Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Pada hari Minggu malam, tanggal 25 Oktober 2026, sekitar pukul 20.00 malam, Banda Aceh diguyur hujan lebat. Lebatnya hujan yang turun seolah memecah keheningan malam. Pada saat itu, saya duduk di ruang tengah di Ulee Kareng bersama istri. Saya disuguhi sebuah pemandangan alam metafisik.
Pada saat itu, saya melihat pemandangan perkebunan kopi yang sangat indah. Pertama sekali, pemandangan yang disuguhkan kepada saya adalah pohon-pohon kopi yang sangat lebat. Sepanjang mata memandang, semuanya adalah pohon kopi, dengan pohon-pohon pelindung yang tumbuh di perkebunan kopi, seperti lamtoro. Ada juga pohon nangka, pohon alpukat, pohon pisang, dan pohon-pohon lainnya.
Di samping itu, saya juga melihat tanaman kacang buncis yang biasa digunakan sebagai sayuran ketika berada di kebun. Kondisi kebun yang ditampakkan kepada saya tidak bersih, artinya terdapat gulma atau rumput-rumput panjang sebagaimana rumput yang tumbuh di perkebunan.
Saya masih ingat nama-nama rumput yang tampak di mata saya pada malam tersebut. Di antara nama rumput yang masih saya ingat dalam bahasa Gayo adalah sawinimu, engap, jejerun, kekumil dan lain-lain. Tinggi rumput-rumput yang tumbuh di perkebunan ini hampir setengah dari tinggi pohon kopi.
Pemandangan ini berlangsung cukup lama. Setelah itu, pemandangan berubah menjadi lahan yang baru ditanami kopi. Lahannya masih bersih dan kopi yang tumbuh masih kecil. Di antara tempat saya duduk dan kebun yang ada di sebelahnya terdapat alur yang tidak begitu dalam.
Di alur tersebut tumbuh pohon-pohon, seperti bambu dan pohon-pohon lainnya. Tempat tersebut biasanya merupakan tempat pengambilan air untuk keperluan makan atau minum di perkebunan.
Kebun yang tampak bersih itu juga sangat luas, sejauh mata saya memandang. Sambil bercerita dengan istri, kami saling berdiskusi tentang apakah pemandangan yang tampak di mata saya ini merupakan sesuatu yang riil atau khayalan.
Dalam diskusi tersebut, saya mengatakan bahwa menurut saya, penglihatan atau pemandangan yang saya lihat ini adalah sesuatu yang riil. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena saya bisa menceritakan apa yang saya lihat sebagaimana adanya.
Ketika saya bercerita, pemandangan itu tetap tampak dan tidak berubah. Bahkan, pemandangan itu berubah sebagaimana biasanya ketika saya melihat ke arah yang berbeda. Kalau saya melihat ke kanan, pemandangan yang luas dengan keadaan yang berbeda juga tampak.
Saya mencoba membuktikan bahwa apa yang saya lihat itu bukan sekadar khayalan. Saya menelepon anak saya yang sedang menempuh pendidikan di Padang. Saya bertanya kepadanya, “Kamu sekarang berada di mana?”
Dia menjawab, “Saya berada di kos.”
Saya bertanya lagi, “Apa yang tampak di mata kamu sekarang?”
Dia menjawab bahwa yang tampak di matanya adalah laptop, HP, dinding, dan benda-benda lain yang ada di kamarnya.
Lalu saya mengatakan, “Saya sekarang ini berada di kebun.”
Dia menjawab, “Itu hanya penglihatan Bapak, bukan sesuatu yang riil.”
Lalu saya mengatakan bahwa saya bisa menyebutkan apa saja yang saya lihat. Saya bisa menghitung pohon-pohon yang dekat dengan saya, bahkan menghitung pohon-pohon yang berada sejauh jangkauan penglihatan saya dan masih dapat saya hitung dengan jelas.
Bagi saya, hal itu menjadi bukti bahwa apa yang saya lihat ini sebenarnya bukanlah suatu khayalan.
Namun, saya berada di kebun itu sendirian karena tidak ada orang yang tampak. Tidak ada seorang pun yang saya lihat. Saya hanya mendengar suara istri saya, sedangkan secara fisik saya tidak melihatnya. Saya mengartikan bahwa pada saat itu saya sedang berada di kebun.
Anak saya, sebaliknya, tetap menjawab bahwa apa yang saya lihat itu hanyalah sebuah ilusi.
Pemandangan terus berubah. Saya melihat di kejauhan, setelah kebun-kebun kopi, ada tempat yang belum dibersihkan. Tempat itu terdiri atas pohon-pohon yang tidak begitu besar, ilalang, pohon-pohon lainnya, kemudian pohon bambu, dan seterusnya.
Pemandangan seperti itu biasa kita lihat pada perkebunan masyarakat yang tidak seluruh lahannya ditanami pohon kopi.
Selanjutnya, saya ingin membuktikan atau sekedar memberitahukan apa yang saya lihat pada saat itu.
Adik-adik saya yang berada di kampung biasanya menanyakan kabar tentang saya. Mereka selalu bertanya apakah pemandangan yang selama ini tampak masih sering terlihat. Saya selalu mengatakan bahwa pemandangan itu sudah jarang terlihat.
Namun, ketika pada Minggu malam pemandangan itu kembali tampak, saya berupaya memberitahukan kepada mereka sambil menceritakan apa yang saya lihat.
Saya menelepon mereka ketika waktu hampir menunjukkan pukul 22.00 malam.
Biasanya, pada saat itu mereka sudah mulai tidur. Namun, mereka terbangun karena terkejut menerima telepon saya pada malam hari. Saya mengatakan bahwa saya sengaja menelepon karena ingin menceritakan apa yang sedang saya lihat saat itu.
Saya mengatakan, “Saya sekarang ini berada di kebun. Saya melihat kebun-kebun kopi.”
Padahal, kebun yang saya lihat itu bukanlah kebun milik keluarga kami. Saya sendiri tidak mengetahui di mana letak kebun tersebut. Yang jelas, apa yang tampak di mata saya adalah perkebunan kopi.
Saya menceritakan bahwa pada saat itu saya melihat kebun-kebun yang baru dipangkas daun-daunnya. Pohon-pohonnya tampak rapi dan berbeda dengan kebun yang pertama saya lihat. Karena baru dipangkas, bunga-bunganya tampak sangat indah, berwarna putih dan semerbak, terlebih setelah hujan turun.
Saya terus bercerita dalam waktu yang agak panjang. Terkadang, di mata saya muncul tanaman-tanaman yang ada di perkebunan yang belum memiliki pohon kopi besar, seperti tanaman jagung atau tanaman-tanaman lainnya. Semua itu saya lihat secara riil dan nyata, lalu saya ceritakan kepada adik saya.
Biasanya, mereka mendengarkan apa yang saya ceritakan dengan serius sambil tertawa. Mereka mungkin membayangkan bahwa saya bercerita dengan sangat serius, karena memang apa yang saya lihat itu tampak begitu nyata bagi saya.
Dari diskusi yang kami lakukan bersama istri di rumah, kami berkesimpulan bahwa apa yang saya lihat tersebut memang merupakan sesuatu yang terasa nyata bagi saya. Ketika melihat semua pemandangan itu, saya tidak sedang mengkhayal dalam pengertian sengaja membayangkan sesuatu.
Pemandangan itu tetap tampak ketika saya menceritakannya secara terperinci, sebagaimana orang lain menceritakan apa yang mereka lihat dengan mata mereka.
Saya terus bercerita.
Ketika saya mengkhayal, mengubah pikiran, atau bercerita tentang kampung, orang-orang yang ada di kampung, maupun anak saya yang berada di Padang, seharusnya saya membayangkan mereka sedang berada di tempat masing-masing, lalu muncul pemandangan yang lain.
Akan tetapi, pemandangan yang saya lihat tetap tampak sebagaimana sebelumnya. Saya bisa bercerita panjang lebar tentang pemandangan tersebut.
Kemudian, karena malam semakin larut, sekitar pukul 23.30 malam, saya beristirahat. Pemandangan itu pun menghilang.
Pada hari selanjutnya, Senin, tanggal 26 Oktober 2026, saya berangkat dari rumah menuju kantor di Fakultas Syariah. Saya mengajar di Ruang 1. Tepat pada pukul 08.00, saya tiba di kelas dan mahasiswa sudah menunggu di ruang kuliah.
Sebelum memulai kuliah, saya bercerita kepada mahasiswa tentang apa yang sedang saya lihat pada saat itu. Saya mengatakan kepada mereka agar jangan menganggap apa yang saya alami sebagai sebuah rutinitas biasa. Anggaplah ini sebagai sesuatu yang mungkin tidak dialami oleh orang lain.
Mungkin saja, pada suatu saat, kalian akan membaca buku-buku yang berkaitan dengan apa yang saya lihat atau mendengar pendapat orang-orang tentang apa yang saya alami. Pada saat itulah, mungkin jawaban atas pengalaman yang saya alami sekarang ini baru dapat ditemukan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Pada pukul 08.00 tersebut, saya seolah-olah berada di sebuah ketinggian, di puncak gunung. Saya melihat ke bawah, jauh ke kedalaman. Terdapat alur yang sangat panjang. Jauh di ujung sebelah kiri, di antara gunung-gunung, terdapat kampung-kampung masyarakat yang sangat luas. Di antara kampung-kampung tersebut terdapat pohon-pohon, sawah, dan lain-lain. Terkadang tampak rawa-rawa atau kolam-kolam.
Saya memberitahukan kepada mahasiswa bahwa pemandangan itu tampak sangat jauh dari tempat saya berada. Di sekitar kampung-kampung yang tampak tersebut, terdapat gunung-gunung yang sangat tinggi dengan pohon-pohon yang sangat lebat dan masih alami. Gunung-gunung itu tampak jelas dalam pemandangan saya.
Lebih dekat di depan saya terdapat alur yang juga sangat dalam. Di kejauhan, di sebelah sana, tampak gunung-gunung yang sangat tinggi dan besar, dengan pohon-pohon yang sangat lebat. Hutannya masih perawan, tidak terlihat sedikit pun bekas tebangan ataupun bekas longsoran.
Ketika saya memandang ke sebelah kanan, jauh ke sana juga terdapat kampung-kampung yang hampir tidak berbeda dengan kampung-kampung yang saya tunjukkan sebelumnya.
Kemudian, saya mengajak mahasiswa memperhatikan bagian belakang saya. Saya mengatakan bahwa saya seolah-olah berada di sebuah gunung yang sangat tinggi. Jarak dari tempat saya berada ke bawah, ketika saya menunjukkannya, mungkin mencapai lebih dari satu kilometer.
Pada awalnya, saya merasa takut berada di tempat yang sangat tinggi seperti itu. Namun, kemudian saya menyadari bahwa, kendatipun pemandangan itu tampak nyata, kehidupan saya sebenarnya bukanlah di tempat tersebut.
Akhirnya, saya merasa terbiasa dengan keadaan seperti itu. Saya tidak lagi merasa akan terjatuh sekalipun harus berjalan di tempat tersebut.
Selanjutnya, setelah selesai mengajar pada pukul 11.00 siang, saya diantar oleh mahasiswa untuk duduk di kantor bidang akademik sambil menunggu jemputan. Di sana, saya kembali disuguhi pemandangan kebun kopi.
Penampakan kebun kopi kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kebun-kebun kopi itu berada di bawah pohon-pohon bambu. Daun-daun bambu yang sudah kering dan jatuh menutupi daun-daun kopi sehingga kebun itu tampak sangat tidak bersih.
Ada hal yang menarik dari penglihatan saya. Ketika saya cukup lama melihat suatu objek, daun-daun itu berkumpul dan menggumpal, seolah-olah membentuk sesuatu sebesar becak barang. Kumpulan daun tersebut kemudian datang menghadap ke arah saya dan terus bergerak.
Ketika jaraknya sekitar dua meter dari saya, kumpulan daun yang terkadang berbentuk seperti becak itu berbelok ke sebelah kanan, kemudian terus berjalan. Setelah itu, datang lagi kumpulan daun lainnya. Mereka datang silih berganti dengan bentuk-bentuk yang berbeda.
Karena sudah terbiasa dengan kehadiran makhluk Allah tersebut dalam penglihatan saya, saya tidak merasa takut ataupun gentar. Saya menganggapnya sebagai sebuah tontonan, sebuah hiburan yang diberikan Allah kepada saya.
Pemandangan itu terus berlangsung. Ketika anak saya datang menjemput, pemandangan tersebut masih tetap tampak. Kemudian, saya naik mobil, tetapi gambar-gambar itu tetap terlihat sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, pemandangan itu tetap berlangsung, seolah-olah saya sedang berjalan di dalam perkebunan. Terkadang, saya menemukan batang-batang bambu yang sudah ditebang dan mengering. Ada pula pohon-pohon yang baru ditebang dan sudah kering. Saya seolah-olah berjalan melewati pohon-pohon tersebut.
Saya tidak merasa bahwa diri saya sedang berada di dalam mobil. Saya justru lebih merasakan keadaan seolah-olah sedang duduk di dalam pesawat yang terbang rendah. Saya bisa memperhatikan semua yang ada di sekitar saya, baik yang dekat maupun yang jauh.
Demikianlah pandangan metafisik antara riil dan khayalan yang bisa saya ceritakan melalui media ini. Mudah-mudahan pengalaman ini menjadi sebuah pemikiran, menjadi sebuah pengetahuan, dan menjadi sebuah hidayah bagi kita semua.
Amin, ya Rabbal Alamin. []





