Oleh : Wildan Shafly (Alumni Psikologi UIN Ar-Raniry)
“Kamu kan anak pintar. Masa begitu saja tidak bisa?”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Bagi sebagian orang tua, kalimat tersebut bahkan merupakan bentuk dorongan agar anak mau berusaha lebih keras. Namun, bagaimana jika tanpa disadari, kalimat tersebut justru membuat anak takut mencoba?
Pertanyaan itu muncul dalam sebuah diskusi di kelas Magister Psikologi UIN Sunan Kalijaga pada mata kuliah Psikologi Pendidikan Keluarga. Pada pertemuan ketiga, mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memecahkan studi kasus mengenai persoalan pola asuh. Kelompok kami mendapatkan kasus tentang seorang anak bernama Alya.
Alya, Anak yang Dikenal “Pintar”
Alya adalah anak berusia lima tahun yang dikenal cepat menangkap pelajaran. Ia sudah mampu membaca beberapa kata dan memiliki kemampuan menggambar yang baik. Orang tuanya tentu bangga. Mereka bahkan sering menyebut Alya sebagai “anak yang pintar” ketika berbicara dengan keluarga besar.
Namun, sejak masuk TK, gurunya melihat perubahan perilaku. Alya sering menolak mengikuti kegiatan ketika merasa tidak mampu. Ketika gambarnya dianggap kurang bagus, ia merobek kertasnya dan menangis. Ketika bermain bersama teman-temannya, ia beberapa kali mengatakan, “Aku nggak bisa, nanti salah.”
Di rumah, orang tuanya juga sering mendampingi Alya belajar. Namun, ketika Alya melakukan kesalahan, ayahnya mengatakan, “Masa itu aja nggak bisa? Kamu kan anak pintar.” Ibunya sebenarnya merasa kasihan, tetapi ia khawatir jika terlalu memanjakan Alya. Akibatnya, ketika Alya menangis, ibunya sering berkata, “Jangan cengeng, coba lagi.”
Padahal, guru melihat bahwa Alya sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik. Masalahnya, ia semakin takut mencoba sesuatu yang baru. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Alya?
Ketika “Anak Pintar” Menjadi Tuntutan
Alya memang anak yang pintar. Ia cepat belajar, mampu menggambar dengan baik, dan memiliki kemampuan akademik yang bagus. Tetapi, apakah label “pintar” selalu berdampak baik bagi seorang anak? Menurut saya, tidak selalu.
Dalam kasus Alya, masalahnya bukan karena orang tuanya bangga terhadap kemampuan anak. Bangga tentu bukan sesuatu yang salah. Masalahnya adalah ketika label “pintar” mulai menjadi sesuatu yang harus terus dipertahankan.
Ketika Alya gagal melakukan sesuatu, ia bukan hanya menghadapi sebuah kegagalan. Ia juga mungkin berhadapan dengan pertanyaan dalam dirinya, “Kalau aku anak pintar, kenapa aku tidak bisa?”
Dari sini, kegagalan tidak lagi sekadar menjadi bagian dari proses belajar. Kegagalan bisa terasa seperti ancaman terhadap dirinya. Ia takut salah karena salah membuatnya merasa tidak terlihat pintar. Ia takut mencoba karena mencoba membuka kemungkinan untuk gagal. Akhirnya, daripada mencoba dan gagal, lebih aman baginya untuk mengatakan, “Aku nggak bisa.”
Anak Juga Perlu Ruang untuk Gagal
Orang tua Alya sebenarnya sudah melakukan sesuatu yang baik. Mereka menyediakan waktu untuk mendampingi Alya belajar. Namun, apakah menyediakan waktu untuk menemani anak belajar saja sudah cukup? Tentu tidak. Cara orang tua mendampingi proses belajar juga tidak kalah penting.
Dalam kasus Alya, kesalahan seolah menjadi sesuatu yang memalukan. Ketika Alya tidak bisa, ia mendapat teguran. Ketika ia menangis karena gagal, tangisannya dianggap sebagai kecengengan. Padahal, dari kesalahan dan kegagalan itulah anak justru banyak belajar.
Anak berusia lima tahun tentu belum memiliki kemampuan seperti orang dewasa dalam mengelola rasa kecewa. Ketika gambar hasil coretannya tidak sesuai harapan, menangis bukan berarti ia cengeng. Bisa jadi, ia sedang belajar menghadapi rasa frustrasi. Tugas orang tua bukan selalu menghentikan tangisannya, tetapi menemani anak sampai emosinya lebih tenang dan kemudian membantunya mencoba lagi.
Kalimat sederhana seperti, “Nggak apa-apa kalau belum bisa. Kita coba lagi, ya,” mungkin jauh lebih berarti daripada, “Kamu kan pintar. Masa begitu saja nggak bisa?”
Memuji Anak karena “Pintar” atau karena “Berusaha”?
Di sinilah saya teringat dengan konsep Growth Mindset yang diperkenalkan oleh Carol Dweck, seorang psikolog dan profesor di Stanford University. Dalam bukunya Mindset, Dweck membahas dua cara pandang mengenai kemampuan, yaitu fixed mindset dan growth mindset.
Secara sederhana, seseorang dengan fixed mindset cenderung melihat kemampuan sebagai sesuatu yang tetap, artinya tidak bisa diubah. Sementara itu, seseorang dengan growth mindset melihat kemampuan sebagai sesuatu yang masih dapat berkembang melalui proses belajar, usaha, strategi, dan ketekunan.
Konsep ini menarik jika kita kaitkan dengan kasus Alya. Ketika seorang anak terus-menerus dipuji dengan kalimat seperti “Kamu pintar”, ia bisa saja merasa bahwa menjadi pintar adalah bagian penting dari dirinya yang harus dipertahankan. Akibatnya, ketika menghadapi sesuatu yang sulit, ia mungkin lebih khawatir terlihat tidak pintar daripada menikmati proses belajar itu sendiri.
Sebaliknya, ketika orang tua memberikan apresiasi terhadap proses, seperti “Kamu sudah berusaha keras” atau “Tadi kamu belum bisa, tapi kamu masih bisa mencoba lagi lain kali”, anak dapat belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses untuk menjadi bisa.
Tentu saja, bukan berarti setiap pujian terhadap kepintaran pasti membuat anak memiliki fixed mindset, dan setiap pujian terhadap usaha otomatis membuat anak memiliki growth mindset. Yang lebih penting adalah anak memahami bahwa tidak apa untuk salah atau gagal, itu adalah bagian dari proses belajar. Karena yang terpenting adalah anak mampu bangkit dan belajar dari kegagalan tersebut.
Jangan Sampai Anak Belajar Bahwa Salah Itu Memalukan
Menurut saya, persoalan terbesar dalam kasus Alya bukanlah pujian. Persoalannya adalah efek yang muncul ketika pujian itu tidak sesuai dengan kenyataan.
Alya dipuji sebagai anak pintar. Tetapi ketika ia melakukan kesalahan, ia justru mendapat respons seolah-olah kesalahan tersebut tidak seharusnya terjadi. Anak akhirnya bisa belajar bahwa berhasil berarti mendapat apresiasi, sedangkan gagal berarti mengecewakan orang tua.
Kalau pola ini terus terjadi, anak mungkin akan memilih aktivitas yang menurutnya aman. Ia lebih nyaman melakukan sesuatu yang sudah dikuasainya daripada mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia takut gagal.
Di sinilah apresiasi orang tua bisa menjadi tekanan ketika anak merasa bahwa dirinya hanya dihargai ketika berhasil. Anak akhirnya tidak lagi belajar karena ingin tahu, tetapi belajar agar tidak mengecewakan.
Anak Tidak Harus Selalu Berhasil
Orang tua tentu memiliki harapan agar anaknya menjadi anak yang berprestasi. Itu sesuatu yang wajar. Namun, dorongan untuk berprestasi perlu berjalan bersama dengan rasa aman. Anak perlu tahu bahwa ia boleh salah, boleh belum bisa, boleh kecewa, bahkan boleh menangis.
Kesalahan/kegagalan mustahil untuk dihindari sepenuhnya. Karenanya merupakan bagian dari proses belajar. Jadi, yang perlu dibangun adalah anak yang tidak takut mencoba meskipun ada kemungkinan gagal.
Karena itu, mungkin kita perlu mengubah sedikit cara memberikan apresiasi. Bukan hanya, “Wah, kamu pintar sekali!” tetapi juga, “Kamu sudah berusaha.” Bukan hanya, “Kok nggak bisa?” tetapi, “Bagian mana yang menurutmu sulit?” Bukan hanya, “Jangan cengeng,” tetapi, “Kamu kecewa karena belum berhasil, ya? Nggak apa-apa. Kalau sudah siap, kita coba lagi.”
Perubahan kecil dalam cara berbicara mungkin terlihat sederhana bagi orang tua. Tetapi bagi anak, cara orang tua merespons kegagalan dapat menjadi bagian dari cara ia belajar melihat dirinya sendiri.
Karena Belajar Bukan Hanya Tentang Menjadi Pintar
Pada akhirnya, kita perlu berhati-hati ketika mengatakan kepada anak bahwa mereka pintar. Pujian bukan sesuatu yang buruk. Anak tentu membutuhkan apresiasi. Tetapi anak juga perlu belajar bahwa dirinya tidak kehilangan nilai hanya karena suatu hari ia gagal atau melakukan kesalahan.
Belajar bukan hanya tentang mendapatkan nilai bagus, memenangkan perlombaan, atau menjadi anak yang paling cepat memahami pelajaran. Belajar juga tentang berani mencoba, berani salah, kecewa ketika gagal, dan mencoba lagi setelah kegagalan.
Daripada membuat anak sibuk mempertahankan label “anak pintar”, akan lebih baik jika kita membantu mereka tumbuh menjadi anak yang percaya bahwa, “Aku mungkin belum bisa sekarang, tetapi aku masih bisa mencobanya lagi.”
Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang percaya bahwa mereka pintar. Mereka juga membutuhkan orang tua yang membuat mereka percaya bahwa gagal pun tidak apa-apa. []





