Anak itu Bukan Kecanduan Smartphone, Ia Hanya Kelaparan

oleh

Oleh : Wildan Shafly, Alumni Psikologi UIN Ar-Raniry

Hari ini, berita tentang remaja yang kecanduan game online sudah tidak mengejutkan lagi. Begitu pula dengan narkolema (narkoba lewat mata), sebutan untuk pornografi yang cara kerjanya di otak tidak jauh berbeda dengan heroin.

Belum lagi judol, pergaulan bebas, klitih di Jogja, mahasiswa yang menjadi PSK, penggunaan narkoba, hingga yang belakangan ini viral, kasus LGBT, di mana mahasiswa di sebuah kampus tertangkap berciuman sesama jenis.

Mengapa anak itu sampai di sana? Apa yang sedang ia cari, sampai ia rela menukarnya dengan masa depannya sendiri? Apa akar masalah sesungguhnya?

Smartphone Bukan Pelakunya

Sebagian dari kita menduga smartphone sebagai biang keladi. Padahal, smartphone adalah produk perkembangan teknologi yang seharusnya memudahkan manusia modern.

Ia adalah benda netral yang tidak dinilai baik, juga buruk. Yang menentukannya adalah siapa yang memegangnya dan dengan bekal apa ia memegangnya.

Ibarat pisau dapur yang bisa menjadi alat masak atau senjata untuk melukai orang lain, tergantung tangan siapa yang memegangnya dan nilai apa yang melekat di tangan itu. Maka, menjauhkan anak dari teknologi bukan solusi. Menguatkan pondasi anak itulah solusinya.

Kita tidak bisa menolak kemajuan zaman dengan segala sisi gelapnya. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan anak berdiri di atas fondasi yang cukup kokoh untuk tidak roboh ketika badai lewat.

Akar yang Selama Ini Kita Lewatkan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.”

Para ulama sepakat bahwa fitrah yang dimaksud adalah kesucian bawaan. Anak Adam lahir tanpa dosa, dengan kecenderungan alami mengakui keesaan Allah. Namun, hadis ini bukan hanya berbicara soal akidah. Hadis tersebut menggambarkan betapa besarnya dampak pengasuhan dalam membentuk siapa seseorang kelak.

Institut pendidikan pertama anak bukanlah sekolah atau pesantren. Ia adalah rumah. Dan di dalam rumah itulah parenting wounds (luka pengasuhan) bisa tumbuh diam-diam, merusak dari dalam tanpa terlihat dari luar.

Bayangkan jiwa anak sebagai sebuah gelas. Dalam kondisi ideal, gelas itu terisi oleh rasa aman, kasih sayang, pengakuan, dan kehangatan yang ia dapatkan dari rumah. Gelas yang penuh tidak akan mudah haus, ia tidak mudah tergiur oleh tawaran apapun dari luar karena kebutuhannya sudah terpenuhi.

Tapi bagaimana jika gelas itu retak di bagian bawahnya?

Sebanyak apa pun nasihat, fasilitas, atau pendidikan yang dituangkan ke dalamnya, isinya akan terus merembes keluar. Gelas itu tidak akan pernah penuh. Dan jiwa yang tidak pernah penuh akan selalu mencari cara untuk mengisi dirinya dengan apa pun yang tersedia, termasuk yang merusak.

Dari Luka Menjadi Kekosongan, Dari Kekosongan Menjadi Adiksi

Luka itu hadir dalam berbagai bentuk. Orang tua yang absen secara fisik maupun emosional, meninggalkan lubang kasih sayang yang dalam.

Orang tua yang hanya mencintai anak secara bersyarat (conditional positive regard), hanya sayang ketika anak berprestasi, hanya bangga ketika anak memenuhi ekspektasi, menciptakan tekanan psikologis yang perlahan membunuh rasa aman dari dalam.

Bentakan dan hinaan di masa golden age (5 tahun pertama perkembangan anak) tidak sekadar menyakiti perasaan, tetapi juga dapat mematikan koneksi saraf yang penting untuk perkembangan kognitif dan emosional. Perbandingan dengan saudara atau anak tetangga yang dianggap “lebih”, menumbuhkan rasa rendah diri yang bisa bertahan seumur hidup.

Semua luka ini menumbuhkan satu hal yang sama, yaitu kecemasan tersembunyi. Anak tampak ceria di luar, aktif di sekolah dan tidak tampak bermasalah. Tapi di dalam, ia menyimpan rasa tidak berharga yang pada akhirnya membutuhkan pelarian instan. Dan di situlah game online dan pornografi hadir sebagai makanan instan yang maladaptif, tetapi dapat mengisi kekosongan jiwa yang sudah lama kelaparan.

Perhatikan ini baik-baik. Anak yang tidak pernah mendapat apresiasi dan pengakuan eksistensinya dari ayah, menemukan validasi itu saat menjadi pahlawan di game online. Di sana ia dilihat. Di sana ia dihargai. Di sana prestasinya diakui tanpa syarat.

Anak yang tidak pernah merasakan kehangatan emosional yang cukup dari rumah, mencari sensasi kedekatan melalui pacaran, pergaulan bebas, bahkan dari kenikmatan visual pornografi. Anak yang hidupnya penuh tekanan dan tuntutan tanpa ruang untuk bernapas menemukan kendali penuhnya dalam dunia simulasi game. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan di dunia nyata.

Jiwa yang lapar akan memakan apa saja yang tersedia, meski hal yang merusak sekalipun. Dan rasa lapar yang kronis itu sering kali muncul dari dalam rumah sendiri.

Pola Asuh yang Menambal dan yang Memperparah

Tidak semua pola asuh diciptakan sama dalam hal risiko adiksi. Orang tua permisif yang menuruti semua keinginan anak tanpa batas, membesarkan anak dengan pengendalian diri yang sangat rendah.

Orang tua otoriter yang penuh tuntutan tanpa kehangatan, menghasilkan anak yang faking good di depan orang tua, tapi mencari pelarian ekstrem di belakang mereka. Yang paling berisiko adalah pola neglectful (pengabaian total), di mana anak merasa tidak berharga sama sekali dan sangat mudah terjebak dalam lingkaran adiksi atau relasi toksik.

Sementara itu, pola asuh autoritatif yang tegas sekaligus hangat dan mengedepankan koneksi sebelum koreksi adalah pola yang paling protektif. Orang tua yang hadir secara emosional, yang mengobrol dengan anak, yang menghabiskan waktu bersama anak, yang membuat anak merasa dilihat dan dihargai, adalah orang tua yang menjaga gelas anak dari kebocoran. Sehingga, kasih sayang orang tua tidak merembes dan mencegah anak lapar akan kepuasan instan yang merusak.

Menyembuhkan Jiwa, Bukan Sekadar Melarang Perilaku

Di sinilah pendekatan konvensional sering menemui kegagalan. Larangan perilaku hanya memotong daun tanpa mencabut akar. Selama ruang kosong dalam jiwa tidak dipulihkan, anak akan terus mencari cara untuk mengisinya.

Pemulihan mencakup empat tahap. Pertama, penyadaran (mauidah) berupa edukasi yang menyentuh hati, bukan sekadar ceramah yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Di sinilah peran orang tua yang kalaupun sibuk bekerja, setidaknya memastikan anaknya memiliki pengetahuan dasar tentang batasan dalam menggunakan teknologi, tentang bahaya pornografi, pergaulan bebas, dan adiksi. Edukasi ini adalah modal dasar anak untuk tidak mudah terpikat oleh kepuasan instan yang merusak.

Kedua, penyembuhan (syifa). Menambal gelas bocor melalui sesi healing, konseling klinis, dan taubatan nasuha yang membersihkan luka di hati. Ketiga, penataan hidup (hudan). Mengubah gaya hidup secara total dan menemukan kompas hidup yang benar.

Menemukan kesibukan yang bermanfaat agar godaan adiksi game dan pornografi tidak masuk. Dan keempat, ketetapan hati (rahmat). Mencapai ketenangan hakiki bersama Allah, di mana jiwa yang sudah “kenyang” tidak lagi membutuhkan pelarian haram.

Menjadi Pemutus Rantai

Akhirnya, tantangan terbesar bukan pada anak. Melainkan pada orang tua.

Karena luka pengasuhan itu sering kali diwariskan. Orang tua yang absen (tidak hadir) secara emosional, sering kali juga dibesarkan oleh orang tua yang absen. Orang tua yang tidak bisa mengungkapkan kasih sayang, sering kali juga tidak pernah menerimanya dulu. Siklus ini tidak akan putus dengan sendirinya.

Menjadi orang tua yang baik adalah perjalanan menjadi pemutus rantai. Dan itu dimulai dari keberanian untuk jujur terhadap luka pengasuhan apa yang dibawa, dan apakah orang tua sedang tanpa sadar mewariskannya?

Menyembuhkan jiwa anak berarti terlebih dahulu bersedia menyembuhkan diri sendiri. Menata hati, mengubahnya dari warna hitam yang suram dan penuh luka, menjadi warna yang tenang, damai, penuh cahaya ketaatan.

Fitrahnya, seorang anak itu lahir dalam kondisi bersih. Ia datang ke dunia dalam keadaan suci, dengan kecenderungan alami menuju kebaikan dan keesaan Allah. Tugas orang tua bukan merusaknya dengan luka yang tidak perlu. Melainkan menjaganya, menguatkannya, dan jika sudah terlanjur bocor, memperbaikinya dengan segenap kesungguhan.

Karena jiwa yang kenyang tidak akan pernah lapar pada hal-hal yang merusak. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.