Novel karya Syukri Muhammad Syukri
Dale, dari remaja tanggung, kini menjadi lelaki dewasa. Kumis diatas bibirnya makin nyata, tubuhnya kekar berotot, dan bahu mulai melebar. Suara menjadi lebih berat dan dalam.
Cara Dale menatap Taki’na mulai berbeda dari sebelumnya. Mereka bahkan sering berduaan di pinggir danau. Tak ada yang tahu, apa yang sedang mereka bicarakan.
Setiap pulang berburu, Dale sering menyisihkan cenderamata untuk Taki’na. Sepekan lalu misalnya, Dale memberi gadis itu taring serigala. Kemudian, oleh Taki’na, taring itu dibuat menjadi kalung yang selalu tergantung di leher jenjang itu.
Utux dan Miyax tahu bahwa putranya menyukai puteri pertama Lalake dan Bai. Demikian pula Lalake dan Bai, sadar bahwa putrinya sedang berpacaran dengan Dale.
Ihwal itulah yang sedang dibahas kedua keluarga tersebut di balai-balai bambu, di serambi gubuk Utux. Mereka sepakat, Dale dan Taki’na sudah dewasa, layak menikah, dan sudah mampu secara fisik maupun keterampilan.
Tinggal lagi, sebelum proses dilanjutkan, mereka harus bertanya kepada anak masing-masing. Benarkah mereka saling menyukai, atau hanya sebatas teman seperti masa kecil dulu.
“Ina lihat kamu sering berduaan dengan Taki’na,” Miyax membuka pembicaraan malam itu.
“Benar,” kata Dale ringan.
“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Miyax.
“Adalah,” elak Dale malu-malu.
“Kalau kamu suka Taki’na, supaya ama lamar,” sergap Utux tiba-tiba.
“Ya, suka,” sebut Dale menunduk.
“Taki’na menyukai kamu?” desak Miyax.
“Ya,” ungkap Dale pendek, dan dia pun berlalu keluar dari gubuk.
Di gubuk Lalake, pasangan suami isteri itu pun sedang menanyai putrinya. Jawaban Taki’na sama dengan jawaban Dale, mereka saling menyukai.
Bagi Miyax, gadis bernama Taki’na bagaikan putri sendiri. Dia tahu persis tabiat dan perilaku gadis itu. Lembut dan pengertian, berani dan pekerja keras. Cocok untuk mendampingi Dale.
Bukan itu saja, Miyax yang mengajar Taki’na dengan berbagai keterampilan. Seperti bertani, menenun, menyulam sampai menjahit pakaian. Hanya olah suara polifonik yang diajarkan langsung oleh Bai, ibunya.
Prosesi lamaran pun dimulai. Utux mewakilkan kepada sepupunya, Vuvu untuk bertandang ke rumah Lalake. Vuvu diminta melamar Taki’na untuk menjadi isteri Dale.
Vuvu dan isterinya, Ivix, bergegas bertamu ke rumah Lalake. Disana Vuvu dengan bahasa adat suku Bun menyatakan keinginan melamar Taki’na sebagai istri Dale.
Vuvu menyerahkan bukti kesungguhan kepada Lalake hadiah berupa seekor hewan buruan, beras, dan selembar kain kijo. Lalake dengan senang menerima hadiah tersebut, dan menyatakan menerima lamaran.
Hari itu juga mereka sepakat bahwa pesta perkawinan akan diselenggarakan dua purnama mendatang. Lokasi pesta ditetapkan didepan ceruk Mendale. Disitu tempat ritual Dale dan Taki’na, mengharap hanifu dan roh leluhur akan selalu melindungi mereka.
Hasil pembicaraan itu langsung dilaporkan Vuvu kepada Utux. Mereka mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan pesta perkawinan. Diantaranya, baju pengantin warna hitam, khusus dijahit Miyax untuk kedua orang itu.
Dua purnama yang dinantikan telah tiba. Teman-teman seperjalanan dari Kuala Cerape sudah berkumpul disana. Kilet dan isterinya, pasangan suku Bun yang migrasi ke bintang timur, sudah dua hari menginap di gubuk Utux. Mereka hadir bersama anak-anak, membawa seperahu ikan mas.
Kilet, anggota suku Bun paling senior bercerita. Di lembah tempat munculnya bintang timur, lahannya sangat luas. Banyak tegakan pohon, hewan buruan melimpah. Lokasinya persis dengan Mendale, bersisian dengan danau.
Dia mengakui, sudah menelusuri setiap sisi danau. Ada empat tempat di selatan yang lahannya bagus. Tanahnya landai, menjorok ke danau, banyak hewan buruan disana.
Bahkan di kaki gunung batu itu, tunjuk Kilet ke sebuah gunung di sisi selatan danau, ada dua ceruk besar dan luas di kaki gunung itu. Cocok menjadi tempat hunian dan menetap.
“Barangkali ada yang mau kesana, ikut dengan saya,” tawar Kilet kepada Utux.
“Baik. Akan saya sampaikan kepada yang berminat,” kata Utux.
Dua hari menjelang hari pernikahan, Lalake menyelenggarakan pesta pertunangan. Pesta itu berlangsung di depan gubuk Taki’na, sederhana karena dirayakan dengan seekor babi dan ubi panggang.
Hanya saja acara itu meriah, karena diikuti secara lengkap oleh 10 pasang pengantin yang dulu datang dari Kuala Cerape. Bukan hanya mereka, anak-anaknya yang sudah remaja hadir disana.
Mereka semua ikut menari mengiringi nyanyian ritual Tabutbut ketika Dale memasang seutas kain di kepala Taki’na. Kain ikat kepala itu sebagai bukti pertunangan antara Dale dan Taki’na.
Usai pesta pertunangan, warga di bahu bukit Mendale mulai mempersiapkan pesta pernikahan. Unggun menyala sampai pagi, dan anak-anak bersuara polifonik menyanyikan Tabutbut sambil berlarian mengitari api yang tak pernah padam.
Hari yang dinantikan tiba. Ceruk Mendale di kaki bukit tinggi itu, diselimuti kabut pagi. Tegakan pohon pun tak terlihat. Sejauh mata memandang, hanya terlihat hamparan kabut putih.
“Di tengah perjalanan panjang menuju tanah baru, keluarga Bun berhenti di tempat suci: gua leluhur yang tersembunyi di lereng batu ini,” kata Kilet, lelaki paling senior diantara mereka, memulai pesta pernikahan Dale dan Taki’na
Gemericik air dan nyanyian burung hutan mengiringi suara parau Kilet. Lalu Dale dan Taki’na melangkah, masuk kedalam gua kecil dengan stalaktit menggantung di langit-langit ceruk. Altar batu sederhana terpajang disana, disitulah simbol leluhur bersemayam.
Taki’na dan calon suaminya Dale, berdiri di depan altar, mengenakan pakaian tenun tradisional berwarna hitam, ikat kepala bermotif garis dan segi tiga.
“Sebelum bersatu sebagai pasangan, mereka memanggil roh nenek moyang untuk memberkati ikatan suci ini,” ucap Kilet dengan suara parau, berdiri dibelakang pasangan itu.
Dale dan Taki’na berdoa dengan menyalakan api di mangkuk batu, asap naik perlahan. Tangan Taki’na memegang daun sirih dan manik-manik leluhur.
Pasangan pengantin itu menunduk, menyanyikan doa dalam bahasa Bun kuno.
Doa mereka bukan hanya untuk cinta, tapi untuk kekuatan menghadapi tanah asing yang menanti.
Cahaya matahari masuk dari celah gua, menyinari wajah Taki’na dan Dale. Seekor burung melintas di luar. Burung itu diyakini sebagai utusan roh leluhur.
“Angin berbisik di dalam gua. Leluhur menjawab,” imbuh Kilet dengan suara parau.
Taki’na dan Dale melangkah keluar, tangan saling menggenggam. Dari sana mereka melihat hamparan danau yang masih diselimuti kabut putih. Dengan restu leluhur, mereka melanjutkan perjalanan. Cinta dan tradisi menyatu dalam langkah pasangan itu.
Selesai ritual, mereka melanjutkan tradisi asli suku Bun sewaktu pesta pernikahan. Tempatnya di halaman ceruk Mendale. Tradisi itu dimulai dengan Mala Ta Ngia, festival menembak telinga.
Setelah Festival Menembak Telinga yang merupakan ritus inisiasi dan pelatihan berburu bagi Dale, rangkaian kehidupan mereka nantinya, berlanjut dengan adaptasi ekologis dan migrasi bertahap.
Festival ini merupakan salah satu ritual paling terkenal suku Bun, berakar dari tradisi berburu dan pelatihan anak laki-laki menuju kedewasaan. Menekankan pada transisi sosial dan spiritual.
Bersambung…





