak cucunya keluar. Mereka duduk di luar pondok, memandangi arah selatan. Di kejauhan, air danau tampak berkilau, bukit batu bernama Bur Birah Panyang seolah memanggil kembali.

Tubuh mereka kecil di tengah lanskap luas. Angin menggerakkan rambut Lintang dan asap dari tungku. Menggambarkan danau sebagai asal dan arah, angin sebagai suara leluhur.

Malamnya, api kecil menyala di tengah pondok. Dale mulai mengajarkan Lintang cara menenun simpul pertama. Cahaya dari api membingkai wajah mereka. Di dinding bambu, bayangan motif tenunan dan alat batu saling bersilangan. Api sebagai penerus tradisi, simpul pertama sebagai awal warisan.

Lintang duduk sendiri di pagi esoknya, mencoba menenun dengan alat peninggalan datu. Cahaya matahari menyentuh benang yang belum terikat. Tangan Lintang terlihat ragu-ragu tapi tekun.

Sementara Dale mengamati cucunya dari kejauhan. Lelaki pertama yang lahir di tanah tinggi itu sadar, simpul pertama yang dirajut Lintang sebagai awal pemahaman identitas, dan keterhubungan dengan perempuan leluhur.

Benar, malam hari Lintang mulai terhubung dengan leluhur. Dia bermimpi melihat perempuan Bun menenun di tepi sungai, sementara laki-laki memahat batu di bawah pohon besar. Di langit, burung hantu terbang melingkar.

Wajah sang datu muncul samar di antara benang-benang. Lintang paham bahwa mimpi sebagai ilham, burung hantu sebagai penjaga pengetahuan, sungai sebagai aliran warisan.

Lintang menceritakan ihwal mimpi itu kepada sang kakek. Dale manggut-manggut, lalu mengajak Lintang ke hutan. Mereka mengumpulkan daun-daun dedingin dan batu sungai untuk ritual kecil mengenang sang datu.

Tangan mungil Lintang menyusun daun dan batu dalam lingkaran. Dipandu oleh gerakan jemari sang kakek diantara cahaya matahari yang menembus kanopi hutan.

“Daun sebagai tubuh alam, batu sebagai ingatan yang tak berubah, lingkaran sebagai siklus hidup,” desis Dale berdoa.

Lintang mendengar suara angin yang melewati celah rumpun bambu. Ia merasa seolah datunya berbicara melalui suara itu. Dia terpejam, ditengah daun bambu yang bergetar halus. Lintang yakin, bambu sebagai saluran suara leluhur, angin sebagai pembawa pesan spiritual.

Mereka kembali ke pondok bambu peninggalan sang datu. Disana, Lintang mulai menenun motif baru: gabungan mata burung hantu dan pola daun. Dale tersenyum, mengamati gerakan jari mungil cucunya.

“Motif baru sebagai kelanjutan warisan, alat batu sebagai peneguhan peran, dan kamu sebagai penerus,” ujar Dale tersenyum sambil menyerahkan alat batu kecil kepada Lintang.

“Terima kasih apu,” ucap gadis belia itu menatap wajah kakeknya yang mulai menua.

Di tepian Danau Laut Tawar yang tenang, permukaan air memantulkan langit, seolah menyimpan rahasia langit dan bumi. Disana terbentang hamparan sawah yang menghijau bagai permadani alam.

Padi-padi bergoyang pelan, seolah menari mengikuti siulan angin yang turun dari lereng gunung berbatu cadas. Gunung itu berdiri kokoh, wajahnya penuh guratan waktu, cadasnya menyimpan luka dan legenda yang tak terucap.

Di sela ladang dan sawah, mengalir air jernih dari mata-mata bumi yang tak pernah tidur. Ia menyusuri celah-celah batu, melintasi akar-akar tua, dan menyentuh kaki gubuk bambu yang berdiri sederhana di antara semak dan bayang. Gubuk itu bukan sekadar tempat berteduh, melainkan saksi bisu dari musim yang datang dan pergi, dari tawa anak-anak dan nyanyian tabutbut yang tak pernah lelah berharap.

Di balik lereng, tersembunyi ceruk yang sunyi, tempat asal muasal siulan angin dan burung-burung bersarang. Batu kars menjulang dan menyembul dari tanah, putih kelabu seperti tulang purba yang menyimpan jejak langkah leluhur.

Di sana, waktu terasa melambat. Setiap retakan batu, setiap lekuk tanah, seolah mengisahkan tentang kehidupan yang tumbuh dalam diam, tentang kesetiaan alam pada mereka yang tahu cara mendengarkan.

Di antara barisan perdu padi, tampak sosok perempuan paruh baya bernama Taki’na, mengenakan ikat kepala motif segitiga yang telah pudar warnanya. Tangannya cekatan menata jalur air irigasi, matanya tajam membaca arah angin dan gerak awan. Perempuan itu bukan sekadar petani, ia penjaga tanah, pewaris pengetahuan suku Bun yang mereka bawa dari tanah Formosa.

Di gubuk bambu yang berdiri sederhana di antara semak dan bayang, tinggal cucunya, Lintang, gadis belia yang gemar mencatat mimpi dan cerita rakyat di permukaan gerabah, kendi dan guci.

Lintang yang baru dua purnama lebih menetap disana, sering duduk di ceruk batu kars, tempat angin bersiul dan burung-burung bersarang. Dia mendengarkan dongeng dari batu dan akar, membayangkan leluhur yang berjalan di antara ladang dan danau, membawa api dan doa. Ia percaya bahwa setiap retakan batu menyimpan nama, setiap aliran air membawa pesan.

Di ladang sebelah, tampak Dale, kakeknya penutur Austronesia yang lahir di tanah tinggi. Lelaki paruh baya itu sedang memperluas gubuk bambu peninggalan sang ayah dengan tangan yang mengerti bahasa serat dan simpul. Ia sering berbincang dengan istrinya Taki’na tentang musim, tentang suara hutan, dan tentang mimpi-mimpi yang tumbuh di antara padi dan batu.

Mereka bukan tokoh besar dalam sejarah, tapi dalam lanskap ini, mereka adalah penjaga waktu. Ari-arinya ditanam dibawah batu hitam didepan gubuk. Mereka hidup dalam ritme alam, dalam nyanyian air dan siulan angin, dalam bayang-bayang gunung yang menyimpan legenda.

Lintang mulai menanam bunga liar di tepi sawah, bukan sekadar hiasan, tapi sebagai simbol doa dan harapan yang ia pelajari dari cerita leluhur. Namun, Dale yang dipanggil apu, memandangnya dengan mata yang berat. “Tanah ini bukan untuk bermain mimpi,” katanya suatu pagi, “ia hidup dari kerja, bukan dari khayal.”

Lintang terdiam, tapi hatinya bergolak. Ia merasa bahwa tanah ini bisa menjadi lebih dari sekadar ladang panen, ia ingin menjadikannya ruang cerita, tempat ritual kecil, tempat anak-anak bisa belajar dari batu dan air. Ia mulai menggambar di dinding gubuk bambu, melukis ceruk dan batu kars dengan wajah-wajah leluhur yang ia bayangkan.

Putua sang paman, adik bungsu ibunya, melihat perubahan itu, merasa terpecah. Ia memahami semangat Lintang, tapi juga menghormati keteguhan Dale. Ia mencoba menjadi jembatan, membangun tempat duduk dari bambu di ceruk batu Mendale, agar Dale bisa duduk dan mendengar dongeng Lintang tanpa harus setuju.

Konflik itu bukan tentang siapa yang benar, tapi tentang bagaimana warisan dijaga dan diubah. Dale takut kehilangan tatanan yang telah lama ia rawat semenjak ayahnya migrasi dari Formosa ke Kuala Cerape. Lintang takut masa depan akan kehilangan makna jika hanya diisi kerja tanpa jiwa. Dan paman Putua, dengan tangan kayunya, mencoba merangkai keduanya dalam bentuk yang bisa disentuh dan diduduki.

Pagi itu diantara cahaya sinar matahari yang sedang naik, Dale berdiri di sawah, memandang bunga liar dengan wajah murung. Sedangkan Lintang si gadis belia terus melukis di dinding gubuk, seberkas cahaya pagi menyinari wajahnya yang penuh harap. Sementara Putua sang paman sedang membangun bangku bambu di ceruk batu Mendale, di bawah bayang-bayang kars.

Ditengah kabut tipis, sinar matahari pagi menerpa wajah ketiga sosok beda generasi. Suara air mengalir dan bayang gunung cadas di kejauhan sedang bersaksi. Taki’na dan Lintang duduk diatas batu, dibibir ceruk Mendale. Sedangkan Dale, berselonjor kaki diatas bangku bambu bikinan Putua.

“Apu, aku ingin ladang ini jadi tempat belajar. Bukan hanya menanam padi, tapi juga menanam cerita,” ujar Lintang kepada kakeknya sambil duduk di ceruk batu, menggambar wajah leluhur di potongan bambu.

Dale, kakeknya Lintang yang dipanggil apu, berdiri dengan cangkul bermata batu di tangan, memandang sawah yang mulai ditumbuhi bunga liar. “Cerita tak bisa dimakan, Ntang. Tanah ini hidup dari kerja, bukan dari angan-angan.”

Lintang menatap Dale, suaranya lembut tapi teguh. “Tapi angan-anganlah yang membuat kita bertahan, apu. Leluhur kita menanam doa di batu, bukan hanya benih di tanah.”

Putua datang membawa potongan bambu, duduk di dekat mereka. “Aku dengar kalian dari ujung ladang. Mungkin tanah ini bisa menampung keduanya, kerja dan cerita. Aku bisa buatkan tempat duduk di ceruk, tempat orang bisa mendengar dongeng sambil menunggu panen.”

Dale terdiam sejenak, menatap langit yang mulai cerah. “Dulu, aku juga suka mendengar cerita dari ibuku. Di bawah pohon temung itu, sambil menenun. Tapi waktu berjalan, dan tanah menuntut tangan, bukan telinga.”

Lintang sang cucu tersenyum, mendekat. “Maka biarlah tangan menanam, dan telinga mendengar. Kita bisa merawat tanah dan jiwa bersama.”

Putua menyambung, sambil mulai mengikat bambu. “Kalau kita bisa membangun gubuk dari simpul dan serat, kenapa tidak membangun masa depan dari kata dan kerja?”

Dale menghela napas, lalu menancapkan cangkul ke tanah. “Baiklah. Tapi jangan lupakan musim. Cerita pun harus tahu kapan hujan datang.”

Cahaya temaram obor dari hati batang pinus menggantung di bawah atap pondok, menerangi selembar kain tenun. Kain itu dipenuhi sulaman wajah-wajah leluhur dengan mata yang tajam dan garis-garis wajah yang kokoh. Di sebelahnya, sepasang tangan lembut sedang menata potongan-potongan bambu.

Di luar, bulan menggantung bulat di langit dan melempar cahaya perak ke deretan terasering sawah. Angin malam menerpa dedaunan, menciptakan gemerisik yang merdu. Seekor burung hantu melintas, siluetnya menempel di bayangan Dale yang berdiri di pinggir pematang.

Dale masih mengenakan topi khasnya yang dihiasi bulu burung. Tangannya memegang cangkul bermata batu dan bahunya yang kokoh terlihat sedikit lunglai. Matanya menatap hamparan sawah yang dipenuhi ilalang dan bunga liar. Tiba-tiba, ia terbayang butiran padi yang menguning di bawah terik matahari, mengisinya dengan kebanggaan yang telah memudar.

Lintang, sang cucu, berdiri di sisinya, mengenakan baju tradisional suku Bun dan tas bahu yang terbuat dari jaring. Wajahnya yang muda diterangi cahaya bulan dan matanya terlihat penuh tekad. Ia menatap Dale dan tersenyum lembut.

“Apu,” ucapnya, “ladang ini bukan hanya tentang padi. Ia juga tentang cerita.”

Dale mengangguk perlahan. “Ya, Ntang,” katanya, suaranya parau, “cerita dari leluhur kita yang bekerja keras demi tanah ini. Cerita tentang keringat mereka.”

“Dan mimpi mereka, apu,” jawab Lintang, suaranya tenang dan penuh keyakinan, “mimpi yang tumbuh dari harapan dan doa.”

Dale menatap Lintang, lalu kembali menatap hamparan sawah. Angin kembali bertiup, menerbangkan beberapa helai rambut putih dari pelipisnya. Ia tidak berkata apa-apa, tapi dalam diamnya, ia tahu, bahwa setiap butir benih yang ditanam oleh leluhur bukanlah hanya tentang padi, tetapi juga tentang sebuah cerita.

Bersambung…

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.