Asal Muasal, Bagian 5 : Menetap 

oleh

Novel karya Syukri Muhammad Syukri

Mereka dikenal sebagai penganut budaya Neolitikum. Budaya itu dicirikan oleh domestikasi tanaman dan hewan, kehidupan semi menetap, serta penggunaan gerabah atau tembikar serta alat batu.

Ladang berpindah menjadi bagian dari strategi subsistensi yang fleksibel dalam lingkungan baru. Strategi itu yang dibawa para penutur Austronesia, saat mereka bermigrasi ke wilayah Asia Tenggara dan Pasifik.

Sebelumnya, masyarakat Austronesia di Formosa, mengembangkan teknik pertanian meniru praktik pertanian di Tiongkok Selatan. Termasuk sistem ladang berpindah, sebagai adaptasi terhadap lingkungan tropis dan hutan lebat.

Sistem ladang berpindah atau kaingin dalam bahasa mereka, biasanya dengan cara tebang dan bakar. Cara ini, memungkinkan mereka untuk terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, mencari tanah subur.

Entah kenapa, setelah Utux dan Lalake menemukan lokasi di kaki Mendale, langsung jatuh cinta. Mereka menyukai tempat yang mirip dengan masula, rumah kelahiran mereka di Formosa.

Dari penganut budaya ladang berpindah, kayaknya mereka sepakat menjadi penganut budaya menetap atau semi menetap. Begitulah kekuatan daya tarik kawasan itu.

Selain karena sumber bahan pangan melimpah, danaunya kaya ikan, dan ada ceruk sebagai tepat pemujaan hanifu, roh leluhur.

Esok pagi, kesepuluh pasang penutur Austronesia itu sudah berada didalam ceruk Mendale. Mereka masing-masing memilih pojok yang disukai. Ada memilih didekat pintu ceruk, ada pula yang menempati sudut terdalam, seperti pilihan Utux dan Miyax.

Tiga purnama sudah mereka menetap disana, ada yang betah, bahkan ada yang ingin melanjutkan tradisi ladang berpindah.

Empat pasang anggota yang dipimpin Lalake, menyatakan keinginan berekspedisi ke arah bintang timur, di ujung timur danau.

Utux tidak keberatan, dia pun ingin pergi bersama mereka, mencari wilayah dan tanah baru. Bahkan mengajak kesembilan belas temannya, agar bersedia ikut ekspedisi menjelajah danau.

Tiba-tiba Miyax membisikkan sesuatu ketelinga Utux, katanya dia hamil. Utux kaget, langsung menegaskan tidak ikut ekspedisi. Para penutur Austronesia itu protes, dan bertanya: kenapa?

“Isteriku hamil,” ungkap Utux merangkul bahu Miyax.

“Selamat!” pekik mereka, berlari memeluk Miyax.

Esok, usai melepas Kilet bersama tujuh orang suku Bun berlayar menuju bintang timur, mereka kembali ke ceruk. Disana Utux diskusi dengan Miyax. Demi menjaga jabang bayi di perut Miyax, mereka perlu privasi dan tempat tinggal terpisah.

Utux berdiri, mengumumkan kepada teman-temannya, bahwa mereka akan mendirikan gubuk sendiri.

“Kenapa harus berpisah,” tanya Bai, isteri Lalake sambil memeluk Miyax.

“Tak berpisah. Kami tinggal didekat sini juga,” ungkap Miyax.

Kemudian, Utux menetapkan lokasi gubuk. Dia menunjuk bukit kecil di barat daya mereka, hanya sepelemparan batu dari bibir ceruk Mendale.

“Kalau disitu, kami setuju!” pekik Bai diikuti oleh penutur Austronesia lain.

Ditemani dua lelaki, Utux menuju ke bukit kecil itu. Lalake dan dua lelaki lain menebang bambu dengan kapak persegi didepan ceruk. Kerjasama gotong royong mendirikan rumah merupakan tradisi turun temurun suku-suku Austronesia.

Di bahu bukit kecil, di barat laut ceruk Mendale, sudah berdiri sebuah gubuk bambu. Beratap daun tepus (serule) disisip dengan ilalang.

Gubuknya kecil, tetapi terlihat kokoh. Setiap sambungan dan persilangan bambu, diikat dengan tali ijuk berwarna hitam. Tali ijuk itu berasal dari tanaman aren yang tumbuh banyak di tebing-tebing disitu.

Dari halaman gubuk yang menghadap ke danau, Utux bisa melihat aktivitas teman-temannya didalam ceruk, begitu pun sebaliknya. Hanya dengan bahasa isyarat, mereka bisa saling berkomunikasi, kapan saja.

Tiga purnama kemudian, di bahu bukit kecil itu telah berdiri enam gubuk lain. Gubuk itu pun dikerjakan secara gotong royong. Begitulah budaya turun temurun dalam tradisi suku Bun.

Berdirinya gubuk-gubuk itu, memastikan bahwa mereka akan menetap disana. Menetap untuk waktu yang cukup lama, barangkali sampai beranak pinak.

Gubuk menjadi tempat para perempuan beraktifitas. Hari-hari mereka disibukkan dengan urusan rumah tangga. Seperti merajut, menganyam, menenun dan membuat gerabah.

Fokus itu dikerjakan, karena beberapa perempuan disana memastikan dirinya sedang mengandung. Perlu persiapan menyongsong kelahiran bayi.

Begitu pula dengan Miyax, dia sedang asyik menenun kain dari serat agave sisalana dan kreteng, tanaman semak yang banyak ditemukan disana. Bagaimana Miyax memperoleh serat dari tanaman itu? Daun agave sisalana dan kulit tanaman kreteng direndam dalam lumpur. Setelah kulit tanaman itu membusuk, tersisa serat.

Seratnya mirip rami, berwarna putih. Lalu sebagian direbus dengan kulit kayu gesing. Warna serat berubah menjadi hitam. Dipilin sebagai benang, lalu ditenun. Hasilnya selembar kain panjang berwarna hitam.

Kain itu mereka sebut kijo, yang memiliki banyak fungsi. Bisa digunakan sebagai selimut, kain gendong, selendang atau penutup kepala. Paling utama, kain itu sebagai bakal pakaian.

Miyax mempersiapkan banyak kain untuk bakal popok dan pakaian bayi. Diperkirakan, bayi Miyax akan lahir saat purnama depan.

Sudah beberapa pakaian hangat dijahit Miyax. Kain kijo itu dipotong menggunakan kulit kerang yang dibawanya dari Kuala Cerape.

Sekarang, dia sedang menyulam motif segitiga warna merah, kuning, dan hijau di bagian leher dan lengan baju bayi.

Benang warna warni itu diperoleh dengan merendam serat kreteng dan serat agave sisalana kedalam rebusan air berisi resin buah jernang. Hasilnya serat warna merah.

Direbus dengan kunyit, hasil serat berwarna kuning, dan direbus dengan daun suji hasil serat berwarna hijau.

Sedangkan serat warna hitam berasal dari hasil rebusan serat agave sisalana dan kreteng dengan kulit kayu gesing. Dan, hasilnya adalah serat berwarna hitam.

Serat hitam itu dipilin menjadi benang yang digulung pada seruas bambu. Benang-benang itulah yang nantinya ditenun menjadi kain panjang berwarna hitam yang bernama kijo.

Miyax memberi segaris, atau tiga garis benang putih. Benangnya membujur atau melintang dipenampang kain kijo. Membubuh benang di penampang kain kijo merupakan tanda khas masing-masing penenun.

Menenun adalah skill dasar yang diajarkan orang tua suku Bun kepada anak-anak mereka. Bukan hanya Miyax yang pandai menenun, perempuan disana, semuanya andal dan terampil menenun kain.

Kain kijo hitam itu dijahit menjadi pakaian. Jarumnya dibuat dari sepotong tulang hewan. Potongan tulang diasah diatas permukaan batu berpasir, sampai kecil dan runcing runcing. Pangkalnya dilubangi dengan sepihan batu tajam yang banyak ditemukan disana.

Bukan itu saja, lantai hutan disekitar gubuk, ditemukan banyak tanah liat. Tanah itu, oleh Miyax dan Utux dibuat gerabah untuk berbagai keperluan. Gerabah-gerabah itu bagian dari persiapan menyongsong kehadiran bayi pertama.

Mereka membuat guci, wadah ritual, kendi, periuk dan belanga. Permukaan gerabah, dibikin pola hias. Ada berbentuk segi tiga, garis-garis, sampai menyerupai gelungan melingkar tanaman merambat. Pendeknya, apa yang mereka lihat disana, itu yang dituangkan dalam pola hias gerabah.

Kecuali guci, warna gerabah bikinan Miyax semuanya berwarna hitam. Kenapa bisa? Sebelum dibakar, bakal gerabah lebih dahulu direbus dengan kulit pohon gesing. Pohon keras yang menjadi kayu bakar para penutur Austronesia.

Air rebusan itu berwarna hitam, lalu diserap permukaan gerabah. Alhasil, gerabah bikinan Miyax akan berwarna hitam.

Setiap pulang berburu, Utux selalu membawa pulang beberapa gulung rotan. Rotan dibelah, ada yang dipilin menjadi tali, sisanya dianyam sampai menjadi sebentang tikar.

Kreativitas mereka tak berhenti pada rotan. Tanaman berongga bernama kertan, banyak tumbuh dalam rawa-rawa di pinggir danau, dikumpulkan.

Kemudian, dijemur sampai kering. Sebagian disusun diatas bale-bale dalam gubuk sebagai alas tidur. Sisanya dianyam menjadi tikar. Semua itu dipersiapkan untuk menyongsong kelahiran si buah hati.

Bersambung…

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.