Novel karya Syukri Muhammad Syukri
Dalam pelayaran ke barat, beberapa kali anggota suku Bun menetap sementara di pulau-pulau kecil sepanjang Selat Malaka. Meskipun ada keluarga yang betah disana, sebagian lagi tetap melanjutkan pelayaran ke barat, mencari tanah tinggi.
Tanah tinggi seperti apa? Mereka pun tak bisa merinci. Hanya mengandalkan perasaan dan kecocokan. Bila spirit seni mereka mengatakan tempat itu cocok, menetaplah mereka disana.
Kelompok suku Bun itu terus berlayar mengikuti garis pantai sebuah pulau besar menuju ke barat. Setiap kali melepas pandang ke arah garis pantai itu, hanya terlihat hamparan nyiur dan pohon bakau. Itu dataran rendah, bukan tanah impian suku Bun.
Pagi itu, saat sinar mentari memancar dari timur, cahayanya menghangatkan bahu-bahu penuturAustronesia itu. Mereka haus ingin minum. Baru sadar, ternyata persediaan air tawar sudah habis.
Dengan menggunakan bahasa isyarat, kedelapan keluarga suku Bun itu sepakat, menepikan perahu layar bercadik ke sebuah muara sungai.
Muara sungai itu cukup indah, nyiur disana masih diselimuti kabut. Muara sungai tersebut seperti memisahkan dya bilah pantai pasir putih. Pantai itu berkilau diterpa sinar matahari, bahkan sampai menyilaukan mata.
Disana sungguh sepi, seperti pulau tak berpenghuni. Hanya ada barisan pohon nyiur, diantara hutan bakau. Sesekali ditimpali kicau burung dan suara hewan liar.
Perahu-perahu layar bercadik menepi ke muara sungai. Beberapa garangan atau cerape, mamalia karnivor dari keluarga Herpestidae, melongok ke arah suku Bun yang sedang turun dari perahu. Lalu mamalia menggemaskan itu berlarian.
Kawanan garangan itu pun menghilang satu persatu, sembunyi didalam semak dibawah pohon nyiur. Anggota suku Bun sangat paham, bahwa tempat yang dihuni garangan, pasti tidak dihuni oleh reptil berbisa.
Garangan atau dikenal pula dengan nama cerape, adalah predator utama bagi hewan melata. Makanya, ular dan sejenisnya akan menjauh dari sarang mamalia tersebut. Artinya, disitu adalah tempat menetap yang aman dari hewan melata.
Suku Bun bisa membaca fenomena itu. Para kepala keluarga memerintahkan anggotanya untuk menurunkan semua perbekalan dari dalam perahu layar bercadik.
Kemudian, perahu ditarik ke darat sampai kebawah pohon nyiur. Diikat dengan tambang serat rami ke batang pohon nyiur. Aman, perahu tak mungkin lagi dihanyutkan ombak.
Kepala keluarga, dan lelaki paruh baya menuju ke hutan bakau. Menebang pohon yang seukuran lengan dengan kapak batu. Diraut, dibersihkan cabang dan daunnya, lalu dibopong ke bawah pohon nyiur, letaknya sepelemparan batu dari bibir pantai.
Disitu, para lelaki paruh baya tadi mendirikan gubuk, tiangnya menggunakan batang pohon bakau. Dinding dan atap digunakan dahan dan daun nyiur. Sederhana, tetapi sudah memadai untuk menahan hembusan angin laut.
Sewaktu lelaki dewasa menebang pohon bakau, remaja laki-laki suku Bun memanjat pohon nyiur. Di pucuk pohon nyiur, mereka memotong dahan nyiur, dan menjatuhkan puluhan buah nyiur.
Buah nyiur yang berserakan di pantai berpasir putih itu, dibelah dengan kapak batu oleh para perempuan suku Bun. Airnya diminumkan untuk anak-anak yang sudah kehausan sejak pagi tadi.
Sementara daging buah berwarna putih dicungkil, dikumpulkan diatas alas daun nyiur, lalu dimakan bersama. Rasanya enak, gurih dan lemak. Itulah sarapan pagi pertama suku Bun setelah mendarat di muara sungai itu.
Disana sudah berjejer delapan gubuk beratap daun nyiur. Dindingnya dari puluhan lembar bled, daun nyiur yang dianyam seperti tikar. Kemudian, masing-masing keluarga menempati satu gubuk.
Melihat kesungguhan mereka mendirikan gubuk, sepertinya ada rasa betah ingin menetap di muara Sungai Pesangan, bernama Kuala Cerape. Disebut Kuala Cerape, karena muara sungai itu dihuni oleh ribuan garangan, mamalia imut tetapi paling ditakuti oleh ular.
Setelah menetap disana, hari-hari lelaki suku Bun dilalui dengan berburu. Wilayah perburuan bermula disekitar Kuala Cerape, makin lama semakin luas. Merambah ke selatan, dengan melayari Sungai Pesangan sampai terhenti Tepin Mane. Itu pun karena disana banyak batu besar yang tak bisa dilalui perahu.
Perahu ditambat pada sebatang pohon, dengan tombak ditangan, para lelaki suku Bun menapaki tepian Sungai Pesangan. Berhari-hari mereka berjalan ke hulu, ditemukan banyak jejak aneka hewan liar. Mereka menandai wilayah itu sebagai kawasan berburu suku Bun.
Sumber protein suku Bun diperoleh dari hasil buruan di kawasan itu. Sekonyong-konyong, hewan buruan tak pernah habis. Setiap pekan, mereka berhasil menangkap puluhan babi hutan dan rusa. Daging hewan itu cukup memberi makan anggota komunitas untuk waktu satu purnama.
Sewaktu lelaki suku Bun berburu, para perempuan dan anak-anak memanfaatkan waktu memilin sabut kelapa menjadi tali. Kemudian, gulungan tali itu ditenun menjadi rompi, dianyam menjadi karung, tikar dan penyekat kamar.
Tak terasa, balita dan anak-anak suku telah beranjak dewasa. Mereka pun saling jatuh cinta. Berlanjut ke tahta perkawinan, lalu mereka mendirikan gubuk baru. Kini, dari delapan unit gubuk, bertambah menjadi 24 unit.
Dan, perkembangan komunitas suku Bun berlangsung cepatbselama bertahun-tahun. Kuala Cerape, dari kawasan sepi berubah menjadi permukiman suku Bun. Semua bekerja menghidupi keluarganya, lelaki berburu dan mencari ikan di laut, sementara para perempuan merajut, menenun, dan bercocok tanam disamping gubuknya.
Sore itu, sepuluh pasang pengantin baru sedang merayakan pernikahan. Mereka bersila mengitari api unggun di pantai Kuala Cerape. Merayakan hari bahagia dengan memanggang puluhan ikan kakap merah diatas bara api unggun.
Sambil menyicipi gurihnya daging kakap merah, Utux bercerita tentang binatang besar berbelalai panjang. Katanya, dari mulut binatang itu keluar tanduk tajam berwarna putih. Suaranya keras, seperti guruh.
Sewaktu mendampingi bapaknya berburu, Utux pernah melihat sekelompok hewan berbelalai tersebut sedang melintasi sungai. Karena takut, Utux dan para pemburu bersembunyi dalam semak-semak, mengintip hewan raksasa itu dari kejauhan.
“Kami tak berani menombaknya,” ungkap Utux yang dikenal sebagai pemburu pemberani dalam komunitas suku Bun.
“Kenapa?” tanya Lalake heran.
“Badan binatang itu sebesar gunung,” ungkap Utux.
“Waduh,” pekik mereka serentak, antara percaya dan tidak.
Utux menambahkan, kaki hewan itu saja sebesar pohon nyiur. Telinganya selebar tikar, badannya sebesar bukit. Takut melihatnya, imbuh Utux. Mereka terkesima membayangkan ada hewan sebesar itu.
Ditengah keheningan itu, Miyax isteri Utux mencoba memecah suasana. Menarik lengan Bai, isteri Lalake. Lalu semua berdiri, mereka mulai menari dan bernyanyi sambil berpegangan tangan, bergerak mengitari api unggun.
Lelah menari, mereka kembali bersila mengelilingi api unggun. Menyicipi potongan daging gurih kakap merah yang tersisa.
Tetiba Lalake kembali membuka pembicaraan tentang hewan berbelalai itu. Dia bertanya, apakah tanduk hewan itu mirip seperti tanduk banteng.
Utux mengatakan, tanduk bintang itu bukan tumbuh di kepala, tetapi diantara mulutnya. Warnanya sangat cantik, putih kekuning-kuningan, mengkilap dan berkilau. Ujungnya runcing, cocok dijadikan mata tombak.
Cerita Utux membikin pasangan muda disana semakin penasaran. Mereka saling berpandangan, mengangguk-angguk. Muncul keinginan untuk menyaksikan langsung hewan sebesar bukit itu.
“Dengan tenaga 20 orang, pasti hewan itu bisa dikalahkan,” tantang Lalake.
“Ha, hewan itu bukan satu, tapi banyak!” ungkap Utux.
Hening, hanya terdengar bertik api dari unggun yang semakin membesar. Mereka masing-masing sedang memikirkan, bagaimana cara mengalahkan puluhan ekor hewan bertubuh sebesar bukit.
“Kita lihat dulu hewan itu,” usul Miyax isteri Utux.
“Setuju!” teriak mereka serempak.
Malam itu, sepuluh pasangan pengantin muda tersebut sepakat untuk melihat hewan bertubuh raksasa. Mereka sepakat, ekspedisi tersebut dipimpin oleh Utux.
Karena, lelaki bertubuh kekar itu cukup berpengalaman dalam urusan berburu, pandai mencari jejak, paham seluk beluk hutan dan area berburu. Pastinya, dia tahu titik lokasi tempat binatang raksasa itu melintas.
“Besok pagi, saat matahari sepenggalahan, kita berangkat. Bawa semua perlengkapan berburu,” perintah Utux.
“Baik,” jawab Lalake dan pasangan pengantin yang lain.
Pagi itu, Utux dan Miyax sudah mengantongi semua peralatan berburu. Mulai dari tombak bermata batu yang sangat tajam, kapak, dan pisau batu.
Dalam tas kulit yang tersandang dibahu Miyax, ada bekal makanan berupa daging dan ikan kering, biji-bijian, dan kulit kerang. Sekantong air minum sudah tergantung di pinggang Utux dan Miyax.
“Ina, kami dan kawan-kawan akan berburu ke tanah tinggi,” Utux yang didampingi Miyax melongok kedalam gubuk, minta izin kepada ibunya. Dalam bahasa para penutur Austronesia, bapak dipanggil ama dan ibu dipanggil dengan sebutan ina.
“Baik. Kapan kembali?” tanya Babai, ibunya Utux.
“Sampai berhasil menangkap binatang yang bertubuh sebesar bukit. Kalau belum dapat, mungkin kami terus menunggu disana,” janji Utux, dan ibunya mengangguk.
“Hati-hati. Jaga keselamatan,” nasehat ibunya.
“Tolong ina beritahu ama, kami berburu ke hulu sungai,” mohon Utux. Pagi itu, bapaknya belum pulang dari melaut, makanya Utux menitip pesan melalui ibunya.
” Baik,” kata ibunya membelai rambut Utux dan Miyax.
Melepas kepergian anak menantu mencari tempat baru, merupakan hal lumrah dalam tradisi suku Bun. Sebab, anak yang sudah menikah tidak tinggal bersama ibu dan bapaknya. Mereka mendirikan keluarga baru, baik didalam wilayah komunitas itu atau di wilayah baru. Dengan begitu, mereka bebas mengelola dan menata rumah tangga sendiri.
Artinya, apabila Utux dan Miyax ingin menetap di permukiman Kuala Cerape, dipersilakan. Merantau mencari dan membuka wilayah baru, itu pun tidak dilarang. Atau mau berlayar ke utara dan selatan, diserahkan sepenuhnya kepada keinginan si anak.
Begitulah tradisi suku Bun. Dan, para orang tua sama sekali tidak khawatir, karena si anak sudah dibekali dengan berbagai keterampilan. Bukan hanya keterampilan berburu dan bercocok tanam, tetapi skill bertahan hidup, navigasi dan bela diri.
Menjelang siang, sepuluh pasang pengantin baru dari Kuala Cerape menapaki tepi Sungai Pesangan, menuju ke selatan. Salah satu perlengkapan pemburu yang wajib dibawa adalah bivak kecil dari kulit hewan. Benda itu disandang setiap orang di punggung masing-masing. Makanya begitu bertemu malam, mereka langsung mendirikan bivak dan menyalakan unggun.
Lebih sepekan sudah menelusuri tepian Sungai Pesangan, belum jua bertemu binatang raksasa yang diceritakan Utux. Berulangkali ditanyakan anggota rombongan, Utux menjelaskan bahwa lintasan binatang raksasa itu masih jauh di hulu.
Meski belum bertemu binatang bertubuh sebesar gunung, sebenarnya mereka merasa asyik. Makin jauh masuk kedalam hutan, semakin banyak binatang buruan. Sisa daging setelah dikonsumsi, diasapi sampai kering. Itulah cadangan pangan dalam tas sandang mereka.
“Disitu lintasan hewan sebesar bukit itu,” sebut Utux menunjuk genangan air ditengah-tengah aliran Sungai Pesangan.
Mereka melongok ke arah tempat yang ditunjuk Utux. Benar, disana ada genangan air, berawang namanya. Airnya tenang, tidak beriak ditengah-tengah derasnya aliran sungai.
Imbuh Utux, didalam genangan air itulah kawanan hewan raksasa berendam. Mandi, dan saling menyemprotkan air dari belalainya. Air itu dihisap melalui belalai, kemudian disiram ke badan binatang disampingnya.
Tempat itu dikemudian hari dinamakan Berawang Gajah, tempat kawanan gajah berendam dan berkubang. Dan, hewan bertubuh sebesar bukit yang mereka ceritakan, ternyata gajah.
Satu purnama lebih sudah menanti dalam semak-semak, belum jua terlihat batang hidung hewan raksasa itu. Mereka mulai bosan.
Sebenarnya pengetahuan mereka tentang gajah masih kurang. Kawanan gajah tidak setiap hari melintasi suatu wilayah, tergantung musim dan jarak jelajah. Waktunya bisa bulanan, atau bahkan tahunan.
Barangkali gajah yang dilihat Utux sedang mandi di Berawang Gajah, saat itu sudah berada lembah Pamar atau kaki gunung Peut Sagoe. Disitu kawasan yang kaya tanaman pisang dan tebu, makanan utama gajah. Bila begitu ceritanya, tentu dua belas purnama kemudian, kawanan gajah itu akan melintas lagi disana.
“Mungkin binatang itu sudah ke hulu sungai,” duga Lalake.
“Boleh jadi,” imbuh Miyax meyakinkan anggota rombongan yang lain. Kemudian mereka sepakat dengan Lalake, ekspedisi dilanjutkan ke hulu sungai.
“Baik. Lipat bivak, kita lanjutkan perjalanan ke hulu,” perintah Utux sambil melipat bivak miliknya.
Meninggalkan Berawang Gajah, mereka mulai meniti tebing, mendaki bukit dan gunung. Mengikuti kontur Sungai Pesangan yang berair deras. Terkadang menginap ditepi sungai, tidak jarang harus bermalam diatas bukit.
Bersambung…





