Novel karya Syukri Muhammad Syukri*
Dua purnama lebih sudah melangkah mengikuti kontur Sungai Pesangan, tak satu gajah pun terlihat. Mereka malah makin jauh masuk kedalam hutan belantara. Disana mereka berpapasan dengan harimau, kawanan rusa, babi hutan, kancil, dan ular piton.
Binatang-binatang itu jadi target perburuan mereka. Keasyikan, mereka sampai lupa akan tujuan utama, memburu gajah. Kini, mereka mengejar rusa dan babi hutan. Diwaktu yang lain, Utux berlari dan melompat sambil melempar tombak ke badan harimau.
Utux si pemburu tangguh, berhasil menombak harimau. Oleh Miyax, isterinya, kulit harimau dijemur sampai kering. Kemudian dipotong dengan kulit kerang, dijahit memakai usus harimau yang sudah kering, jadilah semacam rompi loreng dibadan Utux.
Semakin jauh menerobos hutan belantara, suhu udara semakin dingin. Mereka menambah pakaian. Didalam, dua lapis pakaian berbahan serat rami, ditambah jubah atau rompi berbahan kulit hewan buruan.
Setelah pakaian dan celana dilapis dengan kulit hewan buruan, tubuh para penutur Austronesia itu pun mulai hangat. Perjalanan dilanjutkan dengan mendaki bukit dan tebing terjal.
Suatu pagi, mereka terbangun diatas bukit. Di timur, terlihat matahari terbit dari sebalik sebuah gunung raksasa. Ketika berada di Berawang Gajah, gunung itu sudah terlihat. Cukup tinggi ditengah-tengah padang savana. Puncaknya menembus awan.
Kini, gunung raksasa itu sudah setara tingginya dengan bukit tempat mereka bermalam. Artinya, mereka sedang berada di ketinggian yang sama dengan gunung raksasa itu.
Sudah beberapa purnama berlalu, toh hewan raksasa bernama gajah, tak jua ditemukan. Namun, semangat kesepuluh pasang anak manusia tak kunjung surut. Mereka terus melangkah menerobos hutan belantara berkabut, demi memburu hewan bertubuh sebesar bukit itu.
Suhu udara makin dingin, mantel dan jubah yang membungkus tubuh, serasa tak memadai menghempang rembesan udara dingin. Setiap mengaso dan bermalam, mereka selalu menyalakan unggun untuk menghangatkan badan.
Mereka tidak tahu, dimana posisinya saat itu. Satu hal yang dirasakan, tempat itu persis dengan rumah mereka, di dataran tinggi Pulau Formosa. Dingin, berkabut, penuh tegakan pohon menjulang ke langit.
Menyadari kondisi itu, mereka pun bernyanyi sambil menepuk-nepuk telapak tangan. Menari mengitari api ungun, sementara pasangan yang lain membolak-balik daging panggang diatas bara api.
“Seperti berada di masalu,” celetuk Utux sambil mengunyah daging panggang.
“Benar,” tambah Miyax membolak-balik daging diatas bara api.
Utux teringat saat masa kanak-kanak, berlarian bersama Miyak dibawah tegakan pohon. Tempat bermain mereka didekat rumah, hanya sepelemparan batu dari pagar kampung.
Tetiba Miyax terpelest, jatuh kedalam danau yang airnya nyaris beku. Reflek, Utux ikut melompat kedalam danau. Satu tujuannya, ingin menyelamatkan Miyax.
Sebelum menyentuh permukaan air, Utux malah pingsan. Dia mengapung diatas pecahan tumpukan es. Alhasil, Miyax yang bersusah payah menarik lengan Utux ke pinggir danau. Selamatlah Utux dari bencana membeku dipermukaan danau.
Sejak itu, Utux makin akrab dengan Miyax. Kemana-mana selalu berdua, sampai akhirnya saling menyukai, dan tumbuhlah benih cinta.
Miyax memang gadis tercantik di suku Bun. Bertumbuh tinggi, hidung mancung, kulit terang. Rambut hitam lurus sampai sepinggang. Paling istimewa, Miyax sangat pintar menenun, merajut dan menyulam.
Bukan itu sisi yang paling disukai Utux dari seorang Miyax. Dia itu gadis itu pemberani, dan jago berkelahi. Di Formosa, mereka pernah bahu membahu melawan anak-anak sebaya dari suku sebelah. Meski kalah jumlah dan babak belur, mereka tidak menangis.
Dalam suku Bun, anak-anak seusia Utux rerata menyukai Miyax. Hanya saja, mereka tidak berani mengungkapkan perasaan. Takut, karena Miyax langsung menonjok siapa pun yang menyinggung perasaannya.
Hanya Utux yang berani menyatakan perasaan cinta, itu pun ketika Miyax terpeleset saat turun dari perahu di Kuala Cerape. Terjerembab, namun tangan Utux cepat memangku dan memeluknya. Selamatlah Miyax dari derasnya air muara sungai di Kuala Cerape.
Saat itu, bola mata mereka sempat saling bertatapan. Ada rasa gelora asmara dalam bola mata mereka. Setelah mengungkapkan perasaan, ternyata mereka sudah saling menyukai.
Dan, beberapa tahun kemudian, Utux menggoda Miyax, mengajaknya menikah. Eh, Miyax mengangguk setuju. Jadilah mereka pasangan suami isteri.
“Untung waktu itu kau selamatkan aku. Kalau tidak, kita nggak pernah sampai disini,” kenang Utux.
“Ya, itulah jodoh kita,” hibur Miyax tersenyum.
Begitu matahari terbit, mereka mulai meniti langkah di pematang sungai menuju ke hulu. Sepi, hanya beberapa ekor babi berlarian, ketakutan melihat sepuluh pasang manusia.
Hanya terdengar deru air dari jeram-jeram kecil, yang menghempas air ke atas bebatuan. Bedanya, air sungai semakin jernih. Berbeda dengan warna air di Kuala Cerape, keruh terkadang berlumpur.
Menjelang matahari terbenam, tibalah di hulu sungai. Aliran air begitu tenang, seperti tak bergerak. Diselimuti kabut tebal sehingga jarak pandang sangat terbatas. Hanya ada sebuah bukit kecil dipenuhi pohon pinus, disebelah kiri sungai.
“Kita bermalam di bukit itu,” usul Utux.
“Cocok,” sebut Lalake dan teman-temannya.
Naiklah mereka kesana meniti batu di bahu bukit. Licin, karena permukaan batu lembab. Bukit itu dipenuhi pohon pinus merkusi, dan semak belukar dipinggir tebing.
Di puncak bukit, ada hamparan landai, disanalah, dibawah tegakan pohon pinus merkusi, masing-masing mendirikan bivak. Saat angin timur berhembus, suhu udara di puncak bukit itu sangat dingin.
Dinyalakan unggun menggunakan dahan pohon pinus merkusi dan ranting tanaman semak sebagai bahan bakar. Api menyala, lalu membesar dan menghantar kehangatan. Mereka pun terlelap dibawah selimut kulit harimau dan kulit srigala, dalam bivak kulit masing-masing, yang sudah berwarna kusam.
Matahari sudah sepenggalahan, toh mereka belum jua bangun. Suhu dingin membikin tidur penutur Austronesia itu makin nyenyak. Meski Utux memanggil mereka berulangkali, tak satu orang pun bergeming.
“Apa?” tetiba Miyax berteriak dari dalam bivak.
“Masalu!” pekik Utux menunjuk kabut yang menutupi kawasan itu.
“Mana rumah kita?” tanya Miyax bergegas keluar dari bivak.
Dia berdiri disamping Utux yang sedang menunjuk kabut dan matahari berwarna merah. Memang, apabila matahari tertutup kabut tebal, bagai bola bulat berwarna merah.
“Benar. Seperti di rumah kita,” desis Miyax merangkul lengan kanan Utux dan menyandarkan kepala dibahu sang pemburu itu.
Memang kawasan pegunungan itu hampir setiap hari diselimuti kabut. Bukan hanya dipagi hari, bahkan siang dan sore pun sering ditutupi kabut. Bahkan serinh didatangi awan rendah.
Makanya, berdiri diatas bukit itu, persis berdiri diatas awan. Karena, awan rendah tadi berada di kaki bukit, sampai menutupi permukaan sungai. Hanya bukit itu yang menyeruak keatas, diantara hamparan awan putih.
“Masalu,” pekik Miyak dengan suara melengking.
Utux dan Miyax melompat kegirangan, lalu Miyax menyanyikan Tabutbut dengan suara polifonik. Dia menarik lengan Utux, menari mengitari api unggun. Sangat gembira, karena telah menemukan tempat yang mirip kampung halaman di Pulau Formosa.
Suara riuh itu membangunkan Lalake dan pasangan pengantin yang lain. Mereka bingung, kenapa Utux dan Miyax menari-nari. Keluar dari bivak, lalu, Utux menunjuk ke matahari berwarna merah. Lalake dan para penutur Austronesia itu terpesona.
“Masalu!” pekik mereka serentak.
Masalu artinya rumah dalam bahasa suku Bun. Pekik itu refleksi, seolah-olah mereka sudah kembali ke rumah, di kampung halaman,di dataran tinggi Formosa.
Serentak bersimpuh, menghadap matahari bulat berwarna merah. Melakukan ritual memohon kepada hanifu, lalu menyanyikan Tabutbut. Ritual memohon kepada alam semesta, roh nenek moyang, dan para pemilik tempat.
Berselang beberapa waktu, kabut pun mulai menipis. Dikejauhan, mulai terlihat tegakan pohon. Sangat padat, berada disisi barat danau. Dan, gunung tinggi berwarna biru seperti membentengi air danau. Gunung itu persis seperti dinding wadah penampung air, yang membujur dari timur ke barat.
“Oh indahnya,” desah Miyax memegang kepala dengan kedua telapak tangannya.
Terpesona, mereka sampai bengong melihat view terindah. Mereka menatap riak air danau, mata seperti tak berkedip. Disana, air danau itu keluar melalui sungai jernih, pelan-pelan mengalir menuju ke Kuala Cerape.
Kini, mereka menjadi orang-orang dari hulu, tempat air jernih itu bermula. Ama, ina dan saudaranya di Kuala Cerape adalah orang-orang muara, para pengguna air. Begitulah, gestur yang tercermin dari wajah para penutur Austronesia tersebut.
Bersambung…





