Oleh : Wildan Shafly*
Pernahkah kamu bercanda lalu seseorang tertawa, tetapi matanya tidak?
Senyum itu bisa menjadi topeng. Dan di balik topeng itu, ada kemungkinan luka yang diam-diam mengendap, berumur bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Yang menakutkan bukan canda itu sendiri, melainkan betapa mudahnya kita melupakannya, sementara orang yang terkena tidak pernah benar-benar bisa.
Kini bayangkan luka yang sama, tetapi datang bukan dari teman sebaya, melainkan dari seseorang yang memiliki otoritas atas hidupmu. Orang tua. Guru. Pemimpin. Ketika kata-kata itu datang dari mereka, dampaknya bukan lagi sekadar terasa. Ia membekas. Ia membentuk. Kadang, ia menentukan.
Kata-kata yang menjadi kompas
Seorang yang saya kenal pernah bercerita bahwa sejak kecil ia sudah akrab dengan kata-kata yang membangun. Orang-orang di sekitarnya, keluarga, teman, dosen, memanggilnya “prof”, yakin bahwa di masa depan ia akan menjadi seorang ilmuwan, dan memperlakukannya seolah-olah memiliki intelektualitas yang tidak perlu diragukan.
Padahal ia sendiri paham betul, di luar sana ada banyak orang yang jauh lebih cerdas darinya.
Tapi anehnya, itu justru mendorongnya. Bukan karena ia percaya sepenuhnya pada gelar yang mereka sematkan, melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang tidak mau mengecewakan kepercayaan itu. Doa dan ekspektasi orang-orang itu, tanpa mereka sadari, pelan-pelan menjadi kompas bagi langkah-langkahnya.
Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Efek Pygmalion, di mana ekspektasi tinggi yang diungkapkan melalui kata-kata dan perlakuan nyata terhadap seseorang dapat memengaruhi performanya secara signifikan, bahkan bertahun-tahun ke depan.
Cara pandang seorang figur otoritas terhadap seseorang akan memengaruhi bagaimana ia memperlakukannya. Perlakuan itu memengaruhi respons orang tersebut. Dan respons itu, lama-kelamaan, membentuk siapa ia kelak.
Sejarah Islam merekam bukti yang lebih tua dari teori psikologi manapun.
Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, tumbuh di bawah bimbingan dua guru luar biasa: Syekh Ahmad Al-Kurani dan Syekh Aq Syamsuddin. Keduanya bukan sekadar mengajar. Mereka menanamkan keyakinan bahwa Al-Fatih kecil adalah sosok yang disebut dalam nubuat sebagai penakluk kota yang selama seribu tahun tak tertembus oleh siapapun.
Ketika Al-Fatih dewasa tiba di titik frustrasinya yang paling dalam dan hampir menyerah di hadapan tembok Konstantinopel yang kokoh, bukan pasukan tambahan yang memulihkan semangatnya. Bukan pula strategi baru.
Hanya sepucuk surat dari gurunya yang masih percaya padanya. Dari sanalah lahir taktik memindahkan kapal melalui Bukit Galata yang dianggap gila. Dan Konstantinopel pun lumpuh.
Rasulullah SAW pun mencontohkan hal serupa ketika menunjuk Usamah bin Zaid yang masih sangat muda sebagai panglima perang. Banyak yang mempertanyakan, bahkan meremehkan.
Tapi Rasulullah tidak hanya memberikan jabatan. Beliau memberikan kepercayaan yang diucapkan, yang dirasakan, yang tertanam. Kata-kata itu bukan pujian kosong. Ia menjadi kompas internal yang membuat Usamah merasa dihargai, siap berkorban, dan setia hingga akhir.
Ketika kata-kata merobohkan
Tapi efek ini bekerja ke dua arah.
Ketika ekspektasi yang ditanamkan bukan keyakinan, melainkan keraguan, maka yang tumbuh pun adalah keraguan.
Inilah yang disebut Efek Golem, di mana label negatif, sinisme, atau komentar yang meremehkan dari figur otoritas bisa benar-benar menurunkan performa seseorang, bukan karena mereka memang tidak mampu, melainkan karena mereka sudah diajarkan untuk tidak percaya bahwa mereka mampu.
“Kamu gak akan bisa.”
“Kamu memang susah diatur.”
“Dari dulu kamu yang paling lambat.”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terlupakan oleh figur otoritas yang mengucapkannya. Tapi bagi yang mendengarnya, ia bisa menjadi suara di dalam kepala yang selalu datang setiap kali ingin mencoba sesuatu yang besar.
Suara itu tidak bersuara keras. Ia berbisik. Dan justru karena berbisik, ia jarang disadari sebagai luka, padahal ia terus bekerja dari dalam.
Islam sudah jauh lebih dulu mengingatkan hal ini. Al-Qur’an dan hadis berulang kali mewanti-wanti soal menjaga lisan. Salah satu prinsip paling sederhana yang diajarkan adalah jika tidak bisa berkata yang baik, lebih baik diam. Bukan karena diam itu selalu mulia, tetapi karena kata-kata yang salah bisa meninggalkan kerusakan yang jauh lebih lama dari niatnya.
Penyulut yang tidak pernah padam
Saya pernah belajar dari seorang dosen yang sekaligus berprofesi sebagai psikolog. Yang membuat beliau istimewa bukan penguasaan materi dan pengalamannya, meski itu juga luar biasa.
Yang membuat beliau istimewa adalah caranya melihat. Ia selalu menemukan hal baik dalam diri seseorang yang bahkan dilewatkan oleh orang-orang di sekitarnya. Dan begitu ia menemukannya, ia mengatakannya secara langsung, tulus, tanpa basa-basi berlebihan.
Hal-hal kecil. Tapi terasa besar.
Ia bagaikan matahari yang tidak pernah berpikir dua kali sebelum bersinar. Tidak pilih-pilih kepada siapa ia memberikan hangatnya.
….
Pada akhirnya, kita semua pernah berada di salah satu sisi ini. Pernah menerima kata-kata yang membangun, atau yang perlahan meruntuhkan. Mungkin keduanya. Dan mungkin tanpa kita sadari, kita pun sudah berada di sisi yang memberi, bukan hanya yang menerima.
Kata-kata adalah senjata yang paling sering diremehkan. Ia netral secara materi, tapi tidak netral secara efek. Dan tidak seperti kaca yang pecah dan bisa kita lihat dengan jelas kerusakannya, luka dari kata-kata sering kali tak kasat mata. Ia berumur diam-diam, tersembunyi di balik senyum yang matanya tidak ikut tertawa.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kata-kata itu penting, karena jawabannya sudah jelas.
Pertanyaannya adalah: kata-kata seperti apa yang sedang kita tanam hari ini pada orang-orang di sekitar kita? Terutama mereka yang lebih muda. Yang masih sedang belajar siapa diri mereka. Yang masih sangat mudah dibentuk, baik oleh keyakinan maupun oleh keraguan.
Karena lisanmu, tanpa kamu sadari, bisa jadi takdir seseorang. []
* Alumni Psikologi UIN Ar-Raniry





