Oleh : Nanda Winar Sagita*
Lewat kisah Nabi Syits, Tuhan telah menjelaskan bahwa dunia akan hancur dua kali: pertama karena air dan kedua karena api. Tentu saja banjir bah di era Nabi Nuh, sebagaimana kisah yang diungkapkan dalam kitab-kitab suci agama Abrahamik (tentu kita juga boleh percaya pada Epos Gilgamesh, teks-teks Satapatha Brahmana dan Purana, Timaeus karya Plato, legenda suku Cheyenne, mitos Gun-Yu, atau kisah serupa lainnya yang intinya sama: tentang banjir bah besar) telah menghancurkan dunia sekali. Lantas, kapan api akan menghancurkan dunia?
Tentu ada banyak cara untuk menjawab pertanyaan itu. Jika mengacu pada sejarah, ada banyak peristiwa kehancuran besar terkait api yang pernah terjadi. Untuk menyebut beberapa di antaranya yang paling terkenal: kebakaran kota Roma pada masa Nero, Kerusuhan Nika yang membakar Konstantinopel, Kebakaran Besar London 1666, bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, Bandung Lautan Api, kebakaran hutan di Hawaii, atau, untuk ketidakpastian dunia di masa depan, masih ada ancaman ledakan nuklir dan sebagainya.
Namun, itu semua baru amukan api dalam skala yang relatif kecil. Meskipun memakan banyak korban jiwa, kobarannya hanya melahap setidaknya satu area atau wilayah tertentu.
Meskipun demikian, kisah-kisah tentang banjir dan kebakaran itu memang telah menciptakan ketakutan di benak manusia. Di sisi lain, kedua oposisi biner pembentuk bencana tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangkit dan runtuhnya suatu peradaban.
Begitulah yang terjadi di Jagong Jeget. Setelah bencana air berupa banjir yang menyeluruh di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat turut dirasakan efeknya oleh orang-orang di Jagong Jeget pada November tahun lalu, kini bencana api berupa kebakaran besar baru saja menghanguskan puluhan rumah.
Aku memang tidak pergi ke Jagong Jeget saat bencana banjir, mengingat di tempatku sendiri bencana yang sama membuat hidup kami terisolasi. Namun, dalam bencana kebakaran ini, ada sesuatu yang terasa sangat berbeda.
Bersama rombongan PGRI, aku melihat bagaimana anak-anak yang belum sepenuhnya memahami dunia berharap sesuatu yang besar bagi kelangsungan masa depan mereka. Kawan-kawan dari PGRI mengajak mereka menyanyikan lagu “Di Sana Senang, Di Sini Senang” sebagai bentuk trauma healing yang terasa sangat ironis sekaligus mengharukan.
Ironis, karena lagu itu berbicara tentang kesenangan dan kebahagiaan, sementara anak-anak yang menyanyikannya baru saja kehilangan rumah dan mungkin sebagian dari rasa aman yang selama ini mereka kenal.
Namun, justru di situlah barangkali letak keharuannya: mereka tetap menyanyi, meskipun tempat tinggal di sekitar mereka baru saja hangus terbakar.
Aku teringat pada apa yang ditulis Harper Lee dalam To Kill a Mockingbird: “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”
Menilik pada Harper Lee, barangkali aku tidak akan pernah bisa memahami sepenuhnya kehidupan para korban kebakaran tersebut, yang juga sekaligus merasakan banjir. Bagaimanapun, aku tidak hidup dengan cara mereka, tidak kehilangan rumah seperti mereka, dan tidak tahu bagaimana rasanya harus memikirkan hari esok setelah segala sesuatu yang dimiliki tiba-tiba menjadi abu.
Tapi setidaknya aku bisa menduga-duga: mengalami dua bencana, air dan api, sekaligus tentu akan menjadi cobaan berat dalam hidup yang cuma sekali ini. []





