Oleh Syukri Muhammad Syukri
Bagian 2: Suara Polifonik.
Di antara gelombang langkah yang menyusuri rimba dan batuan purba, Lintang seorang gadis belia dari suku Bun berjalan paling belakang. Namanya belum sempat dituliskan dalam anyaman sejarah, namun matanya telah menyimpan langit Formosa yang ditinggalkan dan tanah baru yang belum dijanjikan.
Angin menyelinap dari celah-celah dedaunan, membawa bisikan yang bukan sekadar udara. Ketika rombongan berhenti di tepi ceruk Mendale, sebuah lekuk bumi yang seolah menyimpan napas leluhur, gadis itu mendekat, terpanggil oleh siulan yang tak dikenal. Bukan siulan manusia, bukan pula suara burung. Melainkan nada panjang, melengkung, seolah berasal dari dalam batu dan akar, dari masa yang belum sempat dilahirkan.
Ia berdiri di ambang ceruk, rambutnya menari bersama angin, dan tubuhnya seakan menjadi tiang penyangga antara langit dan tanah. Siulan itu menyusup ke dalam dadanya, menggetarkan tulang rusuknya seperti gendang bambu yang dipukul pelan. Ia tak tahu apakah itu panggilan atau peringatan, namun air matanya mengalir tanpa sebab, seperti sungai yang tahu jalan pulang meski belum pernah diajari.
Di saat orang-orang dewasa sibuk menakar arah dan musim, gadis itu mendengar sesuatu yang lain: suara tanah yang menyambut, suara roh yang menunggu, suara masa depan yang belum punya nama. Ia tak bicara, hanya menatap ceruk itu dengan mata yang baru saja belajar melihat dunia bukan sebagai tempat, melainkan sebagai cerita.
Dan sejak hari itu, setiap kali angin bersiul dari ceruk Mendale, ia tahu: migrasi bukan sekadar perpindahan tubuh, melainkan perjalanan jiwa yang mencari gema dari asalnya.
Gadis itu berdiri mematung di depan ceruk, angin menyibak rambutnya yang masih bau matahari. Di belakangnya, Taki’na neneknya mendekat perlahan, tongkat kayu tua menjejak tanah yang belum sepenuhnya dikenali.
“Inan, angin itu bersiul. Tapi bukan seperti angin biasa. Seperti ada yang bicara dari dalam batu,” ungkap Lintang kepada neneknya yang dipanggil inan.
“Angin di tempat ini membawa suara yang tua, cucuku. Ia menyimpan jejak langkah leluhur kita. Kau mendengarnya karena hatimu belum tertutup oleh beban dunia,” ujar Taki’na, sang nenek.
“Apa mereka… para leluhur… tahu kita akan datang ke sini?” duga Lintang bingung.
“Mereka tahu. Mereka tak pernah benar-benar pergi. Ceruk ini adalah telinga mereka. Dan siulan itu… mungkin cara mereka menyambutmu,” hibur sang nenek.
“Tapi kenapa aku yang mendengarnya? Yang lain hanya lewat,” tanya Lintang heran.
“Karena kau belum lupa cara mendengar dengan jiwa. Kau masih ringan, seperti daun muda. Leluhur memilih siapa yang mereka percayai untuk menyimpan cerita,” yakinkan Taki’na.
“Apa aku harus menjawab mereka, inan?,” tanya gadis belia itu.
“Tidak dengan kata. Jawablah dengan langkahmu, dengan cara kau menjaga tanah ini, dengan cara kau mengingat. Cerita tak selalu butuh suara. Kadang cukup dengan diam yang mengerti,” imbuh Taki’na sambil memegang jemari Lintang.
Angin kembali bersiul, kali ini lebih lembut, seperti menyentuh pipi gadis itu. Ia menatap ceruk, lalu menatap neneknya. Di antara mereka, waktu seolah berhentil sejenak, memberi ruang bagi warisan yang tak tertulis.
Taki’na, si nenek, adalah penyanyi Tabutbut bersuara polifonik dimasa mudanya. Gadis-gadis suku Bun di tanah tinggi itu, tak ada yang mampu mengimbanginya.
Hari itu, dia mengajar cucunya mengiringi siulan angin dengan suara polifonik, suatu bentuk nyanyian yang mengandung lapisan suara, seperti gema roh dan alam. Dan, kata Lintang, angin masih bersiul, panjang dan melengkung, seolah menganyam benang tak terlihat antara masa lalu dan masa kini.
Gadis belia itu duduk bersila di hadapan ceruk, matanya terpejam, dadanya bergetar oleh nada yang tak bisa ia tangkap dengan telinga semata.
Neneknya duduk di samping, wajahnya keriput seperti peta sungai tua, tapi suaranya masih jernih seperti mata air. Ia mulai bersenandung, nada rendah, dalam, seperti suara bumi yang baru bangun dari tidur panjang.
“Dengarkan baik-baik, cucuku. Siulan itu bukan hanya angin. Ia adalah panggilan. Dan kita menjawabnya bukan dengan kata, tapi dengan suara yang berlapis, seperti hutan yang bernyanyi,” ujar Taki’na.
Ia mengeluarkan suara kedua, lebih tinggi, melengking lembut, seperti burung yang terbang di antara kabut. Gadis belia itu membuka mata, terpesona. Suara neneknya bukan satu, tapi dua, bahkan tiga. Lapisan nada itu saling menyilang, saling menimpa, membentuk jalinan suara yang menyerupai siulan angin itu sendiri.
“Aku tak tahu cara membuat suara seperti itu, inan,” seru Lintang bersemangat.
“Kau tak perlu tahu. Kau hanya perlu merasa. Biarkan tubuhmu menjadi gua, dan suara itu akan menemukan jalannya,” ajar neneknya.
Gadis belia itu mencoba. Suara pertamanya ragu, seperti langkah pertama di tanah asing. Tapi neneknya menyambut, mengiringi, mengangkat suara cucunya dengan lapisan nada yang lebih tua. Perlahan, suara gadis itu menemukan bentuknya, nada tinggi yang bergetar, lalu nada rendah yang menyusul, seperti akar dan daun yang saling bicara. Angin berhenti sejenak, seolah mendengarkan.
Ceruk Mendale bergema. Suara mereka berdua, nenek dan cucu menjadi satu tubuh suara, satu jiwa yang menjawab panggilan tanah. Polifoni itu bukan hanya nyanyian, tapi perjanjian: bahwa mereka datang bukan sebagai pengembara, tapi sebagai penjaga.
Dan sejak hari itu, setiap kali angin bersiul dari ceruk Mendale, suara gadis itu ikut bersenandung, membawa lapisan suara yang tak bisa ditulis, hanya bisa diwariskan.
Angin berputar lembut di antara akar dan batu. Si gadis belia duduk bersila, matanya terpejam, suara pertamanya baru saja lahir. Di sampingnya, sang nenek mengangkat suara kedua, membentuk lapisan nada yang menyatu dengan siulan alam.
“Inan, suaraku masih goyah. Seperti daun yang belum tahu arah angin,” ungkap Lintang.
“Tak apa, cucuku. Bahkan daun yang gemetar pun ikut menari. Suara bukan soal kuat, tapi soal jujur,” disemangati Taki’na.
“Aku merasa… seperti ada yang ikut bernyanyi dari dalam ceruk. Tapi aku tak melihat siapa,” ujar gadis belia itu.
“Kau mendengar roh tanah. Mereka tak punya wajah, tapi punya gema. Dan gema itu mencari tubuh untuk berdiam,” sebut neneknya, Taki’na.
“Apakah suara kita cukup untuk menjawab mereka?,” tanya Lintang, cucunya.
“Jika kau bernyanyi dengan hati yang terbuka, suara kita akan menjadi jembatan. Mereka tak butuh jawaban yang sempurna, hanya yang tulus,” diyakinkan neneknya.
“Aku ingin belajar semua lapisan suara itu. Yang rendah seperti akar, yang tinggi seperti embun,” seru gadis belia bernama Lintang.
Sang nenek tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Kau akan belajar. Tapi jangan buru-buru. Suara polifonik bukan teknik, tapi warisan. Ia tumbuh seperti pohon: perlahan, dalam, dan penuh makna.”
“Aku ingin menjadi pohon itu, inan. Yang bisa menyimpan angin dan menyuarakan leluhur,” harap Lintang memandangi pohon besar di depan ceruk.
“Dan kau akan menjadi pohon yang bernyanyi. Tapi ingat, suara bukan milikmu sendiri. Ia milik tanah, milik langit, milik mereka yang berjalan sebelum kita,” imbuh Taki’na memeluk cucunya.
Angin kembali bersiul, kali ini lebih panjang, seperti menyambut janji yang baru saja diucapkan. Gadis itu mengangkat suaranya lagi, masih rapuh, tapi kini berani. Neneknya mengiringi, dan ceruk Mendale menjadi ruang nyanyian yang tak bisa dilupakan.
Di hari-hari berikutnya, setiap kali angin bersiul dari ceruk Mendale, gadis belia itu akan berhenti dari apa pun yang sedang ia kerjakan, entah menjemur daun-daun obat, menata batu di tepi sungai, atau sekadar memintal benang dari serat pohon. Ia akan menoleh ke arah ceruk, matanya menyala seperti api kecil yang baru disulut.
“Inan,” kata Lintang pelan, tapi penuh makna. “Angin memanggil lagi.”
Dan sang nenek, meski lututnya tak lagi lentur dan napasnya kadang tersendat, akan tersenyum seperti tanah yang tahu hujan akan datang. Ia akan menggenggam tangan cucunya, dan bersama-sama mereka melangkah menuju ceruk itu, seperti dua bayangan yang saling menguatkan.
Di sana, di ambang batu dan akar, mereka akan duduk bersila. Angin akan bersiul, panjang dan melingkar, seperti sedang mencari nada yang pernah hilang. Gadis itu akan membuka suara pertamanya, tinggi, jernih, seperti embun yang jatuh di pagi hari. Neneknya akan menyusul, suara rendahnya seperti tanah yang mengingat.
Kadang suara mereka bertemu di tengah, kadang saling menjauh, membentuk lapisan-lapisan yang tak bisa ditulis, hanya bisa dirasakan. Polifoni itu bukan sekadar nyanyian, tapi ritual. Sebuah cara untuk menjaga agar tanah tetap berbicara, agar roh-roh lama tetap tahu bahwa mereka belum dilupakan.
Dan setiap kali mereka selesai bernyanyi, angin akan berhenti sejenak. Seolah mendengarkan. Seolah berterima kasih.
Lalu mereka akan pulang, tak banyak bicara, tapi tubuh mereka membawa gema. Gadis itu akan menatap langit, dan neneknya akan menatap tanah. Di antara mereka, ada nyanyian yang tak pernah benar-benar selesai.
Setelah nenek dan cucu kembali dari ceruk Mendale, dunia di sekitar mereka tampak sama, batu tetap keras, daun tetap gugur, dan langit tetap menggantung biru. Namun di dalam diri mereka, sesuatu telah berubah.
Bersambung…





