Asal Muasal, Bagian 4 : Ceruk 

oleh

Novel karya Syukri Muhammad Syukri

Mereka sampai lupa sarapan pagi, terpesona melihat keajaiban di depan mata. Terkesima menyaksikan negeri surga yang berada diatas awan. Mata silau karena riak air danau memantulkan kilau perak.

Kedua puluh orang itu tak beranjak dari tebing bukit kecil, yang dikemudian hari dinamakan Buntul Kubu. Entah apa yang ada dalam benak mereka. Pastinya, mereka merasa sedang berada di tanah surga.

“Tegakan pohon disisi barat danau, bisa dibikin menjadi perahu,” usul Kilet menunjuk beberap pohon besar yang menjulang ke angkasa.

“Perahu itu bisa digunakan untuk menangkup ikan dari dalam danau,” desis Kilet terpana menatap pohon-pohon besar itu.

“Benar,” sebut Utux menyetujui rencana Kilet.

Dalam benak mereka, lantai hutan itu landai, bisa ditata sebagai area pertanian. Disana ditanami sayuran dan, millet, padi dan biji-bijian. Didirikan gubuk, dipelihara ternak, dan melahirkan anak dan keturunan.

Imajinasi mereka semakin tak terbatas. Mereka berani berimajinasi, karena teknologi terbaru suku Bun, akan diterapkan di tanah surga ini. Mengubah kawasan itu menjadi tempat menetap. Meskipun suku Bun punya tradisi sebagai salah satu suku penganut budaya ladang berpindah.

“Lihat, ada rusa!” bisik Utux memecah imajinasi mereka.

Suami Miyax itu menunjuk ke arah seekor rusa sedang minum di pinggir sungai. Mengambil peralatan berburu dan kapak, pemburu suku Bun itu menuruni tebing. Perlahan sambil merasakan arah mata angin.

“Arah angin dari depan rusa,” bisik Utux.

Lalu, mereka mendatangi rusa dari belakang, arah angin yang berlawanan. Sulit memang, karena harus menerobos tanaman semak berduri. Kini, posisi para pemburu suku Bun sudah sepelemparan batu dari posisi rusa. Target dikunci, Utux memberi isyarat bahwa dia yang akan menombak rusa.

Tetiba Utux berlari, melompat tinggi melewati tanaman semak. Di udara, dia melempar tombak ke tubuh rusa. Bleb, tombak runcing bermata batu itu menembus leher hewan bertanduk seperti mahkota. Sempoyongan, rusa itu masih sempat berlari beberapa langkah, namun akhirnya rusa itu tersungkur.

“Ini makan siang kita,” pekik Lalake mengikat keempat kaki rusa.

Dia memasukkan sepotong kayu sebesar lengah diantara kaki rusa. Lalu, dua orang memanggul batang kayu di bagian ekor, dan dua orang lagi memanggul dari depan, dibagian kepala rusa. Hari itu, mereka makan siang dengan menu barbeque daging rusa.

Tiga purnama sudah penutur Austronesia menetap di bukit itu, banyak hal sudah dilakukan. Diantaranya, dua perahu berhasil ditarah dan dibentuk, kini siap berlayar menjelajah danau.

Barang dan peralatan berburu sudah dimasukkan kedalam lambung perahu. Demikian pula kail dan jaring sudah teronggok disana. Jaring, dirajut dari serat tanaman jadam atau agave sisalana. Sangat kuat, apalagi setelah dipilin menjadi benang.

Serat tanaman agave sisalana diperoleh melalui proses membusukan. Daun tanaman tersebut direndam dalam lumpur sampai busuk. Setelah busuk, maka tersisa serat, lebih tipis dari benang ,dan cukup kuat. Serat itu dipilin menjadi benang, lalu dirajut sebagai jaring.

Tanaman penghasil serat yang cukup kuat itu, cukup mudah ditemukan. Banyak tumbuh diatas batu, dan dicelah tebing di bahu gunung, sekitar bukit yang mereka tinggali.

Serat yang sudah dipilin, tidak seluruhnya dirajut untuk jaring. Disisakan sebagian untuk benang, dapat digunakan untuk menjahit pakaian dan tali pancing.

Mata pancing suku Bun, dibuat dari tulang-tulang binatang, yang banyak berserakan disana. Tulang itu diasah diatas batu berpasir sampai membentuk mata pancing. Pangkalnya dilubangi dengan batu tajam, tempat mengikat mata pancing.

Skill tersebut, sebenarnya bukan pengetahuan baru bagi mereka. Sedari kecil, skill itu sudah diajarkan ama dan ina mereka kepada para anak gadis dan remaja laki-laki. Remaja laki-laki, bahkan ditambah skill berburu, bertarung, navigasi maritim, dan mencari ikan.

Dua perahu bercadik yang masing-masing menampung sepuluh orang, bergerak perlahan meninggalkan kaki bukit kecil itu. Mereka mendayung perahu ke utara, menelusuri rawa-rawa yang dipenuhi tanaman prumpung, kertan dan eceng gondok. Banyak ikan endemik yang berhasil ditangkap, kira-kira cukup untuk dimakan dua hari.

Menjelang matahari terbenam, mereka mendarat dipinggir tebing sebelah utara danau, ada hamparan landai dan berpasir disana. Mengapa harus disitu?

Dari kejauhan, mereka sudah melihat ada bebatuan kars dan staklaknit diantara tebing terjal. Karena, setiap ada bebatuan kars, disana pasti ada gua dan ceruk. Begitu ajaran yang mereka terima dari para pemburu suku Bun.

Kenapa gua dan ceruk begitu penting bagi mereka? Dalam kepercayaan suku Bun, gua dianggap sebagai tempat tinggal roh atau leluhur. Disanalah tempat mereka memuja hanifu, para leluhur.

Bagi mereka, gua dianggap sebagai ruang liminal, antara dunia manusia dan dunia roh. Sehingga, tempat itu cocok untuk lokasi ritual, sebelum atau sesudah pelayaran.

Selain itu, gua berfungsi sebagai tempat berlindung sementara selama perjalanan panjang. Atas pertimbangan itu, kesepuluh pasang anak manusia tersebut sepakat mendirikan bivak dari kulit hewan. Dan, api unggun pun dinyalakan.

Ikan hasil tangkapan, dicucuk dengan batang dan ranting tanaman semak. Lalu, dipanggang diatas bara api. Sebagian lagi, diasapkan agar awet, untuk bekal makanan esok hari.

Kekenyangan, sepuluh pasang pengantin baru dari suku Bun itu pun terlelap dalam bivak masing-masing. Beberapa lelaki bergantian menjaga bara api agar terus menyala sampai pagi. Sebab, disitu suhu udara cukup dingin. Dan, bara api berfungsi untuk menghalau hewan buas.

Saat matahari sudah sepenggalahan, sampan ditarik ke darat, ditambat pada sebatang pohon. Bivak dibongkar, dan dilipat kembali. Kemudian, mereka membagi diri kedalam dua kelompok. Setiap kelompok beranggotakan sepuluh orang.

Kelompok pertama dipimpin Utux, menjelajah tebing kars sampai ke barat. Kelompok kedua dipimpin Lalake, menjelajah hutan lebat ke selatan.

Mereka bersepakat, sebelum matahari tenggelam, berkumpul kembali dibawah pohon tempat sampan ditambat. Semua setuju, kemudian mereka meninggalkan tambatan perahu, menerobos hutan lebat.

Diantara pohon raksasa yang menjulang tinggi, mereka mulai menapaki lantai hutan. Utux berjalan didepan, diikuti Miyax dan delapan temannya.

Sepelemparan batu dari lokasi perahu ditambat, Utux menemukan ceruk dangkal dibalik rumpun bambu. Mereka memanjat tebing dengan menumpukan kaki pada cadas kars, akhirnya sampai dimulut ceruk.

Beberapa hewan melata berlarian ketakutan, lalu menghilang dibalik bebatuan. Utux menyungkil permukaan tanah menggunakan tombak bermata batu granit.

Dia sedang mencari benda peninggalan orang yang pernah menetap disitu. Untuk urusan seperti itu, Utux memang ahlinya. Dia pencari jejak nomor satu di kalangan suku Bun.

Semua yakin, mereka akan menemukan suatu benda yang dapat memberi informasi tentang ceruk itu. Dari benda yang nantinya ditemukan, mereka bisa menyimpulkan, apakah aman menetap disitu atau tidak.

Utux tiba-tiba menemukan batu semacam kapak genggam, bentuknya agak bulat. Ada satu lagi kapak penetak, yaitu kapak batu yang digunakan untuk memotong kayu dan menggali tanah.

“Orang-orang Hoabinh pernah menetap disini,” ungkap Utux.

“Artinya?” tanya Miyax.

“Kita bisa tinggal disini,” imbuh Utux.

Disitu ada empat ceruk, berjejer dari timur ke barat. Ceruk itu berada ditebing terjal, jaraknya sepelemparan batu dari bibir danau.

Kemudian, Utux mengukur luas ceruk pertama dengan tombak, panjang tombak sekitar 2 meter. Lebar ceruk pertama, dua tombak setengah, panjangnya juga dua tombak setengah. Lebar mulut ceruk pertama sepanjang empat tombak setengah, tingginya satu tombak setengah.

Utux melangkah ke ceruk kedua, lebar mulut ceruk satu tombak, panjangnya tiga tombak setengah.

Lanjut ke ceruk ketiga, lebarnya lima tombak, panjangnya juga lima tombak. Lebar mulut ceruk delapan tombak setengah, dan tingginya tujuh setengah tombak.

Beralih ke ceruk keempat, lebarnya sepuluh tombak dan panjangnya lima tombak. Lebar mulut ceruk tujuh tombak, tingginya tiga tombak.

“Kita bisa tinggal disini,” ungkap Utux.

“Ceruk yang mana?” tanya Miyax.

“Ini dan ceruk keempat,” saran Utux.

Mereka sepakat, ceruk pertama dan kedua, akan dijadikan sebagai tempat ritual. Disana mereka memuja dan menyembah hanifu dan roh leluhur.

Setelah itu, mereka berjalan menuju ke barat. Melewati hutan berkanopi lebat, cahaya matahari nyaris tak tembus ke lantai hutan. Bunyi berisik langkah manusia, beberapa hewan disana berlarian menyelamatkan diri.

Hampir dua ribu langkah telah berjalan, lima pasang penutur Austronesia itu menemukan ceruk baru. Sama seperti ceruk sebelumnya, pintunya ditutupi oleh rumpun bambu.

Bila dipandang dari kejauhan, tak terlihat ada ceruk dibalik rumpun bambu itu. Begitu mendekat, baru terlihat mulut ceruk yang tingginya tiga tombak, dan luasnya hampir dua puluh tombak. Letaknya di sebuah tebing terjal dipenuhi bebatuan kars.

Ukuran ceruk ini lebih lebar dari ceruk di pinggir danau tadi. Disitu, Utux kembali menemukan benda peninggalan orang-orang Hoabinh.

Ternyata, mereka bukan manusia pertama yang tiba ditempat itu. Hanya saja, Utux dan kawan-kawan belum menemukan jawaban, kenapa orang-orang hoabinh meninggalkan tempat itu atau mereka wafat disana. Kesimpulan mereka, ceruk tersebut layak ditempati.

Sementara tujuh temannya sedang membersihkan bagian dalam ceruk, Utux dan dua temannya masuk kedalam hutan lebat didepan ceruk.

Tak lama kemudian, Utux dan dua temannya kembali dengan memanggul dua ekor babi hutan. Menu makan siang itu dipanggang didalam ceruk. Kekenyangan, mereka pun terlelap dalam ceruk bernama Ujung Karang.

Menjelang senja, mereka membopong seekor babi hutan menelusuri tebing utara. Kembali ke tambatan perahu, sesuai janji pagi tadi, bertemu disitu dan menceritakan hasil ekspedisi masing-masing .

Disana, kelompok Lalake sedang menguliti seekor ular piton. Rupanya, mereka berburu ular raksasa di rawa-rawa berhutan lebat.

Memang, kulit ular piton sangat berharga bagi suku Bun. Sering kulit ular itu dijadikan jubah atau alas kaki. Status sosial si pemakai kulit ular akan naik di komunitasnya.

Malam itu, ditengah hangatnya api unggun dan gurihnya daging ular panggang, Utux mulai bercerita.

Kelompok mereka menemukan ceruk yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal. Lokasinya sangat dekat, hanya sepelemparan batu dari situ.

Satu lagi, ceruknya lebih luas. Jaraknya sekitar dua ribu langkah dari tambatan perahu itu. Kedua ceruk itu sudah pernah ditempati oleh orang-orang hoabinh.

“Bisa ditempati?” tanya Lalake.

“Bisa,” tegas Utux.

Kemudian, Lalake menceritakan ekspedisinya ke rawa-rawa berhutan lebat. Disana, kisah Lalake, banyak hewan buruan. Bukan hanya rusa dan babi hutan, ular pun sangat banyak.

Kawasan itu landai dan basah, ada beberapa aliran sungai kecil, cocok untuk ladang basah dan sayuran.

Pohon-pohon disana sungguh besar. Besarnya rata-rata seukuran setengah tombak. Ada beberapa pohon, lingkarannya harus dipegang oleh tiga orang.

Mereka sepakat, sebelum mendirikan gubuk dan permukiman, sementara menetap dalam ceruk yang berdekatan dengan danau.

Mereka sepakat ceruk dekat tambatan perahu itu diberi nama dengan sebutan dale artinya tempat tinggi, berasal dari kata dazal dalam bahasa suku-suku di Formosa.

Pelan-pelan, nama ceruk itu berubah. Bermula dari orang-orang yang akan ritual ke ceruk pertama. Ditanya temannya, mau kemana. Dijawabnya singkat, men dale. Artinya mau ke dale. Terus sebutan itu menjadi Mendale, dalam aksen suku Bun.

Bersambung…

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.