AI: Ujian Harian Seorang Dosen

oleh

Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Kemajuan teknologi kini sudah bersifat universal, bukan lagi bersifat parsial. Artinya, kemajuan teknologi sekarang tanpa batas wilayah. Semua daerah, negara, dan semua orang harus mengetahui kemajuan teknologi. Tidak hanya sekadar mengetahui kemajuan teknologi tersebut, tetapi juga setiap orang harus menggunakan dan mampu memanfaatkan teknologi sesuai dengan batas kebutuhan.

Teknologi telah menyediakan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan manusia. Bahkan, bisa dikatakan semua kebutuhan manusia pada saat ini seolah-olah tidak ada lagi yang tidak tersedia dalam kemajuan teknologi.

Mulai dari masyarakat petani, masyarakat industri, masyarakat mesin, sampai masyarakat yang mengalami globalisasi, semuanya sekarang menggunakan teknologi. Untuk masyarakat pertanian, tentu alat-alat yang digunakan untuk bertani ini tidak lagi berupa alat-alat yang sifatnya manual. Demikian juga masyarakat mesin tidak lagi memerlukan adanya otot dalam menjalankan mesin untuk memproduksi sesuatu guna memenuhi kebutuhan.

Demikian juga dalam masyarakat industri, hasil yang dihasilkan oleh industri tidak lagi dihitung dalam hitungan satuan, tetapi sudah mencapai jumlah yang melebihi kebutuhan manusia itu sendiri. Demikian halnya dengan produk teknologi dalam zaman global ini yang juga sudah melewati batas-batas kebutuhan manusia itu sendiri.

Karena terpenuhinya kebutuhan manusia oleh teknologi, maka sesuai dengan cita-cita dari teknologi tersebut adalah untuk melahirkan sesuatu yang cepat dan tepat sehingga meminimalisir kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Setiap orang, mulai dari yang berpendidikan paling rendah sampai pada pendidikan yang paling tinggi, diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Bahkan, generasi yang lebih muda lebih cepat dan lebih tepat dalam menggunakan teknologi. Hal ini terkadang membuat generasi tua merasa kesulitan untuk mengatasi atau mengarahkan penggunaan teknologi yang begitu maju dan cepat, yang terkadang manfaat yang digunakan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan setiap orang.

Sebagai contoh bisa kita sebutkan dalam tulisan ini bagaimana para ilmuwan atau calon ilmuwan menggunakan kemajuan teknologi yang lebih dikenal dengan teknologi yang diberi nama AI. Semua aktivitas perkuliahan di perguruan tinggi sudah termuat, baik itu materi, metodologi, atau apa pun yang dibutuhkan, sudah tersedia dalam AI. Sehingga semua orang yang duduk di perguruan tinggi, mulai dari mahasiswa, dosen, bahkan tenaga administrasi, sudah dimanjakan dengan keberadaan teknologi, termasuk di dalamnya adalah AI itu sendiri.

Tidak lagi diperlukan adanya sebuah usaha yang berat untuk mengetahui atau bahkan untuk melaksanakan apa yang dikehendaki oleh semua orang. Para mahasiswa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan untuk setiap mata kuliahnya bukan lagi dalam hitungan hari, tetapi dalam hitungan jam. Bahkan, dalam hitungan menit tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan dengan sumber atau referensi yang sangat baik dan pembahasan juga sangat memuaskan.

Demikian juga halnya ketika mereka menulis atau menyelesaikan tugas akhir dari proses perkuliahan, seperti skripsi, tesis, bahkan sampai kepada disertasi. Hal ini merupakan sebuah keharusan untuk digunakan karena memang AI itu sudah menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh setiap orangnya. Bahkan, hasil yang diperoleh dari pencarian melalui AI sangat akurat. Bahasa yang digunakan juga sangat bagus sehingga banyak di antara kita yang tidak memerlukan lagi bacaan atau membaca apa yang ditulis oleh para mahasiswa. Karena kalaupun dibaca, hasilnya sudah pasti benar dan tidak diragukan lagi.

Pemanfaatan AI yang paling sederhana bisa kita sebutkan di sini ketika melaksanakan proses perkuliahan. Ketika masuk ke ruangan pada jam mulai kuliah, saya sering bertanya kepada mahasiswa, “Apakah ada pertanyaan?” Baik yang dibaca dari materi-materi yang sudah diajarkan, dibaca dari rujukan-rujukan yang berkenaan dengan materi kuliah, atau fenomena yang dihadapi dalam keseharian yang mungkin memerlukan diskusi atau pemahaman dari kita semua.

Biasanya mahasiswa terdiam dan tidak ada yang bertanya karena memang mereka belum menyiapkan, baik itu berupa bahan bacaan atau bahkan pertanyaan itu sendiri. Mereka belum menyiapkan.

Kemudian perkuliahan biasanya saya lanjutkan dengan menjelaskan materi-materi sesuai dengan program atau rencana perkuliahan. Ketika sedang berjalan perkuliahan, biasa semua kita para dosen bertanya, “Apakah dari yang saya jelaskan itu ada pertanyaan?”

Mungkin berbeda dengan pada sesi pertama. Pada sesi ini yang bertanya sudah mulai banyak dan rata-rata pertanyaannya adalah merupakan pertanyaan yang dibuat oleh AI. Pertanyaannya sangat bagus, berurutan, sistematis, bahkan sangat mendalam. Namun, bagi tenaga pengajar atau para dosen tentu mengetahui bila dibandingkan kemampuan mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, sehingga dosen bisa memberi kesimpulan bahwa pertanyaan itu adalah dari AI.

Dari situ biasanya saya menjawab pertanyaan dengan mengawali sebuah pernyataan, “Baik, saya akan menjawab pertanyaan AI, bukan menjawab pertanyaan Anda, karena saya tahu bahwa pertanyaan tersebut Anda lihat di AI.”

Lalu pertanyaan tersebut saya jawab dengan menggunakan pemahaman yang didasarkan pada bacaan-bacaan yang berkaitan dengan apa yang ditanyakan.

Pertanyaan semakin banyak. Bahkan, dari semua mahasiswa yang mau bertanya membuat pertanyaan dan terkadang membuat dosen itu sendiri merasa waktu yang disediakan tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada.

Dari sini penulis menyimpulkan bahwa kalau mahasiswa ditanyakan pertanyaan, mereka masih bisa diam untuk tidak menjawab pertanyaan dari dosen karena boleh jadi mereka tidak sempat melihat di AI atau mungkin karena mereka tidak tahu apa yang harus dijawab. Sehingga pertanyaan yang harus dijawab itu hanya ada pada tiga kali dalam satu semester, yaitu pada saat kuis, pada saat UTS, dan pada saat ujian akhir.

Berbeda halnya dengan dosen. Dosen harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul atau yang diajukan oleh mahasiswa pada setiap harinya. Di mana pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya bukanlah pertanyaan mahasiswa, tetapi pertanyaan AI yang disuruh oleh mahasiswa. Sehingga dosen harus menjawabnya pada setiap kali ada pertanyaan.

Sehingga kita bisa mengatakan bahwa dosen itu akan menjawab pertanyaan pada setiap saat dan setiap harinya. Dan itulah yang dinamakan dengan ujian bagi para dosen untuk setiap harinya. Karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itu harus dijawab dan jawaban yang diberikan tidak menggunakan AI, tetapi harus menjawab dengan kemampuan dan pemahaman dosen terhadap materi-materi yang ditanyakan oleh mahasiswa.

Itulah fenomena yang terjadi dalam proses transformasi ilmu di perguruan tinggi pada saat ini. Mungkin kita tidak bisa mengatakan hal ini terjadi di semua perguruan tinggi atau untuk semua mahasiswa, tetapi fenomena ini menjadi sesuatu pemandangan yang hampir menyeluruh.

Kita tidak lagi menemukan adanya pertanyaan-pertanyaan dengan menggunakan bahasa yang terkadang menggunakan bahasa Indonesia yang salah atau juga dengan nada bertanya yang gemetar karena tidak biasa bertanya.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan bahasa yang sangat ilmiah, sangat sopan, dan ketika mereka bacakan pun pertanyaan itu sangat indah dari sisi bahasa yang digunakan.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.