Siulan dari Ceruk Mendale, Bagian 5 : Nada dari Jemari

oleh
Kerangka manusia Loyang Mendale 2. (LGco_Khalis)

Oleh Syukri Muhammad Syukri

Bagian 5: Nada Dari Jemari.

Di pagi yang dingin, ketika kabut belum terangkat dari lembah, Lintang, gadis belia itu duduk di ambang pondok, memintal benang sambil menyusun nyanyian baru. Suara itu bukan hanya untuk Mendale, tapi untuk tanah-tanah yang pernah disentuh leluhurnya, Formosa, Kuala Cerape, dan semua tempat yang menyimpan gema yang belum dijawab.

Tapi sebelum suara itu sempat tumbuh, datanglah Dale, sang kakek, dengan langkah berat dan mata yang menyimpan sejarah. Ia berdiri di depan gadis itu, diam sejenak, lalu berkata:

“Suara kita bukan untuk dibawa keluar. Moyangmu meninggalkan wasiat: jaga tanah tinggi Mendale. Jangan biarkan suara kita menguap di tanah asing.”

Lintang menunduk, tapi tidak tunduk. Ia menjawab pelan:

“Aku tidak ingin meninggalkan Mendale. Tapi suara ini… ia memanggil. Ia ingin menjawab tanah lain, bukan untuk melupakan, tapi untuk mengingat.”

Dale menggeleng, suaranya tegas:

“Suara yang keluar akan kehilangan bentuknya. Ia akan dicampur, diputar, dan akhirnya tak kembali. Kita bukan pengembara lagi. Kita adalah penjaga.”

Gadis belia itu berdiri, matanya menyala seperti api kecil yang tak bisa dipadamkan.

“Tapi bukankah leluhur kita juga berjalan? Bukankah suara mereka dulu berpindah, dari laut ke lembah, dari lembah ke bukit? Jika mereka tak menyebarkan suara, kita tak akan ada di sini.”

Dale terdiam. Di wajahnya, ada luka yang belum sembuh, luka dari kehilangan, dari perubahan, dari suara yang pernah hilang.

“Mereka berjalan untuk menemukan rumah,” katanya akhirnya. “Dan rumah itu adalah Mendale. Wasiat mereka bukan untuk bernyanyi ke luar, tapi untuk menjaga agar suara tetap tinggal.”

Gadis itu tak menjawab. Ia hanya membuka suara, nada pertama dari Mendale, lalu nada kedua dari Kuala Cerape, lalu nada ketiga dari Formosa. Tapi kali ini, ia menambahkan nada keempat: suara pertanyaan. Suara yang tidak menentang, tapi menggugat dengan cinta.

Angin berhembus pelan, membawa suara itu ke arah ceruk. Dale mendengarkan, dan meski ia tak menyetujui, ia tahu: suara itu telah tumbuh. Dan suara yang tumbuh tak bisa dikurung.

Hari itu, kabut turun lebih berat dari biasanya. Di ceruk Mendale, suara angin seolah enggan bersiul. Gadis itu duduk di bawah pohon tua, menyusun nyanyian untuk anak-anak yang akan bermigrasi ke lembah timur danau. Ia ingin suara Mendale ikut mengalir, menjadi penanda, menjadi pelindung.

Tapi sebelum ia sempat menyanyikan nada pertama, Dale sang kakek datang. Tubuhnya tegap meski usia telah menggurat wajahnya. Ia membawa sehelai kain tua, kain warisan moyang mereka, dengan sulaman suara yang hanya boleh dinyanyikan di tanah tinggi.

“Kau berniat membawa suara ini keluar?” katanya, suaranya seperti batu yang tak bisa digeser.

Gadis itu berdiri, menatap kain itu dengan hormat, lalu menjawab:

“Aku ingin suara ini menjawab panggilan tanah lain. Bukan untuk meninggalkan Mendale, tapi untuk menyambungnya.”

Dale menggeleng, matanya tajam:

“Wasiat moyang kita jelas. Suara ini adalah akar. Ia harus tinggal. Jika kau cabut, ia akan layu.”

Gadis itu menahan napas. Ia tahu, ini bukan sekadar larangan. Ini adalah luka yang diwariskan. Dale pernah kehilangan suara, suara adiknya yang pergi dan tak kembali, suara ibunya yang dibungkam oleh tanah asing.

“Tapi suara juga bisa menjadi benih,” kata Lintang pelan. “Jika kita tanam di tanah lain, ia bisa tumbuh. Ia bisa membawa Mendale ke tempat yang tak bisa kita jangkau.”

Dale menatapnya lama. Lalu ia meletakkan kain tua itu di pangkuan gadis belia itu.

“Kalau kau benar-benar ingin membawa suara ini keluar,” katanya, “kau harus tahu seluruh nyanyian. Termasuk bagian yang tak pernah dinyanyikan. Bagian yang hanya diwariskan lewat luka.”

Malam itu, Dale menyanyikan suara yang tak pernah ia nyanyikan sejak muda, suara yang bergetar, suara yang retak, suara yang menyimpan kehilangan. Gadis itu mendengarkan, lalu menjawab dengan suara yang menyulam luka menjadi harapan.

Dan di antara mereka, suara Mendale tak lagi terkurung. Ia menjadi jembatan. Ia menjadi tubuh. Ia menjadi warisan yang hidup.

Sejak malam Dale menyanyikan bagian nyanyian yang retak, Lintang, gadis belia itu tak lagi bernyanyi dengan ringan. Suaranya kini mengandung beban: beban warisan, beban cinta, beban pertanyaan yang belum dijawab. Ia tahu, suara yang ia bawa bukan hanya miliknya. Ia adalah benih yang tumbuh dari akar yang dalam.

Tapi Dale semakin gelisah. Ia melihat gadis itu mengajarkan nyanyian kepada anak-anak dari lembah lain, menyulam nada baru, menyusun penanda suara di batu-batu yang bukan bagian dari Mendale. Ia memanggil cucunya ke bawah pohon tua, tempat nenek dulu mengajarkan suara.

“Kau telah melangkah terlalu jauh,” katanya. “Suara kita bukan untuk dunia luar. Moyangmu menitipkan tanah ini, bukan untuk ditinggalkan, tapi untuk dijaga.”

Gadis belia itu menatap tanah, lalu menjawab:

“Aku tidak meninggalkan. Aku menyambung. Jika suara kita hanya tinggal di sini, ia akan menjadi gema yang tak pernah dijawab.”

Dale menghela napas, lalu membuka gulungan kain tua yang disimpan di dalam peti kayu. Di sana, tergambar motif hias dengan benang halus yang artinya: “Jaga suara tanah tinggi. Jangan biarkan ia hilang di lembah asing.”

“Ini wasiat mereka,” katanya. “Bukan larangan bernyanyi, tapi larangan melupakan.”

Gadis belia itu menyentuh kain itu, lalu berkata pelan:

“Maka biarkan aku bernyanyi agar mereka tak dilupakan. Biarkan suara ini berjalan, tapi tetap membawa Mendale di dalamnya.”

Malam itu, ia bernyanyi di ceruk, dan kakeknya Dale duduk di belakang, diam. Ia mendengar suara cucunya menyusun lapisan baru: suara Mendale yang berjalan, tapi tak pergi. Suara yang menyapa lembah lain, tapi tetap membawa akar.

Dan untuk pertama kalinya, Dale tak menolak. Ia menutup mata, dan dalam diamnya, ia tahu: menjaga bukan berarti membekukan. Menjaga adalah membiarkan suara tumbuh, selama ia tetap membawa tanah di dalam napasnya.

Ketika ketegangan antara gadis dan Dale menggantung di udara seperti kabut yang enggan naik, neneknya melangkah pelan ke tengah lingkaran. Tubuhnya rapuh, tapi suaranya masih menyimpan gema yang pernah membuat ceruk Mendale berguncang.

Ia tak berbicara langsung. Ia meletakkan sehelai kain tua di pangkuan cucunya, kain kiyo yang pernah ia kenakan saat menyanyikan Tabutbut bersama ibunya. Di atas kain itu, benang-benang membentuk pola yang tak simetris, tapi hidup: garis melingkar, titik-titik berulang, dan celah-celah yang menyerupai jeda dalam nyanyian.

“Suara kita,” katanya pelan, “tak hanya hidup di udara. Ia juga bisa tinggal di benang. Di simpul. Di sela-sela warna.”

Dale menatap kain itu, matanya menyipit. Ia mengenali pola itu. Itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah nyanyian yang pernah ia dengar saat kecil, saat ibunya menenun sambil bersenandung.

“Aku akan mengajarimu menenun,” kata nenek kepada cucunya. “Bukan untuk menggantikan nyanyian, tapi untuk menyimpan suara yang tak bisa kau nyanyikan di tanah lain.”

Gadis belia itu menatap neneknya, matanya berkaca. Ia tahu, ini bukan sekadar tawaran. Ini adalah jalan tengah. Jalan yang memungkinkan suara tetap tinggal, meski tubuhnya berjalan.

Malam itu, mereka duduk bertiga di bawah pohon tua. Nenek mulai menunjukkan cara memilih benang, cara membaca pola, cara menyisipkan nada ke dalam simpul. Setiap warna mewakili lapisan suara: hitam untuk Formosa, putih untuk Kuala Cerape, hijau untuk Mendale, dan merah untuk suara pertanyaan.

Dale tak berkata apa-apa. Tapi ia mulai membantu menggulung benang, tangannya gemetar, matanya diam-diam mengamati pola yang tumbuh.

Dan ketika tenunan pertama selesai, gadis itu menyentuhnya, lalu membuka suara. Nyanyiannya lebih pelan, lebih dalam, seolah ia bernyanyi dari dalam kain itu.

Angin berhembus. Kabut naik perlahan. Dan tanah Mendale, untuk sesaat, terasa seperti tubuh yang sedang ditenun ulang.

Sejak malam itu, pondok bambu di tepi ceruk Mendale berubah. Tak lagi hanya tempat berkumpul dan bernyanyi, tapi menjadi ruang tenun suara. Nenek duduk di tengah, tangan tuanya lincah menyusun benang, sementara gadis itu duduk di samping, matanya menyimak setiap simpul, setiap warna, setiap jeda.

“Setiap simpul adalah nada,” kata nenek. “Setiap warna adalah lapisan suara. Dan setiap celah adalah ruang untuk mendengar.”

Gadis itu mulai belajar membaca tenunan seperti membaca nyanyian. Ia mengenali pola Formosa dalam garis melingkar hitam, mengenali Kuala Cerape dalam titik-titik putih terang, dan Mendale dalam jalur hijau yang bergetar seperti daun. Tapi nenek mengajarkan lebih dari itu, ia mengajarkan bagaimana menyisipkan suara pertanyaan, suara luka, suara harapan ke dalam motif.

Dale, yang awalnya hanya mengamati dari jauh, mulai mendekat. Ia tak menyanyi, tak menenun, tapi mulai menyumbangkan ingatan. Ia menunjukkan pola hias yang dulu disimpan Miyax, ibunya: motif suara yang hanya muncul saat kelahiran, saat kematian, saat tanah menjawab dengan gemetar.

“Jika suara harus tinggal,” katanya pelan, “biarkan ia tinggal dalam bentuk yang bisa dibawa.”

Gadis itu mulai menenun untuk anak-anak yang akan berjalan ke lembah lain. Ia tak mengirim nyanyian, tapi mengirim kain. Di dalamnya, suara Mendale tersimpan: bukan sebagai gema yang akan hilang, tapi sebagai benang yang akan disentuh, dipakai, diwarisi.

Dan suatu malam, ia menyanyikan nyanyian baru di ceruk. Tapi kali ini, ia menyanyikannya sambil menenun. Suaranya menyatu dengan gerak tangan, dengan warna, dengan simpul. Angin berhembus, membawa suara itu ke lembah, ke batu, ke tubuh yang belum mengenal Mendale.

Nenek tersenyum. Dale menunduk. Dan gadis itu tahu: suara tak harus memilih antara tinggal atau berjalan. Ia bisa menjadi tenunan. Ia bisa menjadi tubuh. Ia bisa menjadi warisan yang hidup, yang berpindah, tapi tak pernah lupa dari mana ia berasal.

Hari-hari berikutnya dipenuhi warna dan simpul. Di dalam pondok bambu yang menghadap ceruk, gadis itu duduk bersisian dengan neneknya, tangan mereka bergerak pelan tapi pasti, menyusun benang seperti menyusun lapisan suara. Setiap helai bukan sekadar warna, tapi gema: hitam untuk suara tanah Formosa, putih untuk lembah Kuala Cerape, hijau untuk tanah tinggi Mendale, dan merah untuk suara yang berani bertanya.

“Tenunan ini bukan hanya kain,” kata Taki’na sang nenek. “Ia adalah tubuh suara. Ia bisa dibawa, dipakai, diwariskan. Ia bisa diam, tapi tetap bernapas.”

Gadis itu mulai memahami bahwa suara tak harus selalu terdengar. Ia bisa tinggal dalam tekstur, dalam motif dan pola hias, dalam gerak tangan yang menyimpan nyanyian. Ia mulai menenun untuk anak-anak yang akan berjalan ke tanah baru, menyisipkan suara Mendale ke dalam selendang, ikat pinggang, dan tapak kaki.

Dale, yang dulu menolak penyebaran suara, kini duduk di sudut pondok, mengamati. Ia tak lagi melarang, tapi belum sepenuhnya menerima. Suatu sore, ia membawa sehelai kain tua peninggalan ibunya, tenunan yang belum selesai, motifnya terputus di tengah.

“Ibuku berhenti menenun saat adikku Sibaya pergi,” katanya pelan. “Suara itu tak sempat diselesaikan.”

Gadis belia itu menyentuh kain itu, lalu mulai menyambungnya. Ia tak meniru, tapi menjawab. Ia menambahkan.

Di pagi yang berkabut, ketika embun masih menggantung di ujung daun temung, gadis itu duduk di depan alat tenun, jari-jarinya bergerak seperti menyusun nyanyian. Di sampingnya, Taki’na, neneknya menggumamkan nada rendah, bukan untuk didengar, tapi untuk dirasakan. Mereka sedang menyiapkan kain untuk anak-anak yang akan lahir di tanah baru, jauh dari Mendale, tapi tetap membawa suara tanah tinggi dalam tubuh mereka.

“Tenunan ini,” kata nenek, “bukan hanya untuk dikenakan. Ia harus dibaca. Ia harus dihirup.”

Maka mereka mulai menyusun ritual baru: setiap anak yang lahir akan dibalut dengan kain kiyo, kain suara, lalu disentuh dengan napas dari tiga generasi. Nenek meniupkan nada pertama, gadis itu meniupkan nada kedua, dan Dale, yang kini tak lagi diam, meniupkan nada ketiga, suara yang dulu ia simpan dalam luka.

Kain-kain itu mulai menyebar. Dibawa oleh para pengembara, oleh ibu-ibu yang menikah ke lembah lain, oleh anak-anak yang berladang di tanah asing. Tapi setiap kali kain itu disentuh, suara Mendale bergema pelan: dalam simpul, dalam warna, dalam napas.

Suatu malam, gadis belia itu duduk sendiri di ceruk. Ia menenun motif baru, garis yang tak lurus, tapi saling menyilang, seperti suara yang bertemu dan saling menjawab. Ia menyisipkan benang merah muda: suara masa depan, suara yang belum lahir, tapi sudah mendengar.

Dale datang, membawa sehelai kain tua yang telah usang. Ia menyerahkannya tanpa kata. Gadis itu menyentuhnya, lalu mulai menyulam ulang bagian yang hilang. Ia tak meniru, ia menjawab. Ia menambahkan motif baru: lingkaran terbuka, tempat suara bisa keluar, lalu kembali.

Dan malam itu, mereka bertiga duduk di bawah pohon tua, tak bernyanyi, tak berbicara. Hanya menenun. Tapi angin berhembus, membawa suara yang tak terdengar, suara yang tinggal dalam benang, dalam tubuh, dalam warisan yang tak bisa dibungkam.

Di tengah musim peralihan, ketika kabut mulai naik lebih lambat dan angin membawa aroma kayu basah, gadis itu menyelesaikan tenunan pertamanya yang lengkap: sebuah selendang suara, panjang dan berat, dengan tujuh lapisan motif. Ia menyebut kain kiyo itu Siulan Angin dari Ceruk Mendale, bukan sebagai benda, tapi sebagai tubuh nyanyian.

Setiap simpul adalah nada. Setiap warna adalah arah. Dan setiap celah adalah ruang untuk mendengar ulang.

Nenek Taki’na menyentuh selendang itu dengan jemari yang gemetar, lalu berkata:

“Kain ini bisa dibaca. Tapi bukan dengan mata. Ia harus dibaca dengan napas, dengan tubuh, dengan ingatan.”

Maka mereka mulai menyusun ritual pembacaan: setiap kali seseorang akan meninggalkan Mendale, mereka akan duduk di ceruk, mengenakan kain siulan angin, lalu mendengarkan nyanyian yang tak dinyanyikan. Nyanyian yang tinggal dalam benang.

Dale, yang dulu menolak penyebaran suara, kini menjadi penjaga pembacaan. Ia tak bernyanyi, tapi ia memandu: menunjukkan motif yang berarti kelahiran, simpul yang berarti kehilangan, dan warna yang berarti keberanian.

Suatu hari, datanglah seorang ibu muda dari lembah bintang timur, membawa bayinya yang baru lahir. Ia meminta agar anaknya diberi kain kiyo siulan angin dari ceruk Mendale, meski ia tak akan tinggal di tanah tinggi. Gadis itu menenun selendang kecil, menyisipkan suara neneknya, suara Dale, dan suara tanah yang menjawab.

Saat bayi itu dibalut, angin berhembus pelan. Kabut naik. Dan siulan angin dari ceruk Mendale, yang dulu hanya tinggal di udara, kini tinggal di tubuh kecil yang akan berjalan jauh.

Gadis itu tahu: suara tak harus dinyanyikan untuk hidup. Ia bisa tinggal dalam tenunan, dalam tubuh, dalam napas yang membaca tanpa kata.

Bersambung…

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.