Memangnya Kenapa Kalau PSK ada di Gayo?

oleh
Nanda Winar Sagita

Oleh : Nanda Winar Sagita*

Ada satu fakta yang tidak terelakkan: meskipun agama Islam berasal dari Arab, tapi lebih mudah membayangkan orang Arab non-Muslim ketimbang orang Gayo non-Muslim. Ini berlaku untuk beberapa suku bangsa di dunia: Aceh, Checnya, Pasthun, Uighur, Rohingya, Turki, Moro, dan masih banyak lagi jika harus disebutkan satu per satu.

Hal ini dikarenakan, beberapa sub etnis di Arab secara umum masih memegang teguh agama dan keyakinan asli mereka sebelum Islam datang, seperti Mandean, Sabian, Maronit, Koptik, Yazidi; atau malah membuat agama baru setelah Islam datang dan masih bertahan sampai sekarang, seperti Druze, Bahai, Alawi dan lain-lain.

Jika bicara tentang sejarah, pertanyaan tentang keharmonisan Islam dan Gayo tidak bisa dijawab hanya dengan mengatakan bahwa Islam “masuk” ke Tanah Gayo lalu diterima begitu saja.

Banyak antropolog, seperti Clifford Geertz dan Emile Durkheim, menunjukkan bahwa suatu agama baru biasanya diterima apabila mampu beradaptasi dengan struktur sosial yang telah ada sebelumnya. Begitu juga dengan tradisi di Gayo yang memang pada dasarnya sudah seiring jalan dengan Islam.

Nah, jika demikian adanya, lantas kenapa di tanah Gayo yang identik dengan Islam bisa ada pelacur?

Di sinilah masalahnya. Kita sering membayangkan identitas keagamaan secara terlalu sederhana, seolah-olah sebuah masyarakat yang sangat Islami harus steril dari dosa, kejahatan, kemunafikan, atau penyimpangan moral.

Padahal sejarah Islam sendiri tidak pernah mengajarkan demikian. Kota Mekah, tempat paling suci dalam Islam, sejak berabad-abad lalu tetap menjadi kota yang dihuni manusia biasa dengan segala kelemahannya.

Bahkan ada sebuah kisah populer tentang Hamka ketika seorang lelaki datang dengan penuh keterkejutan dan berkata bahwa ia menemukan pelacur di Mekkah.

Hamka justru menjawab bahwa ia baru pulang dari New York dan Los Angeles, dan anehnya tidak menemukan seorang pelacur pun di sana. Ketika tamunya membantah bahwa mustahil Amerika tidak memiliki pelacur, Hamka kemudian menjawab dengan kalimat yang terkenal: “Manusia sering kali hanya dipertemukan dengan apa yang memang sedang ia cari.”

Kisah tersebut tentu bukan sedang membahas statistik prostitusi di Arab atau Amerika. Yang hendak disampaikan Hamka adalah bahwa kesucian suatu tempat tidak pernah berarti seluruh manusia di dalamnya menjadi suci.

Dalam perspektif Islam sendiri, tanah suci tidak menghapus kemungkinan hadirnya dosa. Sebab yang disucikan adalah tempatnya, bukan seluruh perilaku manusia yang hidup di atasnya.

Karena itu, keberadaan pelacur di Mekah tidak otomatis mengurangi kesucian Kabah, sebagaimana keberadaan pelacur di tanah Gayo tidak otomatis menghilangkan Islam dari Gayo.

Bahkan salah satu hadis paling terkenal justru berbicara tentang seorang pelacur dari Bani Israil yang memperoleh ampunan Tuhan setelah memberi minum seekor anjing yang kehausan.

Dalam riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahwa perempuan tersebut turun ke sebuah sumur, mengisi sepatunya dengan air, lalu memberikannya kepada seekor anjing yang hampir mati kehausan. Karena perbuatan kecil yang dilandasi belas kasih itu, Allah mengampuni dosa-dosanya.

Hadis ini tidak sedang memuliakan pelacuran atau pekerja sek komersial (PSK). Rasulullah ingin menunjukkan bahwa manusia tidak pernah bisa dicap masuk neraka hanya karena dosa dan identitas masa lalunya. Bahkan seseorang yang dianggap paling hina oleh masyarakat tetap memiliki kemungkinan untuk berbuat baik dan memperoleh rahmat Tuhan.

Karena itu, pertanyaan “kenapa ada pelacur di Tanah Gayo?” sebenarnya lahir dari asumsi yang keliru tentang agama dan manusia. Islam tidak pernah menjanjikan bahwa sebuah masyarakat Muslim akan menjadi masyarakat tanpa dosa.

Yang dijanjikan Islam adalah adanya seperangkat nilai yang terus-menerus berusaha mengarahkan manusia kepada kebaikan, meskipun manusia selalu gagal mencapainya secara sempurna.

Jika Mekah saja tidak pernah bebas sepenuhnya dari pelanggaran moral, maka mengharapkan Tanah Gayo menjadi ruang steril tanpa penyimpangan barangkali justru merupakan harapan yang lebih utopis daripada ajaran agama itu sendiri.

Saya di sini juga tidak membela pelacuran, hanya merasa risih dan aneh saja ketika ada yang tiba-tiba terkejut dengan pengakuan seorang (mantan) pelacur di Gayo. Jika demikian, keberadaan pelacur di Tanah Gayo sesungguhnya tidaklah berbeda dengan keberadaan mereka di hampir seluruh tempat yang pernah dihuni manusia.

Sejarah mencatat bahwa prostitusi sering disebut sebagai salah satu pekerjaan tertua dalam peradaban, bahkan lebih tua dari pekerjaan manusia sebagai anggota DPR apalagi petugas MBG. Di wilayah Mesopotamia, ribuan tahun sebelum Masehi, hukum-hukum kuno sudah memuat aturan yang berkaitan dengan perempuan yang bekerja di luar struktur keluarga biasa.

Di Yunani dan Romawi Kuno, pelacuran bahkan menjadi institusi sosial yang diatur negara. Dengan kata lain, prostitusi bukanlah fenomena yang lahir di pinggiran sejarah, melainkan tumbuh bersamaan dengan lahirnya kota-kota pertama umat manusia.

Sejarah prostitusi tidak semata-mata muncul karena persoalan moral individu, tapi lebih banyak karena kombinasi faktor ekonomi, demografi, kekuasaan, migrasi, perang, dan ketimpangan sosial.

Ketika manusia mulai meninggalkan kehidupan berburu dan meramu lalu menetap dalam komunitas besar, muncul pula kelompok-kelompok yang tidak memiliki akses yang sama terhadap sumber daya.

Dalam kondisi tertentu, tubuh menjadi salah satu aset yang dapat dipertukarkan untuk bertahan hidup. Karena itulah, prostitusi ditemukan dalam hampir semua peradaban besar, baik yang beragama politeis, monoteis, maupun sekuler.

Ia ada di Babilonia, Athena, Roma, Konstantinopel, Baghdad, Jakarta, Delhi, Beijing, London, Kairo, hingga New York. Ia hadir di kerajaan-kerajaan Islam maupun di negeri-negeri Kristen. Bahkan ketika negara berusaha memberantasnya secara total, praktik tersebut sering kali hanya berpindah bentuk dan lokasi.

Adapun yang dilakukan Islam adalah membangun seperangkat norma moral, perlindungan keluarga, kewajiban sosial, serta larangan eksploitasi seksual. Dengan kata lain, Islam memandang prostitusi sebagai persoalan yang harus dihadapi manusia, bukan sekadar persoalan yang dapat dihapus melalui slogan-slogan kesalehan.

Karena itu, apabila pelacuran ditemukan di Tanah Gayo, fenomena tersebut lebih tepat dibaca sebagai bagian dari kenyataan universal sejarah manusia daripada sebagai bukti kegagalan identitas Islam orang Gayo.

Tidak ada satu pun masyarakat dalam catatan sejarah yang berhasil menghilangkan sepenuhnya segala bentuk transaksi seksual komersial. Yang berbeda hanyalah bagaimana masing-masing masyarakat memandang, mengatur, mengutuk, mentoleransi, atau berusaha mengatasinya.

Lagi pula saya percaya pada penggalan lirik lagu dari Silampukau yang berjudul “Si Pelanggan”: “Yakinlah pelacur dan mucikari, kan hidup abadi,” sebab sejauh apa pun kita mencoba menghapus pelacuran, yang mereka akan tetap ada sampai akhir zaman. []

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.