Ketika Rumah Menjadi Ruang Diskusi Pendidikan

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Pemerhati sosial kemasyarakatan dan generasi muda. Penghulu Ahli Madya KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Rumah bagi kami bukan hanya tempat beristirahat setelah seharian menjalankan tugas. Kadang-kadang, rumah justru menjadi ruang diskusi yang paling menyenangkan.

Istri saya seorang guru madrasah, ASN PPPK Kementerian Agama. Ia mengajar IPA, dengan latar belakang pendidikan S-1 Ilmu Biologi dari FKIP. Sementara saya bekerja sebagai ASN Kementerian Agama dan sehari-hari menjalankan tugas sebagai penghulu di KUA.

Latar pekerjaan kami memang berbeda. Ia bergelut dengan dunia pembelajaran dan peserta didik. Saya lebih banyak berhadapan dengan urusan keluarga, perkawinan, masyarakat dan persoalan sosial keagamaan. Namun justru perbedaan itu membuat percakapan kami sering kali menarik.

Kami saling berbagi cerita tentang apa yang ditemui di tempat kerja. Tentang anak-anak sekolah, perilaku orang tua, sikap guru, dinamika keluarga, perubahan sosial, hingga perilaku generasi muda. Bahkan apa yang muncul di media sosial pun tidak jarang menjadi bahan diskusi.

Kadang kami sepakat. Kadang pula terjadi debat-debat kecil. Bukan untuk mencari siapa yang menang, tetapi karena masing-masing melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Justru di situlah asyiknya.

Suatu pagi, ketika sedang menggulir media sosial, saya menemukan sebuah unggahan tentang model pembelajaran inovatif. Ada lima model yang ditawarkan: Problem Based Learning, Project Based Learning, Discovery Learning, Inquiry Learning, dan Cooperative Learning.

Saya membaca satu per satu. Kemudian, seperti biasa, bahan itu saya bawa ke ruang diskusi rumah.

Kami pun berbicara tentang satu pertanyaan sederhana: seperti apa sebenarnya pembelajaran yang dibutuhkan anak-anak kita hari ini?

๐€๐ง๐š๐ค ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ ๐ž๐ฅ๐š๐ฌ ๐ค๐จ๐ฌ๐จ๐ง๐ 

Pendidikan hari ini tidak cukup hanya dengan membuat anak mampu menghafal materi. Anak perlu dibiasakan bertanya, berpikir, mencari jawaban, bekerja sama, menemukan kesalahan, memperbaikinya, dan berani menyampaikan pendapat.

Dalam Problem Based Learning, misalnya, anak diajak berhadapan dengan persoalan nyata. Sampah di sekolah bukan sekadar materi tentang lingkungan. Ia dapat menjadi masalah yang harus diamati, dianalisis dan dicari solusinya.

Begitu pula Project Based Learning. Anak tidak hanya membaca tentang kelestarian lingkungan, tetapi dapat membuat proyek nyata: poster, kampanye kebersihan, pemilahan sampah atau kegiatan sederhana lainnya. Di sinilah pembelajaran menjadi dekat dengan kehidupan.

Sementara Discovery Learning dan Inquiry Learning mengajarkan sesuatu yang sangat penting: jangan terlalu cepat memberikan semua jawaban kepada anak.

Anak perlu diberi kesempatan menemukan. Guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Guru adalah fasilitator yang membantu anak menemukan pengetahuan dengan cara yang benar. Anak diajak mengamati, bertanya, mencari data, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, kemudian menarik kesimpulan.

Bukankah kehidupan juga bekerja dengan cara demikian? Kita belajar bukan hanya dari buku. Kita belajar dari pengalaman, kegagalan, pengamatan, percakapan dan lingkungan.

Kemudian ada Cooperative Learning. Anak belajar bekerja bersama. Ada pembagian tugas, komunikasi, tanggung jawab, toleransi dan kemampuan menghargai orang lain.

Ini penting karena kehidupan setelah sekolah tidak hanya membutuhkan anak yang pintar secara akademik. Kita membutuhkan manusia yang mampu bekerja bersama manusia lain.

๐ƒ๐ข ๐›๐š๐ฅ๐ข๐ค ๐ฌ๐ž๐ญ๐ข๐š๐ฉ ๐š๐ง๐š๐ค ๐š๐๐š ๐œ๐ž๐ซ๐ข๐ญ๐š

Namun pembicaraan kami kemudian bergerak ke persoalan yang lebih kompleks.

Kami menyadari bahwa tidak semua anak masuk ke ruang kelas dengan membawa kondisi yang sama. Ada anak yang datang dari keluarga harmonis, dengan orang tua yang selalu mendampingi belajar. Ada pula yang tumbuh dalam keluarga dengan persoalan yang tidak sederhana.

Ada yang berkecukupan, memiliki fasilitas belajar lengkap, bahkan didukung berbagai les tambahan. Tetapi ada pula yang harus berbagi telepon genggam dengan orang tua, belajar dengan fasilitas terbatas, atau bahkan datang ke sekolah dengan membawa persoalan ekonomi keluarganya.

Ada anak yang ceria dan percaya diri. Ada yang pendiam, mudah minder, sensitif, sulit bergaul atau sedang menghadapi persoalan pribadi yang tidak pernah diceritakannya kepada guru.

Ada yang sejak kecil terbiasa disiplin. Ada pula yang datang dari lingkungan keluarga yang pola pengasuhannya kurang teratur sehingga kedisiplinan menjadi persoalan tersendiri. Karena itu, kami sampai pada kesimpulan sederhana: anak tidak bisa hanya dilihat dari nilai rapornya.

Di balik seorang siswa yang malas mengerjakan tugas, mungkin ada persoalan yang tidak kita ketahui. Di balik anak yang sering terlambat, mungkin ada kondisi keluarga tertentu. Di balik anak yang terlihat tidak fokus belajar, mungkin ada beban pikiran. Di balik anak yang sulit bergaul, mungkin ada rasa minder atau pengalaman sosial yang membuatnya menutup diri.

Tentu tidak semua perilaku harus dimaklumi. Pendidikan tetap membutuhkan aturan, disiplin dan tanggung jawab. Tetapi memahami latar belakang anak akan membuat guru lebih bijak dalam menentukan cara menghadapi mereka.

Disiplin tetap penting, tetapi pendekatan terhadap setiap anak tidak selalu harus sama. Anak yang melanggar aturan perlu dibina. Namun pembinaan tidak harus selalu dimulai dengan hukuman. Ada kalanya dimulai dengan pertanyaan: Mengapa kamu melakukan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?

Mungkin dari pertanyaan sederhana itu, guru menemukan persoalan yang selama ini tersembunyi.

๐†๐ฎ๐ซ๐ฎ ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ก๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฉ๐ž๐ง๐ฒ๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ข ๐ฆ๐š๐ญ๐ž๐ซ๐ข

Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi, posisi guru juga mengalami perubahan.

Anak-anak sekarang dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber. Dalam hitungan detik, mereka dapat menemukan video, artikel, gambar, bahkan penjelasan tentang sesuatu yang belum pernah diterangkan gurunya di kelas.

Karena itu, tantangan guru bukan sekadar bagaimana menyampaikan sebanyak mungkin materi. Lebih penting lagi adalah bagaimana membimbing anak memilah informasi, berpikir kritis, membedakan fakta dan opini, serta menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Guru tetap penting. Bahkan sangat penting. Tetapi perannya semakin luas: bukan hanya mengajar, melainkan mendampingi proses berpikir, membentuk karakter, membaca perkembangan anak dan menciptakan ruang belajar yang aman.

Guru tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan anak seorang diri. Karena itu, komunikasi antara guru dan orang tua menjadi sangat penting.

Ketika seorang anak mengalami perubahan perilaku, misalnya, sekolah dan keluarga perlu saling berkomunikasi. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana membantu anak.

๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐œ๐ž๐ฉ๐š๐ญ ๐ฆ๐ž๐ฆ๐›๐ž๐ซ๐ข ๐ฅ๐š๐›๐ž๐ฅ

Ada satu hal yang juga menarik dalam diskusi kami: tentang kebiasaan memberi label kepada anak.

Anak yang sering terlambat disebut tidak disiplin. Yang nilainya rendah disebut malas. Yang banyak bergerak dianggap nakal. Yang pendiam dianggap tidak mampu berkomunikasi. Yang sering bertanya dianggap cerewet.

Padahal, bisa jadi kita sedang melihat satu sisi anak dan mengabaikan sisi lainnya. Label yang terus-menerus diberikan kepada anak dapat menjadi identitas yang akhirnya mereka percayai sendiri.

Karena itu, pendidikan membutuhkan ketegasan sekaligus empati. Anak perlu mengetahui bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga perlu diyakinkan bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya.

Anak yang hari ini gagal bukan berarti akan gagal selamanya. Anak yang hari ini belum disiplin masih mungkin belajar menjadi disiplin. Anak yang hari ini tertinggal masih memiliki kesempatan untuk mengejar.

Tugas pendidikan bukan sekadar menemukan siapa yang paling pintar, tetapi membantu setiap anak bertumbuh sesuai potensinya.

๐Ž๐ซ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ฎ๐š ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š ๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐›๐ž๐ฅ๐š๐ฃ๐š๐ซ

Ada satu hal lagi yang sering menjadi bahan diskusi kami di rumah: pendidikan anak tidak mungkin hanya diserahkan kepada sekolah. Guru memiliki ruang dan waktu yang terbatas. Selebihnya anak kembali kepada keluarga dan lingkungan sosialnya.

Karena itu, orang tua pun perlu menjadi bagian dari proses pendidikan. Tidak cukup bertanya, “Sudah mengerjakan PR?” Tidak cukup pula bertanya, “Berapa nilaimu?”

Sesekali perlu bertanya, “Apa yang kamu pelajari hari ini?”
“Apa yang membuatmu penasaran?”
“Ada masalah apa di sekolah?”
“Bagaimana perasaanmu hari ini?”
“Bagaimana pendapatmu tentang itu?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuka ruang dialog antara orang tua dan anak.

Anak belajar bahwa rumah bukan hanya tempat makan, tidur dan bermain. Rumah adalah tempat berpikir, bertanya dan berdiskusi. Bahkan bagi anak yang sedang menghadapi persoalan, rumah semestinya menjadi tempat pertama untuk merasa aman dan didengar.

๐๐ž๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐š๐ง ๐ก๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ค๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š ๐ค๐ž๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐š๐ง

Mungkin inilah yang menarik dari diskusi kami tentang unggahan sederhana di media sosial pagi itu.

Sebuah flyer tentang model pembelajaran ternyata bisa membawa pembicaraan jauh lebih luas: tentang guru, murid, orang tua, sekolah, keluarga, kondisi ekonomi, psikologi anak, kedisiplinan dan perubahan sosial. Pendidikan bukan hanya persoalan model pembelajaran. Pendidikan adalah tentang bagaimana mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan.

Anak perlu diajarkan menyelesaikan masalah, bukan hanya menghafal jawaban. Perlu diajarkan membuat karya, bukan hanya mengerjakan soal. Perlu dibiasakan mencari dan menguji informasi, bukan menelan semua informasi begitu saja. Perlu dilatih bekerja sama, bukan hanya mengejar prestasi pribadi. Tetapi semua itu harus berjalan bersama pemahaman bahwa setiap anak memiliki cerita.

Karena itu, pendidikan tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya. Anak bukan sekadar angka dalam daftar nilai. Bukan sekadar nomor absen. Bukan pula sekadar peserta didik yang harus memenuhi target kurikulum.

Mereka adalah manusia yang sedang tumbuh. Mereka datang ke sekolah dengan membawa rumahnya masing-masing: membawa pola asuh orang tua, kondisi ekonomi keluarga, pengalaman pergaulan, kebahagiaan, kecemasan, kelebihan, kekurangan, bahkan persoalan yang mungkin belum mampu mereka ungkapkan.

Guru tidak harus mengetahui seluruh persoalan itu. Tetapi guru perlu memiliki kepekaan untuk menyadari bahwa setiap anak mungkin sedang berjuang dengan sesuatu yang tidak terlihat.

Di sinilah pentingnya pendidikan yang tegas tetapi tidak kasar, disiplin tetapi tidak mempermalukan, menuntut tetapi tetap memahami, dan membimbing tanpa cepat menghakimi.

Dan yang tidak kalah penting, anak harus tetap dibentuk menjadi manusia yang memiliki adab. Sebab kecerdasan tanpa adab dapat kehilangan arah. Pengetahuan tanpa tanggung jawab dapat menjadi persoalan. Dan kemampuan tanpa karakter belum tentu membawa kebaikan.

Maka barangkali pendidikan terbaik adalah pendidikan yang membuat anak cerdas berpikir, terampil bertindak, mampu bekerja sama, berani bertanya, kritis terhadap informasi, disiplin dalam menjalani tanggung jawab, sekaligus tetap memiliki akhlak.

Untuk sampai ke sana, sekolah dan keluarga tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Guru perlu didengar. Orang tua perlu terlibat. Anak perlu diberi ruang. Masyarakat perlu peduli. Sebab pendidikan anak-anak kita bukan hanya urusan guru di ruang kelas.

Ia adalah urusan kita semua. Dan kadang-kadang, pembicaraan tentang pendidikan yang paling menarik justru tidak selalu berlangsung di ruang seminar atau ruang rapat. Bisa jadi ia bermula dari sebuah unggahan di media sosial, dibaca pada pagi hari, lalu dibawa pulang menjadi bahan diskusi bersama pasangan.

Dari percakapan kecil di rumah, kita mungkin sedang menemukan kembali pertanyaan besar tentang masa depan anak-anak kita. Sebab mendidik anak bukan hanya tentang bagaimana membuat mereka pintar. Lebih jauh dari itu, pendidikan adalah tentang bagaimana membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang mampu menjalani kehidupan dengan ilmu, tanggung jawab, kedisiplinan dan akhlak.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.