Asal Muasal, Bagian ke 9 ; Migrasi

oleh
Loyang Mendale (foto : Taufiqurrahman)

Novel karya Syukri Muhammad Syukri

Setelah sepurnama menetap di sekitar bahu bukit Mendale, mereka mulai menjelajah sisi selatan danau. Mencari ceruk yang diceritakan Kilet. Disana juga ada sumber daya yang lebih stabil dan lahan pertanian yang subur.

Benar, hasil ekspedisi Dale dan tiga pengantin baru disana, ditemukan lembah subur di sisi kiri dan kanan gunung batu. Lembah itu landai, menjorok ke danau membentuk semenanjung.

Keempat pasangan itu tertarik, mereka ingin pindah mengolah tanah baru itu menjadi areal pertanian. Benar, disana mereka menemukan dua ceruk besar dan luas. Sementara belum mendirikan gubuk, mereka akan menetap dalam ceruk tersebut.

Pagi itu, dilepas oleh Utux dan Miyax serta warga bukit Mendale, Dale dan Taki’na serta ketiga temannya beserta istri berlayar menuju ke semenanjung gunung batu, di selatan danau. Tempat itu tidak jauh, bisa ditempuh setengah hari berlayar.

Perpindahan atau migrasi Dale dan Taki’na bukan hanya fisik, tapi juga spiritual. Mereka membawa serta konsep hanifu (roh) yang dapat memengaruhi kesehatan dan kemampuan individu.

Oleh karena itu, ritual Pasibutbut tetap dilakukan sebagai bentuk komunikasi dengan roh leluhur dan alam. Dan, ceruk yang mereka diami merupakan tempat yang tepat untuk memuja hanifu.

Selama mendiami ceruk besar yang berhadapan langsung dengan danau, mereka tetap berburu ke semananjung di barat bukit batu.

Lembah itu landai, dipenuhi hutan lebat. Beberapa sungai kecil melintasi kawasan hutan tersebut. Disanalah hewan buruan minum dan mencari makan.

Sarung persatu tegakan pohon di hutan itu ditebang. Mengubah daratan itu menjadi area pertanian. Artinya mereka beralih ke pertanian millet (jawawut), padi dan ubi. Lalu diikuti dengan membangun hunian baru, berbentuk rumah panggung dari bambu dan kayu yang tersedia dalam jumlah yang cukup.

Begitu hunian didirikan, Taki’na bertanggung jawab atas pertanian padi, ubi, talas, millet, pengolahan makanan, dan pengasuhan anak. Sedangkan Dale fokus pada perburuan, penebangan kayu, dan pertahanan komunitas.

Komunitas itu terus berkembang, dari suami isteri lahir anak, cucu dan cicit. Begitu menikah, mereka migrasi mencari lahan dan wilayah baru. Sampai akhirnya, kawasan di selatan danau sudah diisi oleh keturunan orang-orang Mendale.

Bahkan, adik Dale bernama Sibaya dan suaminya beserta sekelompok orang-orang Mendale, migrasi ke timur jauh. Katanya, ingin tinggal lebih dekat dengan bintang timur.

Kabar terakhir yang diterima Dale, mereka menetap dikaki sebuah gunung api di timur jauh. Disana lahannya lebih subur, dan danaunya lebih besar, bahkan ada pulau ditengah danau.

Di kemudian hari, 4000 tahun setelah menetap disana, sukacita para penutur Austronesia itu dituangkan dalam sebuah puisi berjudul Mantra Asal Muasal, ditulis oleh Wiratmadinata. Begini bunyinya.

Kami mata air dari hulu
Sungai yang memelihara hilir,
muasal anyir di denyut nadimu,
adalah akar yang dilupakan ranting.
Kami daun yang memayungi laut,
pohonan yang menahan kemarau,
angin gunung yang meniup ombak,
adalah tanah yang dilupakan tubuh.
Kami mantra asal-muasal,
moyang dari lautan,
penghulu segala muara,
Tak kan bisa kau khianati.
Kembalilahmuara kepada hulu,
pulanglah samudera ke mata air,
kembalikan ranting kepada akar,
kembalikan Tanah kepada Empunya.
Tak tubuh tanpa ruh
Tak samudera tanpa mata air.
Tak muara tanpa hilir
Tak bangsa tanpa moyang datu
Tak Kerajaan tanpa Penghulu.

Selesai.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.